Chakim & Andrhea

Chakim & Andrhea
Perasaan Sesungguhnya



Setelah berjalan-jalan cukup jauh dengan dokter Shanti , Chakim mengantar kembali dokter Shanti ke klinik .


Belum ada perbincangan serius di antara mereka , Chakim masih memendam perasaannya meski sedikit banyak Chakim memberi isyarat melalui perhatiannya kepada dokter Shanti bahwa dirinya menyukai dokter cantik itu .


Perasaan Chakim terhadap dokter Shanti semakin hari semakin kian menggebu , Chakim selalu memberi perhatiannya pada dokter Shanti , saling membalas pesan , berjam-jam mengobrol melalui telfon , bahkan mengirimi makanan untuk dokter Shanti.


Tapi tidak ada yang tahu bagaimana perasaan dokter Shanti kepada Chakim , tak pernah sekalipun dokter Shanti membalas perhatian Chakim , namun dia juga tidak menolak jika Chakim memberikan perhatian lebih padanya . Chakim sendiri menganggap dokter Shanti memiliki perasaan yang sama kepadanya , karena sikapnya yang terbuka kepada Chakim .


Chakim semakin memantapkan hatinya untuk sesegera mungkin menyatakan perasaannya pada dokter Shanti . Chakim sudah menyiapkan hari dan bagaimana nanti dia mengungkapkan perasaannya kepada dokter Shanti.


Hari ini Chakim mempersiapkan banyak sekali bunga yang indah-indah dan menawan , seorang perempuan pasti menyukai bunga , begitu fikirnya.


Dengan bantuan Zuhry temannya yang satu kamar dengannya , mereka menata , menyusun bunga-bunga yang indah dan cantik itu membentuk sebuah tulisan dengan bahasa Inggris .


Dengan mawar merah yang mereka bentuk menyerupai bentuk hati , dengan keharuman yang segar seperti habis di petik dari pohonnya .


Chakim yakin sekali jika cintanya tidak akan mungkin bertepuk sebelah tangan , dia yakin jika perasaan dokter Shanti juga sama kepadanya .


Dan hari itu akan Chakim jadikan hari yang paling berkesan dan mengenang di mana dia menaklukkan hati dokter Shanti .


.


.


.


Hari ini Rhea mengikuti ekstrakurikuler basket , sebenarnya Rhea tidak terlalu minat dengan basket , namun Aldita memaksanya untuk ikut akhirnya Rhea mengikuti Aldita .


Dan disinilah mereka , di lapangan basket sekolah . Sudah ada banyak yang hadir di sana , Rhea dan Aldita masih duduk santai di pinggir lapangan sambil menunggu anak-anak yang lain .


Setelah semua sudah berkumpul , guru pembimbing memulai pemanasan , Rhea sedikit bermalas-malasan saat pemanasan , karena dari awal memang tidak ada minat untuk mengikuti basket .


Setalah pemanasan , guru pembimbing membagi anak-anak menjadi dua kelompok putri dan dua kelompok putra .


Hari ini hari yang melelahkan bagi Rhea , meski dia ditempatkan pada tim cadangan karena tangannya yang masih cedera , tapi menunggu dan melihat anak-anak berlatih seharian membut Rhea kelelahan karena hanya duduk diam .



Setelah ekstra usai , Aldita dan Fiza teman sekelas Rhea berjalan menghampiri Rhea yang duduk di bangku cadangan , dan mengambil botol air mineral.



" huuuftt capek banget ". sahut Fiza dengan tersengal nafasnya sendiri . Kemudian dengan rakus menegak minumannya dengan beberapa tegakan .


Aldita dan Rhea tertawa melihat tingkah Fiza , saat mereka bertiga istirahat dengan bercanda ringan , tetiba seseorang menyapa mereka .


" Hay ". sapa Remon .


Rhea orang yang paling terkejut saat melihat Remon sudah ada di hadapannya sekarang . Sedang Aldita dan Fiza hampir tidak berkedip saat melihat Remon .


" kak ... kak Remon ?" . sahut Rhea yg tidak percaya .


" Hay rhe ". sapa lagi Remon dengan senyuman renyahnya dengan melambaikan tangan pada Rhea dan teman-temannya .


" kakak kok ada di sini?". tanya Rhea yang masih terkejut dengan kedatangan Remon di sekolah barunya .


" iya gue kanau jengukin elo , gimana tangan loe ? udah baikan ? ". tanya Remon .


" udah ...udah kok kak ". jawab Rhea tergagap .


" udah selesaikan latihannya , yuk gue anterin kalian pulang ". ucap Remon .


Aldita dan Fiza duduk di kursi belakang , sedang Rhea duduk di sebelah Remon yang duduk di balik setir .



Remon bercerita tentang kedatangan yang tiba-tiba di sekolah Rhea .



Semalam Remon gelisah saat memikirkan Rhea yang cedera lengannya semakin parah karena ulahnya saat di rumah sakit , akhirnya dia memutuskan untuk menjenguk Rhea kerumah , namun dia tidak dapat bertemu Rhea karena Rhea sudah berada di Semarang , dan bertepatan dengan dengan itu Remon mendapat info , jika dokter Shanti juga sedang bertugas di Yogya , jarak antara keduanya tidaklah jauh , maka dengan segera Remon bergegas pergi ke Yogya terlebih dahulu untuk menemui Rhea .




" jadi setelah ini kak Remon mau ke tempat kak Shanti ?". tanya Rhea lirih .


" iya , nanti setelah nganter kalian semua pulang ". jawab Remon .


Ternyata Aldita dan Fiza diam-diam melihat perubahan mimik wajah Rhea , setelah itu Rhea terdiam mendengarkan Aldita dan Fiza yang banyak bertanya dan berbicara hal lain dengan Remon .



Aldita dan Fiza ada yang aneh dengan sikap Rhea yang tiba-tiba berubah , namun mereka tidak berani bertanya . Setelah mengantar Fiza ke rumahnya , kini giliran mengantar Aldita pulang , Rhea masih diam diam tidak banyak bicara .



Aldita berdehem untuk mengusir kecanggungan di dalam mobil . Sebenarnya dianjuga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi , dandi situasi seperti apa dirinya sekarang , entahlah Aldita sendiri tidak mau terlibat jauh dalam hubungan Rhea dan Remon .



Mobil berhenti di depan rumah Aldita , dan Aldita berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada Remon dan Rhea . Setelah itu gadis itu segera masuk kedalam rumah sebelumnya melambaikan tangan pada Rhea .



Remon melihat perubahan sikap Rhea yang menjadi dingin padanya , Remon sendiri bingung bagaimana dia menyikapi sikap Rhea yang tiba-tiba berubah seperti itu .



" rhe , maafin gue " . ucap Remon tiba-tiba . Rhea hanya menatap sekilas Remon kemudian kembali membuang muka kearah jendela melihat pohon-pohon yang telah berlalu .



" rhe , maafin gue ya , gue enggak ada maksud buat elo enggak nyaman gini sama gue , tapi jujur gue cuma nganggep loe itu adik gue rhe , maafin gue ya ". tambah Remon .


Rhea memutar duduknya , melihat dengan jelas wajah Remon yang masih serius mengendali setir .


" kak , apa yang kak Remon pikirin tentang aku ?". tanya Rhea .



Remon terdiam mendengar pertanyaan Rhea . " *apa ? kok Rhea nanya gitu , gue jawab gimana ? aaah sial , gue kira Rhea marah karena gue bilang gue suka sama Shanti* ". Remon dalam hatinya kebingungan dengan sikap Rhea .



Jika dekat dengannya Rhea selalu manja dan menunjukkan gestur ketertarikannya padanya , tapi kenapa saat Remon meminta maaf jawaban Rhea seperti tidak ada apa-apa di hati Rhea untuk Remon .


Remon seperti orang yang kepedean .


" kakak kira aku seperti apa ?". tanya Rhea lagi .


" enggak itu emm anu...". Remon gelagapan , bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan Rhea .


" kak , aku cuma anggep kak Remon kakak aku sama seperti kak Andra , aku enggak ada perasaan lebih untuk kak Remon , jadi buat apa kak Remon minta maaf ". ucap Rhea berdusta .



" kakak kira kamu suka sama kakak , tapi kamu diam aja ". ucap Remon dengan di sertai gelak tawa .


Rhea tersenyum miris saat mendengar ucapan Remon .



" *kak Remon please , lihat aku dari sisi perempuan lain kak , jangan lihat aku sebagai adik dari temen kakak hiks ...kenapa kak Remon enggak peka benget siih* " .


" tapi terimakasih ya rhe , aku jadi tahu gimana perasaan kamu sesungguhnya ke aku , makasih ya sekali lagi ". ucap Remon dengan membelai lembut kepala Rhea .


" ternyata hanya perasanku saja , dan sesungguhnya Rhea tidak mempunyai perasaan apa-apa Sama gue .". batin Remon merasa lega .