
Flash back mbak Hilda / mbak Ida
Sebuah rumah sederhana di daerah padat penduduk hiduplah satu keluarga kecil yang bahagia , Hilda yang berperan sebagai ibu rumah tangga yang merawat putri satu-satunya Samanita Rahayu .
Hidup mereka begitu sederhana , hanya dengan menggantungkan sepenuh hidupnya pada pekerjaan sang suami yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan .
Hasil dari kerja keras sang suami hanya cukup untuk membeli bahan pokok , makan alakadarnya ,membeli kebutuhan bayi kecil mereka , bila ada kebutuhan mendadak mereka tidak mempunyai tabungan, apalagi untuk membiayai kebutuhan sekolah putrinya kelak .
Semakin hari putri kecil mereka semakin tumbuh , Hilda berfikir jauh ke depan ," bagaimana kelak dengan kehidupan putriku ? aku harus melakukan sesuatu agar kami mampu hidup lebih baik lagi ". angan Hilda dalam lamunannya sambil di lihatnya sang putri yang menggigit-gigit semua mainan di depannya .
Perlahan Hilda meraih putri kecilnya itu , mendekapnya dalam pangkuannya , di ambil dengan pelan mainan sang putri yang di gigit sejak tadi.
" hemm giginya mau keluar ya sayang , wah anak mama udah tambah besar ya ternyata " . girang Hildaa saat melihat gigi susu sang putri mulai timbul memutih pada gusinya .
" aku tidak bisa hanya bergantung pada suamiku , aku juga akan bekerja untuk demi masa depan putriku kelak ". Tekad Hilda dalam hati , di belainya lembut kepala putrinya , berharap putrinya kelak akan mendapat kehidupan yang lebih layak .
Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang istri , Hilda yang baru saja melayani suaminya yang baru saja pulang bekerja menuntun suaminya keruang tamu , ada hal yang ingin dia sampaikan .
" di mana Nita ? " . tanya suami Hilda
" dia tidur setelah mandi tadi " . jawab singkat Hilda . " Bayi memang begitu kan " , fikir Hilda , setelah tubuhnya segar habis mandi , kemudian menyamankan dirinya sambil menikmati asi dari ibunya , kemudian terlelap dalam dekapan hangat sang ibu.
Suami meraih koran yang tergelatak di atas meja , membuka , membaca sekilas berita yang ada di koran , sambil di liriknya sang istri yang duduk di sebelahnya .
" Mas , aku ingin bekerja " . ucap Hilda membuka percakapan .
" untuk apa ? " , tanya suami Hilda .
Hilda sejenak terdiam , berfikir kembali apakah jawabannya akan cukup mendapat izin dari suaminya .
Kembali mengingat masa depan sang putri adalah hal yang penting , dengan yakin Hilda menatap suaminya .
" maaf mas sebelumnya , bukan berarti Ida tidak menghargai mas , bukan berarti Ida tidak bersyukur dengan apa yang Ida punya sekarang ini mas , tapi Ida kepengen mempunyai tabungan untuk masa depan Nita putri kita mas , Ida ingin Nita hidup lebih layak kedepannya nanti " . jelas Hilda dengan medekap tangan suaminya , menjelaskan dengan sentuhan bahwa dia benar-benar ingin bekerja begitu maksud dari genggaman tangannya .
Suami Hilda menghela nafas , memikirkan ucapan istrinya , memang benar jika dia harus mempunyai tabungan untuk putrinya , masa depan putrinya masih panjang , dan tidak mungkin dia hanya mengandalkan semua kebutuhan keluarga dengan gajinya yang pas-pasan itu .
" kamu mau bekerja apa sayang ? cari kerja itu enggak mudah loh , lalu bagaimana dengan Nita ? kalau nanti kamu bekerja , apa kamu bisa membagi waktu kamu dan menjaga Nita ? ". Tanya suami Hilda .
" mas aku enggak kerja sama orang lain , aku mau buka usaha kecil-kecilan jadi aku bisa ngawasi Nita sambil bekerja " .
" kamu mau usaha apa " .
" aku mau jualan nasi bungkus mas , nanti aku jual di dekat terminal angkot ,aku bisa sambil bawa Nita mas " .
" terserah kamu sayang , asal jangan terlalu lelah bekerja , fikirkan juga kesehatanmu dan juga Nita , bagaimanapun Nita masih terlalu kecil untuk kamu ajak jualan , mas maunya kalian di rumah saja biar mas saja yang sibuk bekerja ,kalian adalah tanggung jawab mas sebagai kepala rumah tangga , tapi kamu tahu sendiri , hasilnya hanya cukup kita makan " . jelas suami Hilda .
Hilda membelai lembut lengan suaminya , memberinya semangat bahwa hidup mereka akan segera berubah jika dirinya juga ikut membantu bekerja .
Sudah empat hari Hilda berjualan nasi bungkus di sekitaran terminal angkot , bangun sebelum adzan subuh , memulai pekerjaan mulia , membungkus nasi dan beberapa lauk pilihan dan menjajakan makanan tersebut dari supir angkot satu ke supir angkot lainnya .
Dengan menggendong putrinya , Hilda berkeliling mencari pelanggan , hari pertama nasi bungkusnya habis tak bersisa . Kemudian hari-hari berikutnya nasinya di cari-cari oleh banyak orang karena rasanya yang benar-benar lezat .
Hilda sangat bersyukur , akhirnya Hilda bisa membuat tabungannya sendiri , kerja kerasnya memang belum terlihat hasilnya , namun diam-diam Hilda menyiapkan bekal masa depan putrinya dari hasil jualan nasi bungkusnya .
Waktu terus berjalan , Hilda kini tidak hanya menjual nasi bungkus , kini dia juga menjual kue basah dan gorengan , sedangkan suaminya tetap menjadi kuli bangunan , namun terkadang dia juga membantu Hilda menyiapkan dagangannya sebelum berangkat bekerja .
Hari ini nasi bungkus Hilda habis , tinggal beberapa biji kue basah dan gorengan . Dia bertekad pulang lebih awal dari biasanya , karena hari ini hari ulang tahun pertama putrinya , Hilda ingin membuat hidangan sederhana untuk suaminya nanti .
Pulang kerumah dengan membawa beberapa belanjaan , setelah berjualan Hilda menyempatkan mampir ke toko untuk membeli bahan-bahan yang dia butuhkan untuk memasak nanti.
Di perjalan Hilda bertemu ibu muda dengan menggandeng anak lelaki dengan perut yang membuncit , perempuan itu seperti orang kebingungan , Hilda yang melihat ibu itu merasa kasihan , dia mendekati ibu tersebut .
" ibuk , ibuk sedang cari apa buk ? " . tanya Hilda dengan lembut .
" mbak bisa tolong bantu saya mbak ? " . tanya balik orang tersebut .
" iya , ibuk mau di bantu apa ?".
" mobil saya tadi kehabisan bensin mbak , terus suami saya pergi buat cari bensin , tapi sampai sekarang suami saya belum kembali , saya coba hubungi tadi handphone saya di jambret orang mbak " . ucap orang tersebut di sertai isak tangis .
" astaghfirullah , tapi ibuk enggak papah kan buk ?" . tanya Hilda khawatir .
" saya baik-baik aja mbak , tapi suami saya bagaimana , kemana saya harus mencari suami saya ?" .
" ibuk tenang dulu ya , ini ibuk minum dulu " . Hilda mencoba menenangkan orang tersebut dengan memberinya sebotol air minum yang selalu di bawanya dan menuntunnya duduk di sebuah gubuk sederhana dengan bangku kayu panjang di depan gubuk tersebut .
Hilda bertemu orang tersebut bukan di jalan raya melainkan di jalan sempit persawahan di mana tidak ada banyak rumah di daerah tersebut .
" ibuk tenangin diri dulu , saya akan temani ibuk di sini sampai suami ibuk datang " . Ucap Hilda menenangkan .
" terimakasih banyak mbak sudah mau menemani saya , apa tidak apa-apa kamu di sini ?". tanya orang tersebut sambil melihat putri Hilda yang terlelap dalam gendongannya .
Hilda mengerti arah pertanyaan ibuk tersebut , " tidak apa-apa buk , rumah saya tidak jauh kog dari sini " , jawab Hilda .