
Takdir tiada yang tahu , setelah sekian lama tidak mendengar kabar dari sahabatnya, kini bunda Anjani , ayah Amir dan mama Maya di pertemukan kembali berkat anak-anak mereka .
Sejak sekolah menengah pertama mereka bertiga bersahabat , sebenarnya mereka berempat , namun salah satu sahabat mereka sudah tiada sejak mereka berkuliah , hingga kini tinggallah mereka bertiga yang tersisa , yang terpisah beberapa tahun karena keadaan .
Mereka melepas rindu , bercengkrama , memperkenalkan keluarga kecil mereka satu sama lain . Dan yang membuat bunda Anjani dan ayah Amir tak kalah terkejutnya ketika mereka tahu bahwa mama Maya telah menikah dengan papa Yudha . Salah satu most wanted di masa remaja di bangku Sekolah Menengah . Yang mereka tahu , kisah cinta antara mama Maya dan papa Yudha tak semulus aspal Korea . Kisah cinta mereka begitu ribet dan pelik . Dan sekarang mereka di satukan dalam ikatan pernikahan , begitu bahagianya bunda Anjani saat mengetahuinya .
Setelah cukup lama mereka berada di Rumah Sakit dan Andrhea tak kunjung sadar , akhirnya Andra memutuskan untuk meminta mereka pulang dan akan memberi kabar jika ada sesuatu . Akhirnya mama Maya pulang dengan papa Yudha begitupun bunda Anjani dan ayah Amir .
kini tinggallah Andra dan Chakim di Rumah Sakit , Andra terlelap di atas sofa yang sempat di tiduri mama Maya tadi sedangkan Chakim tidur di bawah beralaskan kasur lantai dengan bulu lembut yang tebal , sebenarnya Andra sudah meminta Chakim agar pulang saja , tentu saja Chakim menolak , dia harus tetap di Rumah Sakit karena dia merasa harus bertanggung jawab atas semuanya , dan akhirnya Andra membiarkanya dan memberikan Chakim kasur lantai yang ada di bagasi mobilnya .
...****************...
ANDRHEA POV
Kumandang suara adzan menyadarkanku dari tidurku , aku buka perlahan kelopak mataku , seketika aku menggeliat takala sinar cahaya lampu masuk ke Indra penglihatanku . Aku menggerakkan tangan kiriku untuk menghalau sorot cahaya lampu , namun aku meringis kesakitan saat aku menggerakkan tangan kiriku , aku mengerang sakit di sekujur tubuhku.
Perlahan aku mengangkat tangan kananku , aku berusaha sekuat tenaga bangkit dan perlahan menyandarkan punggungku di sandaran brangkar , belum sempurna aku duduk , tiba-tiba suara lembut di iringi gerakan tangan yang membantuku untuk membuatku lebih nyaman saat duduk .
Senyuman manis nan memukau yang aku liat saat pertama kali membuka mata " aku yang cewek liat dia senyum aja klepek - klepek , apa kabar para cowok yang liat dia " . Batinku bergumam.
"gi mana ? udah nyaman ? " . tanya orang itu . Entahlah apa yang aku rasa , aku sepertinya terpesona dengan orang yang ada di hadapanku , mungkin aku sudah gila , tapi percayalah senyum orang ini begitu memabukkan , tak akan pernah bosan memandanginya . Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya .
" maaf ya saya periksa dulu , gak usah tegang , santai saja ya , tarik nafas dan keluarkan perlahan " . Perintahnya lagi .
Aku menuruti setiap katanya , dia bilang aku baik-baik saja , dan hanya banyak istirahat agar kondisiku pulih kembali , setelah itu dia mengambilkanku segelas air putih yang ada di atas meja , mungkin dia tahu aku dehidrasi karena bibirku yang memucat dan kering . Saat dia mau beranjak pergi aku mengehentikan langkahnya .
" dok kenapa tangan kiri saya tidak bisa bergerak dok ?". tanyaku .
" hanya retak ringan , mungkin satu atau dua bulan asal rutin mengikuti terapi akan sembuh seperti sedia kala" .
Jawabnya dengan ramah di iringi senyuman tipis yang tak pernah pudar dari bibirnya , namun aku baru menyadari satu hal , dia bilang tanganku retak ringan ? dan harus terapi selama satu atau dua bulan ?
" apa ?" . teriakku terkejut , hingga dokter yang ada di depanku menutup kedua telinganya dengan tangannya .
" Anda sudah gila ya , bagaimana bisa retak ? bagaimana saya bisa menari kalau harus rebahan selama itu ?" . teriakku dengan emosi .
" gila kamu ya , sebulan itu udah lama dok , sedangkan aku dua pekan lagi ada event dan aku di percaya untuk tampil demi tim aku , gimana sih gak lama cuma bentar " . bentaku . Dokter itu terlihat kebingungan, dia tidak mengerti apa maksud ucapanku , hingga suara deheman seseorang menengahi perdebatan kami .
" Andrhea bisa sopan nggak sama orang yang lebih tua " . geram Andra , langsung saja aku merapatkan bibirku , " *sial* " . batinku menggerutu . Ku alihkan pandanganku ke jendela kaca yang ada di samping ranjangku .
" Shan sorry ya adek gue emang gitu anaknya " . ucap Andra
Aku mendengar percakapan mereka meski aku tak melihat mereka berdua .
" iya gak papa kog ".
" gini Shan , sebenernya adek gue itu ikut event nari gitu , nah acaranya dua pekan lagi , jadi hari-hari ini dia latihan keras banget biar bisa tampil full gitu nanti , eh malah dia jatoh untung cuma tangannya gak sekalian kakinya yang patah " .
Aku mendelik mendengar kata-kata kakaku yang menyumpahi kakiku patah , aku melemparkan bantal ke arah kakaku yang resek itu.
Sialnya dia menghindar dengan cepat di sertai tawa ejekannya , huh sungguh ingin aku cincang kakaku itu .
" owh begitu , kasian banget ya Rhea ". ucap dokter tadi yang ternyata teman kakakku .
" ya udah banyak istirahat semoga lekas sembuh sebelum hari-H ya Rhe , nanti kita usahakan kamu cepet pulih " . ucap dokter cantik itu dengan lembut , seketika mataku berbinar mendengarnya.
Setelah itu kakakku dan dokter berbincang ringan , entah apa yang mereka bicarakan aku sudah tak menghiraukan mereka lagi , aku menatap seseorang yang tertidur pulas di bawah dan beralaskan kasur lantai , dengan tangannya dia gunakan sebagai bantalan hingga menonjolkan otot-otot di lengannya sangat terlihat .
" siapa dia ? apa dia juga temennya kak Andra ? " . gumamku dalam hati .
Saat aku pandangi orang tersebut , tiba-tiba saja kelopak mata orang tersebut terbuka , dengan segera aku mengalihkan pandanganku , aku melihat ke atas ke bawah entahlah aku seperti orang yang sedang ketahuan mencuri , aku bingung sendiri harus melihat ke arah mana dan dan harus bagaimana . Aku hanya berharap orang itu tidak melihatku tadi saat aku memerhatikannya .
Aku tak mendengar apapun , saat aku melihat seisi ruangan ternyata orang itu sudah pergi , entah sejak kapan dia pergi , aku hanya melihat bayangannya yang berjalan melewati pintu .
Aku bisa bernafas lega , aku mendengar decitan brankar Irvan bergerak , aku lihat dia membuka mata , dia melihatku dan tersenyum , aku balas senyumannya , dia bangkit dan duduk , dia bertanya bagaimana keadaanku , aku menjawab kalau aku baik-baik saja , dia mengucapkan banyak kata , yang inti dari seluruh perkataannya Irvan meminta maaf kepadaku karena dialah yang menyebabkan aku cedera sampai seperti ini , entah lah aku bingung , aku hanya menganggukan kepalaku saja menanggapi ucapan Irvan .
Saat kami sedang berbincang , tiba-tiba pintu ruangan di buka secara kasar oleh seseorang , saat orang itu masuk ternyata itu kedua orang tua Irvan dan seorang gadis , aku menatap gadis itu dengan penuh tanda tanya ," *siapa gadis itu* ?" . tanya pada batinku .
Tapi sepertinya gadis itu menatapku dengan tatapan tidak suka , siapa sebenarnya gadis itu , aku belum pernah melihatnya , aku melirik Irvan yang hanya diam dengan muka kaku dan pucat , ada yang sedang dia fikirkan pikirku .
Hay semuanya , terimakasih yang masih setia di cerita aku , semoga dapat menghibur kalian semua . sampai jumpa di episod selanjutnya.