
Aleena kaget melihat tempat itu, tiba tiba banyak kenangan yang masuk ke kepala nya, seakan ingatan ingatan itu berlomba untuk mengisi tempat kosong di kepala nya. Kepala Aleena benar benar sakit, tetapi karena Aleena rajin terapi, Aleena bisa menahan rasa sakit itu.
Aleena melihat ada dua orang pria yang berjalan mendekati mobil mereka, secara reflek Aleena berkata..
" Pergi sekarang...!!"
Daniel langsung melajukan mobilnya sebelum sempat di hampiri oleh dua lelaki itu.
****
- Damian POV -
Saat ini gue sedang bersantai dengan Kemal di kamar lama Line. Sejak Line menghilang, barang barang Line gue pindahin ke gudang, gue gak tahan liat mama sama papa setiap hari hanya bertengkar karena membahas Line. Contohnya aja, mereka bertengkar hebat karena mama ingin membuat semua barang barang yang ada di kamar Line, papa sangat tidak terima dengan apa yang dilakukan mama.
Semenjak itu papa setiap hari betah untuk berlama lama di kamar Line. Semenjak Line menghilang, banyak perubahan dari mama yang gue liat. Satu hal yang gue tau semenjak Line menghilang, mama jadi orang yang benar benar berbeda, mama yang gue liat sekarang seakan itu adalah benar benar jati dirinya yang selama ini dia sembunyikan.
" Damian..!! Kamu jagain papa kamu supaya gak terus terusan nyari anak sialan itu..!! Anak sialan itu benar benar menghancurkan segalanya..!!"
" Jangan sembarangan kamu Vanilla..!! Mau bagaimanapun Line adalah anak saya..!!"
" Jangan pernah menyebutkan nama itu, Line kita udah mati Rendi..!! Dia cuma ****** yang gak tau tempatnya ada dimana..!!"
Gue benar benar jengah melihat papa dan mama.. Gue benar benar jadi membenci Line, kenapa dia masih harus membuat keluarga gue terpecah kayak gini. Sejak awal, papa dan mama lebih menyayangi Line daripada gue, papa dan mama sampai mengirim gue jauh dari mereka hanya karena Line. Dan sekarang, gara gara dia juga mama dan papa gue terus bertengkar seperti ini.
" Mau sampai kapan kalian membahas hal yang sama setiap harinya? Kalian gak bosan? Papa, cukup pa..!! Mama juga udah cukup sampai disini aja. Damian bosan mendengar pertengkaran kalian yang setiap hari hanya membahas wanita itu.."
" Damian..!! Kamu..!!"
" Udah pa, kita udah capek mencari Line selama setahun ini, dan hasilnya gak ada. Kalau pun dia masih hidup, gak mungkin dia bertahan selama setahun ini untuk tidak menemui orang tua kandungnya. Logika yang benar, dia udah mati pa..!!
Setelah mengatakan hal itu gue langsung pergi ke kamar Line yang lama, kamar itu gue jadikan sebagai ruangan untuk main game dan menyimpan koleksi game gue, serta alat alat gym. Karena cuma itu yang bisa membuat papa untuk tak memasuki kamar ini lagi, saat masuk gue mendapati Kemal sedang bermain.
" Ribut lagi?"
Gue hanya mengangguk dan bergabung dengan Kemal.
Saat sedang asyik bermain, Kemal mengatakan jika dia melihat ada mobil yang terparkir di dekat rumah nya.
" Damian, lo liat itu mobil yang parkir disana?
Kemal menunjuk ke arah mobil yang sedang terparkir itu.
" Kenapa emang? Tumben banget lo ngurusin mobil orang."
" Lo liat dulu. Bukan nya itu mobil Line yang di simpan di parkiran khusus Paradise Group? Kira kira siapa yang pake?"
" Alah palingan Skoci kalau gak Daniel."
" Tapi ngapain mereka parkir disitu?"
" Ada urusan kali sama tetangga sebelah."
" Gue serius Damian."
" Gue juga serius Kemal."
Kemal menarik joy stik milik Damian saking kesalnya.
" Apaan sih lo. Kalau penasaran, samperin aja sono."
" Ayok temenin gue."
" Ogah, gue mau lanjut main PS."
Kemal menarik gue keluar, akhirnya gue menyerah dan mengikuti Kemal. Saat kami akan menghampiri mobil tersebut, mobil itu langsung pergi. Tapi satu hal yang tak diketahui Kemal. Gue bisa melihat sekilas orang yang berada di kursi penumpang itu dengan tatapan terkejut.
" Kok mobil nya pergi?"
" Salah liat lo ****. Itu bukan mobil Line."
" Masak sih? Kayak nya mirip banget deh."
" Gue tau lah yang mana mobil Line, kan gue yang beli. Dan itu bukan mobil dia."
" Gue halu kali ya."
" Ya lo halu. Halu banget."
Gue meninggalkan Kemal di luar dan masuk ke dalam rumah. Gue benar benar kaget seperti di sambar petir di siang hari. Gue benar benar melihat gadis yang sangat mirip dengan Line berada di mobil itu. Gue langsung menghubungi Daniel dan menanyakan keberadaan nya. Setelah mengetahui keberadaan Daniel, gue pergi keluar tanpa sepengetahuan Kemal dan menemui Daniel di salah satu Cafe. Setelah sampai di Cafe itu, gue langsung menghampiri Daniel.
" Jujur sama gue, Line udah kembali kan?"
" Hah? Maksud lo?"
" Gue liat sendiri tadi, mobil Line ada di depan rumah gue. Dan gue juga gak mungkin salah liat. Dia yang ada di dalam mobil itu."
" Lo gila ya Damian? Mobil Line yang mana?"
" Tesla itu udah di jual Line sebelum dia hilang, paham? Mungkin aja yang bawa mobil itu orang yang beli mobil Line."
" Gue gak **** Daniel. Apa pun rencana kalian, gue gak akan biarin dia buat ngancurin keluarga gue lagi. Liat aja, kalau seandainya dia balik, gue pastiin dia gak akan bisa ketemu keluarga gue selama nya. Dan gue gak akan ngelepasin lo semua."
" Yo Damian, lo ngancem gue? Dan apa apaan kata kata lo barusan? Kenapa gue ngerasa lo berharap Line gak pernah kembali."
" Gue memang gak pernah berharap dia kembali lagi, karena dia, keluarga gue hancur sialan..!! Karena dia mama sama papa gue ngebuang gue sampai kesini, dan gara gara dia juga keluarga gue hancur berantakan...!!"
" Oh, bahkan sekarang, abang yang selama ini gue tau sangat menyayangi adik nya nya sendiri udah berubah? Berubah jadi memusuhi adiknya sendiri?"
" Yang perlu lo ingat, dia bahkan bukan adik kandung gue. Dan lo ingat kata kata gue tadi. Gue gak akan biarin dia balik buat ngerusak keluarga gue lagi."
Gue pergi setelah mengucapkan kata kata tersebut.
- Off -
****
Tanpa di sadari air matanya mengalir, mengalir dengan derasnya. Siapa yang menyangka selama ini, abang yang telah hidup bersama nya memusuhinya. Berharap dirinya tak pernah kembali lagi, berharap dirinya hilang selama nya.
" Line, gue..."
" Mulai sekarang, panggil gue Aleena. Nama gue Aleena Fransisca Voodee. Jangan biarin siapapun tau soal ini. Cukup lo berdua dan keluarga kandung gue yang tau kalau ingatan gue udah pulih."
" Siap bos."
Ya ingatan Aleena pulih. Siapa yang menyangka saat dirinya melihat Damian dan Kemal semua ingatan nya kembali. Bahkan semua kekecewaan nya kembali. Rasa sakit yang pernah di rasakan nya pun kembali, semua kenangan menyakitkan itu kembali. Dan bahkan kenyataan sekarang lebih menyakiti dirinya.
Daniel memutuskan untuk pulang menggunakan Taksi. Skoci mengantarnya pulang sampai kerumahnya. Sesampainya dirumah, semua tampak khawatir karena Aleena tak datang untuk terapi terakhirnya, bahkan Fahrenza juga datang mencarinya dirumah.
" Aleena, what's wrong sayang?"
Aleena langsung menangis saat melihat mami dan papi nya. Aleena menceritakan semuanya pada kedua orang tua nya. Alfa yang melihat hal itu hanya menahan kekesalan nya. Lagi lagi adik kesayangannya di sakiti oleh mereka.
" Percayalah Aleena, abang gak akan biarin siapa pun yang berani nyakitin kamu."
Hasilnya, dinner bersama keluarga De Jongh hanya di hadiri oleh Mami, papi dan Moana. Alfa memutuskan untuk menjaga Aleena dirumah. Alfa juga mengatakan pada Fahren kalau Aleena sedang tidak enak badan. Fahren bersikeras untuk datang dan menjenguk Aleena tapi dilarang oleh Alfa dengan alasan kondisi Aleena sedang tidak ingin di ganggu dan membutuhkan istirahat.
Mami dan papi juga memutuskan untuk pulang lebih awal karena kondisi Aleena. Mereka semua mengkhawatirkan Aleena.
" Bagaimana kondisi Aleena, Alfa?"
" Aleena baik baik aja mi, pi. Memang tadi dia nangis cukup lama. Tapi sekarang dia tidur."
" Syukur lah. Mami benar benar khawatir."
" Percayalah, papi gak akan kasih ampun lagi keluarga itu. Mereka benar benar keterlaluan."
" Sudah lah pi. Kita fokus pada kesehatan Aleena dulu. Biar bagaimana pun, mereka sudah merawat Aleena dengan baik. Mami bisa memaafkan mereka menimbang semua hal itu. Dan lebih baik kita omongin semua nya sama Aleena. Mami tau Aleena bakalan sedih kalau tau kita ngelakuin hal itu."
" Tapi mi, Damian benar benar keterlaluan, bahkan dia mengatakan hal itu. Sama saja dia mengatakan tak akan membiarkan Aleena hidup."
" Percayalah Alfa, jika mereka melakukan suatu hal pada Aleena, mami adalah orang pertama yang akan menghancurkan mereka."
" Biar bagaimana pun, papi gak akan tinggal diam. Bagaimana dengan undangan keluarga Athalla? Kita manfaatkan kesempatan itu untuk memberikan mereka pelajaran. Kita hadir di acara mereka, papi akan ajak Aleena, papi yakin keluarga Remos akan hadir pada acara itu."
" Gak boleh. Gimana kalau mereka ngelakuin hal yang bakalan nyakitin Aleena lagi? Alfa gak akan biarin hal itu terjadi."
Saat sedang berdebat, tiba tiba Aleena turun yang menyela perdebatan tersebut.
" Abang, percaya sama Aleena. Aleena gak akan semudah itu di sakitin siapapun. Aleena mau datang ke acara itu."
" Buat apa Aleena, itu cuma acara gak penting Aleena."
" Buat mastiin sekali lagi perasaan Aleena bang. Please..."
" Oke Fine. Tapi kamu datang bareng sama kita. Bukan sama Fahren."
" Abang, please... Aleena bisa jaga diri oke?"
" Oke oke. Tapi abang akan ngawasin kamu. Ingat itu."
" Thankyou abang. Dan papi sama mami gak usah khawatir, ingatan Aleena udah pulih. Dan identitas Aleena sekarang adalah Aleena Fransisca Voodee, bukan Crystaline Amanda Remos lagi. Aleena gak akan membiarkan siapapun menindas Aleena dan membuat mami sama papi malu."
" Mami percaya sama kamu sayang."
Keesokan harinya Aleena tidak masuk kuliah, Alfa sudah mengajukan cuti seminggu untuknya dengan alasan sakit. Saat sedang menonton TV, hp Aleena berbunyi, ada panggilan masuk dari Daniel.
" Bos...!! Gawat...!! Ini Emergency."
" Daniel, gue gak tuli, lo gak perlu teriak idiot."
" Tapi ini gawat bos... Perusahaan kita..."
*****