
Tiba tiba terjadi kegaduhan di rumah Line. beberapa orang berpakaian hitam muncul dan mulai menyerang Line. Line menghabisi mereka semua. Tapi tiba tiba Line merasa kalau ada sesuatu yang menusuk nya. Line kaget melihat siapa orang dibelakang nya...
" Lo... Kenapa Bastian, apa yang lo lakuin?!!"
" Tidak banyak, hanya melumpuhkan lo untuk sementara waktu."
" Tapi kenapa?"
" Lo terlalu merepotkan Line. Gue gak yakin bakalan menang melawan lo, jadi cuma ini jalan satu satunya."
" Tapi kenapa Bastian...!!"
" Kenapa? Tentu saja karena lo adik Damian. Gue terlalu membenci Damian, hanya itu."
" Lo mengkhianati kami Bastian?"
" Tepatnya dari awal gue gak pernah berada di pihak kalian Line."
" Tapi mengapa?"
" Karena gue adalah anak kandung dari Mr. Dendalion Neron. Semua ini sudah direncanakan sejak dulu Line, bahkan sebelum lo ada disini. Tapi semenjak lo muncul, semua rencana gue berantakan."
" Bagaimana mungkin? Bukannya lo cucu Mr. Roulee?"
" Kakek tua itu mengadopsi gue tanpa tau apapun. Ingat kejadian Mafia Dubai? Mereka adalah orang suruhan gue untuk mengalihkan perhatian lo. Dan kecelakaan Damian juga adalah ulah gue. Gue kira, gue berhasil melenyapkan nya waktu itu, tapi satu hal yang gue lewatkan, gue gak nyangka kalau lo masih memiliki cara untuk menyelamatkannya, seharusnya dari awal gue langsung membunuh lo, karena lebih mudah membuat lo mati dari pada Damian."
" Lo..!! Lo tega Bastian, padahal gue udah percaya sama lo, bahkan lo udah kayak keluarga buat gue. Tapi kenapa lo mengkhianati kepercayaan gue Bastian?"
" Percaya? Dari awal lo gak pernah percaya gue Celine. Lo bahkan menyuruh Daniel untuk mencari tau tentang gue, lo juga menyewa beberapa orang untuk mengawasi gerak gerik gue dan lo juga menyewa orang untuk menjaga orang tua lo tanpa sepengetahuan gue. Tapi sekarang itu gak penting, karena sekarang, gue akan melenyapkan lo seperti gue melenyapkan Daniel dan Damian. Oh gue lupa, orang orang gue sudah berhasil melenyapkan Damian di Jepang."
Line menangis, dia tak menyangka bahwa Bastian akan mengkhianatinya. Dan sekarang, Damian juga meninggalkan nya. Line marah, marah dengan kebodohan nya, marah karena tak bisa melindungi orang orang yang disayangi nya.
" Terakhir, Abercio terlalu lugu, gue bahkan harus memanfaatkan Marissa untuk membawanya masuk ke dalam rencana gue, tapi anak bodoh itu malah benar benar menyukai lo. Dan Marissa, dia gadis bodoh yang bahkan dengan gampang nya gue manfaatkan untuk mengkhianati teman nya sendiri demi uang dan kekuasaan. Karena gue udah memberitahukan semuanya ke lo. Ini saat nya gue untuk melenyapkan lo."
Line hanya bisa menutup mata, apakah ini akhirnya? Apakah hidup nya akan berakhir sekali lagi. Kenapa? Kenapa takdir seakan mempermainkan nya. Tapi apa yang terjadi, Line tak merasakan apa pun. Saat membuka mata, Bastian sudah pingsan tepat didepan Line.
" Lo baik baik saja? Lo bisa gerak gak?"
" Kemal?"
" Ya ini gue, gue bakalan nolongin lo. Anggap aja karena waktu itu lo udah nolongin gue."
Line melihat orang orang berpakaian serba hitam langsung masuk dan membereskan semuanya.
" Kemal, bisa tolong antar kan gue ke kamar gue? Gue mau menghilangkan efek pelumpuh di tubuh gue."
" Baiklah."
Kemal mengantarkan Line ke kamarnya untuk mengambil obat. Sesampainya di kamar, Line di dudukkan di sofa yang ada di kamar Line.
" Tolong ambilkan obat di rak ke tiga laci pertama. Kode nya 1212."
" Oke."
Setelah meminum obat tersebut, tak sampai 15 menit Line dapat bergerak kembali.
" Apa Bastian masih hidup?"
" Tidak. Gue membunuh nya. Damian menyuruh gue untuk melenyapkan nya jika dia mengancam keselamatan lo."
" Bagaimana keadaan Damian? Dimana dia?"
" Kami berhasil selamat. Dia ada di markas. Keadaanya baik baik saja."
" Tapi Bastian bilang...."
" Itu rencana kami untuk menjebak nya. Kami mengetahui pengkhianatan nya saat sampai di Jepang, mereka menceritakan semua nya."
" Bisakah gue bertemu dengan Damian?"
" Gue akan mengantar lo kesana."
Line pergi bersama dengan Kemal. Saat sampai diruangan Damian, Line menangis dan memeluk Damian.
" Hey Line. Gue baik baik saja."
" Gue benar benar khawatir sama lo Damian, Bastian... Bastian..."
" Ya gue tau. Gue juga gak mengira bahwa dia adalah orang yang mengkhianati kita. Percaya lah Line. Gue akan jagain lo sebaik mungkin. Gue gak akan membiarkan siapa pun menyakiti lo."
****
Sebulan berlalu, Line menjadi orang yang sangat dingin. Bahkan teman teman nya tak mengetahui penyebab nya. Sehari setelah kejadian itu, Abercio dan Marissa menghilang. Teman teman nya menduga bahwa Line berubah karena Cio dan Marissa yang tiba tiba menghilang. Line sudah menduga hal ini. Tapi Line tak ingin membahas nya. Bahkan Reinhard tampak sangat putus asa mencari Marissa yang tiba tiba menghilang.
" Crystal, pulang sekolah kami akan berkumpul di Cafe biasa, Lo mau ikut?"
" Enggak, gue mau pulang kerumah."
" Hey Crystal, bisa gak sih lo jangan kayak gini? Bukan cuma lo yang khawatir, kami juga mengkhawatirkan Cio dan Marissa. Reinhard bahkan juga sudah putus asa mencari Marissa."
" Dia tak akan bisa menemukan Marissa."
" Apa maksud lo Crystal? Apa lo mengetahui sesuatu?"
" Kalau kalian mau tau, temuin gue di restoran. Gue akan ada disana nanti sore."
Setelah itu Line langsung memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan parkiran sekolah. Sore nya Line benar benar ke Restauran bersama dengan Kemal. Disana sudah ada Silviana, Arnold dan Reinhard.
" Gue kira kalian gak akan datang."
" Bagaimana mungkin, bahkan Reinhard sangat penasaran."
" Baiklah, pertama kenalkan, ini adalah Kemal Rabbani Athalla. Teman serta rekan bisnis gue."
Setelah berkenalan dengan Kemal, Reinhard langsung mengajukan pertanyaan.
" Apa lo tau kemana Marissa pergi Crystal? Tiba tiba dia keluar dari sekolah. Gue udah gak tau lagi harus nyari dia dimana, kan gak mungkin Marissa keluar dari sekolah hanya karena papa gue yang gak setuju dengan hubungan gue sama dia."
" Iya Crystal, Cio juga sama, tiba tiba mengundurkan diri dari sekolah, yang gue dengar, bisnis keluarga nya lagi bermasalah disini karena udah menyinggung orang yang seharusnya gak mereka singgung."
" Gue gak tau, kalau gue tau sekarang mereka dimana, kemungkinan besar gue pasti akan langsung menghabisi mereka."
" Maksud lo Crystal?"
" Mereka terlibat dengan dunia belakang, lebih baik kalian tak ikut campur. Itu bukan dunia kalian."
Kemal memperingati mereka untuk tak ikut campur terlalu banyak. Setelah Line menceritakan permasalahan nya, mereka terkejut kalau Cio dan Marissa bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Line.
Setelah mereka pergi, tinggal lah Line dan Kemal disana.
" Kenapa lo gak ngasih tau mereka dimana sebenarnya orang yang mereka cari? Bukankah mereka adalah teman teman lo Line?"
" Lebih baik mereka tak mengetahui nya. Gue gak ingin mereka terlibat. Ini udah gak dalam jangkauan gue lagi Kemal."
" Baiklah, apa pun keputusan lo, gue akan mendukung nya."
Line berniat memulai semua nya dari awal, Line akan fokus mengembangkan Paradise Group, tentu saja tanpa sepengetahuan orang tua nya. Mungkin kedepannya Line akan di jauhi oleh teman teman nya, Line sudah bersiap untuk itu.
Damian juga memutuskan untuk membantu Line dari belakang bersama dengan Kemal. Prioritas utama mereka adalah keselamatan orang tua mereka.
****
Malam ini orang tua Kemal mengundang kami semua untuk makan malam dirumah nya. Ya sejak kepindahan mereka, mereka belum pernah bertemu dengan papa dan mama karena kesibukan mereka masing masing.
" Celine, Damian, kalian sudah selesai belum? Kita sudah terlambat sayang."
" Iya ma, Line udah selesai."
Line langsung turun ke bawah bersama Damian, ya gue hari ini hanya memakai dress selutut dengan lengan panjang berwarna Navy. Setelah sampai dirumah tante Vivian, kami langsung di undang untuk langsung ke taman belakang rumahnya.
Ternyata mama mengenal tante Vivian, tante Vivian adalah teman masa kuliah mama dan papa. Hanya saja mereka tidak terlalu sering bertemu karena mama adalah orang yang sangat sibuk.
" Celine sayang, setelah lulus sekolah, kamu berniat melanjutkan kemana?"
" Belum tau tante, belum ada referensi. Lagian masih lama juga."
" Oh iya, tante lupa sayang. Maklum ya."
Setelah berbincang cukup lama, kami pun pamit untuk pulang, karena memang hari sudah terlalu larut. Kemal mengantar gue sampai depan rumah. Ketika gue ingin masuk, Kemal memanggil gue.
" Celine.."
" Ya?"
" Itu......"
****