
Sudah dua hari Rhea tinggal bersama bibinya , dan selama itu juga Rhea enggan keluar dari rumah , bibi Yuan sudah membujuk Rhea dengan berbagai cara dan alasan agar Rhea mau keluar rumah dan mulai mencari teman , sejak hari pertama Rhea tiba di Semarang , seharusnya dia sudah bisa mulai masuk sekolah di sekolahnya yang baru , namun Rhea enggan beradaptasi dengan lingkungan barunya .
Hal itu cukup membuat bibi dan pamannya khawatir . Bibi Yuan menghubungi Andra dan menceritakan semua .
" bagaimana nak menurutmu ? apa sebaiknya Rhea kembali ke Jakarta ?". tanya bibi Yuan pada Andra dari balik handphone.
Hanya terdengar helaan nafas dari seberang telfon , Andra sudah menebak ini akan terjadi , tapi Andra sudah berfikir ulang sebelum membawa Rhea ke Semarang .
Satu atau dua hari pasti Rhea tidak akan siap dengan lingkungan barunya , tapi nanti lama-kelamaan Rhea akan membaur dengan sendirinya , Andra sudah hafal dengan sifat adiknya itu , yang tidak bisa diam saja di dalam kamar .
" bibi tenang dulu ya , nanti Andra coba bujuk Rhea , bibi pastiin aja kalau Rhea ada temennya ngobrol , nanti aku yang akan bujuk Rhea ". sahut Andra menenangkan bibinya .
" ya udah kalau gitu , semoga aja Rhea mau dengerin kamu ". bibi Yuan
" iya bi , bibi jangan khawatir ya , oh ya bi maaf , ini Andra lagi sibuk , nanti Andra hubungi bibi lagi ya , terimakasih bi Assalamualaikum ". ucap Andra dengan mematika telfon terlebih dahulu sebelum mendengar jawaban dari bibi nya .
Bibi Yuan melihat handphonenya , " panggilannya sudah berakhir ". gumam lirih bibi Yuan . kemudian menjawab salam Andra . Wa'alaikumsalam.
.
.
.
Hari ini tidak ada latihan untuk pasukan militer , Chakim memanfaatkan waktunya untuk pergi ke klinik bertemu dengan dokter Shanti .
" mau kemana brother , rapi banget " . tanya salah satu teman Chakim yang berpapasan di jalan .
" biasa mau ngapel ". jawab Chakim dengan setengah berbisik .
" wah pepet terus bro , gue do'ain deh semoga kalian cepet jadian terus ke pelaminan " . ujar teman Chakim yang bernama Zuhry .
" aamiin ". sahut teman satunya .
" amiiin , nah gitu dong do'ain ". ucap Chakim dengan menepuk pundak Zuhry , teman yang mendo'akannya tadi .
" gampang bro , asal loe serius sama dokter Shanti , gue pasti dukung seribu persen " . sahut Zuhry .
Chakim memberikan dua jempol atas ucapan temannya itu yang memberi dukungan padanya .
Chakim semakin percaya diri , semakin besar pula niatnya untuk segera menyatakan perasaannya , hanya tinggal mencari waktu yang pas untuk menyatakannya .
Dari kejauhan Chakim melihat dokter Shanti tengah duduk di bangku panjang di depan klinik , tapi dokter Shanti tidak sendirian , rupanya dokter Shanti bersama para tenaga medis di sana sedang menikmati bakso dari penjual bakso keliling .
" ck , kenapa rame banget sih , gak kayak biasanya ". decak Chakim sedikit kesal , biasanya Chakim kemari keadaan selalu mendukungnya , di mana klinik tidak terlalu ramai orang , dan terkadang dokter Shanti yang tidak mempunyai jadwal tunggu , sepertinya waktu sudah mendukung untuk hubungan mereka , tapi sialnya tidak untuk hari ini , dokter Shanti sedang bersama temannya yang sama-sama tenaga ahli medis .
Chakim bingung , dia mau kembali , tapi belum tentu nanti dia ada waktu untuk menemui kembali dokter Shanti , namun jika dia nekat bertemu dengan dokter Shanti sekarang juga , dia belum seberani itu untuk menemui dokter Shanti di hadapan banyak teman dokter Shanti .
Ragu-ragu Chakim ingin melangkah maju , tapi di urungkan kembali , melihat kembali kearah dokter Shanti , " acch syukurlah dua temannya udah pergi , tapi masih ada dua lagi temennya di sana ", gumam Chakim sedikit kesal .
Hingga ada seorang pemuda yang lewat di depannya dengan berbicara dengan seseorang melalui hamdponnya . Lamat-lamat Chakim tak sengaja mendengarkan ucapan pemuda itu .
" iya sayang , aku tunggu di sini sepuluh menit ". ucap pemuda itu dengan lawan bicaranya di telpon.
Dan Chakim baru sadar satu hal ," kenapa gak gue kirim pesan aja ke dia ngajak ketemuan ",. ucap Chakim reflek dengan suara sedikit keras di sertai tepukan di jidatnya , membuat pemuda yang tidak jauh darinya terkejut dengan sikap Chakim .
Chakim cengengesan meminta maaf pada pemuda tersebut karena sudah membuatnya terkejut .
" cinta memang bisa membuat orang jadi bodoh ". gumam Chakim pelan dengan mengambil phonselnya di dalam saku .
Mengirim pesan pada dokter Shanti , tak lama dokter Shanti terlihat clingak clinguk mencari keberadaan Chakim .
Saat dokter Shanti menemukan keberadaan Chakim dia melambaikan tangannya pada Chakim , Chakim membalas melambaikan tangannya .
Akhirnya dokter Shanti pergi meninggalkan teman-temannya dan pergi menemui Chakim .
Chakim mengajak dokter Shanti berjalan kaki menyusuri jalan pedesaan , banyak orang berlalu lalang pergi bekerja ke ladang , karena sebagian besar penduduk di sana bermata pencaharian sebagai petani .
Banyak warga desa yang mengenal dokter Shanti , di setiap jalan dokter Shanti dengan sopan membalas sapaan orang-orang warga desa .
Chakim semakin takjub dengan kesopanan dokter Shanti , " sudah cantik , pinter , sopan , idaman banget ". Gumam Chakim dalam hatinya , dengan menatap dokter Shanti dengan penuh binar .
Tanpa terasa mereka berdua berjalan cukup jauh , hingga mereka berhenti di sebuah jembatan yang menggantung di sebuah sungai kecil dengan air yang jernih .
Mereka duduk di pinggiran sungai dengan membiarkan dinginnya air sungai menyentuh kulit mereka . Dengan sesekali membicarakan hal-hal kecil yang menurut mereka itu lucu yang membuat mereka tertawa bersama .
" *sepertinya udah lampu ijo niih* ". hati Chakim membatin dengan ribuan bunga bermekaran di hatinya .
Dokter Shanti pun seolah membuka hati untuk Chakim , tersipu malu-malu saat pandangan mereka tak sengaja bertemu .
Chakim yang begitu terpesona dan memuja dokter Shanti , begitupun dokter Shanti yang diam-diam mengagumi sosok Chakim yang di kenalnya baik dan periang itu .
Chakim bukanlah orang pertama yang pernah membuat hatinya merasa bahagia dan nyaman bersamaan , tapi dokter Shanti tidak pernah menutup hatinya untuk Chakim .
Sejak pertama bertemu dengan Chakim , dokter Shanti diam-diam memperhatikannya , menaruh rasa yang dia sembunyikan dengan rapat . Setelah lama pertemuan terakhir mereka di rumah sakit saat Rhea di rawat , ada rasa sedih ketika dia harus tidak lagi melihat Chakim di ruangan Rhea .
Dan tanpa sengaja , mereka di pertemukan kembali ditempat berbeda . Takdir benar-benar sudah mendukung mereka , tinggal menunggu langkah apa yang akan mereka ambil untuk melanjutkan kisah takdir mereka .
Akankah mereka merangkai jalan takdir mereka dengan indah di sebuah cerita baru , atau hanya akan sampai di pertemanan dan menutup kisah mereka .
Yang jelas hanya author yang tau 😄😄 .