
Di malam saat Andrhea menginap di rumah sakit setelah kejadian di pesta kosmik beberapa jam lalu , di waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda , Irvan tengah sedang seru-serunya bermain game bersama teman-temannya di tempat nongkrong mereka biasanya .
Di gudang rumah Erik teman Irvan yang mereka sulap menjadi basecamp Irvan dan kawan-kawannya . Irvan yang mulai lelah melihat pergelangan tangannya , dia mendesah saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam , dia sudah sangat terlambat untuk pulang kerumah , lantas dia terburu-buru merapikan jaket dan kunci motornya .
Erik dan Bagas yang melihat tingkah Irvan hanya menatapnya heran .
" gue cabut duluan dah malem , mama gue pasti udh uring-uringan nungguin gue ". setelah itu dia bergegas pergi meninggalkan teman-temannya .
" Van , brother Oey bro gue gimana ?". teriak Bagas saat dirinya menyadari jika dirinya sampai di tempat ini tadi datang bersama Irvan karena sepeda motornya kempes ban , alhasil Bagas nebeng dengan Irvan .
" gue udah kemaleman kalo harus nganterin loe pulang ". teriak Irvan yang sudah melajukan sepeda motornya dengan perlahan .
Terdengar Bagas yang mengumpat , dia bahkan menendang angin yang tak terlihat , sedang Erik yang melihat tingkah kawannya itu hanya menggeleng tanpa ada niat membantu Bagas.
Karena Erik yang malas mengantar Bagas pulang akhirnya dia menyuruh Erik untuk menginap di rumahnya saja atau tidur di basecamp , namun ketika waktu menunjukkan pukul dua belas malam tepat Erik dan Bagas terbangun kerena mendengar deringan handphone yang tak henti-hentinya .
Dengan mata yang masih lengket karena kantuk Bagas menerima panggilan telpon yang entah dari mana , Bagas sudah menekan ikon hijau dan menempelkan handphonenya di telinga .
" *Bagas tolong bilang ke Irvan buat cepat pulang , karena ayahnya sudah marah-marah ini di rumah* " . suara dari balik telepon yang membuat kening Bagas tampak mengkerut .
Dengan segera Bagas membuka mata dan melihat nama si penelepon , Bagas begitu terkejut saat dia melihat nama si penelepon yang ternyata ibunya Irvan .
Bagas masih belum menjawab ibunya Irvan , Bagas masih belum sepenuhnya sadar hingga ibunya Irvan mengulang ucapannya .
" *Bagas hallo , tolong ya bilangin Irvan buat cepet pulang , terimakasih ya nak* " . panggilan telepon berakhir sebelum Bagas menjawabnya .
Seperkian detik Bagas baru menyadari suatu hal , ibunya Irvan meminta tolong buat bilang ke Irvan untuk segera pulang , sedangkan yang dia tahu Irvan sudah pulang sejak dua jam yang lalu .
Dengan segera Bagas membangunkan Erik yang tidur di sampingnya , dan mengatakan semua yang baru saja dia dengar dari ibunya Irvan .
Seketika Erik dan Bagas saling tatap , " terus Irvan kemana ?". ucap mereka berdua kompak .
Bagas menelpon Irvan berulang kali , namun Irvan tak kunjung menerima atau mengangkat panggilan dari Bagas hingga membuat Bagas dan Erik frustasi di tempatnya .
" coba telpon terus gas , gue ambil kunci motor dulu ". Erik berkata setengah berlari kearah basecamp untuk mengambil kunci motornya dan di jawab anggukan oleh Bagas .
Erik mematung di depan pintu saat melihat handphone Irvan yang terus berdering di atas meja , dia menghembuskan nafasnya kasar dan mengambil handphone Irvan dengan cepat dan bergumam , setelahnya Erik mengambil kunci motornya yang menggantung di dinding .
* * * * *
Dengan kecepatan penuh Erik dan Bagas menuju rumah Irvan setelah Erik menemukan handphone temannya itu tertinggal di basecamp .
Namun sudah lebih dari belasan bahkan panggilan teleponnya tak di jawab sama sekali oleh Andrhea yang membuat Bagas semakin mengumpat serapah .
" gi mana gas udah bisa hubungin Andrhea ?". Erik berteriak bertanya pada Bagas , Bagas menjawab Erik dengan dengusan karena sebal karena Rhea tak dapat di hubungi .
Tampak dari kejauhan Bagas melihat seseorang tengah berjalan dengan menenteng helm fullface di tangan kanannya , Bagas sangat hafal dengan helm yang di bawa orang tersebut , Bagas dengan segera memukul bahu Erik pelan untuk menghentikan motornya .
" brother ". teriak Bagas yang membuat pemuda itu mengehentikan langkahnya dan melihat siapa yang meneriakinya .
\* \* \* \* \*
Keluarga Chakim begitu bahagia ketika pertemuan mereka dengan Shanti berjalan dengan baik dan mereka menerima lamaran Chakim .
Senyuman Chakim tak pernah luntur sepanjang perjalanan pulang . Chakim tidak pernah menduga jika perjalanan cintanya begitu mulus dan mudahnya , Chakim begitu berterima kasih dan bersyukur saat itu pada sang Khaliq .
Sebelum Chakim dan Shanti kembali ke Semarang , mereka membahas tema pernikahan mereka nanti pada keluarga mereka . Setelah semua dirasa cukup , Chakim kembali terlebih dahulu sedang Shanti masih di rumah setelah meminta izin kepada kepala klinik untuk menambah cutinya satu hari lagi .
Shanti mencicil persiapan pernikahan mereka di bantu oleh mamanya dan juga mama Chakim .
Kedua belah pihak keluarga sepakat akan menggelar akad nikah dua bulan lagi , mereka mengambil tanggal setelah pelantikan Chakim sebagai anggota TNI resmi .
Dan menggelar resepsi pernikahan setelahnya dan di lanjutkan keesokan harinya dengan mengundang teman dan keluarga besar mereka .
Shanti menyerahkan sisa persiapan pernikahannya kepada mamanya dan juga mamanya Chakim . Karena saat ini Shanti dan Chakim masih sama-sama di sibukkan dengan berbagai agenda dari atasan masing-masing .
Namun Chakim sudah meminta cuti jauh hari untuk persiapan pernikahannya , atasannya memberikan Chakim waktu cuti selama lima belas .
* * * * *
Hari-hari Chakim dan Shanti semakin sibuk dengan menerima usulan dari kedua orang tua mereka , terlebih mama Maya yang terlihat sangat antusias untuk mempersiapkan semuanya , Chakim lebih banyak mengalah dan menurut pada mamanya itu , yang terkadang membuatnya terheran .
" siapa sih yang sebenarnya mau nikah ". Chakim berulang kali menggerutu ketika mamanya selalu saja menghubunginya di setiap jam untuk meminta pendapat yang tidak butuh jawaban .
Mama Maya selalu meminta pendapat dan pertimbangan Chakim , namun pendapat Chakim tak pernah di setujui mamanya , karena mama Maya merasa apa yang dipilih Chakim tidak sesuai , tidak cocok dan masih banyak lagi alasan .
Maka dengan pasrah Chakim hanya mendengarkan mamanya .