
" Loh, kalian udah pernah ketemu? Kok lo gak cerita sama gue Alee?"
" Gue gak pernah ketemu sama ni cowok, ngehalu kali dia. Lagian emang lo gak ingat Sean, ni cowok yang udah buat gue nunggu berjam jam sampai akhirnya gak datang."
" Gue datang kok. Tapi lo udah pergi....."
" Jelas aja gue pergi duluan. Lo mikir gak berapa jam gue nunggu di sana? Belum lagi gue ada urusan mendesak."
" Sorry, itu emang salah gue, salah gue juga waktu itu karena nolak ketemu sama lo padahal lo udah jauh jauh nyusul gue ke Indo cuma buat ketemu gue."
" Jelas aja lo salah. Lo pikir gue mau buang buang waktu gue cuma buat cowok kayak lo. Dan ingat satu lagi, gue bukan nyusul lo Indo, gue cuma mau ngebahas soal kerjasama antara perusahaan gue sama lo. Paham lo?"
" Tapi waktu itu..."
" Udah udah, gue gak mau dengar apa pun lagi dari lo, gue paling gak suka sama orang yang gak bisa menghargai sesuatu. Dan satu lagi, lo tenang aja gue bakalan pastiin gue akan menolak perjodohan ini."
" Lo yakin mau nolak? Keuntungan yang di dapat ketika menikah sama gue bukan sedikit tentunya. Apalagi kakek gue berencana untuk mewariskan seluruh hartanya ke gue. Dan untuk hadiah pernikahan tentunya beberapa persen saham di MC Group. Lo kira hadiah pernikahan untuk siapa?"
" Lo kira gue perduli dengan harta lo itu? Yang harus lo ingat baik baik, gue gak akan setuju sama perjodohan ini. Kita pergi Sean."
Aleena benar benar kesal melihat sikap sombong Javendra, apa apaan dia itu. Aleena paling gak suka dengan seorang lelaki yang hanya bisa memamerkan harta keluarganya. Dan tentunya Aleena gak suka melihat kesombongan Javendra itu.
" Lo serius nolak perjodohan ini?"
" Sejak kapan gue bercanda Sean? Lo liat sikap arogan nya itu, sombong nya bukan main. Dia kira gue bakalan tergiur sama semua harta yang dia sebutkan itu?"
" Tapi 25% saham MC group itu bukan isapan jempol Aleena, itu udah bisa buat lo duduk diam dirumah menikmati hidup sampai lo tua."
" Lo kenal gue lebih baik dari siapa pun Sean."
" Ya gue tau. Setidaknya lo pikirin lagi keputusan lo. Gak ada rugi nya nikah sama Javendra. Dia bisa bantu perusahaan kita."
" Sean..!!!"
" Oke gue paham. Semua keputusan ada ditangan lo. Apapun keputusan yang lo ambil, gue pasti bakalan mendukung lo."
" Kita pulang, gue capek."
####
* Javendra On *
Javendra Curtis, itulah gue. Cucu seorang Michael Curtis yang memiliki pendapatan dari MC Group lebih dari 100 juta USD per tahun. Gue juga merupakan CEO dari JC Group, perusahaan yang gue bangun dengan usaha dan keringat gue sendiri, sampai pada akhirnya bisa berdiri kokoh seperti saat ini.
Selama ini apapun yang gue mau selalu gue dapatkan, dan itu benar benar sangat amat membosankan. Saat bosan, gue bakalan jalan jalan keluar kota bahkan keluar negeri untuk mencari suasana baru, tetapi hal yang sama terus terulang, selalu bertemu dengan orang orang yang mengenali siapa gue. Sampai akhirnya muncul ide untuk merubah penampilan saat gue keluar untuk menikmati liburan.
Apalagi sejak kakek terlalu agresif mengenalkan gue dengan berbagai macam perempuan. Mereka adalah makhluk yang sangat amat merepotkan. Setelah gagal bertemu dengan cucu keluarga Voodee, Aleena Fransisca Voodee, gue memutuskan untuk liburan ke Indonesia sekalian mengunjungi makam mama dan papa gue. Mama dan papa gue meninggal saat gue masih kecil, sejak saat itu gue ikut kakek ke Nyc.
Saat menikmati liburan di Indonesia, sekretaris gue mengabari jika Aleena ingin bertemu dengan gue. Gue benar benar kaget, gue kira dia bakalan nyerah karena gue buat nunggu berjam-jam.
" Maaf Mr. Javen, bagaimana dengan Miss Aleena?"
" Bilang saja saya sedang sibuk. Saya ingin berlibur dengan santai tanpa gangguan."
" Baik."
Selain dari namanya, gue benar benar gak tau apa apa lagi, gue terlalu malas membaca semua informasi tentang nya, karena menurut gue informasi itu gak akan jauh berbeda dengan perempuan perempuan sebelumnya.
Beberapa hari kemudian, sekretaris gue menghubungi gue kembali, ternyata gadis itu benar benar pantang menyerah, dia bahkan sampai menyusul gue ke Indonesia hanya untuk bertemu dengan gue. Bagaimana bisa seorang gadis dari keluarga terhormat bertindak seperti itu. Gadis yang seperti itu hanya akan membuat gue malu kedepannya. Apapun caranya gue harus batalin pertunanganan ini, ya apapun caranya.
Keinginan gue ke Indonesia bukan hanya untuk mengunjungi makam mama dan papa, tapi juga untuk menemui Stella dan Zacky. Stella dan Zacky adalah teman masa kecil gue waktu di Indonesia, kabar terakhir yang gue dengar mereka mendapatkan beasiswa kuliah di Nyc, sewaktu gue mencari mereka kabarnya mereka sedang kembali ke Indonesia karena suatu hal.
Setelah beberapa hari di Indonesia akhirnya gue menemukan keberadaan Stella dan Jack. Awalnya gue takut kalau ternyata sekarang mereka sudah menjadi pasangan, tapi karena sudah mendapatkan berbagai informasi, gue akhirnya menemui mereka.
Dan disinilah gue sekarang, di sebuah cafe outdoor yang sepertinya sangat banyak di gemari oleh kalangan muda kayak gue. Ternyata Jack adalah pemilik cafe ini. Setelah masuk, gue di sambut seorang pelayan dan gue langsung mengatakan jika gue ingin bertemu dengan owner cafe ini, gue pun menunggu sebentar sampai seorang lelaki menghampiri gue.
" Permisi tuan, saya Zacky owner cafe ini. Ada yang bisa saya bantu?"
Gue benar benar kaget melihat penampilan Jack yang sekarang, benar benar berbeda dengan waktu dia masih kecil dulu. Sekarang Jack benar benar berubah menjadi lelaki yang tampan. Tapi tentunya lebih tampan gue.
" Apa kabar Jacky?"
Jelas ekspresi terkejut menghiasi wajahnya. Karena hanya gue yang memanggil nya seperti itu.
" Javendra?"
" Yap, ini gue."
Jack langsung memeluk gue, begitupun sebaliknya, gue akuin rasanya rindu sekali dengan sahabat gue satu ini. Bagaimana tidak, gue udah gak pernah ketemu dia selama 15 tahun. Jack menceritakan semua hal yang dia dan Stella lalui semenjak kepergian gue. Gue makin gak sabar untuk bertemu dengan Stella, ya gue akuin gue mencintai Stella, Stella adalah sosok cinta pertama gue. Dan perasaan itu bahkan gak pernah berubah sejak saat itu. Jack juga mengatakan bahwa dirinya akan mencoba untuk membuka cafe seperti ini di Nyc, gue berniat menawarkan bantuan, tapi Jack menolak dengan alasan sudah mendapat beberapa calon investor.
" Kok bisa secepat itu?"
" Ya seperti gue bilang, dua hari yang lalu gue kebetulan ketemu cewek disini, dia nyangka nya gua pelanggan yang nyari tempat duduk, karena memang waktu dia datang Cafe lagi penuh banget. Dan aneh nya dia biasa aja datang sendiri dan duduk sendiri disini. Jadi waktu gue samperin, gue coba aja buat kenalan. Ternyata orang nya gak sombong."
" Hahaha, hati hati lo sama bule. Jangan jangan istri orang lagi."
" Sialan lo, gak mungkin lah. Orang dia lebih muda sedikit aja dari kita. Dan yang ini beda dari bule yang sering gue jumpain di Nyc, dia fasih banget bahasa Indo nya. Belum lagi dia lagi ngerintis bisnis nya sendiri padahal dia kayak nya anak orang kaya."
" Tau darimana lo?"
" Barang barang yang dia pakai bukan barang murahan Javen, bahkan barang barang nya itu dari brand terkenal yang selalu di liat Stella, makanya gue tau."
" Alah, yang kayak gitu gak akan bertahan lama, percaya sama gue. Banyak teman teman gue awalnya sok sok ngerintis bisnis sendiri, dan pada akhirnya apa? Mereka balik lagi mengandalkan nama orang tua nya. Dan yang ini dari keluarga mana?"
" Nah kalau itu gue lupa nanya."
" Ckckck."
" Tapi gue yakin sih kalau dia itu cewek yang lumayan mandiri."
" Ya ya ya, terserah lo deh. Kalau lo udah suka sama cewek mah susah. Sekarang Stella dimana?"
" Di butik nya. Tapi tenang aja, biasanya sebentar lagi dia bakalan kesini. Lo tunggu aja sebentar lagi. Gue mau kebelakang dulu, oke."
Jack meninggalkan gue disana untuk mengurus beberapa hal, 15 menit kemudian gue melihat ada seseorang yang masuk ke Cafe ini, itu adalah gadis yang benar benar cantik. Sosok nya yang sangat ramah, mudah tersenyum dan juga lesung pipi yang menjadi nilai plus nya. Tanpa sadar gue memandang nya dan mengikuti kemana dia pergi. Gue lihat dia pergi ke arah kasir dan berbicara dengan seorang pelayan, sampai akhirnya dia sadar kalau gue melihat ke arah nya. Dan dia pun menghampiri gue.
" Permisi, itu....."
**********