CELINE

CELINE
Ep 37



Aleena benar benar gak tau harus berbuat apa di depan mereka, padahal sebelumnya Aleena sudah menyiapkan hati nya untuk bertemu dengan mereka. Tapi sekarang, dirinya hanya bisa diam dan melihat wajah terkejut Kemal.


" Celine? Ini beneran lo Line?"


Aleena yang langsung di peluk hanya terdiam, tiba tiba hati nya merasakan kehangatan yang pernah dirasakannya dulu. Apa apaan ini? Bukan nya Aleena sudah membuang semua rasa cintanya pada Kemal. Dirinya sudah lama menyerah. Fahren yang melihat itu kaget dan melepaskan pelukan Kemal.


" Celine? Lo gak salah Mal? Ini Aleena, dan lo main meluk orang aja, hargai noh istri lo. Dia aja sampai kaget gitu."


" Lo ketemu Celine dimana Fahren? Sejak kapan?"


" Ya ini Aleena yang pernah gue ceritain sama kalian."


" Shit..!! Bodohnya gue, kenapa dulu gue gak langsung bertindak. Dan lo Damian, apa apaan sikap lo ini? Kenapa lo biasa aja ngeliat Celine? Jangan bilang kalau lo udah tau Line masih hidup?"


" Gue tau. Tapi gue gak pernah ketemu dia sekali pun sebelumnya. Alfaro benar benar menyembunyikan dia dengan baik."


" Alfaro sialan...!! Pantes aja dia setuju datang ke acara gue."


" Lama gak ketemu Kemal, Aliyah, dan Hai Damian. Long time no see."


" Hah, udah jadi bagian Voodee Group seutuhnya lo?"


" Dari awal gue memang bagian dari keluarga Voodee."


" Haha, jadi lo pacaran sama Fahrenza De Jongh sekarang? Hebat juga lo, gak tanggung tanggung, gak dapat Kemal, pindah ke Alfaro, sekarang ke Fahrenza? Gak sekalian aja lo pacaran sama gue?"


Damian benar benar berkata dengan nada sinis pada Aleena.


" Ada masalah sama lo? Ini hidup gue. Dan untuk tawaran lo, terimakasih karena gue gak berminat."


" Gak ingat, siapa yang ngasih kehidupan lo itu?"


Damian benar benar menunjukan permusuhan ke Aleena, bahkan Fahrenza masih gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kemal yang benar benar kesal saat ini hampir membatalkan acara resepsinya.


" Kita lanjut di ruangan lain."


" Jangan gila Kemal..!! Lo bintang nya malam ini. Lo gak bisa ngilang gitu aja. Pikirin perasaan Aliyah."


" Gue butuh penjelasan lo semua sialan..!! Terutama lo Damian dan juga Lo sialan."


Aleena melihat Kemal menunjuk kearah lain, ternyata Alfaro mendekat, Aleena tau Kemal pasti sedang mengatai Alfaro.


" Bisa gak, lo gak usah ngatain abang gue kayak gitu?"


" Abang? Sejak kapan Alfaro jadi abang lo Line? Abang lo cuma Damian Line. Dan bukannya lo pacaran sama Alfaro, sejak kapan lo pacaran sama Fahren?"


" Oh come on Kemal. Gue bukan Crystaline Amanda Remos. Semua nya udah berubah Kemal."


" Tapi Line.."


" Gue Aleena Fransisca Voodee.!! Lo harus ingat itu, Line yang lo kenal udah lama MATI.. Dan selamat Aliyah, gue doain yang terbaik untuk lo. Gue pamit dulu."


" Berhenti Line...!!"


Aleena tak menghiraukan panggilan Kemal. Dirinya benar benar akan meninggalkan pesta itu, sampai Kemal benar benar memanggil namanya.


" Aleena Fransisca Voodee..!! Berhenti..!!"


Aleena menoleh kebelakang, tak hanya Aleena yang menoleh, bahkan orang orang mulai memperhatikan mereka. Papa dan mama nya Kemal langsung menghampiri Kemal dan terkejut melihat Aleena. Begitupun dengan Rendi Remos, Aleena hampir menangis saat melihat papa nya itu.


Aleena tau, jika papanya itu adalah orang yang benar benar menyayangi nya dengan tulus. Aleena benar benar tak tahan melihat Rendi Remos. Ingin rasanya berlari kearah papa nya itu untuk menumpahkan segala kesedihan nya seperti waktu dulu, tapi apalah daya, Aleena bahkan tak berani mendekat.


Aleena berlari keluar di susul Fahren dan Alfaro. Tapi Fahren sampai lebih dulu.


" Aleena, lo baik baik aja?"


" Enggak Ren, gue gak baik baik aja. Gue sakit Ren, sakit banget. Bahkan gue gak sanggup buat sekedar meluk papa gue, gak ada yang benar benar sayang sama gue dirumah itu Ren. Cuma papa, cuma papa yang benar benar tulus menyayangi gue."


Aleena menumpahkan semuanya pada Fahren. Fahren bisa melihat kesedihan Aleena. Tapi Fakta yang di dapatnya sangat membuatnya terkejut, jika benar Aleena adalah adik yang di maksud oleh Damian, berarti dirinya benar benar telah melakukan kesalahan besar.


" Aleena, sebenarnya..."


" Bentar Ren."


Aleena berusaha untuk baik baik saja, karena dia gak mau lebih banyak orang yang tau dirinya saat sedang lemah.


" Speaking Skoci."


" Club kita Aleena.."


" Ada masalah apa lagi?"


" Club kita kebakaran Aleena, gue di jalan kesana sekarang."


" Sialan...!! Gue kesana sekarang.. Lo tunggu gue."


Aleena langsung menutup telfon nya. Aleena benar benar tak habis fikir, belum selesai satu masalah, masalah lain nya mulai bermunculan. Siapa yang berani menyebabkan masalah seperti ini.


" Sorry Ren, gue nangis di depan lo."


" Gak papa Aleena, lo bisa nangis kapan aja di pundak gue, gue bakalan selalu jagain lo dan yang lebih penting, gak akan gue biarin siapapun nyakitin lo Aleena, karena gue sayang sama lo."


Aleena kaget mendengar pengakuan Fahren, tapi ini bukan saat nya untuk membahas masalah hati nya, saat ini dirinya sedang kacau, dan masalah nya masih sangat banyak yang harus diselesaikan nya.


" Kasih gue waktu Ren, gue gak bisa jawab sekarang, gue masih kacau, hati gue belum baik baik aja."


" Gue akan nunggu lo Aleena. Sampai kapanpun gue akan nungguin lo."


" Thank's Fahren."


Alfa yang mendengarkan pembicaraan dari jauh mendapat panggilan dari Daniel tentang masalah club, dan bergegas menghampiri Aleena.


" Aleena, urgent. Club kita kebakaran. Kita harus kesana sekarang."


" Iya bang, Aleena juga baru di telfon Skoci."


" Gue anterin ya Aleena?"


" Gue pergi bareng bang Alfa aja Ren. Lo lanjut aja, acaranya belum selesai, titip salam sama semuanya.*


Aleena langsung meninggalkan Fahren disana, dan menuju Club nya.


****


Setelah Aleena pergi, tiba tiba Damian muncul di hadapan Fahrenza.


" Gue gak nyangka ternyata selama ini cewek yang lo cari cari itu dia."


" Dan gue gak nyangka, karena lo gue udah nyakitin cewek yang gue sayangin."


" Bukan salah gue. Gue gak tau kalau lo ada hubungan sama dia."


" Lo gila Damian, lo gila kalau mikir bisa ngelawan keluarga Aleena. Mereka bukan keluarga biasa."


" Gue gak perduli, yang gue tau, keluarga dia yang menyebabkan adik kandung gue meninggal. Dan gue akan ngelakuin apapun supaya bisa balas dendam ke mereka."


" Lo sakit Damian, benar benar sakit. Biar gimana pun, dia pernah hidup bareng lo sebagai adik lo, dan sekarang lo tega nyakitin dia."


" Dia gak segampang yang lo liat Fahren, gue kenal dia lebih lama dari pada lo. Dia bukan wanita yang gampang buat di jatuhin. Kalau gue gak ngambil semua yang berharga buat dia, dia gak akan benar benar jatuh. Dan thank's buat lo, berkat lo gue gak perlu pusing mikirin gimana caranya ngancurin bisnis dia."


" Damian..!! Seharusnya gue lebih dengerin apa kata Dista, seharusnya gue lebih dengerin apa kata hati gue. Lo bukan Damian yang gue kenal dulu."


" Gue masih Damian yang sama, yang membedakan nya cuma lo akan berdiri disisi mana? Disisi gue sebagai sahabat gue, atau disisi dia sebagai musuh gue. Dan satu yang akan gue ingatin sama lo, seandainya Dia tau club nya hancur karena lo, percaya atau enggak, lo akan masuk dalam daftar Blacklist nya. Lo tau, dia paling benci yang namanya pengkhianat. Masih ingat Neron Group? Mereka rata salam satu malam, dan itu ulah perempuan itu, bukan gue.."


Fahren benar benar gak menyangka semuanya akan menjadi seberantakan ini. Kenapa dia harus terseret ke dalam lingkaran ini. Tiba tiba Damian mendapatkan pukulan dari seseorang, Fahren terkejut saat melihat hal itu.


" Damian..!!....."


****