Because The Story

Because The Story
Tercipta untuk saling memiliki



Alika merasa kikuk bila harus mencurahkan seluruh isi hatinya pada Ubay saat itu, karena keberadaannya yang tengah di perhatikan oleh nenek Kejora, hingga akhirnya Alikapun bersusah payah melepaskan diri dari cengkraman Ubay dan menarik pria itu menuju kamarnya.


Alika membuka kamarnya dan melepaskan tangan Ubay kemudian, Ubay tertegun saat melihat Alika menghempaskan dirinya ke kasur kembali menangis sesegukan, Ubay berusaha mendekat dan mengelus rambut Alika penuh sayang.


"Maafkan aku!" ucap Ubay merasa sangat bersalah pada gadis yang kini nampak tengah sesegukan memeluk sebuah bantal.


"Nikahi aku!" ucap Alika tegas dan berbalik menatap Ubay dengan lelehan darah di hidungnya.


Hati Ubay menghangat mendapatkan ucapan itu dan diapun mengambil tisue yang yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk, Ubay mengusap hidung Alika dan menuypalkan dua tisue kemudian di hidung tersebut.


"Baiklah, aku akan menikahimu besok!" ucap Ubay lagi pasti, mata Alika membulat hampir tidak percaya.


"Iya kamu harus melakukannya besok, kamu harus bertanggung jawab karena sudah berani melecehkanku, dasar tukang sosor!" ucap Alika memalingkan wajahnya ke arah jendela dan nampak begitu menggemaskan di mata Ubay.


"Bila tanggung jawabnya seperti itu, maka aku siap melecehkanmu lagi!" ucap Ubay terkekeh namun dadanya masih terasa sakit.


"Lihat ini! Apakah seorang pria wajar melakukan hal ini, setelah menikah aku akan melaporkanmu pada polisi atas dasar KDRT!" ucap Alika lagi memperlihatkan rona merah di lengannya yang putih bak salju bekas cengkraman Ubay.


"Astaga sayang! Kenapa bisa begini?" Ubay syok dan memegang tangan Alika, Alika mengibaskan tangannya dan cemberut.


"Jangab temui aku dulu. Aku mau sendiri dulu sekarang, aku beneran sakit hati tau!" ucap Alika mengibaskan tangannya dan menyunykurkan tubuhnya ke atas kasur.


Ubay tersenyum sekilas dan memeluk tubuh Alika dengan sangat nyaman, Alika ingin menghindar namun Ubay dengan cepat mengunci kembali tangan Alika hingga gadis itu tidak bisa bergerak.


"Lepas gak?" sentak Alika dan mencubit tangan Ubay hingga kemerahan, namun Ubay enggan melepaskannya.


"Kamu tahu, aku sangat tersiksa berdekatan denganmu seperti ini!" ucap Ubay merasakan aroma lembut dari rambut Alika.


"Ya kalo kesiksa, jauh jauh sana pengennya nempel mulu kaya lem korea!" sungut Alika kesal dan sontak saja Ubay tersenyum sekilas dan menenggelamkan wajahnya pada tengkuk jenjang Alika.


"Bukankah kamu mengambil jurusan IPA saat paket C dulu?" tanya Ubay menghisap aroma yang sudah sangat dia inginkan.


"Iya, ih hentikan! Apa yang kamu lakukan?" ucap lagi Alika saat sebuah bibir mengecup tengkuknya dan terasa begitu lembut.


"Aku pria yang kehausan sayang, aku mau kamu!" ucap Ubay dan sontak saja darah dari hidung Alika kian membanyak dan hampir mengeni seprai kasurnya.


"Eh ini banyak darahnya! Awas awas!" ucap Alika menutup hidungnya hingga dengan terpaksa Ubaypun melepaskan pelukannya dan kembali mengambil tisue.


"Tunggu di sini!" ucap Ubay mengambil kopernya dan mengeluarkan beberapa jarum yang tajam dari dalan kopernya.


"Ih mau ngapain?" tanya Alika melihat jarum jarum tajam di dekatkan pada lehernya.


"Gimana gak sakit kan?" tanya Ubay dengan senyumnya dan mengusap darah yang hampir mengering di dekat hidung Alika menggunakan tisue basah dan sedikit mencuri sentuhan bibir alika di jarinya.


Alika yang menyadari itu sontak melotot melihat Ubay yang cari cari kesempatan dalam kesempitan, Alika sontak saja menggigit jari Ubay dan membuat pria itu mengerang kesakitan.


"Heh, main main mulu si! Dah ah aku mau tidur kamu hush..hush.." usir Alika mengibas ngibaskan tangannya berusaha mengusir pria itu.


"Kalo aku gak mau gimana?" tanya Ubay mendekatkan wajahnya kian berani menggoda Alika yang kini nampak bersemu kemerahan.


"Kalo gak mau? Kita putus! Puas!" jelas Alika mendorong tubuh Ubay, Ubay yang mendengar candaan Alika yang sangat sulit di terimanya itupun memegang tangan Alika.


"Heh, di kamar ini cuma ada kita berdua. Dan aku yakin nenek juga gak akan anggu, kalo kamu berani ngomong model begitu lagi, aku beneran bakal nekat sayang." ucap Ubay menggenggam penuh kelembutan tangan Alika meski hatinya tengah di landa amarah.


"Nekat? Mau ngapain?" tanya Alika menarik tangannya dari pria yang kini nampak menakutkan di mata Alika.


"Menurut kamu?" Ubay balik bertanya, dan sontak hal tersebut membuat dua buah mata Alika membulat dan menjauh dari pria yang kini tengah tersenyum evil kepadanya.


"Dasar mesum!" ucap Alika seraya berusaha keluar kamar namun sayang Ubay telah mengunci kamar tersebut dan kembali mendekati Alika.


"Aku bersumpah, bila kamu berani menyentuhku sekarang aku tidak akan pernah memaafkanmu Bay!" teriak Alika histeris penuh ketakutan.


Ubay kembali tersenyum dan menarik lengan Alika hingga mereka saling bedekatan dengan tubuh Alika yang bergetar ketakutan, Ubay mendekap tubuh Alika erat erat seakan tidak ingin kehilangan gadis itu dan mengecup lembut ubun ubun Alika.


"Maafkan aku sudah membuatmu takut sayang, maafkan aku selalu nakal dan membuat kamu sakit, dan maafkan aku atas prilakuku tadi dan semuanya." ucap Ubay dengan sebuah isak yang tertahan.


Sontak mata yang semula penuh ketakutanpun berubah dan berganti dengan senyuman lembut di bibir Alika, mana mungkin dirinya tidak memaafkan Ubay, mana mungkin dirinya bisa hidup tanpa pria yang kini menguatkannya, bagaiman mungkin seorang Alika tanpa Ubay di sisinya. Bisik hati Alika penuh syukur mendengar ucapan Ubay.


"Jangan di ulangi lagi ya! Aku sayang kamu Muhammad Irham Alfian Ubaydillah." ucap Alika seraya mengusap air mata Ubay dan menenangkan pria itu.


Alika dapat merasakan bagaimana ketulusan Ubay meski terkadang apa yang di lakukan Ubay tidak benar namun dia juga seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan.


"Sungguh kamu menyayangiku?" tanya Ubay menempelkan keningnya dengan kening Alika hingga hembusan nafas mereka terasa begitu nyata.


Alika menjawab pertanyaan Ubay dengan sebuah anggukan kecil dan pelukan hangat, dia tidak ingin wajahnya terlalu dekat dengan Ubay dan lebih ingin memeluk pria itu penuh sayang.


"Alika aku mencintaimu sayang." bisik Ubay dan di angguki Alika setelahnya merasakan bagaimana dua belah jiwa yang kini terasa menyatu.


Alunan merdu suara angin menyapu ruangan yang kini dipenuhi rasa cinta, bunga bunga seakan bermekaran dengan hentakan lagu lagu sayang, Alika dan Ubay kini benar benar sudah faham bila mereka memang sudah di ciptakan satu sama lain.


Bersambung...