
Andra memutuskan untuk membawa Rhea ke tempat tinggal bibi Yuan , bibi yuan adalah adik dari ayah Amir , bibi Yuan tinggal di kota Semarang , beliau juga belum mempunyai keturunan , karena kandungnya bermasalah hingga dirinya harus di angkat rahimnya , sehingga membuat bibi Yuan tidak dapat melahirkan seorang keturunan .
Andra membatalkan penerbangannya ke Singapura , setelah kejadian di rumah sebelum nya , Andra langsung meminta mbak Ida untuk mengemas semua barang-barang Rhea , mbak Ida dengan patuh mengerjakan yang di pinta Andra tanpa banyak bertanya .
Rhea hanya pasrah dengan apa yang di lakukan Andra , menolakpun percuma , karena tidak akan pernah Andra mengubah keputusannya .
Bunda Anjani berusaha menenangkan kemarah Andra , bunda Anjani tidak ingin Rhea pergi kemana-mana , bunda Anjani berusaha membujuk Andra agar tidak membawa Rhea pada bibinya . Sungguh bunda Anjani tidak bisa jauh dari Rhea .
Namun Andra tetap pada pendiriannya , dia akan tetap membawa Rhea ke tempat bibi Yuan . Di sana Rhea akan di awasi dengan ketat , dengan penjagaan dua puluh empat jam , maka siapapun tidak akan bisa bertemu dengan Rhea begitu mudah .
Sedangkan ayah Amir hanya diam melihat drama di kediamannya , ayah Amir akan selalu mendukung putra dan putrinya selama itu benar , ayah Amir yang hanya diam berarti beliau menyetujui dan mendukung tindakan yang diambil Andra .
Mbak Ida sudah selesai menyiapkan semua barang-barang Rhea menjadi beberapa koper , dan meminta dua pelayan untuk membawa sekitar lima atau enam koper kedalam mobil yang sudah di siapkan .
Rhea menangis tersedu-sedu dalam pelukan bunda Anjani , begitu pula dengan bunda Anjani yang sedih karena putrinya akan pergi jauh darinya .
" bunda tolongin Rhea bunda , Rhea enggak mau pergi bunda " . racau Rhea dalam tangisnya .
" kamu yang sabar ya nak , bunda enggak bisa ngelakuin apa-apa sayang , bunda yakin kamu anak yang hebat , anak yang tangguh , bunda yakin kamu bisa lewatin ini semua sayang ". ucap bunda Anjani dengan membelai punggung Rhea yang bergetar karena menangis .
" kamu nurut sama kakak kamu ya sayang , bunda akan sering-sering jenguk kamu di sana , kamu harus baik-baik aja selama disana , sering-sering kasih kabar ke bunda ya " . ucap bunda Anjani dengan menciumi kening Rhea .
Rhea mengangguk lemah , begitu berat rasanya melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah .
Rhea berpamitan kepada ayahnya dan bunda Anjani , Rhea semakin menangis sejadi-jadinya saat bundanya tak kunjung menyudahi tangisannya .
" udah dong bund , Rhea kan mau kerumah bibinya , bukan mau ke rumah musuhnya bund ". ujar ayah Amir pada bunda Anjani .
" ayah gak ngerti sih gimana rasanya di tinggal anak perempuan satu-satunya , ayah gak sedih Rhea mau pergi ?" . bunda Anjani.
" kenapa sedih sih bund , Rhea kan enggak pergi keluar negeri , dia tetep di Indonesia , nanti Kitakan bisa sering-sering kesana nengokin Rhea ". jelas ayah Amir yang membuat bunda Anjani menyebikkan bibirnya.
.
.
.
Sedang di tempat lain dengan waktu yang sama , Chakim tengah berbaring lemah di klinik , setelah teman-temannya membawanya kesana .
Karena demam tinggi hingga membuat Chakim sampai tak sadarkan diri membuat teman-temannya panik , namun kini keadaannya sudah membaik setelah mendapat perawatan dari dokter .
Sudah hampir satu setengah jam lamanya Chakim tertidur , kini kesadarannya mulai kembali , perlahan membuka mata , dan dokter jaga yang menjaganya sejak tadi membantunya untuk duduk ketika Chakim berusaha untuk duduk .
" dok...dokter Shanti " . ucap Chakim terbata karena sangking terkejutnya .
Dokter Shanti hanya tersenyum manis menanggapi keterkejutan Chakim .
" kog dokter Shanti bisa ada di sini ?". tambah Chakim yang masih tidak percaya jika dia bertemu dokter Shanti di tempatnya bertugas kini .
" iya kita berjumpa kembali , saya sedang di pindah tugaskan oleh kepala rumah sakit saya sebelumnya , karena dokter yang biasa jaga di sini sedang cuti menuju lahiran ". jelas dokter Shanti , Chakim mengangguk mengerti .
" bagaimana keadaan anda ? apa sudah mendingan ?". tambahnya .
" iya dok sudah mendingan , terimakasih banyak dok ". ujar Chakim sedikit malu-malu .
" oh ya , ini tadi ada titipan dari teman anda ". ucap dokter Shanti dengan menyerahkan sebungkus bubur yang sudah dingin .
" teman saya ?". tanya Chakim , dokter Shanti mengangguk mengiyakan .
" terus kemana dok teman saya ?". tanyanya lagi .
" teman kamu katanya tadi ada latihan , jadi dia nitipin itu buat kamu terus pergi ". jelas dokter Shanti . Chakim mengangguk mengerti . Dengan perlahan Chakim memakan bubur yang sudah dingin tersebut , dengan sesekali melirik dokter Shanti yang duduk di mejanya dengan beberapa lembar berkas di depan mejanya .
Kebetulan klinik tempat Chakim di rawat tidaklah besar ، hanya ada dua kamar , satu kamar untuk bersalin , dua untuk tempat perawatan umum dengan ruangan yang sedikit lebih lebar dengan ruang dokter yang jadi satu di dalamnya .
Dokter Shanti pun tersenyum saat tidak sengaja pandangan mereka saling bertemu .
Ada desiran aneh di hati Chakim , ada rasa ketertarikan kepada perempuan yang ada di depannya itu .
Keesokan paginya , Chakim sudah merasa dirinya baik-baik saja , dia meminta izin kepada dokter Shanti untuk kembali ke basecamp nya , setelah mendapat beberapa obat untuk memulihkan kondisi tubuhnya dari dokter Shanti , Chakim pergi kembali ke basecamp .
Setelah pertemuannya dengan dokter Shanti di klinik yang tanpa sengaja itu , kini Chakim semakin gencar mendekati dokter Shanti , Chakim sering pergi ke klinik hanya untuk bertemu dokter Shanti , mengajaknya makan siang atau hanya sekedar mengobrol hal-hal yang ada di sekitar mereka .
Semakin hari dokter Shanti dan Chakim semakin dekat dan akrab , bahkan teman-teman Chakim yang satu kamar dengannya sudah menghak patenkan jika dokter Shanti itu adalah kekasih Chakim , Chakim maupun dokter Shanti tidak pernah menolak jika teman-teman mereka menjodoh-jodohkannya .
Dokter Shanti sendiri merasa nyaman saat bersama Chakim , apalagi Chakim yang tidak perlu ditanya lagi bagaimana perasaannya kepada dokter Shanti , semua tahu jika Chakimlah yang dari awal mengejar-ngejar dokter cantik tersebut .
Hingga suatu hari , Chakim memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada dokter Shanti .
Tidak butuh waktu lama untuk Chakim mencari pasangan hidupnya , dia yang sudah yakin dengan perasaannya terhadap dokter Shanti mulai menyusun rencana untuk menyatakan perasaannya kepada dokter Shanti .
Chakim tidak akan membuang waktu lagi sebelum ada pihak lain yang akan mendahuluinya .
Dengan gerak cepat Chakim meminta bantuan teman-temannya untuk menyatakan perasaannya pada dokter Shanti .