CELINE

CELINE
Ep 26



" Selamat malam semuanya. Terimakasih untuk semua yang sudah menyempatkan diri untuk hadir pada acara syukuran ulang tahun istri saya tercinta. Sebelum kami menutup acara, saya akan mengumumkan berita bahagia untuk kita semua...


Tiba tiba Damian datang dan menarik Line.


" Kita pulang Line..!!"


" Apaan sih lo? Lepas gak.."


" Kita pulang sekarang Line, Please..!"


" Gue kesini sama Dr. Alfa. Jadi gue bareng Dr. Alfa."


" Rumah kita di depan Line."


" Rumah Lo. Bukan gue."


" Please Line."


Akhirnya Dr. Alfa menengahi semua perdebatan ini.


" Biarkan dia tau."


" Alfa Robert..!! Lo cuma dokter nya, lo gak ada hak mencampuri semua urusan Line."


Tiba tiba Alfa mengeluarkan aura intimidasi yang kuat, sampai sampai Line merasa takut. Baru kali ini Line merasa takut pada seseorang.


" Asal lo tau, gue lebih tau mana yang terbaik untuk dia di bandingkan kalian semua..!!"


Damian diam saja saat mendengar semua itu. Tapi usaha Damian untuk menyembunyikan hal itu sia sia, karena Mr. Athalla sudah mengumumkan nya.


" Baiklah, berita yang akan kami sampaikan adalah putra kami Kemal Rabbani Athalla dan Aliyah Putri Moenawan putri dari MN Group akan melangsungkan pertunangan minggu depan. Acara akan dilangsungkan di Paradise Hotel, maka dari itu Kami mengundang semua orang yang hadir pada malam ini untuk menghadiri acara pertunangan putra putri kami."


Semua tampak bahagia dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada keluarga ini. Line melihat Kemal dan seorang wanita yang tampak sangat anggun keluar. Line langsung bertatapan mata dengan Kemal. Line benar benar kecewa, dalam satu hari banyak sekali berita buruk yang diterima nya.


Kemal menghampiri Line yang bersama dengan Damian dan Dr. Alfa.


" Line, lo kemana aja? Seminggu gue nyari lo sama Damian. Lo baik baik aja kan?"


" Baik. Selamat untuk pertunangan lo ya."


Line memberikan senyuman nya pada Kemal. Dia benar benar hancur di dalam. Line patah hati.


" Line gue bisa jelasin."


" Aliyah ya? Kenalin gue... Yah bahkan gue gak tau harus gimana mengenalkan diri sama lo. Intinya gue teman dan tetangga Kemal dulu. Selamat untuk pertunangan kalian berdua ya."


" Oh.. Itu,, iya. Itu pacar lo ya?"


" Siapa?"


" Yang disamping Damian. Kalau Damian gue udah kenal lama kok."


" Oh, ini Dr. Alfa, dokter pribadi sekaligus... pacar gue."


" Line?!! Sejak kapan?"


Damian dan Kemal tampak sangat terkejut saat mendengar Line mengatakan hal tersebut. Damian langsung melayangkan pukulan nya pada Alfa.


" Sialan lo *******..!! Ternyata diam diam lo macarin adek gue. Ingat Al, ingat posisi lo sialan..!!"


Line kaget melihat Alfa yang tiba tiba dipukul oleh Damian.


" Damian..!! Stop.!! Lo gila? Ini acara tante Vivian. Lo mau bikin malu? Alfa lo gak papa?"


" Gak papa. Cuma luka kecil. Dan untuk lo Damian, percaya atau enggak, gue gak akan biarin nona dekat dekat lo."


" Gue abang nya sialan..!! Lo gak punya hak.."


" Abang? Lo yakin? Kalau lo tau lo abang gue, seharusnya lo buang perasaan bodoh lo itu. Karena tindakan bodoh lo semuanya berantakan sialan..!!"


Damian terdiam saat mendengar perkataan Line. Line melihat sudah banyak yang memperhatikan mereka pun langsung mengakhiri perdebatan mereka.


" Kita mau nyamperin tante Vivian dulu. Jadi kami duluan. Sekali lagi selamat ya Aliyah."


Line langsung membawa Alfa meninggalkan mereka dan menghampiri tante Vivian untuk mengucapkan selamat dan berpamitan. Sesudah berpamitan Line langsung keluar. Saat berjalan keluar, Line benar benar tak dapat menahan air matanya, saking buru buru nya, Line tak sengaja menabrak orang ketika keluar.


" Sorry sorry gue gak sengaja."


" Crystal?"


Line melihat siapa orang yang di tabrak nya, ternyata itu Fahrenza.


" Crystal? Kenapa lo nangis?"


Line hanya diam dan meninggalkan Fahren, Fahren pun mengejarnya. Sesampainya didepan mobil Alfa, Line berhenti karena ingat jika dia meninggalkan Alfa di dalam, dan kunci mobil ada di Alfa.


" Crystal? Jawab gue.. kenapa Crystal?"


" Gue gak mungkin ninggalin lo disaat kayak gini. Gue anter lo pulang ya."


Belum sempat Line menjawab, Alfa datang menghampiri nya. Tapi tiba tiba Fahren melayangkan tinjuan nya pada Alfa dan mengenai bibirnya.


" Sialan, apa apaan lo?


" Jadi lo cowok brengsek yang udah buat Crystal nangis *******..!!"


" Fahren, cukup..! Dia dokter pribadi gue.. Kita pergi Al."


Line dan Alfa meninggalkan Fahren di sana yang termenung dan kaget.


" Sorry Al. Karena gue lo di pukul sampai dua kali gitu. Dan maaf udah jadiin lo tameng gue"


" Gak usah pikirin saya. Kamu sendiri gimana?"


Line diam saat ditanya seperti itu. Line benar benar tak menyangka jika saat ini akan terjadi juga, bahkan sebelum dia bisa menyatakan perasaan nya sendiri. Alfa membawa Line ketempat lain.


" Loh kita kemana? Ini bukan jalan ke hotel gue kan?"


" Saya yakin kamu ingin sendiri. Lebih baik kamu menginap di hotel lain."


Alfa membawa Line ke Pearl Hotel. Ini adalah hotel termegah sesudah paradise. Ini benar benar hotel impian setiap orang. Karena tempatnya yang strategis dan cocok untuk yang ingin bersantai.


" Lo serius disini?"


" Iya."


Staf hotel menyambut Alfa dan Line. Line yang biasa mendapat perlakuan seperti itu menyadari, jika Alfa bukan cuma seorang dokter.


" Lo VVIP ya?"


" Iya. Saya sering kemari kalau ingin bersantai. Saya punya kamar pribadi disini. Saya antar kamu ke kamar kamu. Saya udah minta sama staf hotel untuk menyiapkan pakaian untuk kamu."


" Makasih Al. Dan maaf sekali lagi."


" Saya gak papa."


Line benar benar gak enak sama Alfa, karena tindakan bodoh nya, Alfa menerima perlakuan seperti itu. Line benar benar lelah, Line memikirkan bagaimana keadaan mami dan papi nya sekarang, karena Line belum ada berbicara dengan mereka sejak pertama bertemu. Line tau bagaimana menderitanya mereka saat mencari Line selama ini. Tapi Line masih tak bisa menerima kenyataan bahwa mama nya selama ini sangat lah egois.


Line yang lelah benar benar terlelap di kamarnya tanpa mengganti pakaian nya. Semenjak Line bertengkar dengan Damian, ini adalah tidur ternyenyak nya.


****


Paginya Line terbangun karena mendengar suara orang yang sedang memasak dan mencium bau masakan kesukaan nya. Line langsung menuju dapur yang ada di kamar hotel nya. Line melihat seorang wanita yang sangat anggun sedang memasak disana.


" Siapa ya?"


" Aleena, kamu udah bangun sayang? Mami masakin makanan buat kamu. Kamu tunggu sebentar ya."


Line benar benar kaget melihat wanita itu, itu adalah maminya. Isuzzu Francis Voodee. Line menurut dengan duduk di meja makan. Line memperhatikan bagaimana mami nya memasak, Line bisa melihat kalau mami nya baru belajar memasak, tapi yang membuat Line senang karena maminya memasak dengan penuh kasih sayang.


Line terkejut saat mami nya tak sengaja mengiris jari nya saat sedang memotong bawang. Line langsung mengambil kotak P3K yang berada di dapur dan mengobati jari mami nya tanpa berkata sepatah kata pun. Sesudah mengobati tangan mami nya, Line mengambil alih masakan mami nya.


" Biar saya lanjutin masaknya."


" Tapi Aleena, mami...."


Line langsung membereskan semua nya dengan cekatan, dan melanjutkan masakan mami nya. Line tau mami nya memperhatikan nya saat sedang memasak. Line memasak dengan porsi berlebih. Line berencana mengantarkan makanan untuk sarapan pada Alfa sebagai bentuk permintaan maaf nya.


" Kamu kok banyak banget masaknya sayang?"


" Saya mau nganter sebagian buat teman di sebelah sebagai ucapan terimakasih sekalian mau minta maaf."


" Terima kasih dan maaf?"


" Iya. Semalam dia udah bantuin saya. Dan karena saya dia kena masalah."


" Boleh mami tau siapa?"


Line hanya diam saja saat mami nya mengajukan pertanyaan itu. Bukan tak ingin memberi tau mami nya, hanya saja Line belum nyaman untuk membicarakan hal pribadinya.


" Kalau kamu gak mau ngasih tau gak papa kok. Mami gak akan maksa. Mami tau kamu belum nyaman sama mami. Dengan kamu mau ketemu mami juga mami senang banget."


" Maaf."


" Kenapa minta maaf sayang, kamu gak salah apapun."


Line benar benar merasa bersalah pada mami nya, tapi Line terlalu sering tersakiti oleh orang orang terdekatnya. Line ingin mempercayai mami nya, tapi Line takut kecewa untuk kesekian kali nya.


Tiba tiba ada yang masuk ke kamar Line dan berteriak..


" Mamiiiiiiiiiiiiiiii,,,, Moanaaaa hereeeeeee...!!"


****