
" Itu mantan papi? Benar benar sesuatu pi."
" Come on Aleena, Shania bukan mantan papi, lagi pula Shania cuma sekretaris, bukan pemilik restoran ini."
" Hah? Sekretaris?"
" Iyap, kalau soal penampilan tante Shania yang branded, wajar aja, dia dari keluarga kaya dan suami nya juga pengusaha."
" Terus kenapa mau jadi sekretaris?"
" Itu karena....."
" Karena Shania teman baik saya."
Aleena kaget mendengar suara yang menjawab pertanyaan nya. Karena tiba tiba seorang wanita cantik mendekati meja mereka dan menyapa papi dan mami Aleena.
" Apakah kamu Aleena?"
" Eh, iya tante."
Aleena benar benar syok melihat wanita yang berada di depan nya. Wanita itu benar benar mirip dengan mami nya.
" Kamu kaget ya? Saya Isyana Francis Voodee. Saudari kembar mami kamu. Jadi saya ini aunty kamu."
" Come one aunty Ana, perkenalan nya benar benar membosankan, lihat saja Aleena sampai gak bisa ngomong apa apa."
" Hahaha, sorry sorry. Aunty cuma bercanda, Aleena mulai sekarang, jika kamu membutuhkan sesuatu langsung bilang ke aunty oke."
" Eh? Iya aunty. Makasih."
" Gak perlu makasih, kamu sama Sean itu anak anak aunty juga. Jadi kalau mami kamu pelit, datang ke aunty oke?"
Aleena tertawa saat melihat wajah mami nya yang kesal mendengar perkataan aunty Ana. Aunty Ana benar benar orang yang sangat heboh. Berkebalikan dengan mami yang lebih kalem. Sean juga menceritakan bagaimana aunty Ana bisa menjadi mantan nya papi. Ternyata dulu aunty Ana iseng menyamar sebagai mami untuk berkencan dengan papi.
Tak lama, Alfa datang sambil membawa bucket bunga yang lumayan besar.
" Hallo semua, maaf Alva telat, macet banget di jalan. Dan Aleena, ini untuk kamu."
" Thankyou bang Alfa."
" Itu bukan dari abang."
" Loh? Jadi dari siapa?
" Gak tau, tadi di kasih sama pelayan di depan. Katanya untuk meja VVIP."
" Kok di kasih ke abang?"
" Ya karena mereka kenal sama abang."
" Dari siapa ya? Gak ada nama pengirim nya lagi."
" Pengagum rahasia lo kali. Cie yang punya pengagum rahasia."
" Berisik lo Sean. Udah deh buang aja, gue juga gak tau dari siapa."
" Udah letak di luar saja. Minta pelayan untuk membawa nya ke belakang, lagi pula itu buket lumayan besar, akan menggangu kita nanti nya."
" Oke aunty."
Aleena memanggil salah satu pelayan untuk membawa bunga itu ke ruangan aunty Ana. Setelah itu kembali ke meja.
" Nah karena kita sudah kumpul, papi akan mengumumkan sesuatu. Jadi harap didengarkan baik baik."
Semua benar benar menantikan apa yang akan di katakan oleh papi Aleena. Ya memang tidak banyak yang hadir, karena banyak dari mereka yang sibuk dengan pekerjaan nya.
" Pertama, selamat untuk Sean dan Aleena yang mendapatkan nilai yang sungguh memuaskan.
Kedua, karena Sean dan Aleena yang sudah mulai dewasa, saat nya menentukan apa selanjutnya yang akan kalian berdua lakukan?"
" Maksudnya pi?"
" Aleena, jika kamu ingin bergerak maju, maka kamu harus punya pandangan ke depan tentang apa yang akan kamu lakukan."
" Aleena mungkin bakalan membangun perusahaan Aleena lagi mulai dari nol. Dan Aleena juga udah buat beberapa rencana untuk langkah selanjutnya."
" Bagaimana dengan kamu Sean?"
" Tentu saja melakukan apapun yang Sean suka seperti biasa nya."
" Papi serius Sean.."
" Sean juga serius, atau membantu Aleena membangun perusahaan nya."
" Bagaimana jika menemui Opa kalian terlebih dahulu? Setelah itu silahkan kalian tentukan pilihan kalian."
" No, no, no. Sean gak ikut."
" Opa? Aleena masih punya Opa?"
" Masih Aleena, tepat nya papa nya aunty dan mami kamu."
" Mending gak usah, percaya kata gue Aleena, Opa itu...."
Tiba tiba ada yang menyela pembicaraan mereka lagi.
" Ada apa dengan Opa Sean?"
" Opa itu galak, suka nyuruh Sean membereskan masalah yang ada di perusahaan, opa juga suka nyuruh Sean nyelinap ke situs perusahaan lain. Pokoknya opa itu benar benar suka berbuat sesukanya."
" Sama seperti kamu kan Sean?"
" Jelas beda lah, Sean ganteng, opa nyeremin. Belum lagi baru baru ini opa mulai jodoh jodohin Sean sama perempuan gak di kenal."
Ya Sean masih belum menyadari kehadiran opanya. Aleena menahan tawa melihat Sean yang sedang menggerutu tentang opa nya didepan orang nya langsung. Yang lain juga ikutan menahan tawa mereka.
" Seperti nya pelajaran untuk kamu masih belum cukup Aiden?"
Sean kaget saat mendengar seseorang memanggil nya dengan nama Aiden, karena yang memanggilnya dengan nama Aiden hanya opa nya. Sean melihat ke belakang dan menemukan Opa nya sedang berdiri tepat di belakang nya. Sean langsung berdiri dari duduk nya.
" Kamu sudah berani menjelekkan opa di depan Aleena ya? Coba ulang lagi apa yang kamu katakan tadi."
" Enggak loh Opa, opa salah dengar kali, orang Sean bilang opa baik kok, iyakan Aleena?"
Sean memandang Aleena dengan tatapan meminta tolong pada Aleena, Aleena benar benar tertawa saat melihat wajah Sean yang benar benar memelas.
" Kamu ini, opa jauh jauh kemari bukan untuk mendengar cerita omong kosong kamu. Bagaimana dengan tugas yang opa berikan pada kamu?"
" Udah, udah selesai opa. Semuanya udah Sean kirim ke Email nya opa. Sean juga udah buat beberapa daftar tambahan nya opa."
" Bagus. Dan kali ini apa lagi alasan kamu? Bagaimana bisa kamu meninggalkan Tasya tanpa alasan yang jelas."
" Opa please, Tasya itu aneh, manja, dia cuma tau cara menghabiskan uang. Sean gak suka perempuan seperti itu."
" Sebelum nya kamu juga mengatakan hal itu, tenang saja, Opa masih memiliki pilihan yang lain, jika dengan yang satu ini gagal juga, ucapkan selamat tinggal untuk warisan kamu."
" Opaaa..!! Sean belum mau nikah. Lagipula Sean udah punya pacar."
Aleena kaget saat mendengar Sean memiliki pacar, karena setau Aleena, Sean tak memiliki pacar. Semenjak pacar nya meninggal akibat kanker, Sean belum pernah sekali pun berpacaran lagi.
" Yang menyuruh kamu menikah itu siapa?"
" Ya terus ngapain opa jodohin Sean sama cewek cewek itu."
" Opa hanya ingin mengenalkan kamu pada mereka, bahkan sampai sekarang kamu gak pernah membawa pacar yang kamu sebutkan itu kedepan opa."
" Aleena tuh yang gak punya pacar, mending opa cariin Aleena pacar, soalnya dia udah 2 kali patah hati, yang pertama di tinggal nikah, yang kedua di tikung sama teman sendiri, hahaha."
" Sean..!!"
Mami mengehentikan ucapan Sean. Mami memang tak pernah ingin membahas masalah ini, mami takut Aleena akan bersedih.
" No problem mi. Dan Sean, lo salah. Fahren itu adalah orang ketiga setelah Kemal."
" What?"
" Yap, yang pertama itu teman dekat gue sendiri. Bahkan gue hampir mati karena dia. Jadi info lo kurang akurat."
" Kok bisa?"
" Data yang lo punya itu semua data semenjak gue di sini. Karena data gue sebelum kesini itu udah di hapus sama Damian."
" Jadi kamu juga belum memiliki pacar Aleena?"
" Tenang aja opa, Aleena bisa cari pacar sendiri kok."
" Yang bagaimana? Seperti anak pantai itu?"
Aleena kaget saat opanya mengetahui tentang kedekatan nya dengan Allan. Bagaimana bisa opa nya mengetahui hal itu, bahkan mami dan papi nya tak pernah membahas itu.
" Apakah anak pantai itu mengetahui siapa kamu sebenarnya?"
Aleena menggeleng.
" Aleena gak pernah menceritakan apa pun pada nya. Bahkan dia hanya menganggap Aleena seorang turis biasa."
" Kamu masih terlalu naif Aleena. Karena itu semua yang kamu sayangi meninggalkan kamu satu persatu."
" Papa Enough..!!"
Mami menghentikan opa, Aleena benar benar terkejut, mami nya tak pernah berteriak seperti itu, aunty Ana membantu menenangkan mami.
" Ada apa Suzzy? Bukan kah benar apa yang papa katakan? Aleena terlalu naif sebagai cucuku. Padahal jika dia ingin melakukan apapun, tak akan ada yang berani menghentikan nya. Mau sampai kapan kalian semua melindungi Aleena? Biarkan dia menghadapi semua nya sendiri, atau dia benar benar akan di lahap habis oleh musuh nya saat kalian lengah."
" Enough pa..!! Sampai kapanpun, Suzzy gak akan biarin siapapun untuk menyakiti Aleena."
Ada apa sebenarnya ini? Apa yang di sembunyikan mami nya. Dan apa maksud perkataan opa ya. Aleena benar benar penasaran.
" Tak perlu kaget Aleena, opa tau semua nya. Mami dan papi kamu terlalu memanjakan kamu, mereka merasa bisa melindungi kamu setiap saat. Makanya mereka merasa tak perlu mengatakan apapun pada kamu."
" Papa...!! Biarkan Aleena menjalani kehidupan yang bahagia, Aleena gak perlu tau apapun..!!"
" Mami, Aleena udah dewasa, jika ini menyangkut Aleena, Aleena berhak tau. Aleena gak mau hidup dalam kebohongan lagi mi."
" Cukup Aleena..!! Ana, tolong bawa Sean dan Aleena. Saya ingin berbicara dengan papa."
Aunty Ana mengajak Aleena dan Sean untuk keluar dari restoran dan membiarkan maminya berbicara dengan opa nya. Aleena awalnya menolak, tapi mami nya benar benar serius. Mami nya tak pernah sekalipun menunjukkan wajah yang begitu serius pada Aleena.
Aleena akhirnya menyerah dan meninggalkan restoran bersama Sean dan aunty Ana.
" Ada apa sebenarnya ini aunty? Mami gak pernah menunjukan ekspresi seperti itu pada Aleena sekali pun."
" Aleena, kamu tenang saja, setelah ini semua nya pasti akan baik baik saja."
*****
Sudah seminggu Aleena dan Sean tinggal dengan aunty Ana. Semenjak kejadian di restoran waktu itu, mami dan papi nya meminta aunty Ana untuk membiarkan Aleena dan Sean tinggal bersama nya. Aleena benar benar frustasi memikirkan semua hal ini. Bagaimana bisa semua nya tiba tiba berubah seperti ini.
" Hey Aleena, mau sampai kapan kamu melamun seperti itu? Masih memikirkan masalah opa?"
" Ya, semua nya aneh aunty, kenapa tiba tiba Aleena juga ikut ikutan di jodohin kayak Sean. Dan belum lagi maksud perkataan mami waktu itu."
" Kenapa gak cari tau sendiri aja, dari pada mati karena rasa penasaran."
" Tapi mami bilang..."
" Come on Aleena, sejak kapan lo jadi anak penurut yang menuruti semua keinginan mami?"
" Tapi Sean.."
" Gak ada tapi tapian, sini masuk ke kamar gue. Gue kasih tau semua yang udah gue dapat selama lo ngelamun mulu seminggu ini."
Aleena mengikuti Sean ke kamar nya bersama dengan aunty Ana. Aleena kaget saat melihat kamar Sean, Aleena memang tak pernah memasuki ruangan yang di jadikan kamar oleh Sean selama ini.
" Ini.....
****