
Saat dokter itu melihat Aleena, dokter tersebut terkejut dan langsung memeluk Aleena. Fahren yang melihat itu langsung menarik dokter itu dan menarik kerah baju nya.
" Fahrenza, stop..!! Ini rumah sakit.."
" Aleena lo udah sadar? Gimana kepala nya masih sakit?"
Dokter itu tiba tiba mendekat ke Aleena dan memeriksanya. Fahrenza mengeluarkan tatapan tak suka pada dokter tersebut.
" Gue dokter disini. Gue mau ngecek keadaan pasien."
" Sekarang lo bukan dokter pribadinya lagi. Lo gak ada hak apalagi setelah lo meluk Aleena tiba tiba. Dokter apaan kayak gitu."
" Percaya atau enggak, bahkan gue lebih berhak jagain Aleena disini. Dan Aleena, bagaimana keadaan kamu?"
" Baik dokter. Saya gak papa."
Dokter itu tampak terkejut saat mendapat jawaban dari Aleena. Dan memutuskan untuk memeriksa Aleena secara menyeluruh.
" Kamu, tolong panggil walinya. Saya ingin bertemu dengan walinya untuk membicarakan kesehatan Aleena."
" Gak usah lo suruh juga udah gue kabarin. Orang nya udah sampai tu."
Tiba tiba aunty Melin dan uncle Joe datang dan langsung memeluk Aleena.
" Aleena, are you okey? Kan udah aunty bilang, jangan paksa kan untuk mengembalikan ingatan kamu sayang. Gak perlu buru buru, kamu masih punya banyak waktu untuk mengingatnya sayang."
" Riska Amelinda Remos dan Jodi Stevano? Apa apaan ini?"
Tiba tiba dokter tersebut berteriak. Untungnya ruangan Aleena adalah ruangan VIP. Aunty Melin langsung melihat kearah orang yang berteriak barusan.
" Alfa?!!"
Tiba tiba aunty Melin terduduk di lantai saat melihat Alfa, seperti orang yang sedang ketakutan. Lalu uncle Joe menghela nafas dan meminta Fahrenza dan yang lain nya untuk meninggalkan ruangan ini. Setelah Fahrenza, Dista dan Silviana keluar Dokter tersebut benar benar menatap aunty dan uncle dengan tatapan tajam.
" Jadi kali ini ulah kalian?"
" Kita bisa jelaskan semuanya Alfa. Dan kamu tau kondisi Aleena tidak sehat. Jadi mari kita bicarakan di tempat lain."
" Enggak uncle. Aleena mau tau semua nya. Aleena gak papa."
" Tapi Aleena.."
" Jelasin ke Aleena Uncle..!!"
Aleena terkejut saat mendengar dirinya sendiri berteriak. Seakan dirinya pernah membentak seseorang seperti saat ini. Terlalu banyak kejadian de javu yang dirasakan Aleena saat sampai di negara ini.
" Saya harap saya mendengar penjelasan yang masuk akal atau saya benar benar akan membawa masalah ini ke ranah hukum. Percaya atau enggak, saya tidak akan membiarkan keluarga kalian kali ini."
" Alfa, biar saya yang menjelaskan semuanya."
Aleena mendengarkan penjelasan dari Aunty nya. Aleena baru mengetahui jika nama asli aunty nya adalah Riska Amelinda Remos Dan Aleena terkejut mendengar perjelasan aunty nya tentang kejadian di bandara dulu.
" Begitu lah Alvaro, awalnya saya di minta oleh Rendi untuk mencari Aleena, akan tetapi saya menolak dan memutuskan untuk kembali ke Amsterdam. Karena saya mendengar semua cerita tentang identitas Aleena sebenarnya. Tepat saat menunggu pesawat waktu itu, saya bertemu Aleena, saya berniat untuk memberikan kabar pada Rendi agar dia bisa tenang. Akan tetapi saya tak jadi menghubunginya, saya hanya berniat untuk memberi pelajaran padanya, tetapi siapa sangka ketika Aleena sampai di Amsterdam dia mengalami kecelakaan saat menuju rumah saya. Dan saya mendengar kondisi Aleena yang hilang ingatan. Dokter berkata, jika Aleena mengalami trauma berat akibat kekecewaan yang mendalam. Itu bisa membahayakan dirinya. Maka dari itu saya tidak memberitahukan apapun pada Rendi. Akhirnya dia mengabari saya jika Aleena meninggal akibat kecelakaan pesawat. Saya yang terkejut memilih untuk menyimpan semuanya. Tapi percaya lah Alfa, saya melakukan semua ini hanya untuk melindungi Aleena."
" Kalian tau apa akibat dari perbuatan kalian? Dua keluarga hancur karena kalian. Dan saya adalah salah satu keluarga itu. Saya abang kandung Aleena. Mami saya mengurung diri setahun ini memikirkan Aleena dengan perasaan bersalah karena dia belum bisa membahagiakan Aleena. Moana adik saya, selalu menangis pada saya saat ingat pada Aleena. Saya dan papa saya berjuang memperjuangkan keluarga saya, padahal saya tau papa saya sangat tertekan memikirkan anak nya sedang kedinginan di kedalaman laut. Tapi apa? Ternyata kalian menyembunyikan Aleena. Sialan..!!"
Aleena kaget melihat dokter itu membanting peralatan yang berada di meja samping Aleena. Tiba tiba Aleena mengingat seorang anak kecil yang sangat lucu memberikannya sebuah kalung bernama kan Aleena. Dan meraba kalung yang ada di leher nya. Aleena memutuskan untuk mempercayai dokter itu.
" Dokter, kalau dokter memang benar abang saya, saya ingin meminta sesuatu, bisakah saya bertemu dengan Anak kecil yang memberikan saya kalung ini?"
Aleena menunjukan kalung yang terpasang di lehernya.
" Tapi Aleena, kamu harus menemui papa kamu dulu sayang."
" Kalian masih gak malu berbicara seperti itu? Pakai otak kalian sialan..!! Orang orang seperti kalian yang tega menjauhkan seorang anak dengan keluarga kandung nya cuma pecundang..!!"
" Kamu jangan kurang ajar Alfa, kami tau kami salah, tapi kami masih lebih tua di banding kamu, tidak seharusnya kamu berbicara seperti itu. Biar bagaimana pun, kami selalu melengkapi kebutuhan Aleena selama bersama kami."
" Hah, benar benar keluarga pecundang dan pengecut..! Jadi kalian sekarang meminta imbalan atas kebaikan kalian selama ini? Baiklah lah, katakan saja berapa yang kalian inginkan? Saya pastikan untuk memberi lebih, setelah itu saya pastikan tidak dari kalian satu pun yang bisa membawa Aleena lagi."
" Alfa..!! Jangan kurang ajar kamu..!!"
" Aunty, uncle. Aleena cuma ingin memastikan ingatan Aleena. Aleena mengingat seorang anak kecil yang memberikan Aleena kalung ini. Aunty sama Uncle tenang aja, Aleena gak akan kemana mana."
Setelah suasana mulai tenang, aunty dan uncle Joe mengalah. Mereka akan membiarkan Aleena bertemu dengan keluarga kandung nya dan berjanji merahasiakan semua nya sampai waktu yang tepat. Alfa berjanji akan membawa Aleena menemui keluarga aunty nya saat keadaanya lebih baik.
Keesokan harinya mereka mendatangi sebuah hotel mewah, dan Alfa meminta Aleena menunggu disebuah kamar yang menghadap ke arah laut. Setengah jam kemudian, ada seorang wanita yang mirip dengan Aleena memakai kursi roda masuk dengan Alvaro dan di belakang nya di susul oleh lelaki yang lumayan tampan berjalan bersama gadis berumur sekitar 8 tahun yang bersembunyi di belakang kaki lelaki itu saat melihat Aleena.
Wanita yang dikenalkan sebagai mami nya Aleena menangis saat melihat Aleena dan berusaha berdiri agar bisa memeluk Aleena. Aleena yang melihat itu langsung memeluk maminya. Aleena bisa merasakan hangat nya peluk seorang ibu. Tanpa sadar Aleena pun menangis. Setelah itu Aleena memeluk papi nya dengan canggung, setelah memeluk papi nya, Aleena merasa kan kasih sayang yang begitu besar dari papi nya.
Terakhir, Aleena mendekati gadis kecil yang masih takut takut untuk mendekati Aleena.
" Moana ya? Kakak ingat ada seorang gadis kecil yang sangat lucu memberikan kakak sebuah kalung yang cantik. Apa benar kalau Moana yang memberikan kakak kalung ini?"
Moana tampak mengangguk tapi tak berbicara.
" Tapi kenapa yang kakak ingat anak kecil itu sangat ceria dan percaya diri?"
" Itu beneran kalung dari Moana..!!"
Aleena kaget mendengar gadis kecil itu berteriak padanya. Aleena tertawa dan memeluk gadis kecil itu. Aleena sudah mendengar cerita tentang dirinya yang meninggalkan Moana setelah jalan jalan dan membeli banyak hadiah. Sejak saat itu Moana tak pernah mau diajak jalan jalan ke toko mainan lagi. Dan menolak semua hadiah yang dia terima.
Aleena merasa sangat bersalah pada gadis kecil ini. Betapa bodohnya dirinya dulu, seberapa kecewanya dirinya sampai mengorbankan kebahagiaan keluarganya.
" Moana, sini peluk kakak."
" Enggak mau. Nanti kalau Moana peluk, kakak pergi lagi."
Aleena benar benar sedih dan menyesal mendengar hal itu.
" Percayalah. Kali ini kakak gak akan kemana mana. Kakak bakalan nemenin Moana terus. Moana juga bisa liat kakak setiap hari. Mulai hari ini kakak akan tinggal sama Moana."
" Benarkah itu sayang?"
" Iya benar pi. Bang Alfa udah cerita semuanya ke Aleena. Tapi maaf ya pi, Aleena belum bisa mengembalikan semua ingatan Aleena."
" Gak papa sayang. Papi senang kamu mau tinggal sama kita. Papi akan bantu kamu buat balikin ingatan kamu jika kamu mau, atau kita bisa buat kenangan yang baru. Karena sebenarnya kami bahkan belum sempat membuat kenangan indah bareng kamu. Papi akan pastikan, kami akan membahagiakan kamu sayang."
Aleena sangat bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarga nya. Bahkan Aleena memiliki adik dan abang yang menyayanginya. Hari itu Aleena pindah kerumah orang tuanya. Aleena benar benar di perlakuan dengan istimewa dirumah itu, bahkan kamar nya di desaign ulang saat Aleena mengatakan ingin mengganti warna wallpaper kamarnya.
" Pagi papi, mami dan abang."
Aleena mencium satu satu keluarga nya. Itu sudah menjadi kebiasaan nya saat bersama aunty dan uncle Joe di Amsterdam. Mami dan papi nya tampak terkejut, tetapi senang melihat Aleena seperti itu.
" Wah ini sarapan kesukaan Aleena."
" Itu masakan khusus mami kamu sayang."
" Mami yang masak? Serius?"
" Iya sayang. Semoga kemampuan memasak mami gak berkurang ya."
" Aduh mami, mami gak perlu repot repot. Mulai besok Aleena yang bakalan masak. Mami istirahat aja."
" Papi juga sudah bilang, biarkan saja maid kita yang masak. Tetapi mami kamu bersikeras. Dan satu lagi mulai besok, katanya mami kamu bakalan ikut terapi. Biar bisa jalan jalan sama kamu."
" Haha, beneran mi? Kalau gitu semangat mami. Aleena dukung mami pasti bisa jalan lagi."
Setahun yang lalu, saat mendengar bahwa Aleena meninggal, mami nya terserang stroke dan tidak bisa berjalan.
" Oiya Aleena, abang sama papi punya hadiah buat kamu."
" Hadiah apa lagi? Bahkan hadiah dari abang, sama mami belum Aleena pakai semua."
" Ini."
Alvaro memberikan sebuah kotak yang di bungkus dengan rapi dan cantik. Saat membuka kotak tersebut, Aleena terkejut dan sangat senang melihat isinya.
" Papi, abang. Ini serius buat Aleena?"
*****