CELINE

CELINE
Ep 29



Aunty pergi ke ATM yang ada di sebelah supermarket ini. Gue memutuskan untuk membeli bahan makanan di temani Fahrenza.


" Itu... Lo beneran bukan Crystal ya?"


" Hah?"


" Iya maksud gue nama lo beneran bukan Crystal?"


" Lo liat ni di kalung gue, tulisan nya apa? Aleena FV kan? Nama gue Aleena. Ya walaupun gue gak ingat nama lengkap gue sih, tapi setidaknya gue yakin nama gue Aleena."


" Jadi lo beneran amnesia?"


" Emang amnesia ada yang bohongan?"


" Enggak sih."


" Gue juga mau nanya sama lo, tadi ada tante gue, gue gak mau buat dia khawatir. Lo kenal gue ya sebelumnya?"


" Sebenarnya kalau di bilang kenal, ya enggak juga sih. Soalnya gue cuma ketemu sama lo beberapa kali. Habis itu lo ngilang kayak di telan bumi."


" Maksudnya?"


" Ya kapan kapan deh gue ceritain."


" Sekarang aja, gue penasaran."


" Disebelah sana kayak nya bahan bahan nya segar segar deh, beli apa ya."


Gue ngerasa Fahren menghindari percakapan tentang itu. Gue juga gak tau apa alasan nya. Tapi yang pasti gue bakalan nyari tau semuanya. Gue juga gak ingin buru buru, gue akan mencari tau semuanya secara perlahan. Karena masih banyak hal yang harus gue lakuin.


Setelah selesai belanja, gue, Aunty dan Fahren langsung pulang ke apartemen untuk beristirahat. Karena gue dan aunty Melin benar benar lelah. Awalnya Fahren ingin mengajak gue untuk jalan jalan disekitar taman, tapi gue harus menolak karena gue benar benar lelah.


*****


Sudah seminggu Aleena dan aunty nya tinggal di apartemen ini, dan hampir setiap hari pula Fahren selalu menggangu Aleena untuk hanya sekedar menemani nya membeli bahan makanan, atau bahkan menemani nya jalan jalan sore.


Aleena senang karena ada yang mau berteman dengan nya. Tak seperti waktu di Amsterdam, gadis gadis di dekat rumah auntynya gak ada yang mau berteman dengan nya. Jika ada, mereka hanya ingin memanfaatkan Aleena supaya bisa menikmati fasilitas hotel aunty Melin secara gratis.


" Aleena, kamu udah siap belum sayang? Fahren udah nungguin kamu ni."


Ya Fahren memang berjanji untuk pergi bersama Aleena ke kampus hari ini, karena hari ini adalah hari pertama Aleena masuk kampus.


" Iya aunty, Aleena udah siap kok."


Aleena keluar sambil memakai tas LV pemberian aunty nya. Awalnya Aleena tidak ingin memakai nya karena merasa harga nya terlalu mahal. Tetapi aunty nya memaksa dengan alasan, tas Aleena sudah lama dan ketinggalan zaman.


" Pagi Aleena. Ready?"


" Pagi Ren. Ready dong."


" Ready sih ready. Tapi sarapan dulu sini."


Selesai sarapan, Aleena pamit pada aunty nya begitu juga dengan Fahren. Sepanjang jalan Aleena merasa jika jalanan ini tampak tak asing baginya.


" Kenapa Aleena?"


" Gak, cuma ngerasa de javu aja. Jalanan ini gak asing."


" Lo serius?"


" Iya. Eh itu gedung apaan?"


Fahren melihat sebentar kearah gedung yang ditunjuk oleh Aleena.


" Oh itu, itu tempat kita pertama kali ketemu. Jadi mungkin aja lo familiar. Itu kantor pusat Paradise Group."


" Kok kita bisa ketemu disana?"


" Nah itu juga gue gak tau kenapa lo bisa ada disana. Kalau gue ada waktu luang, gue ajak lo deh ke tempat tempat kita pernah ketemu."


" Serius? Janji ya?"


" I'm promise. Nah kita sampai. Wellcome to the Campus."


" Hahaha, thankyou. Gila sih ini kampusnya, besar banget. Dan yang pasti kampus nya para elit ni."


" Elit?"


" Iya, orang orang kayak lo gitu pasti banyak."


" Haha, I don't care. Lagian gue gak terlalu kenal juga sama anak anak kampus. Soalnya gue jarang masuk, lebih sering ngurusin kerjaan di perusahaan."


" Wah, gila. Kok bisa ya gue mau masuk kesini."


" Hahaha, nanti deh gue kenalin ke teman teman gue, habis kampus. Soalnya mereka gak masuk."


" Temen? Katanya tadi gak pada kenal, Kok bisa?"


" Bisa lah. Setidaknya gue masih punya teman juga. Lagian mereka juga pada sibuk ngurusin perusahan keluarga mereka kayak gue, cuma bedanya mereka lagi sibuk soal urusan lain. Yang satunya lagi persiapan buat nikah, karena pernikahan nya udah diundur beberapa kali, jadinya sibuk gitu deh. Kalau yang satu nya, bokap nya sakit."


" Oooh."


Fahren menunjukkan beberapa tempat pada Aleena, sampai akhirnya mengantar Aleena keruangan kelasnya, karena Fahren masih ada urusan yang membuatnya tak bisa masuk kelas.


" Thankyou ya."


" Oke. Nanti gue jemput."


" Oke.."


****


- Remos Home's _


" Damian, gue dapat info terbaru tentang Line."


" Kalau berita kosong, mending gak usah Mal. Lo tau kan kalau kita udah nyari dia selama setahun ini."


" Gue pastiin ini bukan berita kosong Damian. Line masih hidup Damian. Gue baru dapat kabar dari Daniel dan Skoci, seminggu yang lalu ada orang yang mirip Line terekam di bandara. Dia datang dari Amsterdam. Gue yakin itu pasti Line, Damian."


" Gue gak mau terlalu berharap Kemal. Lo tau kan gimana kondisi bokap gue. Selama ini udah berapa banyak yang nama nya Crystaline yang kita jumpai. Bahkan yang mirip dia terekam CCTV juga banyak. Lagian Amsterdam? Ngapain dia disana, mustahil."


" Kemal..! Cukup..!! Selama ini kamu hidup selalu dalam bayang bayang Crystaline, bahkan sampai pernikahan kita, rela kamu undur cuma demi nyari Crystaline. Aku capek Kemal. Kamu fokus sama pernikahan kita, atau kita batalin aja sekalian."


" Aliyah benar Kemal. Lo gak harus nyari tau sendiri, lo bisa suruh Daniel sama Skoci, mereka pasti bakalan nyari Line."


" Damian, lo gila? Lo gak ingat apa yang di bilang Skoci terakhir kali? Tanpa lo atau gue yang nyuruh dia, dia bakalan tetap nyari Line. Bahkan mereka lebih kayak abang Line di bandingkan sama lo."


" Gue memang bukan abang kandung Line, Kemal..!! Gue cuma abang yang kebetulan hidup serumah sama dia. Bahkan dari kecil gue udah di kirim kesini sama nyokap bokap gue."


" Kenapa? Sekarang lo mau nyalahin Line atas semua yang terjadi? Seharusnya lo yang lebih paham kondisi ini semua. Seharusnya lo tau siapa yang salah disini."


" Enough..!! Kalian berdua cukup, gue pusing setiap kali kalian berantem cuma karena Line. Bahkan dia udah mati aja, masih buat kalian berdua gak bisa berpaling dari dia."


" Aliyah..!!"


Kemal benar benar membentak Aliyah kali ini. Kemal merasa perkataan Aliyah kali ini benar benar keterlaluan. Bahkan dengan gampang nya dia menyebutkan kata itu didepan Kemal dan Damian.


" Terserah lo berdua. Gue cabut."


Kemal meninggalkan rumah Damian dan pergi entah kemana.


*******


Aleena selesai kuliah lebih cepat dari pada yang dipikirkan nya. Aleena memutuskan untuk ke kantin sambil menunggu Fahren yang selesai kuliah. Saat sedang mencari tempat duduk, Aleena di panggil oleh seorang gadis, Aleena ingat bahwa gadis itu adalah gadis yang berada di kelas yang sama dengan nya.


" Aleena.. Sini gabung sama kita."


" Thankyou ya."


" Santai aja. Daripada lo makan sendirian kan."


" Iya."


Aleena gak tau harus bagaimana dengan mereka, karena Aleena belum mengenal mereka sama sekali.


" Oiya, nama lo beneran Aleena?"


" Kenapa?"


" Enggak, awalnya gue kira teman gue dulu. Soalnya wajah lo mirip sama teman gue. Oiya kenalin gue Silviana."


" Dan gue Dista."


" Oh, gue Aleena."


" Iya tau kok. Lo yang tadi pagi datang bareng abang gue kan?"


" Abang lo?"


" Bang Fahrenza, dia itu abang gue."


" Oh, sorry sorry gue gak tau. Soalnya gue gak pernah liat lo di apartemen nya dia."


" Iya santai aja. Abang gue emang udah gak tinggal sama gue, biasa cowok."


" Tapi serius deh, lo beneran mirip banget sama Crystaline teman gue."


Deg.. Kepala Line tiba tiba sakit saat mendengar nama itu, dirinya seperti mendengar seseorang memanggilnya dengan nama itu, dan sekelebat bayangan bayangan aneh muncul di ingatan Aleena.


" Aleena,, Aleena... Are you okey?"


" I'm Fine. Sorry, kepala gue tiba tiba sakit."


" Mau kita anterin ke UKS gak?"


" Enggak usah gak papa kok gue."


" Oh, bener ni ya gak papa?"


" Iya gue gak papa."


" Kalau gitu gue boleh nanya gak?"


" Iya nanya aja."


" Lo sejak kapan dekat sama abang gue?"


" Baru seminggu ini sih, tapi katanya kita pernah ketemu setahun yang lalu."


" Setahun yang lalu?"


" Iya. Kenapa?"


" Jadi lo cewek yang selama ini di cari cari abang gue?"


" Hah?"


" Gue ceritain ni ya, setahun yang lalu itu, mama gue gencar banget jodohin abang gue sama anak teman teman nya. Dan gue pernah dengar dari mama, cewek yang terakhir kali di bawa abang gue di maki habis habisan sama mama gue, karena nyangka dia itu sama kayak cewek cewek yang cuma ngincar hartanya keluarga gue."


Aleena seakan mendapatkan ingatan yang diceritakan oleh Dista. Aleena benar benar mengalami sakit kepala yang parah banget sampai pada akhirnya Aleena pingsan di kantin.


Saat sadar, dirinya berada dirumah sakit. Di sana ada Dista, Silviana dan Fahrenza. Aleena mendengar jika Fahren sedang marah pada Dista.


" Dista, kamu apa apaan sih pakai acara cerita tentang itu ke Aleena? Liat sekarang, Aleena jadi pingsan."


" Dista gak tau kalau bakalan jadi kayak gini bang. Kalau Dista tau, Dista gak akan ngomong apa apa. Tapi Aleena kenapa pingsan bang?"


Tiba tiba dokter masuk keruangan Aleena dirawat.


" Mohon untuk tidak membuat keributan disini."


Saat dokter itu melihat Aleena, dokter tersebut terkejut dan langsung memeluk Aleena. Fahren yang melihat itu langsung menarik dokter itu dan menarik kerah baju nya.


" Fahrenza, stop..!! Ini rumah sakit.."


" Aleena..........."


****