
" Jujur sama Line ma..!!"
Line benar benar membentak mama nya, baru kali ini Line benar benar merasa marah pada mama nya.
" Sayang..."
" Jelasin pa..!!"
" Baik lah sayang, tapi kamu harus janji sama papa dan mama, untuk tidak menyalahkan mama kamu sayang.."
Sebenarnya Line, waktu itu....
15 tahun yang lalu.--
Rendi dan Vanilla baru saja pulang dari rumah sakit karena beberapa hari yang lalu Damian dan putri mereka Crystaline terserang demam. Akan tetapi, karena fisik Line yang memang dari awal sering sakit sakitan, Line tak dapat tertolong dan di nyatakan meninggal.
Di perjalanan pulang, Rendi melihat mobil di depan nya terlihat aneh, mobil itu benar benar melaju dengan kencang. Rendi mengetahui bahwa Rem mobil itu bermasalah, Rendi berusaha untuk menolong mereka, akan tetapi mobil itu benar benar melaju kencang. Tak lama kemudian, mobil itu mengalami kecelakaan lalu lintas dan menabrak salah satu toko buku.
Rendi berinisiatif untuk membantu mereka dan menghubungi ambulan dan polisi, tetapi setelah mereka menelfon polisi dan ambulan, badan Damian kembali panas. Karena panik Rendi langsung membawa Damian kembali ke rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, Rendi terkejut saat melihat Vanilla menggendong seorang anak perempuan yang berumur kurang lebih sama dengan Damian.
" Ma, ini anak siapa?"
" Papa gimana sih? Ini Line pa. Anak kita."
" Mama, Line udah meninggal ma. Mama tau itu..!!"
" Ini Line papa..!! Crystaline putri kecil mama.."
Rendi benar benar terkejut saat mendengar hal itu, Vanilla sangat terguncang saat kehilangan anak mereka. Karena terlalu syok Vanilla pingsan dan di rawat. Rendi mengetahui bahwa Vanilla depresi karena kehilangan anak mereka. Rendi benar benar dilema.
Setelah sebulan, keadaan Vanilla membaik, akan tetapi Vanilla tetap tidak dapat menerima kenyataan bahwa anak nya sudah meninggal dan menganggap anak perempuan itu sebagai anak nya. Rendi berusaha mencari tahu siapa orang tua kandung anak itu tapi tak menemukan informasinya, Rendi mengingat kecelakaan mobil itu, tapi tak mengetahui wajah dan identitas mereka. Rendi mencari informasi mereka, tapi tak mendapatkan informasi apapun.
3 tahun kemudian, Rendi mengetahui identitas mereka, akan tetapi Vanilla menolak untuk memberikan anak itu pada mereka. Vanilla bersikeras untuk tak memberikan anak itu pada orang tuanya. Rendi yang tak tega melihat kondisi Vanilla akhirnya tak mengungkapkan apa pun. Terlebih saat mengetahui identitas mereka yang terikat erat dengan dunia bawah.
* Flashback off*
Dan beberapa waktu yang lalu, saat Line mengalami kecelakaan, Rendi baru mengetahui jika selama ini Vanilla berpura pura depresi agar Rendi tak menyerahkan anak itu pada keluarganya. Dan Rendi benar benar marah saat itu.
Saat sampai di sini pun, Vanilla dan Rendi masih sering bertengkar tentang hal itu, suatu waktu Damian tak sengaja mendengar orang tua nya bertengkar soal masalah itu, tepat nya saat hari dimana Damian bertengkar dengan Line, kemudian Damian mencari tau hal yang terjadi dan menemukan fakta bahwa Line adalah putri dari keluarga Voodee yang menghilang 15 tahun lalu.
" Begitulah Line. Damian mengatakan semua hal yang telah di dapat nya pada papa, awalnya papa tidak menyetujui hal tersebut, tapi papa gak bisa bersikap egois selama nya. Setidaknya kamu harus mengetahui hal yang sebenarnya Line."
" Jadi... Jadi selama ini,, Line bukan,, bukan,, anak.. kandung papa sama mama?"
" Benar Line, dan mereka adalah Roundel Hous Code dan Isuzzu Voodee. CEO Voodee Group sekaligus orang tua kandung kamu Line."
" Benar Aleena, ini mami sama papi sayang."
Line benar benar gak bisa menerima semua hal ini, ini terlalu menyakitkan untuk Line. Ini seperti omong kosong untuk Line..
" KELUAR..!!! SEMUA NYA KELUAR..!!"
Line berteriak sangat kencang sampai semua orang yang berada di dalam ruang perawatan Line terkejut mendengarnya. Vanilla yang syok hanya bisa menangis di dalam pelukan suaminya.
" Sayang, mami temenin kamu..."
" KE.LU.AR..!!"
Line benar benar ingin sendiri, Line tidak ingin di ganggu siapapun. Bahkan dengan semua omong kosong yang terjadi saat ini. Akhirnya semua menyerah, mereka keluar dari ruangan Line.
Tanpa sadar Line meneteskan air mata nya, Line benar benar terpukul mengetahui jika orang yang selama ini di anggapnya sebagai mama nya, mama terbaik yang Line banggakan ternyata bukan lah mama kandung nya. Tak hanya sampai disitu, fakta bahwa mama nya tega memisahkan nya dari keluarga kandung nya benar benar menjadi pukulan terbesar untuk Line.
Line benar benar hancur, kepercayaan Line hancur, semua nya berantakan. Semua nya mengkhianati Line. Tiba tiba dokter pribadi Line memasuki ruang rawat Line. Line bergegas menghapus air matanya.
" Gak usah di hapus nona. Saya tau kamu belum bisa menerima semua ini, tapi percaya lah, orang tua kandung kamu disana sangat menyayangi kamu nona."
" Sayang? Omong kosong. Bahkan mereka baru ketemu gue hari ini. Gue mau istirahat."
" Baru mau istirahat sekarang? Kemarin waktu saya sarankan untuk istirahat, kamu kemana?"
" Australia."
" Kamu benar benar. Kali ini kamu harus benar benar istirahat, tidak ada alasan. Perhatikan kesehatan kamu."
" Lo makin cerewet ya gue liat. Lo kenal gue udah berapa lama Alfa? Lo tau gue gak akan melakukan hal itu."
" Lo tau dari mana sialan?!!"
" Your language..!! Saya lebih tua dari kamu."
" Sorry Dr. Alfa. Heran gue, dari dulu perasaan gue gak pernah bisa ngelawan lo."
" Anggap saja saya punya pesona yang membuat kamu tidak bisa melawan saya."
" Terserah. Gue nanti malam mau ke acara tante Vivian. Nyokap nya Kemal. Temenin gue dong."
Dr. Alfa memang adalah dokter pribadi Line. Ya lebih tepatnya dokter pribadi keluarga Remos, akan tetapi Dr. Alfa lebih sering memperhatikan Line. Dr. Alfa menggantikan dokter pribadi keluarga Remos yang sudah masuk masa pensiun. Alfa adalah Dokter rekomendasi dari dokter pribadi keluarga Remos sebelum nya. Alfa termasuk dokter termuda yang sangat berbakat.
" Saya sibuk."
" Alasan lo lagi. Come on, gue males pergi sama mereka semua. Gue butuh waktu gue sendiri. Sebentar aja, sesudah setor muka sama tante Vivian kita pulang."
" Janji satu hal sama saya."
" Janji apaan?"
" Kamu harus istirahat seminggu ini."
" Tapi Lusa gue masih ada jadwal meeting."
" Tunda.."
" Oke. Janji deh gue."
" Saya ingat janji kamu."
" Oke, nanti sore kita pergi, soalnya gue harus ngambil baju sama hadiah yang gue pesan minggu lalu."
" Ya terserah. Saya masih ada pasien. Nanti saya kesini."
" Oke. Thankyou Dr. Alfa."
****
Sampai malam Line benar benar tidak berbicara pada siapapun. Line benar benar mendiamkan semua orang, bahkan Vanilla berkali kali menangis melihat Line yang mengacuhkan nya. Tapi tidak dengan mami nya. Mami nya bahkan sangat tenang melihat Line yang mengacuhkan dirinya.
Line berangkat kerumah tante Vivian dengan Alvaro dari rumah sakit, sedangkan mama dan papa nya sudah pulang dari tadi sore. Begitu pun dengan mami dan papi nya. Sesampainya di rumah tante Vivian, Line mencoba mencari Kemal, Line benar benar rindu dengan Kemal, rasanya sudah lama sekali Line gak ketemu sama Kemal.
" Kamu nyari siapa?"
" Kemal."
" Lelaki yang kamu suka itu?"
" Tau darimana lo?"
" Jangan terlalu berharap sama dia. Dia sudah punya tunangan."
Deg..Deg..
Line merasa jantung nya tertusuk banyak jarum. Apa apaan ini?
" Lo.. Lo tau darimana?"
" Apa yang saya gak tau?"
" Gak usah bercanda. Gue gak ada mood buat bercanda."
" Terserah. Saya hanya memberi tau."
Line terus terusan memikirkan tentang yang di katakan oleh Dr. Alfa. Bahkan Line lupa kalau saat ini dirinya sedang mencari Kemal. Selama acara Line benar benar tak menemukan Kemal dimana pun, bahkan saat acara sudah diujung, Kemal tak kunjung muncul. Tiba tiba Papa Kemal Mr. Athalla memberikan pengumuman.
" Selamat malam semuanya. Terimakasih untuk semua yang sudah menyempatkan diri untuk hadir pada acara syukuran ulang tahun istri saya tercinta. Sebelum kami menutup acara, saya akan mengumumkan berita bahagia untuk kita semua...
Tiba tiba Damian datang dan menarik Line.
" Kita pulang Line..!!"
****