
Ketika bangun tidur , Rhea kebingungan mencari phonselnya , dia ingat dia menaruhnya di atas meja di dekat tempat tidurnya , tapi dia sudah mencari - carinya tidak juga menemukan benda itu .
Andra yang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di dalam ruangan melihat adiknya yang clingak clinguk mencari sesuatu , namun Andra enggan bertanya karena sudah tahu apa.yang di cari oleh adiknya itu .
" kak liat phonsel aku enggak ?". tanya Rhea yang tak kunjung menemukan yang di carinya .
" enggak tahu ". jawab Andra singkat , Andra tidak akan memberi tahu Rhea di mana phonselnya berada , karena Andra sudah merusak phonsel Rhea dan membuangnya di tempat sampah .
Rhea masih terlihat kebingungan mencari-cari phonselnya , membuka dan membolak balik selimut di atas kasur , " masa gue lupa sih narohnya ". gumamnya pelan .
Remon masuk kedalam ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu , dan terlihat dia menenteng beberapa kantong , terlihat seperti makanan .
" nyari apaan sih ?" . tanya Remon keheranan yang melihat Rhea kebingungan mencari-cari sesuatu .
" phonsel gue kak , kok enggak ada sih , kakak umpetin ya ?". kesal Rhea yang tak kunjung menemukan phonselnya .
" cek , ngapain gue ngambil phonsel loe , enggak ada untung nya buat gue ". jawab Remon tak terima . Rhea mencebikkan bibirnya.
Andra terlihat sibuk dengan phonselnya , menjawab singkat dan setengah berbisik percakapannya dengan seseorang di seberang saluran telfonnya .
Remon mengeluarkan beberapa makanan yang baru di belinya dan manaruhnya di atas meja .
" makan dulu gaes , biar kenyang ". serunya satu tangannya mengambil ayam goreng crispy dan melahapnya tanpa menunggu Andra dan Rhea terlebih dahulu .
Andra menggeplak kepala Remon pelan yang sedang menikmati ayam crispynya , " enggak nungguin ". seru Andra . Remon hanya tertawa tanpa suara .
" rhe makan dulu ". perintah Andra , Rhea dengan lemah berjalan menuju tempat duduk kakaknya .
Andra menyerahkan bubur ayam yang masih terlihat ada kepulan asap di atasnya .
" entar beli lagi , beli yang keluaran terbaru rhe , yang itu bisa dilipat-lipat kayak makeup itu rhe , cocok tuh buat loe ". ucap Remon yang melihat Rhea masih sedih karena belum menemukan phonselnya .
Rhea menatap jengah Remon , " *katanya lagi patah hati , tapi ngomong gak henti-henti , lihat makannya lahap banget lagi* ". gerutu Rhea dalam hati .
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Rhea , Andra memperhatikan adiknya yang murung , ada rasa sedikit kasihan di hatinya .
" maaf dek , ini semua demi kabaikan elo ". batin Andra
Phonsel Andra yang berada di atas meja berdering , tertera nama Ayah di sana , buru-buru Andra menerima panggilan tersebut .
Ayah Amir meminta Andra untuk mampir kekantor Pak Johan untuk mengambil berkas kontrak kerjasama antara Tamami produktion dengan dengan elang tekstil yang berada di Yogyakarta .
Sebenarnya ayah Amir bisa saja meminta pak Johan mengirim datanya melalui via email , namun ayah Amir ingin Andra sedikit banyak mengetahui bisnisnya dan bukan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai dokter .
Karena bagaimanapun Andra yang nantinya yang akan meneruskan usahanya tersebut .
" baik yah , setelah ini Andra akan pergi ke kantor pak Johan ". jawab Andra patuh .
Setelah menyelesaikan sarapannya , Andra dengan buru-buru pergi , dan meminta Remon untuk menjaga Rhea selama dirinya pergi .
" serahin aja ke gue ". jawab Remon .
Saat Andra membuka pintu , seorang dokter sudah berdiri di depan pintu bersiap akan masuk kedalam .
" dokter ". seru Andra
" pagi pak Andra ". sapa dokter tersebut .
" mau melanjutkan pemeriksaan dok ?". tanya Andra
" tidak pak Andra , cuma mau memasang gips pada nona Andrhea , karena sangat di perlukan agar supaya tidak terlalu banyak pergerakan yang mengakibatkan cederanya semakin parah pak ". jelas dokter tersebut .
" oh ya dok silahkan , lakukan yang terbaik untuk adik saya ".
" iya pak Andra , samampu kami , nanti nona Andrhea sudah di izinkan untuk istirahat di rumah pak ".
Andra melihat ke arah Remon yang berdiri di tengah-tengah pintu mendengar percakapan Andra dan dokter tersebut .
" tenang biar gue yang urus ". ucap Remon yang seakan tahu arti pandangan Andra .
" emang bisa di andelin loe ". ucap Andra dengan menepuk bahu Remon pelan , " kalau gitu gue permisi ". tambahnya dan berlalu pergi dengan sedikit berlari kecil .
Remon masih memantau Rhea yang sedang di pasangkan gips oleh dokter , wajah Rhea masih begitu muram .
Remon menghela nafas dalam , " susah emang bujuk tuan putri , apa susahnya sih tinggal beli phonsel baru , kan dia anak sultan " , gumam Remon dalam hatinya .
Dokter telah selesai memasang gips di bahu Rhea , dan menjadwalkan pukul 15:00 nanti Rhea sudah di perbolehkan untuk pulang .
Remon berjalan mendekati Rhea yang beristirahat di atas tempat tidur .
" Laeau pinjem phonsel gue ?". tanya tiba-tiba Remon .
Rhea masih terdiam , enggan menjawab pertanyaan Remon .
" loe kenapa sih sedih kayak gitu , duit bokap loe kan banyak rhe , tinggal loe nunjuk mau phonsel yang kayak gimanapun bisa rhe ". ucap panjang lebar Remon yang kesal melihat Rhea yang masih sedih karena tidak menemukan phonselnya .
" ssst cek ...kak , gue bisa beli phonsel baru lagi , tapi bukan itu masalahnya kak rem ". jawab Rhea sedih .
" terus ?". ucap Remon
" hari ini temen-temen gue mau tampil ngedance kak , dan gue enggak bisa dukung mereka , gue pengen liat mereka menangin event itu kak , kayak setiap tahunnya ". jelas Rhea dengan sedih .
Remon menganggukkan kepalanya , kini dia mengerti apa yang membuat Rhea sedih .
Suara deringan phonsel di atas meja terdengar nyaring , mengejutkan Rhea dan juga Remon .
" itukan phonselnya Andra ". ujar Remon
Remon mengambil phonsel Andra yang yang masih terus berdering dengan nama id Deni yang tertera di layar phonsel Andra .
" gue enggak pernah kenal temen Andra yang namanya Deni ". seru Remon dengan nada bertanya pada Rhea .
Rhea menganggkat bahu tidak tahu , lalu meminta phonsel Andra yang dipegang Remon , dan menerima panggilan tersebut .
" pagi bos , semua sudah beres seperti yang bos perintahkan semalam ". jawab seseorang yang diketahui bernama Deni dari seberang panggilan sana .
Rhea yang belum mengeluarkan sepatah katapun sedikit terganggu dengan ucapan orang tersebut yang memanggil kakaknya dengan sebutan bos .
" pemuda itu tidak akan lagi menganggu nona muda sekarang ". ucap lagi orang yang bernama Deni itu .
Rhea membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan Deni . Remon dibuat penasaran dengan melihat ekspresi wajah Rhea .
Rhea mengakhiri panggilan tersebut , dan tak berapa lama sebuah pesan masuk kedalam phonsel Andra .
Orang yang bernama Deni mengirim sebuah foto , Rhea membuka foto tersebut .
" inikan Irfan ". ucap Rhea yang begitu terkejut melihat Irfan yang sudah terkapar di tanah dengan beberapa luka lebam di wajahnya .
Remon dengan cepat menyambar phonsel Andra yang dipegang Rhea . Remon tak kalah terkejutnya dengan Rhea .
Kemudian mereka berdua saling pandang , Rhea mengumpat dalam hatinya .
" **** , ternyata kak Andra aaaaachk ". teriak frustasi Rhea dalam hatinya .