
" Ya kalau memang kalian kenal gue yang dulu, semoga kalian bisa bantu gue balikin ingatan gue. Tapi kalian janji sama gue untuk gak cerita sama siapapun soal ini. Gimana?"
" Lo tenang aja. Kita teman Aleena. Dan kita bisa jaga rahasia ini."
" Dan gue harap lo gak akan cerita ke Fahren, bisa kan Dis?"
" Kok abang gak boleh tau?"
" Soalnya gue belum pernah cerita ke dia."
" Okedeh. Gue janji sama lo."
" Jadi sebenarnya..."
* Flasback *
Aleena yang baru beberapa hari tinggal di rumah orang tua nya masih canggung untuk berbuat sesukanya. Saat melihat abang nya sedang duduk nonton TV, Aleena berniat untuk kembali ke kamar nya, tetapi abang nya memanggil nya.
" Aleena, sini duduk. Temenin abang nonton."
" Eh? Iya bang."
Setelah duduk, abang nya langsung berbicara sambil menonton TV.
" Abang tau kamu masih canggung dirumah ini. Tapi abang harap kamu bisa menyesuaikan diri disini ya. Jangan canggung lagi, karena ini rumah kamu sendiri."
" Iya bang. Aleena usahain."
" Nah bagus. Dan abang juga mau ngasih tau kamu sesuatu, mana tau hal itu bisa balikin memori kamu yang hilang."
" Apaan bang?"
" Sebenarnya alasan kamu gak merasa familiar dirumah karena memang kamu sebelumnya gak pernah tinggal disini."
" Loh? Tapi kata abang, Aleena adik kandung abang. Jadi sebelumnya Aleena tinggal dimana?"
" Abang mau ceritain semua dari awal. Supaya kamu gak salah paham. Waktu kamu bayi, kita pernah kecelakaan. Lalu kamu hilang di culik orang. Dan mami sama papi koma. Saat itu abang masih kecil, tapi abang selalu ingat wajah wanita yang menculik kamu. Tapi sewaktu abang gak bisa berbuat apa apa karena mami sama papi koma. Setelah mereka bangun dari koma, abang menceritakan semuanya. Tetapi saat meminta bantuan polisi, mereka gak bisa menolong karena kejadiannya sudah lama sekali. Jadi papi mengerahkan orang orang untuk mencari kamu, tapi hasilnya nihil. Bertahun tahun kami mencari keberadaan kamu, sampai pada saat abang sudah menjadi dokter dan bekerja di salah satu rumah sakit besar. Abang bertemu dengan kamu untuk pertama kalinya."
" Rumah sakit? Aleena sakit bang?"
" Bukan kamu yang sakit, saat itu kamu sedang menemani seorang lelaki. Nama nya Damian, dia adalah anak dari perempuan yang telah menculik kamu. Abang sangat penasaran, abang mencari informasi tentang kalian, dan abang menemukan keanehan. Karena golongan darah kamu sama dia gak cocok, begitu pula dengan kedua orang tuanya. Setelah menyelidiki identitas lelaki itu, abang menemukan nya. Menemukan wanita yang menculik kamu. Lalu dengan bantuan dokter pribadi keluarga mereka, abang bisa jadi dokter pribadi kamu. Dan ketika kamu mengetahui kebenaran nya, kamu menangis sangat lama, kamu kecewa, dan itu juga yang menyebabkan kamu pergi ninggalin kita setahun yang lalu."
" Pantes aja abang kaget banget waktu pertama kali ketemu Aleena ya? Dan abang marah banget sama aunty dan uncle Joe."
" Yang buat abang marah saat mengetahui siapa mereka sebenarnya. Orang yang kamu tau sebagai Melin itu bernama asli Riska Amelinda Remos. Adik kandung Rendi Remos, suami dari wanita yang menculik kamu. Keluarga mereka benar benar menguji kesabaran abang."
" Nama nama yang abang sebutin, terdengar familiar. Aleena bisa ingat bagaimana mereka, tapi masih dalam potongan puzzle. Jadi apa Aleena boleh ketemu mereka bang?"
" Boleh. Tapi enggak sekarang. Abang janji akan bawa kamu ketemu mereka kalau waktu nya tepat."
" Oke bang."
* Flashback off *
" Kayak gitu ceritanya."
" Dunia kecil Aleena. Lo benar benar Crystaline teman gue."
Silviana langsung memeluk Aleena dengan erat. Dista juga terkejut saat mendengar cerita itu.
" Gue gak nyangka keluarga Remos setega itu misahin lo sama keluarga kandung lo selama ini. Padahal kelihatan nya mereka keluarga baik baik."
" Tapi yang gue tau, mereka semua sayang lo."
" Gue gak tau Dista, Silviana. Gue gak tau harus marah atau bahkan berterima kasih karena udah ngerawat gue dengan baik. Tapi hati kecil gue seakan berteriak gak terima karena mereka menjauhkan gue dari keluarga kandung gue."
" Ya kalau gue jadi lo, mungkin gue akan melakukan hal yang sama."
" Lo yang sabar ya Aleena. Kita bakal tetap ada di samping lo apapun yang terjadi. Oh iya lo ingat gak kalau lo punya perusahaan?"
" Perusahaan?"
" Iya Paradise Group. Gue dengar selama ini yang ngejalanin perusahaan itu namanya Daniel Black."
" Gue gak ingat."
" Kuliah kita kosong sampai siang. Gimana kalau kita kesana?"
" Kemana?"
" Paradise Group..!"
" Gila lo Sil, gue gak ingat apa apa. Gak mungkin gue main datang aja."
" Tenang ada gue. Gue pernah beberapa kali ketemu Daniel. Come on."
" Gue gak bawa mobil."
" Dista lo kok gitu. Bantuin gue lah."
" Gue penasaran, siapa tau ingatan lo balik."
" Oke Fine. Kalau kita di usir, itu salah lo berdua ya."
Aleena, Dista dan Silviana langsung menuju Paradise Group. Saat tiba di parkiran, Aleena kembali mendapat sedikit ingatan.
" Gue ingat, disini gue pernah berantem sama cowok. Tapi siapa cowok itu?"
" Serius Aleena?"
" Iya."
" Gue yakin, ingatan lo bakalan pulih. Gue yakin disini banyak kenangan lo. Karena lo lebih sering ngabisin waktu disini dari pada bareng sama gue."
Aleena di ajak masuk oleh Dista dan Silviana. Sesampainya di dalam, mereka bertemu dengan resepsionis yang sedang berdandan. Resepsionis itu mengacuhkan mereka.
" Siang mbak. Bisa saya bertemu dengan Pak Daniel?"
" Orang nya gak ada. Lagian anak kuliahan seperti kalian ada urusan apa dengan Direktur kami? Direktur kami bukan orang yang akan bertemu dengan siapa pun."
" Biasa aja dong lo. Kita kesini baik baik. Mending sekarang lo telfon Daniel, bilang sama di buat nemuin kita disini..!"
" Heh anak kecil, kalian berani merintah gue? Kalian gak tau siapa gue? Gue pacar Daniel, ****** kecil kayak kalian gak akan gue biarin nemuin cowok gue."
Aleena jengah, sangat amat jengah melihat kelakuan resepsionis itu. Aleena memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di lobi ini. Lalu ada seorang karyawan yang melihat keributan itu dan menghampiri mereka. Saat berhasil melerai perdebatan antara resepsionis dan Silviana, karyawan itu melihat Aleena dan terkejut.
Aleena dapat melihat dia menelfon seseorang. Tak lama ada seorang lelaki yang lumayan tampan menghampiri nya. Dan resepsionis itu bergelayut manja padanya.
" Mr. Daniel, aduh maaf ya jadi ganggu waktu Mr. Saya sudah menghentikan bocah bocah ini, tapi CS kita yang gak tau diri ini malah nelfon kamu. Saya akan usir mereka dari sini."
Aleena melihat lelaki yang di sebut Daniel itu melepaskan tangan resepsionis ganjen itu dan menghampiri Aleena. Resepsionis itu mengikuti, dan berbicara pada Aleena.
" Hey bocah. Jangan sembarangan duduk disitu, itu cuma khusus untuk tamu tamu penting perusahaan ini. Dan bocah kayak lo gak pantes duduk disana."
" Clara, shut up..!!"
" Oh, jadi anda adalah Direktur perusahaan ini? Saya kira ini adalah perusahaan besar dan berkelas karena bisa mengalahkan perusahaan keluarga saya. Tapi ternyata pelayanan nya saja sudah sangat menjengkelkan."
" Maaf nona. Mari kita lanjutkan pembicaraan nya di ruangan saya."
" Gak perlu, saya sudah tidak berminat. Apalagi melihat perempuan ini berada disini, hanya memikirkan kalau saya menghirup udara yang sama dengan dia saja membuat saya kesal."
" Maaf nona. Saya pastikan anda tidak akan melihat resepsionis ini kedepan nya. Dan kamu Clara, bereskan semua barang barang kamu, dan temui HRD untuk mengambil gaji dan pesangon kamu."
" Tapi Daniel, what's wrong? Dia cuma ****** kecil."
" Jaga ucapan kamu..!!"
" Daniel, lo berani bentak gue cuma karena ****** ini. Dan lo ****** sialan."
Aleena kaget karena tiba tiba wanita itu menampar dirinya. Aleena benar benar kesal, tiba tiba ada perasaan dalam dirinya untuk membunuh wanita idiot ini. Untung nya wanita itu langsung dibawa oleh keamanan, jika tidak mungkin saja Aleena akan mematahkan tangan nya.
Mari nona, saya tunjukan jalannya. Aleena melihat Daniel memerintahkan sekretarisnya untuk membungkam semua karyawan nya tentang kejadian ini. Sesampai di ruangan nya, Aleena benar benar merasakan perasaan Familiar dengan ruangan ini. Aleena berdiri dan melihat ke arah frame yang ada di meja kerja itu, itu adalah foto dirinya.
" Kenapa ada foto saya disini?"
" Hey bos. Cukup sandiwaranya. Gue tau lo bakalan balik lagi kesini, gue gak percaya lo bakalan mati semudah itu. Dan lo hutang penjelasan ke gue."
" Maaf. Maksud anda? Apakah anda mengenal saya sebelum nya?"
" Bos? What's wrong with you?"
" Sorry, gue hilang ingatan sejak setahun yang lalu. Dan teman gue bilang, kalau gue kesini, mungkin ingatan gue bakalan balik lagi."
Aleena menceritakan semua nya pada Daniel, Aleena merasa jika Aleena harus memberitahukan kondisinya pada Daniel. Setelah mendengar cerita Aleena, Daniel mengajak Aleena ke salah satu Club terbesar di kota ini. Tentu nya teman teman nya sudah pulang duluan, mereka berjanji untuk tak mengatakan hal ini pada siapapun.
Aleena bertemu dengan seorang lelaki bernama Skoci, sama hal nya dengan Daniel, lelaki itu terkejut melihat Aleena. Hanya saja lelaki itu meminta maaf pada Aleena karena tak menghentikan nya pergi pada waktu itu.
Aleena di bawa ke tempat tempat yang sering dikunjungi oleh mereka dulu, beberapa tempat mereka datangi, tapi ingatan Aleena hanya sedikit yang pulih. Bahkan Aleena belum bisa menyusun puzzle puzzle ingatan nya.
" Ini tempat terakhir bos."
" Ini....?"
Aleena kaget melihat tempat itu, tiba tiba banyak kenangan yang masuk ke kepala nya, seakan ingatan ingatan itu berlomba untuk mengisi tempat kosong di kepala nya. Kepala Aleena benar benar sakit, tetapi karena Aleena rajin terapi, Aleena bisa menahan rasa sakit itu.
Aleena melihat ada dua orang pria yang berjalan mendekati mobil mereka, secara reflek Aleena berkata..
" Pergi sekarang...!!"
*****