
" Crystal..!! Gue tau mungkin sekarang lo nyangka kalau gue mabuk atau bahkan gila, tapi percaya atau enggak, sejak kejadian di danau itu, gue benar benar gak bisa ngelupain lo. Gue selalu kepikiran lo, waktu lo menghilang gue benar benar frustasi nyariin lo. Gue suka sama lo Crsytal..."
Tanpa disangka, Fahren mencium Line tepat di bibirnya. Line yang kaget langsung reflex menampar Fahren dan meninggalkan nya disana. Fahren yang menyadari kesalahan nya hanya mengutuk kebodohan nya.
****
Setelah Line meninggalkan ruangan itu, Line benar benar marah, tapi Line merasakan hal aneh ketika Fahren menciumnya. Line merasa jantung nya berpacu lebih cepat dan pipi nya memanas.
" Sialan...!!!!"
Daniel kaget melihat Line kembali dengan keadaan marah dan pipi yang bersemu.
" Ada apa bos?"
" Gak papa. Gue mau pulang kerumah sekarang. Besok malam gue ada acara di rumah Kemal."
" Oke bos."
Line meninggalkan club dan memutuskan untuk pulang kerumah. Sudah lama dia tak melihat mama dan papa nya. Sesampainya dirumah, rumah Line tampak sunyi karena semua orang sudah tidur, Line langsung memasuki kamarnya untuk beristirahat. Pikiran nya kali ini benar benar kacau, Line rindu dengan Kemal, apa kabarnya? Semenjak Line tidak merespon panggilan nya waktu itu, Kemal tak pernah menghubunginya lagi sekali pun. Setelah mandi, Line memutuskan untuk beristirahat karena Line benar benar lelah.
Keesokan pagi nya Line bangun kesiangan, setelah mandi Line turun ke bawah untuk sarapan, akan tetapi rumah Line benar benar sunyi, bahkan pembantu yang biasa menyiapkan sarapan tak terlihat dimana pun. Mama dan papa nya memang tak mengetahui kepulangan Line semalam karena Line sampai dirumah sudah jam 2 pagi.
Line berkeliling rumah untuk mencari kemana orang orang ini semua nya pergi. Line menemukan bik Asih di Paviliun belakang, tempat biasa para pembantu tinggal. Mereka semua berada disana.
" Nona Line? Kapan non pulang?"
" Semalam bik. Jam 2 kayak nya."
" Pantas saja bibik gak ngeliat non. Sudah sarapan non? Mau bibik buatin sarapan? Tapi bibik cuma bisa masak disini non."
" Kenapa bik? Kok pada ngumpul disini? Emang gak pada kerja?"
" Bibik sama yang lain di perintah nyonya untuk gak ada yang ngedekatin rumah utama sampai tamu nya pergi non."
" Siapa bik?"
" Bibik juga kurang tau non, tapi tamu nya aneh non. Dua dua nya mirip banget sama non Line. Yang laki laki bahkan punya warna mata yang sama kayak non Line."
" Serius bik?"
" Serius non. Kayak nya mereka lagi berantem non. Soalnya waktu bibik nganter minuman mereka kayak lagi berdebat gitu."
" Yaudah makasih ya bik."
" Sama sama non."
Line langsung berlari menuju rumah utama, sesampainya dirumah utama, Line melihat ada mobil mewah yang terparkir di halaman rumah nya, kemungkinan itu adalah mobil tamu mama dan papa. Line juga melihat ada beberapa bodyguard yang berjaga di luar. Mereka membungkuk saat melihat Line.
Line melihat pintu ruang kerja papa nya yang tidak tertutup rapat, Line memutuskan untuk melihat siapa tamu mereka. Tetapi Line tak bisa melihat mereka, Line hanya mendengar pembicaraan antara mama dan papa nya dengan tamu tersebut. Line benar benar penasaran siapa tamu yang disebut bik Asih tadi.
" Ini benar benar gak fair Rudy, Susi. Saya sudah merawat Line selama 16 tahun ini, kalian gak bisa mengambilnya begitu saja dari kami."
" Kamu yang telah mengambil Aleena dari kami Vanilla. Dia Aleena anak kami, bukan Crystaline anak kalian. Apakah kalian lupa? Crystaline sudah meninggal 16 tahun yang lalu Vanilla, seharusnya kamu lebih tau hal itu..!! Bagaimana bisa kamu selama ini menjauhkan ku dari anak ku sendiri. Apa kamu tak memiliki hati, kamu seorang ibu, begitu pula dengan ku Vanilla."
" Tapi... Tapi,, Line anak ku, dia anakku. Aku tak akan membiarkan siapapun mengambilnya lagi dari ku..!!"
" Kamu yang mengambil Aleena saat kami mengalami kecelakaan itu Vanilla, dan kamu dengan tega nya menyembunyikan hal itu dari kami. Padahal selama ini kami terus mencari nya, bagaimana bisa kamu sejahat ini Vanilla. Jika Damian tidak memberitahukan hal yang sebenarnya pada kami, kami tak akan mengetahui semua nya. Dan kami sudah memeriksa DNA Aleena dan kami, Crystaline yang kamu bilang adalah Aleena Fransisca Voodee putri kandung kami Vanilla."
Deg...Deg...Deg...
Jantung Line seperti terlepas dari tempatnya, apa apaan ini? Ada apa sebenarnya ini? Kenapa wanita itu menyebut nama nya, dan apa yang sebenarnya terjadi? Line merasa kepala nya sangat sakit. Tiba tiba ada yang memegang pundak Line.
" Line? Lo kapan pulang? Gue benar benar minta maaf soal kejadian yang terakhir kali."
Line hanya bisa diam saat melihat Damian. Line bahkan tak bisa mendengar suara Damian dengan sangat jelas. Semua yang berada di ruang kerja papa nya terkejut mendengar suara Damian. Mereka semua keluar untuk melihat apa yang terjadi, Line benar benar kaget saat melihat wanita yang dikatakan bik Asih, dia benar benar sangat mirip dengan Line. Lalu wanita itu langsung memeluk Line dan menangis, tapi tiba tiba tubuh Line terasa lemah dan akhirnya pingsan. Semua nya kaget dan langsung membawa Line kerumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Line diperiksa oleh seorang dokter. Setelah dokter keluar, semua menanyakan kondisi Line.
" Bagaimana konsisi Line Dokter Alfa?"
" Nona benar benar kelelahan. Apakah nona pergi ke tempat yang jauh belakangan ini?"
" Line memang tidak pulang beberapa hari ini dokter."
" Begitu. 3 Hari yang lalu saya sudah menyarankan nona Celine untuk istirahat dan tidak terlalu banyak pikiran. Tapi seperti nya saran saya benar benar di abaikan oleh nona."
****
Line terbangun di ruangan serba putih yang diketahuinya sebagai kamar rawat rumah sakit ini. Line melihat beberapa orang di ruangan itu termasuk mama dan papanya.
Line mengingat kejadian terakhir sebelum dirinya pingsan. Line benar benar terkejut, rasanya seperti mimpi, akan tetapi ini adalah hal yang sangat amat nyata. Bahkan kedua orang yang Line lihat sebelum pingsan berada disana.
" Line sayang, kamu gak papa kan? Ada yang sakit? Kalau ada bilang ke mama sayang."
Line hanya diam menatap mama nya. Line mengingat percakapan itu, Line benar benar ingin mengetahui hal itu.
" Yang mereka bilang gak bener kan ma? Line anak mama sama papa kan? Mama gak mungkin kan ngelakuin hal kayak gitu?"
" Line, mama bisa jelasin semua nya sayang. Mama.."
" Jujur sama Line ma..!!"
Line benar benar membentak mama nya, baru kali ini Line benar benar merasa marah pada mama nya.
" Sayang..."
" Jelasin pa....!!!"
" Baik lah sayang, tapi kamu harus janji sama papa dan mama, untuk tidak menyalahkan mama kamu sayang.."
Sebenarnya Line....
****