CELINE

CELINE
Ep 27



Line benar benar merasa bersalah pada mami nya, tapi Line terlalu sering tersakiti oleh orang orang terdekatnya. Line ingin mempercayai mami nya, tapi Line takut kecewa untuk kesekian kali nya.


Tiba tiba ada yang masuk ke kamar Line dan berteriak..


" Mamiiiiiiiiiiiiiiii,,,, Moana's hereeeeeee...!!"


Line kaget melihat anak kecil yang masuk itu, dia ditemani oleh seorang lelaki yang diketahui Line sebagai papi nya.


" Mami, mami ninggalin Moana lagi, Moana kan udah bilang, mami harus tungguin Moana."


" Siapa suruh kamu lama, kan udah mami bilang juga semalam, kalau kamu lama ya mami tinggal."


" Moana harus dandan dulu, soalnya papi bilang Moana harus kelihatan cantik dan rapi saat ketemu kakak."


" Sini, kenalin diri kamu ke kakak kamu."


Moana melihat kearah Line sebentar, kemudian memeperkenalkan dirinya pada Line.


" Selamat pagi. Nama Moana, Moana Francis Voodee. Kakak pasti kakak Moana yang di bilang mami kan? Namanya kak Aleena Fransisca Voodee."


Line benar benar gak tau harus berbuat apa, di satu sisi Line sangat menyukai tingkah lucu Moana, di satu sisi dirinya belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan ini. Line tak menyangka jika dirinya akan mempunya adik yang sangat lucu seperti Moana. Line melihat kearah mami nya kemudian melihat ke arah Moana.


" Iya Moana. Nama kakak...."


Line rasanya berat sekali untuk mengatakan nama baru nya, ini benar benar aneh, aneh sekali. Tapi mungkin tak ada salahnya bersikap ramah padanya, toh dia hanya anak kecil yang tak tau apa apa.


" Maaf ya kakak gak tau kamu mau kesini, kalau kakak tau, kakak bakalan nyiapin hadiah untuk kamu."


" Gak papa kakak. Papi juga udah ngasih tau Moana kalau kakak gak tau Moana mau datang. Jadi sekarang Moana aja yang kasih kakak hadiah. Ini hadiah untuk kakak dari Moana."


Line menerima sebuah kotak dari Moana, ketika di buka Line benar benar kaget melihat isinya. Ini adalah kalung berlian bertuliskan Aleena FV.


" Itu kalung Moana pilih sendiri, biar sama kayak punya Moana."


" Terimakasih Moana. Gimana kalau hari ini kita jalan jalan terus kakak beliin Moana hadiah? Mau?"


" Mau mau.. Moana mau jalan jalan sama kakak. Moana mau kayak teman teman yang lain."


" Hm? Gimana?"


" Iya teman Moana selalu cerita kalau dia selalu ditemenin kakak nya pergi kemana mana."


" Oke, kakak bakalan temenin Moana kemana aja hari ini. Setuju?"


" Setuju....!!!!!"


" Tapi sayang, kamu masih harus istirahat kan? Dr. Alfa bilang kamu gak boleh capek dulu. Kamu harus istirahat. Jalan jalan nya di pending dulu aja."


Line mengajak adik nya hari ini jalan jalan karena Line tau, Line tak akan memiliki kesempatan untuk mengajak adik nya jalan jalan kedepan nya. Line sudah memutuskan untuk pergi menjauh dari semua orang. Menenangkan diri dari semua masalah yang di hadapi nya.


" Gak papa. Saya baik baik aja. Sesudah membawa Moana jalan jalan, saya akan istirahat."


" Tapi sayang..."


" Kakak mandi dulu ya Moana. Habis itu kakak bakalan bawa Moana buat jalan jalan."


" Horreeyyy.."


Line benar benar bersiap dan mengatakan pada salah satu bawahan nya untuk mengantar mobil ke hotel ini. Setelah selesai Line menghubungi bawahan nya, ternyata bawahan nya mendapat masalah, mereka di ikuti Damian. Line mencoba menelfon anak buah nya yang lain. Mereka juga mendapat masalah, Kemal sedang mengawasi semua bawahan Line.


Line teringat skoci. Line langsung menghubungi skoci untuk mengantar mobil ke hotel ini. Dan skoci menyanggupinya.


" Kakak, kakak masih lama ya? Moana bosan nih.."


" Udah kok Moana. Sabar ya. Kakak lagi nunggu mobil kakak diantar kesini sama teman kakak."


" Pakai mobil papi aja Aleena. Papi pulang sama mami kamu. Kalau nunggu teman kamu nanti lama."


" Terimakasih."


" Gak perlu berterimakasih Aleena. Kamu anak papi, apapun yang kamu mau, akan papa berikan."


Line benar benar mengabulkan semua keinginan Moana. Membawa nya kemana pun dia mau. Menemani nya bermain dan membeli banyak hadiah untuk Moana. Moana benar benar senang bisa jalan jalan dengan kakak nya. Moana adalah anak yang pintar. Dijalan pulang, Moana yang kecapean tertidur. Sebelum tidur, Moana berkata yang membuat Line ingin menangis.


Line terdiam, oh tuhan, Line tak tega meninggalkan Moana, akan tetapi hatinya terlalu sakit. Dirinya terlalu kecewa, banyak kekecewaan yang di pendam nya. Dirinya benar benar tak sanggup menghadapi semuanya sendiri.


Sesampainya di hotel, skoci sudah berada disana. Line mengatakan padanya jika dia harus pergi untuk menenangkan diri. Line menyiapkan barang seperlunya lalu menuliskan surat memberitahukan papi dan mami nya agar tak mengkhawatir kan nya lagi. Dirinya membutuhkan ketengan untuk beberapa saat dan berjanji akan kembali jika dirinya sudah tenang. Kemudian meninggalkan surat itu pada pihak hotel dan meminta pihak hotel menghubungi mami dan papi nya untuk memberitahukan bahwa Moana berada di kamar hotel.


Line bersembunyi di dekat hotel menunggu kedatangan mami dan papi nya untuk menjemput Moana. Line bisa melihat Moana yang di gendong papi nya menangis karena tak menemukan dirinya.


" Bos? Lo yakin mau pergi?"


" Jalan Skoci. Udah cukup gue ngeliat mereka."


" Baik bos."


Malam itu, Line meninggalkan semua nya disana. Benar benar meninggalkan kehidupan nya disana. Meninggalkan keluarga nya, meninggalkan orang orang yang disayanginya. Dan meninggalkan orang orang yang menyayanginya. Line benar benar pergi meninggalkan semua orang. Tak ada yang mengetahui kemana dia akan pergi. Bahkan dirinya pun tak mengetahui harus kemana dirinya pergi. Line mengikuti kemana hatinya akan menuntun nya.


" Bos? Gue ikut lo ya? Gue gak tenang kalau lo sendiri."


" Gue butuh waktu sendiri Skoci. Gue benar benar pengen menenangkan diri."


" Tapi bos.."


" Percaya sama gue, gue gak akan ngelakuin hal bodoh seperti yang lo pikirin skoci."


" Jadi lo mau kemana? Kasih tau gue."


" Indonesia."


Siapa yang menyangka takdirnya akan berjalan seperti ini? Line benar benar tak memikirkan kemana dirinya akan pergi.


" Gue pergi Skoci, gue bakalan nelfon lo sekali kali."


" Hati hati bos. Jaga diri lo."


" Tenang aja. Sampaikan salam gue buat Daniel. Bilang sorry gue ngasih tanggung jawab berat ke dia."


" Ya dia bakalan ngamuk kalau tau bos."


" Hahaha. Ya lo pastiin siapapun gak bisa ngelacak gue. Siapapun itu."


" Oke bos."


" Satu lagi, jagain mami sama papi gue. Juga Moana. Bilang ke Daniel buat ngawasin Damian dan keluarganya."


" Siap bos."


Line benar benar pergi kali ini. Line sudah memberikan tanggung jawab pada Skoci dan Daniel. Kemana takdir akan membawanya? Siapa yang tahu akan kemana ceritanya berlanjut? Akan dimana dirinya berlabuh, akan kemana dirinya mendarat atau bahkan terdampar.


" Tuhan, tolong jaga semua orang orang yang menyayangi ku, tolong jaga mereka saat tangan ku tak sanggup menggapai mereka. Hapus air mata mereka saat diri ini tak sanggup menghapus air mata mereka. Saat diri ini bahkan tak sanggup untuk memeluk mereka lagi."


****


2 hari kemudian, Skoci mendapat kabar bahwa pesawat yang membawa Line menuju Indonesia jatuh dan terbakar. Skoci dan Daniel bagai disambar petir disiang bolong.


Daniel dan Skoci langsung memeriksa daftar nama penumpang di pesawat itu. Dan menemukan nama Line berada disana. Mereka benar benar terkejut. Berita disiarkan pada siang ini. Damian langsung mencari Daniel dan Skoci.


Semua yang mengetahui kabar ini benar benar terpukul, terutama orang tua nya. Mereka benar benar merasa bersalah pada Line. Semua nya mengerahkan kekuatan mereka untuk membantu pencarian. Tapi setelah seminggu, mereka tak mendapatkan apapun kabar tentang Line. Semua tak menyerah, semua tetap berusaha untuk menunggu kabar baik.


****


- Setahun kemudian -


Tampak disebuah rumah, seorang wanita hanya menatap ke jendela dan memandang keluar. Tampak lelaki memasuki kamar wanita itu.


" Mami makan dulu mi. Alfa bawain makan siang buat mami."


" Mami gak laper, bagaimana keadaan Aleena diluar sana? Bagaimana dia? Apakah dia makan cukup? Tidur nyenyak? Atau malah kesusahan. Mami pengen ketemu sama Aleena, Alfa."


" Iya mi, Aleena pasti baik baik saja. Alfa sama papi juga masih mencoba mencari Aleena mi. Mami sabar ya."


****