
Shanti tergelak kecil mendengar ucapan Chakim yang dikiranya hanya bercandaan , jika Chakim mengajaknya untuk menikah .
" Shan aku serius , kamu mau enggak nikah sama aku ?". tanya Chakim lagi meyakinkan Shanti bahwa pernyataannya bukanlah sebuah candaan . Chakim mengatakannya dengan serius .
" cek jangan bercanda kamu , gak lucu tau ". jawab Shanti dengan tertawa kecil , masih belum percaya dengan pernyataan Chakim.
*bagaimana bisa dia mengajakku menikah setelah baru tiga hari kita jadian , pasti dia ngerjain aku aja kan* , Shanti membatin dalam hati .
Chakim berdiri menghadap Shanti , dan berjongkok di lantai .
" Shan aku serius mau nikahin kamu , aku udah yakin sama keputusan aku Shan , aku yakin sama kamu , aku akan bahagiain kamu dan bertanggung jawab penuh dengan hidup kamu Shan ". ujar Chakim dengan sungguh-sungguh . Shanti menatap manik mata Chakim dalam-dalam , dia tidak menemukan kebohongan di sana .
Shanti sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Chakim , " bukankah ini terlalu cepat Chakim " . tanya Shanti
" kamu belum yakin sama aku ?". tanya balik Chakim yang membuat Shanti mengiyakan pertanyaan Chakim .
" aku masih butuh waktu Chakim , ada banyak pertimbangan yang harus aku fikirkan , salah satunya kedua orang tua aku Chakim ". jelas Shanti memberi pengertian Chakim .
" baiklah , aku akan menunggu ". jawab Chakim dengan rasa kecewa , hatinya sudah bertumpu pada Shanti , keyakinannya terhadap Shanti sudah benar-benar matang , namun dia juga tidak dapat memaksakan keinginan Shanti , dia harus sabar menanti .
" besok kamu temui kedua orang tua aku , bagaimana jawaban ayah aku nanti , kalau ayah aku nanti setuju , maka aku akan ikut apa keputusan ayah aku Chakim ". jelas Shanti yang memberi Chakim kesempatan .
Seperti mendapat angin segar di Padang tandus , Chakim sedikit mendapat kepercayaan Shanti padanya , esok dia harus menemui kedua orang tua Shanti meminta restu dari mereka berdua .
Setelah ini Chakim sedikit bisa merasa lega , dia sudah percaya diri sekali bahwa orang tua Shanti pasti akan menerimanya .
Chakim mengantar Shanti ke kamar tamu , setelah itu Chakim pergi ke kamarnya sendiri , mereka terlelap dengan mimpi mereka masing-masing .
.
.
.
Remon berusaha menenangkan Rhea yang sedih setelah melihat apa yang di lakukan kakaknya kepada mantan kekasihnya , " apa salah Irvan kak , kenapa kak Andra harus sampai membuat Irvan kayak gitu ?". racau Rhea dengan sesenggukan .
Remon sudah kehabisan akal menenangkan Rhea , saat dirinya sibuk menghentikan tangisan Rhea pintu ruangan terbuka , dan beberapa teman Rhea datang untuk menjenguk Rhea .
" Andrhea loe kenapa ?". seru Aldita saat melihat Rhea menangis .
Rhea seketika menghentikan tangisannya , dan melihat teman-temannya sudah di dalam ruangannya .
Ada Aldita, ayu , Mala dan teman-temannya yang lain , dan di sana juga terlihat Farid dan teman-temannya yang juga ikut menjenguk Rhea , mereka merasa bersalah setelah kejadian di pesta kemaren .
" Rhea sadar rhe ". seru Remon mengguncang tangan Rhea pelan .
Rhea terkesiap mendengar namanya di panggil oleh Remon .
Bukannya tenang , Rhea malah menangis semakin menjadi-jadi membuat teman-temanmya keheranan .
" apa kita salah datang kemari rid ?". tanya teman Farid berbisik padanya .
" gue juga enggak tahu ". jawab Farid dengan berbisik juga.
" makasih ya teman-teman udah dateng huaaaa ". seru Rhea di sela menangisnya .
" loe gak papa kan rhe ? loe baik-baik ajakan ?". tanya ayu yang penasaran dengan sikap Rhea .
" gue baik , gue baik-baik aja kok , gue cuma terharu kalian jengukin gue jauh-jauh kemari ". jawab Rhea yang membuat teman-temannya bernafas lega .
" syukurlah ". jawab serempak teman-teman Rhea .
Teman-teman Rhea cukup lama berada di rumah sakit , saat tiba seorang suster mengatakan bahwa Rhea sudah di perbolehkan untuk pulang saat ini .
Teman-teman yang lain berpamitan pulang dan menyisakan Aldita , Mala , Ayu dan Fiza , mereka membantu Rhea berkemas , meski tidak ada yang harus mereka kemas .
" eh gaes kalian tadi liat enggak si Riko nglirik Andrhea terus loh ". seru Mala saat mereka semua berjalan di lorong rumah sakit menuju lobi .
" iya tadi gue juga liat , kayaknya ada yang lagi kena panas asmara niih ". goda ayu pada Rhea , tapi Rhea hanya tersenyum menanggapi godaan dari teman-temannya itu .
" heey sekolah dulu yang bener baru kalian mikir pacar-pacaran ". ujar Remon yang mendorong kursi roda yang di duduki Rhea . Sebenarnya Rhea menolak naik kursi roda karena dia merasa baik-baik saja , namun Remon tidak mau mengambil resiko jika Andra mengetahui bahwa dirinya membiarkan adik kesayangannya itu harus berjalan kaki dari lantai tujuh ke lantai satu .
" kakak kenapa sih , sensi banget masalah pacaran ?". tanya ayu yang mencoba menggoda Remon .
" *bukan masalah pacarannya dek , tapi masalah patah hatinya , kalian emang belum pernah patah hati hah* ". gerutu Remon dalam hati , karena dia merasa tersakiti karena cinta , dan dia juga baru saja melihat bagaimana sakitnya Rhea karena cinta juga .
Sebuah mobil sudah siap di depan lobi rumah sakit , pak supir yang di perintah bibi Yuan menjemput Rhea dan teman-temannya di rumah sakit segera membantu Rhea masuk ke mobil dan di ikuti teman-teman Rhea yang juga ikut kerumah bibi Yuan.
Sedang Remon menaiki mobilnya sendiri dan mengikuti mobil yang di tumpangi Rhea dan teman-temannya dari belakang .