
Tanpa sadar, Fahren ketiduran saat menunggu Crystal sadar. Entah kenapa, saat berada di dekat Crystal, Fahren merasa sangat nyaman. Fahren tidur sambil duduk di samping tempat tidur Crystal.
*ddrrtt ddrrtt*
Line bangun karena mendengar suara telfon nya yang berbunyi. Ketika bangun, Line melihat ada seseorang yang tertidur di samping nya. Line mengingat kejadian sebelum nya, Line ingat jika ketika sampai di hotel, Line pingsan.
Line melihat betapa tenang nya wajah yang sedang terlelap itu, Line tak sadar jika tangan nya sudah membelai rambut lelaki itu. Seketika Line kaget karena lelaki itu membuat pergerakan kecil dan mencari tempat nyaman untuk memperbaiki posisi tidur nya.
Line teringat pada Hp nya, banyak panggilan tak terjawab dari Damian, Kemal dan sekretarisnya. Daniel juga meninggalkan pesan jika dia berada di hotel ini, dan mengatakan jika Damian sedang mencari Line, Daniel tau Line sedang tak ingin bertemu dengan Damian, maka Daniel mengatakan jika Line tidak ada di hotel.
Line bersyukur Daniel mengatakan diri nya tidak ada di sini. Line langsung menghubungi sekretarisnya untuk menggantikan nya dalam meeting hari ini dan mengatakan untuk tak memberitahukan lokasinya pada Damian. Setelah selesai, Line duduk di balkon kamar hotel nya sambil menikmati angin sore.
" Hey, lo masih sakit. Jangan duduk disitu oke?"
" Santai aja, gue gak ada niat sedikit pun buat bunuh diri. Lo gak usah khawatir."
" Si...siapa yang khawatir?"
" Udah duduk disini bareng gue kalau lo gak percaya. Gue cuma mau nenangin pikiran gue."
Lelaki itu berjalan mendekati Line dan duduk di bangku sebelah Line. Dia hanya melihat raut wajah Line yang benar benar nampak sedih dan kecewa.
" Makasih udah nganterin gue dan nungguin gue."
" Gak masalah. Tapi lo ngapain di tempat itu? Gue gak pernah liat lo disana."
" Gue juga baru pertama kali kesana. Gue gak ada tujuan, jadi gue sembarang berhenti aja. Dan nemu danau itu."
" Dan?"
" Dan?"
" Iya dan lo ngapain duduk di jembatan itu? Hujan hujanan lagi."
Line hanya diam, tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu.
" Oke sorry kalau gue terkesan ikut campur, gue udah nebak masalah lo. Ngeliat lo segitu frustasinya, pasti masalah nya gak jauh jauh dari cowok. Kenapa? Lo di jodohin terus pacar lo tau dan ninggalin lo?"
Line melihat ke arah lelaki itu dengan pandangan geli.
" Kenapa? Masalah orang kayak kita gak jauh jauh dari itu kan?"
" Orang kayak kita? Emang kita orang kayak apa?"
" Ya lo tau lah maksud gue, orang orang kaya kita ini, gak jauh jauh dari perjodohan politik bisnis. Apalagi gue liat lo punya bodyguard pribadi. Setidaknya lo pasti anak salah satu pembisnis besar. Gue gak salah kan?"
" Ya sebenarnya gak semua nya bener dan juga gak semua nya salah sih. Pertama, ya gue memang salah satu anak pembisnis. Kedua gue memang lagi kecewa sama orang terdekat gue, tapi gue gak masuk dalam lingkaran perjodohan politik kayak yang lo bilang."
" Ya setidaknya masalah besarnya sama aja."
" Lo kali yang lagi dalam lingkaran perjodohan. Benerkan gue?"
" Sok tau lo."
" Lo sendiri yang bilang kok. Jadi cewek yang sebelum nya itu buat tameng? Tapi lo jahat ngomong kayak gitu ke dia."
" Gue gak bermaksud jahat. Cewek itu ngelanggar peraturan yang gue buat. Gue bayar dia buat jadi pacar bohongan gue, tapi setelah dia tau siapa gue, dia langsung ngejar ngejar gue."
" Jelas aja lah. Cewek kayak gitu pastinya nyari cowok yang berdompet tebal. Supaya hidup nya bisa terjamin. Sekali liat juga gue tau. Lagian normal aja sih kalau dia pengen kehidupannya lebih baik, tapi caranya aja yang salah."
" Tau darimana?"
" Lo gak liat pakaian dan aksesoris yang dia pakai? Itu semua KW tau."
" KW? Lo serius?"
" Iya lah. Kenapa lo gak percaya?"
" Sialan.. Gue ketipu banyak berarti. Pantes aja nyokap gue marah marah gak jelas sama gue. Karena kata nyokap gue, itu cewek cuma ngincar harta gue doang. Ternyata karena itu."
" Hahahaha.. Lo serius? Lo bawa dia ketemu orang tua lo dengan pakaian dia yang kayak gitu?"
" Iyaa. Dan sialnya gue pakai acara bilang kalau dia lulusan luar negeri dan dari keluarga yang baik baik."
" Kualat sih lo bohongin orang tua."
" Gak salah gue lah, lagian mama gue suka ngenalin gue sama cewek cewek gak jelas."
" Padahal lo cantik kalau senyum dan ketawa kayak gitu, tapi kenapa setiap ketemu gue lo marah marah mulu?"
Line yang mendengar kata katanya kaget, dan seketika wajahnya memerah karena malu.
" Crystal?"
" Hah? Lo tau darimana nama gue?"
" Tadi bodyguard lo yang bilang."
" Oh."
" Dari tadi gue ngobrol sama lo tapi gue malah lupa ngenalin diri gue. Gue Fahrenza De Jongh."
" DJ group? Pantesan aja tu cewek gak mau ngelepas lo. Orang kaya ternyata."
" Ya derita orang kaya dan tampan, terlalu banyak cewek cewek yang ngejar."
" Sok ganteng banget sih lo. Ngaca woi, noh di kamar gue ada kaca gede. Mau gue ambilin buat lo ngaca?"
" Memang kenyataan nya gue ganteng, mau gimana?"
" Ganteng dan tampan itu relatif oke. Semua itu punya porsi nya masing masing. Lagian buat apa ganteng tapi gak bisa menghargai perempuan?"
" Kata siapa gue gak bisa menghargai perempuan? Gue ngelakuin hal itu juga ada alasan nya kali. Lagian dia yang udah nipu gue."
" Terserah. Gue mau makan di resto bawah, lo mau ikut gak? Anggap aja ucapan terimakasih gue."
" Gue laper sih. Tapi gue masih punya harga diri, gak mungkin gue makan di bayarin cewek. Kita cari makan di luar aja. Sebentar lagi mobil gue sampai sini."
" Yaudah terserah lo aja. Gue mau ganti baju dulu."
" Oke."
15 menit kemudian Line sudah siap dengan celana jeans hitam dan baju kaos nya.
" Lo yakin keluar pakai itu? Diluar dingin banget tau."
" Coat gue di situ."
Line menunjuk ke arah Lemari gantung di luar kamar ganti nya. Fahren hanya mengangguk saja. Line mendapat telfon bahwa mobilnya sudah berada di depan hotel. Mereka langsung turun ke bawah untuk mencari makan malam. Sebelum itu mereka mampir disalah satu toko pakaian pria untuk mengganti pakaian Fahren, karena dia masih memakai setelan kerja nya.
Mereka memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran keluarga Fahren. Sesampai disana mereka menempati ruangan VIP.
" Lo yakin makan disini? Kenapa gak diluar aja?"
" Banyak paparazzi. Dan lagi gue gak mau muka gue jadi Cover majalah besok pagi."
" Sok ngartis banget sih lo."
" Memang kenyataan nya kayak gitu. Mau di apain lagi?"
" Ya ya terserah lo deh."
Saat makanan datang, Line mencoba makanan yang telah di hidangkan, makanan disini benar benar sangat enak dan sesuai dengan selera Line.
" Sumpah makanan disini enak enak banget, tempatnya juga nyaman. Jarang banget ada restoran yang masakannya bisa pas banget sama Lidah gue. Bakalan jadi restoran favorit gue nih."
" Hahaha, ini restoran keluarga gue. Semua resepnya dari mama gue. Kalau lo mau, gue bisa jadiin lo sebagai pelanggan VIP disini. Jadi lo bisa datang kapan aja tanpa Reservasi dulu."
" Serius? Thankyouuuu. Gue senang banget."
Entah kenapa Fahren sangat senang melihat senyum bahagia Crystal. Sangat nyaman dan menenangkan, seakan Fahren menemukan kembali hati nya yang pernah hilang.
" Hellow? Kok malah ngelamun lo?"
" Gue senang aja ngelihat orang bisa menikmati makanan disini."
" Ooh."
Mereka melanjutkan makan nya, tapi Line terkejut karena tiba tiba ada seorang wanita paruh baya memasuki ruangan mereka dan menatap ke arah Line. Seketika Line menghentikan kegiatan makan nya.
" Perempuan mana lagi kali ini Faren?"
*****