
- Setahun kemudian -
Tampak disebuah rumah, seorang wanita hanya menatap ke jendela dan memandang keluar. Tampak lelaki memasuki kamar wanita itu.
" Mami makan dulu mi. Alfa bawain makan siang buat mami."
" Mami gak laper, bagaimana keadaan Aleena diluar sana? Bagaimana dia? Apakah dia makan cukup? Tidur nyenyak? Atau malah kesusahan. Mami pengen ketemu sama Aleena, Alfa."
" Iya mi, Aleena pasti baik baik saja. Alfa sama papi juga masih mencoba mencari Aleena mi. Mami sabar ya."
****
- Disisi lain -
" Papa makan dulu. Damian bawain makanan buat papa."
" Panggil Line aja dulu. Papa mau makan bareng sama Line."
" Papa, please..!! Line udah meninggal setahun yang lalu."
Rendi terkejut mendengar perkataan Damian. Dirinya memang mengalami depresi ringan saat mendengar bahwa Line dinyatakan menghilang setahun lalu.
" Line masih hidup Damian..!! Dia hanya dinyatakan hilang, bukan meninggal. Papa yakin Line masih hidup..!! Bagaimana bisa kamu mengatakan hal yang begitu kejam pada adik kamu sendiri."
" Dari awal dia bukan adik Damian pa..!! Sudahlah kita akhiri pembicaraan ini. Damian capek selalu berdebat dengan papa. Damian ada urusan di kampus."
Damian benar benar tak habis pikir, jika memang Line selamat, kenapa selama setahun ini pencarian nya tak membuah kan hasil. Bahkan dia sudah mengerahkan semua kekuatan nya untuk mencari Line.
Disisi lain ada seseorang yang mengintip pertengkaran mereka dan tersenyum bahagia melihat hal tersebut.
****
- Aleena POV -
- Amsterdam -
" Aleena, where are you?"
" I'm here aunty. What happen?"
" Aunt has a good campus list, which one do you choose?"
" Columbia University."
" But honey, why did you choose there? Auntie didn't put it on this list."
" I don't know aunty. Tapi tiba tiba nama kampusnya langsung terlintas di kepala Aleena."
" Tapi sayang, gimana kalau kamu..."
" Aunty, don't worry. Aleena gak papa. Aleena juga pengen nyari keluarga Aleena. Dan ingatan Aleena tentu saja."
" Tapi aunty khawatir sayang."
" I'm fine aunty. Believe me."
" Oke. Kalau kamu mau pindah kuliah disana, kebetulan aunty ada sedikit urusan disana. Aunty akan mengurus pendaftaran dan keperluan kamu disana."
" Thankyou aunty. You're the best."
Yang barusan ngomong sama gue itu aunty Amelinda. Gue biasa manggilnya aunty Melin, gue ketemu aunty Melin setahun yang lalu di bandara Nyc. Yang gue ingat waktu itu gue duduk sendiri di bandara dan gak tau mau kemana. Sampai akhirnya gue ketemu aunty yang sedang menunggu pesawatnya yang delay.
Setelah bercerita beberapa saat, aunty menyarankan untuk gue berlibur ke Amsterdam, karena banyak objek wisata yang bisa dikunjungi sembari merubah suasana hati gue. Aunty menyarankan untuk menginap di hotel nya, aunty Melin adalah pembisnis di bidang hotel dan resort. Memang tidak besar, tapi ini adalah usaha yang dia bangun dengan keringat nya sendiri. Gue pun akhirnya memutuskan untuk berlibur ke Amsterdam.
Setelah sampai di Amsterdam, gue sempat terlibat kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan gue koma selama seminggu dan amnesia. Gue hanya mengingat bahwa ada yang memanggil gue dengan nama Aleena, atau Line. Hanya itu yang gue ingat. Aunty Melin tak bisa mencari tau siapa keluarga gue karena ketika bertemu dengan Aunty Melin gue tak menceritakan tentang keluarga gue. Setelah berbulan bulan mencari tau, tetap saja Aunty Melin tak dapat menemukan nya. Akhirnya kamipun menyerah.
Sejak saat itu aunty Melin menawarkan diri untuk merawat gue karena aunty Melin hanya tinggal bersama suaminya yang mengurus sebagian hotelnya. Nama nya uncle Jody Stevano. Mereka sangat baik dan memperlakukan gue dengan penuh kasih sayang.
Gue benar benar melupakan semua hal sebelum kecelakaan. Dokter berkata gue melupakan semua kenangan yang gak ingin gue ingat, mungkin sebelum nya gue memiliki kenangan buruk yang menyebabkan trauma atau kekecewaan yang besar.
Uncle Joe menyarankan gue untuk kembali ke Nyc tetapi aunty terlalu khawatir soal keadaan gue. Setelah setahun akhirnya aunty menyetujui untuk gue kembali ke sana. Gue gak tau apa yang menunggu gue disana. Apapun itu gue akan tetap melangkah kedepan.
****
Sebulan kemudian, gue berangkat ke Nyc. Setelah beberapa kali memperdebatkan hal yang sama dengan aunty, yaitu aunty akan menemani gue selama kuliah di Nyc, akhirnya aunty menang dengan alasan dia memiliki pekerjaan di Nyc. Memang aunty sedang berjuang untuk membuka hotel nya di Nyc, gue tau itu.
" Aleena. udah siap sayang? Kalau kamu terlalu lama, kita akan ketinggalan pesawat sayang."
" Sebentar aunty. Aleena lagi nyari kalung Aleena."
" Kalung yang mana?"
" Yang biasa Aleena simpan di lemari, yang ada tulisan nama Aleena."
" Memang nya kamu letak dimana sayang?"
" Haaa,, udah ketemu aunty. Oke Aleena selesai."
Aleena dan aunty berangkat ke bandara diantar oleh uncle Joe. Uncle Joe berjanji akan menyusul minggu depan karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan disini.
" Aleena ingat, jangan percaya pada siapapun, ikuti kata hati kamu. Karena hati tak akan pernah berbohong."
" Siapapun? Termasuk uncle sama aunty dong?"
" Ya kamu benar, termasuk uncle dan aunty. Kamu tak boleh mempercayai kami begitu saja."
" Ingat pesan uncle. Oke?"
" Oke uncle."
Gue pun berangkat, selama perjalanan gue sangat lelah dan beristirahat di dalam pesawat. Sampai aunty membangunkan gue ketika kami akan mendarat.
" Aleena, wake up. Sebentar lagi kita sampai."
" Ya aunty."
Akhirnya kami sampai dengan selamat di Nyc. Aunty langsung memanggil taxi untuk mengantar kami ke apartemen yang sudah disewa oleh aunty.
Sesampainya di lobi apartemen, gue menunggu aunty mengambil kunci pada pemiliknya. Kemudian mereka di antar ke apartemen yang akan mereka tempati. Setelah keluar dari lift, gue tak sengaja menabrak seorang lelaki.
" Sorry sorry, saya gak sengaja."
" Crsytal?"
Gue memandang ke arah lelaki tersebut dengan pandangan bingung, kenapa lelaki ini memanggilnya dengan sebutan Crystal?
" Lo Aleena kan?"
" Maaf. Sepertinya anda salah orang."
" Gak mungkin, lo Crystal kan? Lo lupa sama gue? Gue..."
Belum sempat lelaki itu menyelesaikan perkataannya, aunty sudah memanggil gue lebih dulu.
" Aleena, ayo cepat."
" Ya aunty. Maaf saya permisi."
Gue ebenarnya penasaran dengan lelaki itu, bagaimana bisa dia memanggil gue dengan nama Crystal? Apakah sebelum nya gue sama dia saling kenal? Atau malah itu modus penipuan terbaru?
" Siapa tadi sayang?"
" Gak tau aunty. Gak sengaja ketabrak, kayaknya dia lagi buru buru gitu."
" Yang tadi itu mas Fahrenza Miss Melinda. Penghuni apartemen sebelah. Dengar dengar dia salah satu CEO perusahaan besar."
" Kalau CEO kok malah tinggal di apartemen sini pak?"
" Kalau itu saya kurang tau nona. Saya kan cuma dengar gosip. Hehe."
Gue hanya melirik kearah pemilik apartemen itu, ternyata di bapak punya hobi nge gosip. Setelah masuk ke apartemen gue dan aunty Melin membereskan barang barang kami. Kami selesai saat makan malam tiba, kami memutuskan untuk makan malam diluar karena belum belanja bahan makanan.
Ketika keluar, lelaki yang gak sengaja gue tabrak tadi siang juga keluar.
" Malam tante, kenalin saya tetangga di sebelah. Nama saya Fahrenza."
" Oh, saya Melinda dan ini ponakan saya nama nya Aleena. Maaf ya tante belum sempat menyapa kamu, soalnya baru selesai beres beres ini."
" Gak papa tante, tante mau kemana?"
" Rencana mau makan sekalian belanja bahan makanan ini."
" Bareng saya aja tante, saya juga mau belanja dan makan malam."
" Aduh jadi ngerepotin kamu nya loh."
" Gak papa tante, kan saya juga mau keluar. Mari tante."
Akhirnya aunty menyetujui untuk pergi bersama Fahren. Fahren mengajak kami makan malam di luar dan berbelanja beberapa bahan makanan. Fahren banyak bercerita sama aunty Melin.
" Jadi Aleena bakalan kuliah di Columbia University? Wah selamat datang kalau begitu."
" Hah?"
" Saya juga kuliah disana tante, manajemen bisnis."
" Berarti bakalan jadi teman satu angkatan Aleena dong? Wah tante gak perlu khawatir lagi berarti, karena Aleena udah ada teman nya. Tante titip Aleena ya."
" Aunty, Aleena bukan anak kecil."
" Gak papa sayang. Kan lebih enak kalau udah ada teman nya. Kamu bakalan punya tour guide gratis."
" Haha, boleh boleh. Dengan senang hati tante."
" Oiya, kalian belanja dulu ya. Tante mau ke ATM sebentar."
" Pakai punya Fahren aja dulu tante."
" Gak usah gak papa. ATM nya dekat kok. Gak lama. Tante gak mau ngerepotin kamu banyak banyak. Udah belanja aja dulu."
Aunty pergi ke ATM yang ada di sebelah supermarket ini. Gue memutuskan untuk membeli bahan makanan di temani Fahrenza.
" Itu... Lo beneran bukan Crystal ya?"
" Hah?"
****