CELINE

CELINE
Ep 49



Gue lihat dia pergi ke arah kasir dan berbicara dengan seorang pelayan, sampai akhirnya dia sadar kalau gue melihat ke arah nya. Dan dia pun menghampiri gue.


" Permisi, itu...."


" Eh sorry, sorry. Gue gak maksud buat ngeliatin lo kayak tadi."


" Javendra?"


" Sorry?"


" Kamu Javendra kan? Javendra Curtis..!!"


Gue hanya melihatnya dengan tatapan bingung, siapa wanita ini? Pacar Zacky?


"Kamu lupa ya sama aku? Aku Stella teman main kamu sama Zacky dulu."


"Stella? Seriusan ini lo? Gila, lo kok berubah banget sih Stell? Gue sampai pangling loh."


"Hahaha, kamu bisa aja. Sumpah aku bener bener gak nyangka bisa ketemu kamu lagi. Kangen banget sama kamu.."


Stella langsung memeluk gue tanpa aba aba, gue bahagia banget ketemu Stella setelah sekian lama, ternyata perasaan gue ke Stella belum berubah. Gue masih mencintai nya.


"Javendra, hellow."


Tanpa sadar gue melamun dan hingga Stella memanggil gue beberapa kali.


"Please deh Javendra, aku kesini bukan buat liat kamu ngelamun ya. Kamu gak kangen apa sama aku? Kamu gak senang ya bisa ketemu sama aku lagi?"


"Eh, sorry sorry Stell, gue bahagia banget malah bisa ketemu sama lo. Cuma memang gue gak nyangka aja lo berubah jadi cantik gini."


"Aduh mulai lagi kan, kalau aku gak cantik entar gak ada yang mau sama aku dong. Emang nya kamu mau tanggung jawab kalau gak ada yang mau sama aku? Hahaha."


Refleks aja gue langsung menjawab pertanyaan Stella.


"Lo yang paling tau gue Stell, mau gimana pun lo gue tetap aja sayang sama lo."


"Hahaha, udah ah becanda nya."


"Gue gak pernah bercanda soal perasaan gue Stella."


Mungkin gue memang gila, di awal ketemu gue malah langsung terus terang soal perasaan gue. Lalu mau bagaimana lagi, gue gak mau kehilangan Stella. Gue mau Stella tau perasaan gue yang sebenarnya.


"Tapi sorry nih ya Javendra, gombalan kamu gak mempan sama aku. Kalau cewek lain mungkin bakalan langsung deh luluh. Lagian udah ada orang yang ngisi hati aku."


Deg...Deg...Deg...


Rasanya kayak gue yang udah di tolak bahkan sebelum gue bisa berjuang buat Stella. Dan siapa lelaki beruntung yang bisa mendapatkan hati Stella?


"Woi, tegang banget suasana nya. Serius banget kayak nya pembahasan nya."


" Haha, kamu udah selesai urusan nya?"


" Udah baru aja kelar. Tadi ada panggilan dari beberapa orang yang aku ceritain waktu itu."


" Cewek bule itu ya?"


Seketika gue menyadari, bahwa orang yang mengisi hati Stella adalah Jack, sahabat gue sendiri. Bukannya Jack bilang mereka gak pacaran ya? Ini mungkin terkesan gila, tapi gue akan tetap berjuang untuk Stella. Setidaknya sampai gue yakin memang udah gak ada tempat untuk gue di hati Stella.


****


Setelah hampir sebulan semenjak pertemuan gue dengan Jack dan juga Stella, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan Stella di studio nya. Membantu menjadi model baju baju yang dia rancang. Katanya lebih mudah mencocokkan nya karena gue blasteran ketimbang Jack. Bahkan setiap ada telfon dari Stella gue rela meninggalkan kerjaan gue di kantor hanya untuk memenuhi keinginan nya.


Stella dan Jack sudah kembali ke Nyc untuk melanjutkan bisnis dan kuliah mereka. Stella membuka sebuah butik bersama dengan teman satu kampusnya, dan ya semenjak gue mengenalkan Stella dengan beberapa orang, butik Stella kini menjadi semakin ramai. Sedangkan Jack benar benar membuka Cafe yang di sebutkan nya waktu itu. Setelah di ingat ingat, hari ini adalah hari pembukaan Cafe Jack.


Sebelum ke Cafe Jack, gue langsung menjemput Stella terlebih dahulu ke butiknya karena gue telfon gak di angkat. Sesampainya di butik, teman Stella mengatakan bahwa Stella sudah pergi terlebih dahulu ke Cafe Jack.


"Dunia memang aneh ya, bahkan di acara gue waktu itu, Stella hampir lupa. Dan sekarang, di acaranya Jack jangankan lupa, bahkan Stella sudah berangkat lebih dulu."


Setelah sampai di Cafe Jack, gue langsung menghampiri Jack yang sedang berbicara dengan seorang pelayan.


"Yo Jack, jadi juga Cafe nya. Gue kira lo cuma omong kosong doang."


"Sialan lo Jav, ini juga semua berkat Aleena, kalau dia gak memberikan beberapa masukan, Cafe ini gak bakalan jadi."


" Aleena?"


" Yup, cewek bule yang sering di ceritain Jack."


" Loh Stella, lo udah sampai aja, gue tadi ke butik."


" Really? Sorry Javen, gue lupa bilang kalau udah duluan."


" No prob. Jadi dimana cewek bule lo itu?"


" Noh yang duduk disana tu."


" Yang sama cowok itu?"


" Yes."


" Gila lo, pacar orang lu gebet juga."


" Sialan lo Jav, gue cuma temenan doang sama dia. Lagian gue baru tau siapa dia, bisa jadi itu kembaran nya."


" Siapa?"


" Aleena Francis, atau lebih tepatnya Aleena Fransisca Voodee. Gue dengar belakangan ini dia lebih sering kemana mana sama kembaran nya. Karena dia sempat di kena skandal gak enak."


" Skandal?"


" Lo serius gak tau? Padahal lo di bidang yang sama sama Aleena."


" Gue gak terlalu memperhatikan berita. So?"


" Keluarga dia benar benar rumit, awalnya dia adalah anak dari keluarga Remos, lalu terkuak bahwa selama ini keluarga Remos menyembunyikan dia dari keluarga kandung nya. Setelah ketemu dengan keluarga kandung nya, dia pergi karena ngerasa di khianati. Pada akhirnya dia kecelakaan dan hilang ingatan. Masih seputar keluarga Remos, dia hampir membuat pernikahan Kemal dari keluarga Athalla batal karena tiba tiba muncul di hari pernikahan itu. Kabarnya Kemal menyesal karena terlambat menyadari rasa sukanya. Bukan cuma itu, setelah kejadian itu dia hampir di mati karena Ny. Remos."


" Ny. Remos? Ny. Vanilla Zarsya ZEn'S maksud lo?"


" Yes."


" Bukannya dia...."


" Cerita gue belum selesai. Gak cuma itu, kemudian dia di kabarkan dekat dengan pengusaha muda juga, gue gak tau siapa nama nya. Tapi yang pasti, tersebar kabar kalau pengusaha muda itu adalah tunangan sahabatnya. Jadi ceritanya si Aleena orang ketiga."


" Hah? Seburuk itu reputasinya?"


" No no no. Lo salah, yang benar sahabatnya sendiri yang nikung dia. Yang gue tau dia orang yang baik."


" Hebat banget lo bisa tau sedetail itu. Beneran suka banget lo sama dia?"


" Hahaha, enggak lah. Gue tau juga dari para Investor yang dia kenalin ke gue. Mereka semua yang cerita sama gue."


" Lo serius gak tau dia Jav? Padahal beritanya hampir menghiasi semua laman majalah, gue dengar dia pernah di kontrak untuk jadi BA produk luar negeri, tapi di tolak dengan alasan dia mau fokus pada kuliahnya."


" Gue kenal dia."


" Hah? Kok bisa? Bukannya tadi..."


" No comment."


Gue menghampiri Aleena bersama Jack dan Stella. Jack langsung menyapa Aleena.


" Hai Aleena, sorry gue sibuk sampai gak sempat buat nemenin lo disini."


" It's okey Zacky. Gue sama kembaran gue kok."


" Oke, oiya kenalin ini teman gue dari kecil, namanya Stella dan yang itu Javendra, lo pasti udah kenal kan? Soalnya dia bilang ke gue kalau dia kenal sama lo."


Tiba tiba kembaran nya mengucapkan nama gue, seketika itu juga wajah Aleena terlihat kesal.


" Javendra Curtis? Cucunya opa Mike?"


" Yes, lo Sean kembaran Aleena kan? Gue banyak dengar cerita tentang lo dari kakek gue."


" Hahaha, gue yakinin gak semua cerita yang lo dengar itu benar."


" Karena kalian udah saling kenal, gue tinggal dulu gak papa ya, soalnya gue masih banyak kerjaan yang harus di urus ni."


Jack dan Stella langsung meninggalkan gue disini untuk bergabung dengan Aleena.


" Lo apa kabar? Terakhir ketemu di resto itu, kita gak pernah ketemu lagi."


" Apaan sih lo, sok kenal banget. Emang kapan gue ketemu sama lo, gak usah ngarang deh."


Jutek banget sih ni cewek, pantesan aja cowok gak betah sama ni orang.


" Loh, kalian udah pernah ketemu? Kok lo gak cerita sama gue Alee?"


" Gue gak pernah ketemu sama ni cowok, ngehalu kali dia. Lagian emang lo gak ingat Sean, ni cowok yang udah buat gue nunggu berjam jam sampai akhirnya gak datang."


" Gue datang kok. Tapi lo udah pergi duluan."


" Jelas aja gue pergi duluan. Lo mikir gak berapa jam gue nunggu disana? Belum lagi gue ada urusan mendesak."


" Sorry, itu emang salah gue, salah gue juga waktu itu karena nolak ketemu sama lo padahal lo udah jauh jauh nyusulin gue ke Indo cuma buat ketemu gue."


" Jelas aja lo salah. Lo pikir gue mau buang buang waktu gue cuma buat cowok kayak lo. Dan ingat satu lagi, gue bukan nyusul lo Indo, tapi...."


****