
Alvaro memberikan sebuah kotak yang di bungkus dengan rapi dan cantik. Saat membuka kotak tersebut, Aleena terkejut dan sangat senang melihat isinya.
" Papi, abang. Ini serius buat Aleena?"
" Serius sayang. Papi minta Alfa untuk mencarikan mobil yang cocok untuk kamu. Karena Alfa yang lebih tau kesukaan kamu."
" Thankyou papi, abang. Dan tentunya mami juga yang udah masakin makanan kesukaan Aleena."
Aleena mencium semua keluarga nya satu persatu.
" Gimana kalau kamu ke kampus pakai mobil baru?"
" Tapi Fahren janji mau jemput Aleena bang."
" Abang udah bilang ke dia tadi pagi, kalau kamu mau test drive mobil baru. Jadi dia nunggu di kampus."
" Okedeh bang."
" Satu lagi, ingat pesan abang, kamu jangan mau di ajak ketemu sama teman teman nya Fahren, soalnya teman nya pengecut semua."
" Iya abang. Bawel banget sih. Tenang aja deh, abang kan udah ingatin Fahren juga. Jadi gak mungkin lah Aleena ketemu mereka."
" Bagus. Yaudah yuk antar abang ke rumah sakit. Mobil lagi abang servis."
" Oke. Papi mami, Aleena berangkat ke kampus dulu ya."
Langkah Aleena dan Alfa terhenti karena teriakan Moana dari lantai dua.
" Tungguin Moanaaaaaaa..... Moana mau berangkat bareng kakak."
" Moana jangan lari lari ditangga sayang." Peringat papi.
" Hehe. Abisnya kakak sama abang udah mau pergi."
" Yaudah sana."
Setelah Moana berpamitan pada papi dan mami, mereka berangkat. Pertama kerumah sakit mengantar bang Alfa. Lalu Aleena mengantar Moana ke sekolahnya. Moana senang ketika diantar oleh Aleena. Setelah mengantar Moana, Aleena bergegas ke kampus. Mobilnya benar benar mobil kesukaan Aleena. Sesampainya di kampus, Fahren sudah menunggu di parkiran.
" Morning cantik. Dan Waw, jadi ini mobil baru nya?"
" Haha, iya. Bang Alfa yang milih. Tau aja dia kesukaan gue."
" Wah, tersaingi nih gue."
" Haha, apaan sih lo. Biasa aja kali. Udah yuk masuk. Hari ini kita ada dosen killer nih. ****** kalau telat."
" Siap cantik."
*****
Sebulan berlalu, kedekatan Aleena dengan keluarga nya pun terjalin. Sekarang Aleena sudah tidak terlalu canggung terhadap keluarga nya sendiri seperti diawal. Moana juga sudah kembali menjadi gadis yang riang dan ceria. Setiap hari Moana selalu bercerita tentang apa yang dilakukan nya bersama teman teman nya.
Kedekatan Aleena dengan Fahrenza juga semakin berkembang. Fahrenza setia menemani Aleena terapi, padahal Aleena terapi dengan abang nya sendiri. Sejak tau kalau Alfa adalah abang nya Aleena, Fahrenza sudah tak menunjukkan aura permusuhan lagi.
Aleena mengetahui jika Fahrenza sudah kembali kerumah orang tua nya. Aleena yang membujuk Fahren untuk kembali dan berbaikan dengan orang tuanya. Mamanya Fahren juga sudah meminta maaf atas kejadian setahun yang lalu pada Aleena saat mengetahui kalau Aleena adalah seseorang yang bermartabat.
Di kampus Aleena dan Fahren sering di pasangkan sebagai pasangan paling romantis. Padahal mereka hanya teman biasa. Tetapi Fahren selalu memperlakukan Aleena seperti pacarnya sendiri. Sampai sampai tak ada yang berani mengganggu atau sekedar menggoda Aleena.
Seperti saat ini, untuk turun dari mobil aja, Fahren bersikeras untuk membukakan pintu mobilnya untuk Aleena.
" Silahkan cantik.."
" Apaan sih lo. Takut banget pintu mobil lo lecet kalau gue buka sendiri?"
" Yaelah, gue berusaha jadi cowok paling romantis ni buat lo."
" Bodoamat. Kalau lo kayak gitu terus, mending gue bawa mobil sendiri."
" Oke oke. Jangan ngambek dong."
" Biarin."
" Haha, oh iya, jangan lupa dinner nanti malam. Nyokap gue pesan supaya ngingatin lo."
" Oke, aman deh. Ingat gue ingat. Lagian mami semangat banget tuh waktu gue bilang nyokap lo ngajakin dinner keluarga."
" Satu lagi, bokap juga mau ngerayain sesuatu katanya."
" Ngerayain apaan?"
" Gak tau gue, kata mama gue sih papa bakalan ngundang beberapa teman nya juga."
" Oh, ya udah."
" Gak papa kan?"
" Santai aja kali. Lagian kami cuma tamu undangan kok, haha."
" Apaan sih lo. Tenang, lo tetap yang pertama kok buat gue."
" Mulai ni. Udah ah males gue."
" Haha becanda gue. Oiya gimana kabar Moana? Pasti dia kangen banget sama gue kan? Pengen ketemu sama gue kan?."
" Moana gak mau ketemu lo. Lo resek katanya. Karena lo, dia jadi gak bisa dianterin sekolah sama gue."
" Ye apaan, Moana kan udah tiap hari sama lo, ntar gue rayu deh Moana nya. Lagian siapa sih yang gak suka sama ketampanan gue ini?"
" Dih, gila. PD amat lo. Udah ah gue mau masuk kelas. Dosen nya si Mr. Killer."
" Haha, santai. Dia gak masuk hari ini."
" Group rame tuh sama berita dia sakit pinggang lagi."
" Haha, dasar. Kualat lo pada."
" Biar deh. Oiya minggu depan teman gue nikah. Lo mau nemenin gue gak?"
" Tanya bang Alfa deh, soalnya gue harus dapat izin dia kalau mau ke acara acara besar gitu."
" Okedeh, ntar gue izin waktu nemenin lo terapi. Terapi ini yang terakhir kan?"
" Iyee."
" Oke. Dista sama Silviana nungguin lo di kantin tu. Sibuk ngechat gue dari tadi."
" Eh serius? Kok gak bilang dari tadi sih."
" Biar bisa lebih lama sama lo."
" Gila lo. Udah ah gue ke kantin dulu. Bye."
Aleena langsung menyusul Dista dan Silviana di kantin. Aleena yakin pasti dirinya akan kena Omelan Dista dan Silviana. Nah kan, mereka udah BT banget tuh mukanya.
" Morning guys."
" Gak ada pagi pagian. Lo lama banget sih? Padahal gue udah chat abang gue setengah jam yang lalu Aleena."
Nah benarkan, Dista udah mulai ceramah panjang nya.
" Gak salah gue dong Dis, lagian lo kenapa gak langsung chat gue sih, atau telfon gitu."
" Hellow Aleena sayang. Kita udah nelfon lo berkali kali, tapi hp lo mati. Makanya kita ngechat bang Fahren."
" Oke. Hp mati gue salah. Tapi kalau kelamaan kesini, gue gak salah. Soalnya Fahren juga baru ngasih tau gue."
" Serius lo?"
" Serius lah. Dia baru ngasih tau."
" Dih resek banget sih tu orang."
" Hahaha, sama kayak lo Dista."
" So, kalian ngapain ngajakin gue nongkrong pagi pagi gini di kantin?"
" Minggu depan, teman kita ada yang nikah. Jadi kita mau ngajakin lo bareng kesana."
" Teman yang mana?"
" Lo gak tau sih ya, soalnya gak pernah liat dia. Gue tau soalnya teman abang gue. Lagian mereka udah lama juga gak masuk."
" Fahren ngajakin gue, tapi gak tau deh boleh apa enggak sama abang gue."
" Abang lo yang dokter itu?"
" Iyap. Gak tau juga sih kenapa dia posesif banget. Bahkan Fahren juga di ingetin. Kita sering nanya, tapi dia jawab nya aneh mulu."
" Aneh gimana?"
" Ya kayak, nanti kalian bakalan tau alasan nya. Gitu."
" Sok misterius banget sih abang lo. Jadi makin cinta gue."
" Mulai ganjen nya keluar, please ya Silviana, lo tu udah punya pacar, masih aja ganjen. Gue bilangin Arnold lo."
" Aleena?!!"
" Apaan?"
" Lo tau nama Arnold darimana?"
" Loh bukan nya lo pernah ngenalin gue ke pacar lo ya. Dan kita pernah hang out bareng kan.?"
" Aleena, lo tau, gue putus sama Arnold tepat setelah promnight. Dan kita belum ketemu, jadi gak mungkin lo kenal Arnold."
Tiba tiba kepala Aleena pusing lagi, Aleena bergegas mengambil obatnya. Akhir akhir ini dirinya sering kali berbicara aneh.
" Sorry sorry, akhir akhir ini gue sering kayak gitu. Seakan ada ingatan yang muncul tiba tiba."
" Gue makin yakin kalau lo beneran Crystaline teman gue dulu. Gue gak mungkin salah ngenalin orang Aleena."
" Gue juga gak ngerti yang sebenarnya. Tapi yang gue ingat, bang Alfa pernah cerita soal gue sebelum nya. Dan gue gak pernah cerita ke kalian."
" Cerita apa?"
" Ya kalau memang kalian kenal gue yang dulu, semoga kalian bisa bantu gue balikin ingatan gue. Tapi kalian janji sama gue untuk gak cerita sama siapapun soal ini. Gimana?"
" Lo tenang aja. Kita teman Aleena. Dan kita bisa jaga rahasia ini."
" Dan gue harap lo gak akan cerita ke Fahren, bisa kan Dis?"
" Kok abang gak boleh tau?"
" Soalnya gue belum pernah cerita ke dia."
" Okedeh. Gue janji sama lo."
" Jadi sebenarnya.....
******