
Rasa gugup hinggap di pikiran Alika, karena mau bagaimanapun untuk pertama kalinya dia duduk berhadapan dengan pria yang baginya asing.
Selama hidup Alika dia memang tidak pernah berduaan dengan pria semacam itu meski itu bersama Ipung sekalipun Alika tidak pernah sedekat itu, bila Alika akan kencan dengan Ipung dia sering kali mengajak temannya yang lain untuk ikut bersamanya.
"Kamu sudah makan belum?" Tanya Ubay yang ikut gugup terbawa suasana.
"Sudah tadi di rumah." Alika tersenyum kaku, dia sama sekali tidak menyangka bila pria yang akan dia temui sejak awal sudah ada bersamanya. Benar saja ucapan Ubay bila terkadang seseorang tidak menyadari keberadaan orang yang dia dia cari meski sudah jelas dia berada di depan matanya sendiri.
"Jaketnya robek ya? Maaf." Ucap Ubay melihat jaket Alika yang nampak sobek di bagian tangannya akibat kelakuannya yang membawa paksa Alika.
"I..iya gak papa, aku jahit nanti di rumah dan bisa bagus lagi." Alika mengambil jaketnya dari genggaman Ubay.
"Tuan muda, seseorang ingin menemui anda, dia berkata bila dia sudah ada janji dengan nenek." Seseorang terdengar berbicara di balik pintu dan memecah kegugupan yang ada di antara Alika dan Ubay.
"Aku ke bawah dulu, ee.. Kamu bisa pake barang barang di kamar ini sesuka kamu, aku permisi." Ucap Ubay kikuk dan keluar dari kamar tersebut lalu menguncinya dari luar dan sebuah kunci cadangan nampak tergeletak di atas nakas yang mungkin bisa di gunakan Alika sebagai cadangan.
"Fyuuuh, ah gila tadi itu apaan?" Ucap Alika merasakan getaran di dadanya yang terdengar sangat kencang hingga membuat nafasnya terasa teraegal.
Namun tiba tiba syook berat menghampiri Alika saat melihat tampilan dirinya yang nampak acak acakan di depan cermin, nampak rambutnya awut awutan dengan pakaian yang sudah tidak jelas bentuknya, Alika benar benar syok melihat hal tersebut dan sontak berdiri mentap lekat lekat dirinya dalam cermin.
Mungkin gambaran ODGJ cocok di sematkan dalam tampilan Alika saat itu, yang terkesan sangat amat menghawatirkan, Alika menghembuskan nafasnya kasar menelan rasa malunya akan penampilannya sendiri.
"Tadi dia bilang aku bisa pakai perlengkapan di kamar ini sesuka aku kan?" Ucap Alika dan melepaskan jaketnya yang semula ada di tangannya.
Alika mencari beberapa Alat yang mungkin bisa dia gunakan untuk merapikan tampilannya, akhirnya Alika menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya hingga wajah putih itupun kini polos dan sangat memperlihatkan wajahnya yang begitu menawan.
Alika lantas keluar kamar mandi dan merapikan rambutnya yang awut awutan, dan mengukirnya sedemikian rupa hingga memperlihatkan kesan elegan dan menawan, Alika melihat tasnya yang mana terdapat sebuah lipstik berwarna merah dan langsung mengoleskannya di bagian dalam bibirnya memberikan gambaran omre yang memberikan kesan manis akan wajahnya.
Alika tidak membawa apapun lagi selain ponsel, dompet, sebuah lipstik dan tisue.
Alikapun tak lupa membenahkan pakaiannya yang acak acakan dan merapikannya kemudian, Alika kembali menatap pantulan dirinya di dalam cermin dan sudah cukup memberikan kesan cantik luar biasa.
Alikapun kembali duduk di atas ranjang, namun fokus Alika malah teralihkan oleh sebuah ponsel di dekat kunci kamar tersebut dan langsung di ambil Alika saat di rasa kamar tersebut tidak di pasangi CCTV, sebuah sandi nampak lima huruf di depan mata Alika.
Sebuab petunjuk dengan nama pemilik ponselpun terlihat, 'pemilik hati' kata itu yang terdapat di bagian atas sandi ponsel yang mungkin milik ubay tersebut.
"Oh my god! Apa maksudnya ini?" Alika bukan terkejut dengan menu smartphone tersebut melainkan karena sandi yang terpasang dalam ponsel itu yang merupakan namanya.
Alika mencoba membuka percakapan dalam ponsel tersebut dan terlihat beberapa kontak yang ada dalam runtuyan pesan tersebut, tidak ada pesan dari wanita sama sekali hanya ada pesan dari nenek dan Alika saja.
Entah mengapa dada Alika yang semula terasa terhimpit menjadi plong dan sangat lega melihat hal tersebut, selain pesan Alika juga melihat galeri dan data data ponsel tersebut hingga tanpa sadar kepalanya terasa sangat berat dan amat mengantuk, mungkin efek lembut dari bantal yang di peluk Alika membuatnya mengangguk angguk akibat kantuk yang sangat luar biasa hingga akhirnya tertidur lelap dalam buayan kasur orang.
Alika berharap bila dia bisa terbangun sebelum Ubay datang, malam itu memang Alika hanya beristirahat sebentar karena dia tidak bisa tidur memikirkan sosok orang yang akan dia temui, namun ternyata sosok orang itu tidak sesuai espektasinya namun dia juga bersyukur karena melihat sikap Ubay, dia tidak memperlihatkan sosok yang buruk dan sombong malah mencerminkan pribadi yang baik dan sederhana, meski beberapa prilaku Ubay terhadapnya yang membuat dirinya dak dik duk seer akan hal tersebut.
.........
Alika mengerjapkan matanya saat mendengar suara air yang jatuh, Alika melihat langit langit putih bersih dan tidak seperti di kamarnya, karena di kamarnya Alika saat terbangun akan langsung melihat do'a bangun tidur.
Alika terperanjat saat suara pintu kamar mandi terbuka dan sontak matanya membulat dan siap berteriak, namun Alika kembali ke alam sadarnya yang ternyata tidur di kamar orang saat itu.
Alika sontak menutup matanya dengan jari jemari lentiknya dia berusaha menutupi sebuah pemandangan luar biasa yang sempat terpotret dalam ingatannya, bentuk tubuh atletis dengan kulit bersih tanpa lecet dan sebuah wajah tampan dengan rambut yang airnya masih menetes membasahi tubuh indah itu.
"Sudah bangun?" Tanya pria itu dan terdengar lemari yang di buka dan gantungan yang di ambil, Alika masih menunduk menutup matanya.
"I..iya, maaf aku ketiduran." Alika berusaha memendam rasa malunya, Alika menggigit bibir bawahnya merasa kikuk akan kebodohannya sendiri.
"Mau mandi dulu?" Tanya pria itu memberikan penawaran pada Alika sangat santai.
"Ah, tidak tidak! Aku mau pulang saja bila nenek tidak ada." Ucap Alika bangkit dari ranjang dan mulai menurunkan kakinya menyentuh marmer di ujung kakinya.
"Buka saja matanya, aku sudah selesai berpakaian." Ubay memberi tahukan Alika dan kini tanpa sengaja mata mereka saling beradu pandang menyiratkan sesuatu yang sangat sulit di ungkapkan.
'Oh tuhan, dadaku berdegup kencang sekali, apa ini cinta? Ah tidak tidak! Bila iyapun aku harus segera menguburnya karena mungkin kini dia sudah di jodohkan oleh keluarganya.' Ucap hati kecil Alika.
"Ee.. Aku pulang dulu, terima kasih tumpangan tidurnya." Alika mencari sepatunya yang semula dia letakan di atas marmer mengkilat itu.
Bersambung...