Because The Story

Because The Story
Bayaran Sebuah Penghianatan



"Tuh di panggil!" Ucap Adit memperpanas suasana hingga membuat Alika pun menjadi tidak nyaman.


"Terus kalo dia manggil gue, gue mesti bilang wow gitu? Gak kan?" Ucap ketus Alika namun terdengar sangat menggelitik di telinga Adit hingga membuat kakaknya itu tertawa.


"Iya dong! Itukan sangat wow gitu!" Adit membuat Alika memutar bola matanya malas dan kembali memperhatikan sekeliling.


"A Ipung bila kamu tidak mendengarkan ku, dan menyepelekan ucapanku. Aku berjanji aku akan menyebarkan video ini dan melompat setelahnya!" Ancam gadis itu lagi.


Dan dengan sangat terpaksa, dengan tangan yang bergetar dan suara yang terdengar serak akibat amarah Ipung Pun mengeluarkan suaranya.


"Aku akan mendengarkan mu! Tapi turunlah dulu!" Ucap Ipung dan membuat hati Alika seketika tersayat.


Namun dia juga yakin bila Ipung melakukan itu semua semata mata demi menyelamatkan nyawa wanita yang berada di atas tower tersebut. Berbeda dengan pikiran Alika, kini gundah malah melanda pikiran Ipung dan sama sekali tidak mengingat Alika sedikitpun.


Alika memperhatikan beberapa penyelamat tengah menyelamatkan gadis itu dan tiba tiba sebuah pesan singgah di ponselnya, sebuah video sampai di sana dan sangat membuat dada Alika kembang kempis menyaksikan itu.


"Masih kecil lo, jangan liatin model begini!" Adit menutup mata adiknya namun tangan Alika langsung melepaskan tangan sang kakak dan memberikan ponselnya pada sang calon kakak iparnya.


"Aaa.. Apaan ini Alika?" Tia menjatuhkan ponsel Alika hingga kini handphone tersebut retak dan batunya berhamburan entah kemana.


Seperti tak mendengar Alika lantas membelah kerumunan dan mendekati Ipung yang nampak pucat pasi.


"Aa...alik!" Ipung memperhatikan wajah cantik Alika yang memang sangat menawan. Namun tiba tiba sebuah kejutan di berikan Alika berupa sebuah tamparan keras yang menghempas pipi Ipung dengan sangat keras.


Hingga semua orangpun menghadap pada pemandangan itu dan membuat semua orang terfokus padanya.


"Puas kamu!" Ucap Alika membentak Ipung dengan nada kasar dan mengepalkan tangannya kasar.


"Perlu bantuan gak de?" Adit yang berdiri tepat di belakang Alika berjaga bila hal tidak terduga terjadi pada adik kecilnya itu.


"Diem lo, kalo lo yang ikut andil tangan, gue takut pengacara budiman ini akan menjebloskan mu ke penjara bang! Lo liat aja adek lo yang cantik dan manis ini yang bakal menyelamatkan semuanya!" Ucap Alika yang mana saat itu dia menginjak Sekolah Menengah Atas kelas 2 itu.


Adit pun angkat tangan dan mengangguk kemudian memperhatikan adiknya yang akan beraksi, benar di sana ada beberapa polisi yang tengah berjaga, namun merekapun tak berani melerai karena bila Alika yang menampar Ipung itu jelaslah sebuah pelampiasan wanita, berbeda bila hal sebaliknya terjadi.


"Lo berani menghamili anak orang ya! Hoho.. Gue wakilin dia yang gak berani lawan lo di sini! Manusia model lo gak pantes hidup di dunia" Ucap Alika dan sontak beberapa kamera mulai memotret kejadian itu.


"Tolong para warga dilarang memotret atau merekam kejadian ini!" Seorang polisi wanita yang nampak tengah bersiaga.


Semua orangpun menurunkan kamera mereka dan memperhatikan tontonan gratis yang tersuguh di depan mata mereka, beberapa orang merasa ragu bukan karena takut bila Ipung akan menarik mereka ke dalam penjara melainkan takut bila Ipung akan murka dan menyakiti Alika, bila hal itu terjadi mungkin tidak akan ada bukti yang dapat menguatkan Alika saat pria tak tahu diri itu mengapa apakan Alika.


"Sini lo kalo berani! Dasar banci!" Ucap Alika sangar melipat lengan


"Wow.. Wow.. Semangat cucuku!" Bukannya khawatir Jaka malah berteriak dan memberi dukungan pada cucunya.


Melihat itu membuat Adit tak kalah menggila dari kakeknya mungkin sifat ke bar baran inilah yang diturunkan Jaka pada cucu cucunya hingga membuat semua orangpun ikut berteriak.


"Semangat de, jangan kasih kendor!" Sorak Adit hingga berbagai teriakan pun terdengar memberi semangat pada Alika.


"Alik apa apaan kamu ini hah?" Ipung nampak kebingungan dengan apa yang terjadi, namun bukan sebuah jawaban yang di berikan Alika melainkan sebuah jotosan dari tangannya yang mengenai wajah Ipung.


Bukan hanya sekali jotosan itu tepat sasaran namun hingga berulang kali hingga membuat darah segar mengaliri wajah pria itu.


"Cukup Alik, sudah cukup kesabaranku sampai di sini!" Ucap Ipung yang kemudian menyerang, namun dengan sigap Alika menghindar.


"Eeeaaa...!" Teriak warga desa melihat pukulan Ipung yang meleset.


"Buuuk..!" Sebuah seruan kembali terdengar dari warga desa saat Alika memberikan tendangan mautnya pada bagian perut Ipung.


"Aaaw..!" Teriak lagi warga desa saat melihat Ipung yang meringis dan membuat semua orangpun terkekeh geli melihat tontonan itu, keraguan merekapun seketika musnah bila Alika yang seorang wanita muda itu tidak mampu mengalahkan Ipung. Kini jelas terpampang bila Alika mampu mengalahkan pria tidak tahu diri.


Ipung terpental hingga kepalanya terasa berkunang kunang dan pengelihatannya mengabur dan menghilang seketika pengelihatannya akan dunia.


"Terima kasih atas dukungannya semua..!" Ucap Alika menelungkupkan kedua tangannya, dan di sambut tepuk tangan yang meriah dari para warga yang telah menonton.


Beberapa polisi nampak membawa Ipung ke rumah sakit dan dari warga desa nampak tidak ada satupun yang perduli akan pria itu, sifat sombong yang di miliki Ipung membuat semua warga desa menjadi tidak suka pada pria tersebut, dan saat kejadian tersebut berlangsung mereka benar benar bersyukur ada orang yang berani menentang pria yang selalu menyangkut pautkan segala hal dengan hukum.


"Capek dek?" Tanya Adit terkekeh melihat Alika yang bersimbah keringat.


"Capek deh.." Ucap Alika terkekeh memperlihatkan roman cerianya, nampak tak ada sedih dari wajahnya itu sedikitpun, membuat keraguan Adit sebelumnya yang berpikir Alika akan bersedih pun hilang seketika saat menatap senyum manis di bibir adik kecilnya.


"Lo emang adek gue de.. Gue bangga sama lo!" Adit menepuk pundak Alika dan tertawa setelahnya.


"Gue juga bangga punya abang kaya lo bang, meski si ya lo emang kelewat somplak bang!" Ucap Alika yang langsung memanjat ke punggung kakaknya dan menggelayut, layaknya anak kecil.


Tia yang melihat itu hanya menggeleng melihat tingkah adik dan kakak itu yang terkesan bar bar dan aneh. Namun di balik semua itu terselip sebuah fakta bila mereka begitu saling menyayangi dan melindungi. Mereka memang sering bertengkar namun pertengkaran mereka yang hanya sepele tidak pernah membuat keduanya saling membenci, malah dengan cara itulah Alika dan Adit menjadi lebih dekat dan selalu saling melindungi satu sama lain meski dengan cara yang sedikit berbeda.


Bersambung...


Salam cinta dari Raisa๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜