Chakim & Andrhea

Chakim & Andrhea
Tidak Menyiakan Kesempatan



Tidak lama Hilda menemani ibu tersebut , suami dari ibu itu datang dengan di antar sesorang dan membawa dua buah botol bensin di tangannya .


Ibu itu merasa lega , melihat suaminya datang .


" ayah , ya ampun ayah bunda khawatir nungguin ayah di sini sendirian , ayah lama banget sih ". ucapnya manja menghampiri suaminya yang baru turun dari motor .


" kan ayah cari bensin bund , tempatnya jauh , disini enggak ada yang jualan bensin jadi ayah jalan jauh banget tadi " . jelas si suami dengan mengisi bensin pada mobilnya .


" bunda juga enggak sendirian , itu ada temennya", tambahnya dengan menunjuk Hilda dengan dagunya .


" owh iya , dia mbak Hilda yah tadi untung mbak Hilda baik hati nemenin bunda di sini , tadi bunda bingung mau nyari ayah di mana , eh ketemu sama mbak Hilda dan........


Cerita panjang lebar ibu itu mengenalkan Hilda pada suaminya .


Si suami hanya manggut-manggut mendengar celotehan istrinya .


" ini mas botol bensinnya , sekali lagi terimakasih ya mas ", ucap suami ibu tersebut dengan menyerahkan dua botol bensin yang di bawanya tadi pada si pengantar sekaligus si penjual bensin .


Hilda hendak berpamitan pulang , namun ibu yang di tolongnya tadi bersikeras mau mengantarkannya pulang kerumahnya . Awalnya Hilda menolak , namun di paksa oleh ibu tadi akhirnya Hilda menurut saja .



Suami Hilda tampak terkejut saat melihat istrinya pulang dan turun dari sebuah mobil , bahkan dia tidak mengenal siapa orang - orang yang bersama istrinya tersebut .


Hilda nampak sungkan saat mempersilahkan sepasang suami istri yang mengantarnya pulang itu masuk kedalam rumahnya .


Rumah sederhana dengan cat yang mulai mengelupas dari dindingnya , lantai keramik yang bercorak semu coklat namun terlihat bersih , ruang tamu kecil namun nyaman sekali adalah kesan pertama pasangan suami istri itu ketika memasuki ruang tamu dengan jendela kaca yang menghias di dekat pintu .


Suami Hilda bertanya padanya melalui sorot matanya , " hanya orang lewat ", jawab Hilda tanpa suara . Suaminya menyalami tamu yang tak di kenalnya itu .



" mbak Hilda tadi jualan apa ?". tanya ibu tersebut .


" saya jualan nasi bungkus sama kue-kue basah bu ". jawab Hilda dengan tersenyum canggung .


" kalau suami mbak Hilda kerja apa kalau saya boleh tahu ?", kali ini suami ibu tersebut yang bertanya .


Hilda memandang suaminya , meminta suaminya menjawab pertanyaan orang itu .


" sa . . sa. . saya kuli bangunan pak " . jawab suami Hilda ragu-ragu .


Pasangan suami istri itu mengangguk-anggukan kepala , dengan meneliti setiap sudut bagian rumah Hilda .


" mbak Hilda kalau saya tawarin kerjaan mau ?", tanya ibu tersebut tiba-tiba . Hilda sedikit terlonjak terkejut mendengar pertanyaan ibu itu .


" kerja apa buk ?". tanya Hilda sedikit ragu .


" kebetulan saya lagi cari orang buat menjaga anak saya , dan saya lihat mbak Hilda ini orangnya baik dan juga jujur " .


" maaf bu sebelumnya , saya belum mengenal ibu , dan saya tidak bisa membiarkan istri saya bekerja pada orang yang belum pernah sama sekali kami kenal bu ", jawab suami Hilda hendak menolak ajakan ibu itu .


Sepasang suami istri itu tersenyum mendengar jawaban suami Hilda , " maafkan saya ya mas , saya tiba-tiba nawarin istri mas kerjaan , saya hanya mau berterima kasih pada mbak Hilda yang tadi sudah membantu saya ".


Suami Hilda masih belum mengerti maksud ibu tersebut , dia bertanya pada istrinya , kemudian Hilda menjelaskan semua dari awal mula mereka bertemu hingga Hilda membawa mereka sampai kerumahnya .


Suami Hilda mengerti sekarang , sepertinya mereka ini orang-orang yang baik , begitu fikir suami Hilda. .


" kalau boleh tau saya harus memanggil bapak dan ibuk siapa ya " , tanya Hilda , dia baru saja menyadari bahwa sejak pertama bertemu dia belum mengetahui nama dan siapa orang itu .


" saya Anjani dan ini suami saya Amiru ", jawab bunda Anjani dan memperkenalkan suaminya ," dan si boy itu putra saya Andra Amiru Tamami ", lanjutnya dengan melihat putranya yang sedang bermain dengan Nita putri Hilda .


Ya , orang yang baru saja Hilda tolong adalah bunda Anjani dan ayah Amiru , mereka yang baru saja pulang dari rumah saudara mendadak kehabisan bensin di jalan , karena biasanya mereka bepergian bersama supir , namun hari ini supirnya mendadak tidak dapat mengantarkan mereka karena sakit demam sejak semalam .


Akhirnya ayah Amir menyetir sendirian dan tidak melihat kelengkpan kendaraannya sampai-sampai kehabisan bensin di jalan .


Bunda Anjani memberikan pekerjaan pada Hilda sebagai pengasuh Andra , dan ayah Amir meminta suami Hilda sebagai supir cadanganya .


Hilda beserta suaminya merasa sangat bersyukur bertemu dengan bunda Anjani dan ayah Amir , mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan , mereka menerima dengan senang hati pekerjaan tersebut .


Hingga putrinya Nita berusia sembilan tahun Hilda beserta suaminya tinggal di kediaman keluarga Amir .


Hilda yang setiap harinya mengasuh Andra dan Nita bersamaan dan suaminya menjadi supir ayah Amir atau bunda Anjani .


putri Hilda naik kelas tiga sekolah dasar , neneknya mengajaknya tinggal bersama di kampung . Dengan berat hati Hilda dan suaminya mengizinkan putrinya itu tinggal bersama neneknya yang tinggal sendirian di kampung .


Bunda Anjani sudah memberi izin jika ibu Hilda ingin tinggal bersama mereka di rumahnya , namun Hilda merasa tak enak hati . Maka dia mengalah dengan mengizinkan putrinya itu tinggal bersama neneknya di kampung , dengan setiap akhir pekan Hilda dan suaminya akan pergi ke kampung untuk menjenguk mereka .


Andra tumbuh dengan baik dengan asuhan mbak Hilda . Giginya yang ompong tidak bisa dengan sempurna memanggil mbak Hilda , Andra menyingkat nama mbak Hilda dengan Mbak Ida, agar mudah penyampaiannya .



Setelah Andra berusia empat tahun , bunda Anjani melahirkan putra keduanya yakni Andrhea , kemudian Hilda menjadi pengasuh Rhea sejak kecil hingga sekarang , bahkan dia juga memanggil Hilda dengan mbak Ida sama seperti Andra yang memanggilnya mbak Ida .



Mbak Ida begitu dekat dengan Rhea , Rhea sendiri tidak sungkan-sungkan bercerita , bermanja pada mbak Hilda , bagi nya Hilda sudah seperti saudara sekaligus sahabatnya .



Hingga kini putri Hilda belum pernah kembali berkunjung ke rumah kediaman ayah Amir , berulang kali bunda Anjani meminta Hilda untuk mengajak putrinya tinggal bersama nya di sana , namun putrinya selalu menolak , karena masih ingin menjaga neneknya yang semakin menua dan renta .



Akhirnya Hilda dan suaminya memutuskan membeli rumah sederhana di kota dan meboyong Nita serta neneknya dan menempati rumah yang di belinya dengan bantuan ayah Amir .