
" Sorry, itu emang salah gue, salah gue juga waktu itu karena nolak ketemu sama lo padahal lo udah jauh jauh nyusul gue ke Indo cuma buat ketemu gue."
" Jelas aja lo salah. Lo pikir gue mau buang buang waktu gue cuma buat cowok kayak lo. Dan ingat satu lagi, gue bukan nyusul lo Indo, gue cuma mau ngebahas soal kerjasama antara perusahaan gue sama lo. Paham lo?"
" Tapi waktu itu..."
" Udah udah, gue gak mau dengar apa pun lagi dari lo, gue paling gak suka sama orang yang gak bisa menghargai waktu dan seseorang. Dan satu lagi, lo tenang aja gue bakalan pastiin gue akan menolak perjodohan ini."
Sialan ni cewek, harga diri gue benar benar di injak banget sama dia, dia kira siapa dia sampai berani menolak untuk nikah sama gue. Kalau aja kakek gak tau tentang Stella, gue bisa dengan mudah mengejar Stella.
" Lo yakin mau nolak? Keuntungan yang di dapat saat kita menikah bukan sedikit tentunya. Apalagi kakek gue berencana untuk mewariskan seluruh hartanya ke gue. Dan untuk hadiah pernikahan tentunya beberapa persen saham di MC Group. Lo kira hadiah pernikahan untuk siapa?"
" Lo kira gue perduli dengan harta lo itu? Yang harus lo ingat baik baik, gue udah sering ngeliat cowok kayak lo yang cuma mementingkan materi di atas segalanya. Gue gak akan mau hidup sama lelaki yang bahkan gak bisa menghargai seorang perempuan, jadi gue gak akan setuju sama perjodohan ini. Paham lo? Kita pergi Sean."
Aleena benar benar menguji kesabaran gue, dia pikir dia siapa? Lihat saja, sebelum dia membatalkan perjodohan ini, gue akan lebih dulu bilang ke kakek untuk membatalkan pertunangan ini.
Pada akhirnya disinilah gue, tepat di hadapan kakek diruang kerja nya. Karena mengikuti emosi sesaat, gue menghampiri kakek dan dengan bodohnya mengatakan semua hal yang gue pikirin.
" Lalu kamu di campakkan?"
" Kakek..!! Yang benar itu Javen yang ingin membatalkan pertunangan ini."
" Kamu seharusnya tak pernah mengatakan hal bodoh seperti itu Javen, bagaimana bisa kamu mengatakan tentang harta di depan Aleena. Kamu benar benar tau cara membuat Aleena membenci kamu."
" Siapa sangka dia gak tergiur sedikitpun oleh kata kata itu. Jadi percuma aja kek, Javen tetap akan membatalkan pertunangan ini, dengan atau tanpa persetujuan kakek."
" Baiklah, tapi ingat satu hal Javendra Curtis, ketika kamu mengambil keputusan ini, sebaiknya kamu sudah mempersiapkan diri untuk konsekuensi yang akan kamu terima. Jangan sampai kamu menyesal dan memaksa kakek untuk memperjuangkan perjodohan ini lagi."
" Kakek tenang saja. Javen sangat sangat yakin, Javen gak akan menyesal. Lagipula ada seorang wanita yang Javen cintai."
" Pemilik butik yang kamu kenalkan dengan beberapa kolega kamu? Jangan pernah di butakan oleh sesuatu yang bersifat sementara Javen."
" Apa maksud kakek?"
" Sudahlah. Kakek akan istirahat. Kakek akan memikirkan penjelasan apa yang sebaiknya kakek berikan pada keluarga mereka."
****
* Aleena POV *
Pagi ini gue bangun agak kesiangan karena semalam gue begadang untuk membereskan kerjaan gue. Tapi rasanya kenapa rumah gue sepi banget. Gue mencoba mencari keruang kerja mami dan papi, tapi tak terlihat seorang pun disana. Gue mencoba mencari ke kamar Sean, Sean juga gak ada di kamarnya. Di atas meja Sean, gue menemukan berkas berkas yang berserakan. Benar benar tipikal Sean.
" Kebiasaan banget tu anak, selalu kalau habis ngerjain sesuatu gak diberesin."
Ketika membereskan berkas tersebut, gue kaget karena melihat beberapa potongan artikel. Di sana tertulis bahwa keluarga Remos sedang dalam keadaan genting. Akan tetapi tak ada satu pihak pun yang memberikan penjelasan pada mereka. Tiba tiba Sean masuk ke dalam kamar.
" Aleena, lo disini. Gue cariin ke kamar lo gak ada. Turun yok, mami sama papi mau ngomong katanya. Sekalian lo belum makan kan."
Gue bingung, kenapa Sean tenang banget, bahkan gak marah waktu nampak gue lagi megang berkas yang ada dikamar nya. Biasanya dia bakalan marah banget. Gue mengikutinya turun dan bertemu dengan mami dan papi, mereka ada di meja makan tapi apa apaan wajah murung mereka ini, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
" Hai pi, mi. Maaf ya Aleena bangun kesiangan."
" Gak papa sayang. Sesudah makan kamu siap siap ya."
" Emang kita mau kemana pi?"
Papi dan mami saling pandang penuh arti.
" Kamu makan dulu aja, nanti juga bakalan tau."
" Apaan deh, main rahasia rahasiaan segala."
" Aleena, dengarkan papi. Sebenarnya kita akan ke acara pemakaman keluarga Remos."
Deg...Deg...Deg...
Apa apaan ini? Siapa yang meninggal?
" Papi dapat telfon pagi ini, salah satu sekretaris pribadi Rendi mengatakan bahwa..."
" Kenapa pi?"
" Pagi ini pengacara pribadi Rendi mengatakan bahwa dia menerima Email dari Rendi Remos semalam, tetapi karena pekerjaan dia baru membukanya pagi ini. Di Email mengatakan bahwa Vanilla bukan lah Vanilla yang asli, papi juga gak tau bagaimana detailnya. Tetapi ketika sekretaris dan pengacara nya sampai di kediaman Remos, mereka mendapati jika...."
" Jangan bilang kalau papa,, papa..."
" Bukan hanya itu saja sayang, tetapi Vanilla dan Damian menghilang."
Deg...Deg...Deg...
Biarpun gue memutuskan untuk tak berhubungan lagi dengan keluarga itu, tapi papa tetaplah papa yang menyayangi gue sedari dulu. Papa adalah papa yang sangat baik dan penuh kasih sayang. Tapi kenapa malah berakhir begini...
" Papi....Mami..."
" Mami tau sayang. Kamu kuat ya. Kita kesana sekarang."
Akhirnya gue, Sean, mami, dan papi berangkat ke kediaman Remos. Sesampainya disana suasana benar benar sesak, banyak sekali orang orang disini, bahkan para wartawan sedang berusaha untuk masuk. Mata gue benar benar bengkak karena sepanjang jalan gue menangis tak henti henti. Ketika melihat jasad papa, gue menangis sejadi jadinya, bagaimana bisa orang yang menyayangi gue selama ini terbaring kaku seperti ini. Mami dan Sean berusaha menenangkan gue, papi sedang menyapa beberapa tamu yang hadir. Pada akhirnya semua nya heboh akibat gue pingsan.
Ketika bangun, acara pemakaman sudah selesai di laksanakan, hanya tinggal beberapa orang yang berada di kediaman ini, semua maid yang berada dirumah ini pun langsung memilih untuk pulang kerumah nya masing masing karena mereka sudah tak memiliki pekerjaan lagi, begitu juga dengan penjaga dirumah ini.
Yang tersisa hanya bik Asih pembantu yang bekerja dirumah keluarga Remos dari gue kecil, kak Stevia sekretaris pribadi papa, dan pak Yohan pengacara papa. Kak Stevia dan pak Yohan sedang berbicara dengan papi dan mami saat gue menghampiri mereka diruang tamu.
" Aleena? Bagaimana keadaan kamu sayang? Kalau kamu capek kita pulang sekarang ya, biar kamu bisa istirahat."
" Aleena masih punya pertanyaan mi, kita pulang setelah semuanya jelas."
" Baiklah."
" Begini nona Celine. Bolehkah saya berbicara?"
" Saya bukan lagi Celine pak."
" Baiklah, maaf nona Aleena. Saya akan langsung saja, seperti wasiat terakhir dari tuan Rendi Remos, setengah dari harta kekayaan keluarga Remos akan di wariskan pada anak perempuannya Nona Crystaline Amanda Remos. Dan juga ini adalah data dari RX Fashion yang berada di Paris, tuan Rendi Remos menitipkan ini pada saya sejak 10 tahun yang lalu. Ini adalah perusahaan yang di bangun oleh tuan Rendi sebagai hadiah untuk nona Crystaline. Karena nona sekarang sudah mengganti identitas, ini akan memakan waktu sekitar satu bulan untuk memprosesnya."
" Apa maksudnya pak Yohan? Bagaimana bisa setengah kekayaan Remos menjadi milik anak kami. Kami gak bisa menerima hal ini pak, akan ada banyak masalah kedepannya untuk Aleena."
" Saya hanya menyampaikan pesan terakhir beliau nyonya. Itulah tugas terakhir saya sebagai pengacara pribadinya. Semua nya tertulis dalam wasiatnya, bahkan di wasiat terakhir yang saya terima tadi pagi hanya merubah bahwa Ny. Vanilla Zarsya Zen'S dan Damian Ananda Remos kehilangan haknya atas kekayaan keluarga Remos."
" Saya ingin tau, apa yang sebenarnya dikirim papa waktu itu. Bisa tolong jelasin ke saya pak?"
" Maaf nona, pada pesan yang ditinggalkan oleh beliau, beliau menyebutkan untuk tidak memberitahukan hal itu pada siapapun termasuk nona. Beliau ingin nona menjalani hidup yang bahagia tanpa harus tau masalah yang terjadi, beliau juga berpesan agar saya hanya menyampaikan tentang warisan saja. Saya minta maaf sekali lagi nona."
" Saya sarankan agar lebih baik bapak memberitahukan hal itu pada saya sekarang. Biar bagaimanapun, papa tetap papa saya. Saya ingin mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Jadi tolong pak.."
" Maafkan saya nona, memang lebih baik anda tidak mengetahui hal ini. Karena ini bisa jadi merupakan aib dari keluarga beliau."
" Baiklah, jika bapak tetap bersikeras untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi, saya akan...."
****