
Setelah makan malam , Chakim mengajak Shanti pergi berjalan-jalan di kompleks perumahannya . Tidak ada yang menarik memang , hanya berjalan menyusuri jalanan yang sedikit lengang hanya ada beberapa pemuda pemudi yang berlalu dan orang-orang yang baru kembali dari tempatnya bekerja .
" mamah kamu baik ya ". ucap Shanti , dia merasakan kehangatan dari keluarga Chakim semenjak dirinya datang ke rumah Chakim , meski dirinya hidup dengan penuh kasih sayang dari kedua orangtuanya , kehangatan keluarga Chakim menggambarkan bahwa dirinya di terima oleh kedua orang tua Chakim , membuat hati Shanti menghangat .
" hemmm , mamah aku juga suka banget bikin kue apalagi ada temennya" jawab Chakim menyebut salah satu kehebatan sang mama .
" iya tadi kue buatan mamah kamu enak banget , jadi pengen belajar sama mama kamu ". ucap Shanti yang kemudian malu sendiri dengan ucapannya , menutup tawanya dengan sebelah tangan .
" boleh , nanti aku bilangin sama mama ". jawab Chakim , sebenarnya bukan hanya Shanti yang ingin belajar membuat kue , tapi Chakim juga ingin melihat dua wanita tersayangnya bisa bersama-sama berkolaborasi di dapur yang sama , salah satu impian Chakim .
Tidak jauh dari tempat mereka berjalan , ada pendar cahaya temaram , terlihat ada setengah buah-buahan di kaca gerobak , dan ada beberapa pembeli yang mengantri di sana .
" kamu mau rujak ?". tanya Chakim menunjuk pedagang rujak dengan gerobak berwarna kuning itu .
" boleh ", jawab Shanti antusias , terlihat menggiurkan dan menyegarkan sekali potongan buah-buahan yang di beri sambal kacang di atasnya , Shanti membayangkannya saja sudah tidak sabar .
Chakim memesan dua porsi rujak dengan porsi lengkap , kemudian mengajak Shanti duduk di kursi plastik yang sudah di siapkan oleh pedagang rujak itu .
Sebelumnya pedagang meminta Chakim menunggu karena masih harus membungkus beberapa lagi rujak pesanan orang yang sudah menanti sedari tadi .
Shanti menggesek-gesekkan telapak tangannya yang tertutup dengan switer , menghangatkan tangannya dari dinginnya angin malam yang mulai terasa .
Chakim melihat pedagang rujak yang kelihatannya masih lama menyiapkan pesanannya , di liriknya Shanti yang sudah sibuk dengan fikirannya .
" dingin ?". tanya Chakim yang melihat Shanti meniup-niup telapak tangannya yang menggenggam erat .
" lumayan ". ucap Shanti menjawab pertanyaan Chakim , suasana kembali canggung , Chakim bukannya tidak peka , hanya saja dia memikirkan sesuatu yang berusaha akan dia katakan .
Dalan fikirannya merangkai sebuah kata , menimbang-nimbang sebuah keputusan yang akan di ambilnya .
Sebuah pesan masuk dalam phonsel Chakim .
Chakim melihat phonselnya , dilihatnya nama Andrhea yang tertera di sana .
" kak Chakim sampaikan terimakasih saya buat tante Maya ya ". isi pesan dari Rhea .
Ada beberapa guratan di kening Chakim sesaat setelah membaca pesan singkat dari Rhea , " *terimakasih buat apa* ?". gumamnya dalam hati .
" iya sama-sama , kamu udah baikan ?". balas Chakim.
Shanti yang akan bertanya siapa pengirim pesan pada kekasihnya itu dia urungkan karena pedagang rujak sudah selesai menyiapkan pesanan Chakim dan menyerahkannya pada mereka berdua .
Shanti begitu menikmati rujaknya , namun tidak dengan Chakim , fikirannya masih terbang membangun kata-kata dan mengumpulkan keberaniannya kembali untuk melamar Shanti .
Suara anak kecil yang terlihat masih anak sekolah dasar tengah menjajakan berbagai minuman dan menawarkannya padanya dan membangunkan Chakim dari lamunannya .
Chakim yang terkesiap , membeli dua botol minuman dari anak kecil tersebut .
" kamu malam-malam kok masih jualan ". tanya Shanti pada anak kecil itu . Shanti yang melihat anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar masih harus bekerja meski hari sudah gelap .
" iya kak , sebentar lagi ujian , saya bantu ibuk buat tambahan bayar uang sekolah kak ". jawab anak itu polos .
" rumah kamu dimana ?". tanya Shanti lagi .
" di gang sana kak , rumah paling ujung ". jawab anak itu menunjuk jalan raya dengan begitu polosnya .
Chakim yang mendengar percakapan Shanti dan anak kecil itu mengambil beberapa lembar uang di dalam dompetnya .
Dan memberikan anak kecil itu beberapa lembaran uang .
Anak itu begitu terkejut menerima beberapa lembaran uang pecahan seratus ribuan dari Chakim , bahkan anak itu sampai ternganga tidak percaya .
" kamu simpan baik-baik uangnya , buat bayar sekolah kamu ". ucap Chakim setelah memberi uang pada anak kecil itu .
" terimakasih kak , terimakasih". seru anak kecil itu dengan girang .
" kamu udah makan belom ?". tanya Chakim , dan anak kecil itu menggelengkan kepalanya .
" kamu mau ini ?" . tanya Shanti mengangkat piring rujaknya . Dan anak kecil itu mengangguk lucu dan polos , Shanti mengacak rambut anak kecil itu dengan senyuman meneduhkan .
Chakim memesan satu porsi rujak untuk anak kecil itu , tadi memesan beberapa rujak di bungkus untuk di bawa pulang oleh anak kecil itu .
Anak kecil itu makan dengan lahap rujaknya , dia mengambil dua sampai tiga potong buah dalam satu tusukkan , terlihat penuh di mulutnya dan terlihat sangat lucu , Shanti mengacak kembali rambut anak itu dengan gemas .
Dalan beberapa menit saja rujak anak kecil itu sudah bersih dari piringnya berpindah kedalam perutnya .
" anak pinter ". Seru Chakim saat melihat anak itu sudah terlihat kenyang . " ini buat orang tua kamu sama saudara kamu di rumah ya ". Ucap Chakim dengan memberikan bungkusan rujak kepada anak kecil itu , anak kecil itu mengucapkan terimakasih berulang-ulang dan mencium tangan Chakim dan Shanti bergantian .
Anak kecil itu yang tidak di ketahui namanya pulang dengan hati senang dan perut kenyang .
Chakim mengajak Shanti untuk pulang setelah menghabiskan rujaknya .
Jalanan mulai lengang , jarang kendaraan yang melintas , sesekali Chakim dan Shanti bercanda mengusir kecanggungan .
Chakim mengajak Shanti duduk di bangku depan teras rumahnya saat sampai di rumah .
" kamu belum ngantuk ?". tanya Shanti .
Chakim menggelengkan kepalanya ," masih pengen ngobrol sama kamu ".
" kan besok masih bisa bicara lagi ". tawar Shanti , karena dia sudah terlihat lelah setelah menempuh perjalanan panjang , dan harus membantu mama Maya menyiapkan makan malam .
" kangen terus rasanya sama kamu ". rayu Chakim yang berhasil membuat pipi Shanti bersemu merah .
" kamu pakekin formalin ya , makanya kangennya awet ". tambah Chakim yang kemudian mereka berdua tergelak mendengar gombalan Chakim .
" kamu tuh ya , dasar ". seru shanti yang malu tapi juga senang dengan sikap kekasihnya itu .
" Shan ".
" hemm ".
" kamu sayang enggak sama aku ? ". tanya Chakim
" kalau enggak sayang masa aku nerima kamu sih kemaren ". jawab Shanti jujur .
" makasih ya Shan ".
" kenapa harus berterima kasih sih , kan aku enggak ngapa-ngapain ". jawab Shanti.
" ya pengen aja bilang makasih karena kamu udah enggak nolak aku kemaren ".
Shanti tertawa mendengar pernyataan Chakim yang menurutnya sedikit aneh , kemudian terdengar gelakkan kecil dari Chakim .
Shanti yang merasa di kerjai oleh Chakim memukul pundak Chakim , sedang Chakim masih saja tertawa .
" Shan nikah yuk ". ucap Chakim tiba-tiba .
" apa ?".