
Seminggu pun berlalu, Aleena benar benar pulih sekarang. Tapi setiap hari nya ada yang selalu mengganggunya. Seperti saat ini.
" Aleenaaaaaaaaaaaaaaa...!!"
" Sean..!! Berisik tau gak sih."
Aleena benar benar pusing selama seminggu ini karena Sean. Sean selalu berteriak memanggil Aleena saat dirinya bosan.
" Gue bosan. Jalan jalan yuk."
" Males. Gue mau ke asrama sekolah nya Moana."
" Ngapain?"
" Moana minta bawain stok makanan, sama buku titipan nya."
" Gue ikut ya?."
" Ogah. Gue mau pergi sendiri."
" Papiiiiiiiiiiiiiiii.. Aleena mau pergi keluar sendirian, gak mau ngajak Sean.."
Papi nya benar benar tak membiarkan Aleena keluar sendirian semenjak kejadian itu, kemana pun Aleena pasti di kawal oleh bodyguard, paling tidak dengan Sean atau Alfa.
" Resek banget sih lo. Bocah banget pake acara ngadu ngadu. Umur berapa sih lo?"
" Bodo.. Yang penting gue di ajak keluar. Umur, sama kayak lo lah, cuma beda 5 menit."
" Serah lo."
Aleena benar benar kesal karena dirinya tak memiliki kebebasan untuk kemana mana karena Sean. Setiap Aleena akan keluar, walaupun hanya ke supermarket, Sean selalu mengikutinya.
" Lo cari pacar sana, biar gak ngikutin gue mulu."
" Ogah, gak ada cewek yang buat gue tertarik. Semua nya biasa aja. Lagian cewek itu cuma nyusahin, bentar bentar nuntut buat belanja, makan, nonton, kencan romantis. Belum lagi cewek cewek matre yang cuma pengen duit gue doang."
" Ngomong lagi gue tampol lo ya, gue juga cewek. Gue gak kayak yang lo bilang."
" Gue gak bilangin lo, gue bilang cewek di luar sana, sensi banget sih lo."
" Serah lo deh, keluar sana, gue mau mandi."
" Awas lo ninggalin gue ya."
" Apaan sih lo. Lagian jangan kira gue gak tau kalau lo masang CCTV di kamar gue ya."
" Mana ada. Lo tu nething mulu sama gue."
Aleena mengambil sesuatu dari laci meja rias nya dan melemparkan barang kecil itu pada Sean. Sean yang melihat camera CCTV itu hanya menunjukkan wajah polos tanpa dosa.
" Selesai gue mandi, gue mau barang sialan lo itu udah gak ada di kamar gue, kalau ketahuan lagi sama gue, liat aja lo, gue aduin mami lo. Biar lo di balikin ke Swiss."
" Heh, sendirinya juga tukang ngadu, masih ngatain gue."
" Berisik lo. Lepas semua CCTV yang lo pasang. Kalau gak lo lepas juga, jangan salahin gue kalau barang kesayangan lo gue buang."
" Barang apaan?"
Aleena melihat Sean dengan tatapan puas, dan mengambil barang yang di bilang nya dari dalam lemari nya. Dan memperlihatkan pada Sean.
" Lo..!! Balikin sini..!"
" Lo lakuin apa yang gue bilang tadi, baru gue bakalan balikin ni barang."
" Gue gak lagi bercanda Aleena, balikin kalung gue..!!"
" Gue juga gak lagi bercanda.. Lo tau, semenjak ada lo, gue ngerasa gue udah gak punya privasi di rumah ini."
" Oke Fine..! Gue lepas semua camera di kamar lo."
Sean dengan cepat mengambil semua kamera yang di pasang nya di kamar Aleena. Wajah nya benar benar berubah, Sean benar benar marah ketika kalung kesayangan nya di jadikan mainan oleh Aleena untuk mengancam nya. Tak sampai 15 menit, semua kamera sudah di lepas.
" Sini balikin kalung gue..!"
" Santai dong lo, siapa yang tau kalau lo masih nyembunyiin kamera di kamar gue."
" Kenapa buru buru, emang segitu berharga nya nih kalung?"
Aleena mencoba membuka kalung yang di pegang nya, disana ada ukiran nama Sean. Aleena tak melihat apa yang membuat kalung itu menjadi sangat berharga bagi Sean. Tiba tiba Sean langsung merebut kalung itu dan menyebabkan Aleena terkejut.
Sean meninggalkan kamar Aleena dengan wajah kesal dan marah. Aleena juga kesal dengan sikap Sean yang sangat suka berbuat semaunya. Aleena memutuskan mandi dan bersiap siap untuk pergi ke asrama Moana. Karena dirinya benar benar rindu dengan adik kecil nya itu, sudah lama dirinya tak bertemu dengan Moana.
******
Aleena pulang tepat saat keluarga nya sedang makan malam.
" Udah pulang sayang? Gimana Moana?"
" Moana baik baik aja mi, Moana juga udah terbiasa sama sekolah asrama katanya."
" Bagus deh, mami senang dengarnya. Sini makan malam dulu."
" Aleena udah kenyang mi, tadi udah makan diluar."
" Bisa gak sih lo duduk aja disini, setidaknya hargain usaha mami yang udah masakin makanan buat lo. Gak bisa menghargai banget lo."
Aleena benar benar kesal mendengar perkataan Sean.
" Lo ada masalah apa sama gue?"
" Gue cuma ngomongin fakta, kalau lo gak pernah menghargai orang lain, atau pun sesuatu yang di anggap orang lain penting."
Aleena menatap Sean dengan pandangan kesal. Aleena tak ingin melanjutkan perdebatan ini di depan mami dan papi nya dan memutuskan untuk masuk ke kamar duluan.
" Kabur lo? Kenapa? Benerkan kata gue. Lo belum bisa nerima keluarga ini sebagai keluarga lo. Kenapa? Masih menganggap Vanilla dan Rendi Remos itu orang tua lo? Bangun Aleena, gak ada orang tua yang akan tega menyakiti anak nya sendiri."
" Lo bisa diam gak?!! Lo tau apa hah?!! Lo cuma bisa mengganggu privasi orang lain, gue gak sengaja nemuin kalung lo, dan lo dengan sengaja masang CCTV di kamar gue, siapa yang gak bisa menghargai orang disini?"
" Cukup Sean, Aleena..!!"
" Kenapa mi? Benerkan kata Sean, bahkan sampai sekarang Aleena gak mau ngasih tau kita kalau Vanilla yang udah membuat dia hampir mati..!! Sama aja dia gak percaya sama keluarga ini."
" Cukup Sean, kamu temuin papi diruang kerja papi setelah ini. Dan Aleena kamu masuk saja ke kamar kamu dan istirahat."
Aleena hampir menangis saat mendengar perkataan Sean. Aleena bukan tak mempercayai mami dan papi nya. Hanya saja Aleena tak ingin membuat keluarga nya khawatir. Aleena benar benar kesal, kesal melihat Sean. Kesal karena kata katanya. Aleena langsung meninggalkan mereka dan pergi keluar untuk mencari udara segar.
" Aleena..!! Kamu mau kemana sayang?"
Maminya memanggil Aleena, tapi Aleena tetap pergi keluar. Aleena melajukan mobil nya ke arah Pearl Hotel. Karena pemandangan pantai disana menenangkan, setidaknya dirinya bisa menenangkan diri disana.
Aleena memarkirkan mobil nya tak jauh dari pantai dan duduk di salah satu kursi pantai dan memesan minuman. Hp nya berbunyi dari tadi, Aleena tau itu panggilan dari mami dan papi nya. Aleena tak ingin berbicara dengan mereka saat ini. Tak lama kemudian Alfa menelfon nya.
" Hallo Aleena? Kamu dimana? Abang udah dengar dari mami, nanti abang bakalan ngomong ke Sean."
" Aleena baik baik aja bang. Aleena mau nenangin diri sebentar. Please kasih Aleena waktu sendiri."
" Oke. Abang paham. Tapi setidaknya abang tau kamu dimana."
" Pantai. Dekat hotel."
" Oke. Abang kesana sekarang."
" Please bang, Aleena pengen sendiri. Oke?"
" Hah... Oke.."
Aleena menutup telfon dari abang nya. Dirinya benar benar membutuhkan waktu sendiri, cukup lama Aleena menikmati angin di tepi pantai. Sebagian pengunjung sudah mulai meninggalkan pantai. Tak jauh dari tempat Aleena duduk, dirinya melihat sosok lelaki yang sangat ia kenali, itu adalah Fahrenza.
Sedang apa dia disini? Aleena tau beberapa waktu belakangan ini, Fahren selalu menghindari nya. Bahkan pernah sekali Aleena menghubungi nya dan Fahren mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk.
Aleena berniat untuk menghampiri Fahrenza, hanya sekedar menyapa. Disaat seperti ini Aleena benar benar membutuhkan teman seperti Fahrenza. Tak sampai beberapa langkah, Aleena melihat pemandangan yang sangat tak ingin ia liat. Apa yang sedang di lakukan oleh Fahrenza benar benar mengecewakan Aleena, Aleena tak pernah menyangka jika dirinya akan melihat hal seperti ini.
Fahrenza bersama dengan seseorang yang sangat Aleena kenal.. Fahrenza sedang mencium mesra seseorang yang sedang bersama dengan nya saat itu. Aleena langsung menghampiri mereka..
" Fahrenza....."
" Aleena..!!!"
****