CELINE

CELINE
Ep 42



" Lo tau kenapa Dalton Furniture bangkrut?"


" Saya tau, perusahaan keluarga saya bangkrut karena beberapa perusahaan merasa perusahaan saya menyediakan bahan yang berkualitas jelek dan melanggar perjanjian. Jadi semua pelanggan yang sudah memesan untuk setahun kedepan membatalkan semua pesanan mereka. Tak sampai satu bulan, perusahaan keluarga saya bangkrut. Padahal kami selalu berusaha memberikan bahan terbaik untuk pesanan pelanggan. Tapi saya gak tau kenapa saat itu bahan nya berubah menjadi bahan terburuk."


" Hah... Itu benar benar bahan terburuk. Seharusnya kalian tak mencoba untuk bermain dengan perusahaan besar. Crosia bukan perusahaan yang bisa seenaknya kalian tipu."


" Hey, kami tak menipu siapapun. Furniture yang kami kirim saat itu benar benar furniture terbaik kami, saya yakin tentang itu karena saya sendiri yang mengecek kualitas dari bahan sampai pembuatan nya selesai. Tapi saya gak tau kenapa bisa barang lain yang sampai disana."


Aleena bisa melihat kejujuran dari mata Allan. Tapi Aleena benar benar tak ingin ikut campur, lagi pula Allan sudah memiliki jalan hidup nya sendiri. Aleena tak ingin mempercayai orang yang salah lagi.


" Pada akhirnya kamu gak jadi ngelihat sunrise."


" Gak masalah, setidaknya mood gue gak terlalu buruk kayak semalam. Thankyou."


Hp Aleena tiba tiba berdering, telfon dari nomor tak dikenal. Aleena malas untuk menjawabnya karena tak mengenali nomor tersebut. Tapi nomor itu menelfon nya berkali kali.


" Hallo?"


"..."


Tak ada suara di ujung sana.


" Hellow? Who are you?"


" Ini gue Sean. Lo dimana? Gue mau bicara. Gue cari di hotel lo gak ada."


" Pantai. Di stand makanan Vibland."


" Tungguin gue disana."


Aleena menutup telfon nya. Ternyata itu nomor Sean kembaran nya. Ya Aleena memang tak memiliki no hp Sean. Tak sampai 15 menit, Sean sampai disana dan langsung menemui Aleena.


" Gue,, gue minta maaf. Karena udah ngomong kayak gitu sama lo. Gue cuma.."


" Ya gue tau, lo benar, seharusnya gue lebih terbuka sama kalian semua. Seharusnya gue bangun dari mimpi masa kecil gue. Seharusnya gue lebih memikirkan perasaan orang orang di sekitar gue. Seharusnya gue..."


" Aleena, gue tau alasan lo kayak gitu, gue cuma gak bisa ngertiin lo. Semalam gue ngerasain semua perasaan yang lo rasain. Gue bener bener merasa bersalah sama lo."


Sean memeluk Aleena, mereka berbaikan, mau bagaimana pun, mereka adalah saudara kembar yang bisa merasakan sakit satu sama lain. Tapi disisi lain, ada seseorang yang sedang patah hati saat melihat mereka berdua dan pergi menjauh.


******


Tak terasa sudah 1 tahun berlalu, Aleena benar benar memfokuskan dirinya pada pendidikan nya, Aleena benar benar hanya menyibukkan diri dengan kegiatan kampus dan sebagainya, Sean juga sudah bergabung dengan Aleena di jurusan yang sama, Sean benar benar pintar seperti yang dia bilang, awalnya Aleena hanya menganggap itu salah satu dari sekian banyak omong kosong Sean. Tapi ternyata perbedaan Ipk mereka hanya terpaut 0,5. Mereka benar benar terkenal di kampus sebagai pasangan genius. Tak banyak yang mengetahui jika mereka adalah saudara kembar.


" Selamat Sean, Aleena. Papi sama Mami bangga sama kalian berdua."


" Makasih mami, papi. Ini semua berkat papi sama mami yang selalu support kita berdua. Aleena gak nyangka kalau bisa dapat nilai yang memuaskan begini."


" Yap, Aleena bener mi, pi. Oiya, bang Alfa masih di rumah sakit pi?"


" Enggak, tadi udah di jalan katanya. Mungkin macet."


" Kirain gak pulang lagi, akhir akhir ini abang lebih sering di rumah sakit daripada dirumah."


" Mau bagaimana lagi? Abang kamu sudah memilih jalan itu. Jadi dia harus bertanggung jawab dengan jalan yang di pilih nya. Begitu juga dengan kalian berdua nantinya."


Aleena benar benar bangkit, Aleena meninggalkan semua nya dan memulai hidup yang lebih baik lagi bersama dengan keluarga nya. Aleena selalu bersama dengan Sean. Sean membantu Aleena untuk menjauh dari teman teman nya. Bahkan Aleena tak pernah lagi berbicara dengan Silviana atau pun Dista.


Semenjak kejadian di pantai itu, Dista dan Silviana seperti menjauhi Aleena. Aleena juga tak ingin ambil pusing karena memang dirinya memutuskan untuk memulai semua nya dari awal dan memaafkan semua orang yang sudah mengkhianati nya.


Mami dan papi nya mengajari nya, untuk selalu memaafkan siapa pun yang sudah menyakitinya di masa lalu. Karena hidup hanya tentang kemarin, hari ini dan hari esok. Ketika kita terjebak di masa lalu, maka kita tidak akan pernah bergerak maju.


Aleena sangat bangga bisa memiliki papi dan mami nya saat ini. Mereka selalu mengajari Aleena untuk tidak menyimpan dendam pada siapapun. Mami dan papi nya tidak menginginkan Aleena hidup dengan terjebak di masa lalu seperti mereka dahulu.


" Sean, Aleena. Nanti siang kalian jangan kemana mana oke?"


" Memang nya kenapa mi?"


" Nanti siang kita ada acara kumpul kumpul keluarga, makan siang biasa. Jadi kalian berdua jangan kemana mana, terutama kamu Aleena."


" Loh kok Aleena?"


" Iya kamu, akhir akhir ini kamu juga sering sekali pergi ke pantai, mami sampai kesal liat nya."


" Mau gimana lagi mi, Aleena dapat teman anak pantai, makanya dia sering main kesana."


" Sembarangan lo, gue ke pantai gak ada hubungan nya sama Allan, lagi pula gue ke pantai juga nyaru suasana baru."


" Suasana baru atau pacar baru? Lagian gue gak sebut nama kok."


" Diem deh lo. Resek banget."


" Sudah sudah, pokoknya kalian berdua jangan kemana mana nanti siang. Mami juga udah bilang ke Alfaro."


" Iya mi."


Aleena hanya menuruti perkataan mami nya. Aleena memang sering pergi ke pantai tempat Allan membuka stand nya. Aleena ke sana karena ingin menikmati roti roti yang di buat Allan, karena semua roti dan cake yang di buat Allan sangat enak. Aleena juga membantu mempromosikan cake buatan Allan, semenjak itu Allan sering mendapat pesanan cake dari teman teman Aleena.


Siang nya seperti yang sudah di sepakati bersama, Aleena dan Sean beserta mami dan papi nya akan makan siang dengan keluarga besar mereka. Aleena belum pernah sekalipun berjumpa dengan keluarga besar nya semenjak tinggal dengan mami dan papi nya.


" Oke pi."


Sesampainya di restoran, suasana nya benar benar ramai karena ini adalah salah satu restoran yang lagi hits banget karena restoran ini baru buka sebulan yang lalu, dan juga masakan nya yang terkenal enak.


" Aleena udah lama banget pengen kesini loh pi, semenjak resto ini buka. Tapi karena sibuk mulu jadi gak sempat sempat kemari. Kata nya makanan disini enak enak loh pi."


" Hahaha, papi tau kamu pasti senang kalau kita makan disini. Kebetulan papi kenal dengan pemiliknya, jadi kita bisa dapat spot yang nyaman banget."


" Seriusan pi?"


" Iya dong. Tanya aja mami kamu kalau gak percaya."


" Bukan teman, tapi mantan papi kamu Aleena."


Wajah mami benar benar lucu saat ngambek dengan papi. Walaupun mereka tak muda lagi, mereka tak pernah malu menunjukan kemesraan mereka.


" Serius? Ini restoran mantan papi?"


" Yap, dan mantan papi yang ini benar benar sesuatu banget Aleena. Hati hati lo."


" Sesuatu? Maksud lo?"


Tiba tiba ada seorang wanita yang mendekati meja mereka dan menyapa papi.


" Benvenuto Rudy."


( Selamat Datang Rudy. )


Wanita ini langsung mencium pipi papi, jelas saja wajah mami langsung berubah kesal.


" Wow, chi è questo? Che succede Aiden? E chi è questa donna? Il tuo amante? "


( Wow, lihat siapa ini? Aiden, apa kabar? Dan siapa gadis ini? Pacar kamu? )


" Ciao zia Shania. Certamente bene. Consentitemi di presentare la mia sorella gemella, Aleena Fransisca Voodee. "


( Hello tante Shania. Tentu saja baik. Dan perkenalkan, ini saudara kembar saya, Aleena Fransisca Voodee. )


" Sorelle gemelle? Come potrebbe essere? Mi hai nascosto questa bella ragazza Rudy, Suzzy?"


( Saudara kembar? Bagaimana mungkin? Apa kalian selama ini menyembunyikan gadis cantik ini dari ku Rudy, Suzzy?)


" Non hai mai cambiato Shania. Oltre a ciò, la storia è molto lunga, la prossima volta la racconteremo. Aleena, presentale come Shania, amica di mamma e papà."


( Kamu gak pernah berubah Shania. Lagipula ceritanya sangat panjang, lain kali akan kami ceritakan. Dan Aleena, kenalkan dia adalah Shania, teman mami dan papi.)


" Ciao zia, sono Aleena."


( Hai tante, saya Aleena.)


" Ciao Aleena, la zia non pensava che tu potessi parlare italiano."


( Hello Aleena, tante gak nyangka kamu bisa bahasa Italia.)


Aleena melihat tante Shania adalah orang yang terkesan angkuh dan sombong dan terkesan meremehkan seseorang dengan tatapannya, Aleena sedikit kurang nyaman sebenarnya. Karena dirinya tak mengenal tante Shania.


" Beruhige dich, Aleena. Shania ist keine schlechte Person. Er ist wirklich so, wenn wir ihn nicht kennen."


( Tenang saja Aleena, Tante Shania bukan orang jahat, dia memang seperti itu jika kita belum mengenalnya.)


" Sean, don't use language that I don't understand."


" Sorry auntie, Sean just talking personal problems with Aleena."


Mami sudah jengah melihat tante Shania yang terus terus bertanya pada Aleena dan Sean. Mami mencoba menghentikan tante Shania.


" Come on shania, me and my family want to eat here, until when do you want to interrogate my children?"


" Sorry suzzy. I just want to know a lot about Aleena. I am bored with Aiden. Hahaha. Okay, enjoy your meal. I still have a lot of work to do. See you again Aleena."


Aleena hanya membalas dengan senyuman, Aleena benar benar tak habis pikir melihat penampilan tante Shania. Dia benar benar sesuatu, dengan gaya angkuh dan sombong nya, lalu pakaian nya yang terlalu glamor untuk seorang pemilik restoran.


" Itu mantan papi? Benar benar sesuatu pi."


" Come on Aleena, Shania bukan mantan papi, lagi pula Shania itu manager restoran ini, bukan pemilik restoran ini."


" Hah? Manager? Aleena kira tante Shania pemilik nya."


" Iyap, kalau soal penampilan tante Shania yang branded, wajar aja, dia dari keluarga kaya dan suami nya juga pengusaha."


" Terus kenapa mau jadi sekretaris?"


" Itu karena......


*****