Because The Story

Because The Story
Keseriusan Ubay



Nenek Kejora membuka halaman demi halaman lembaran lembaran buku yang di penuhi arti itu merasakan sayatan sayatan dari untaian kata di baliknya meski sedikitpun dirinya tidak mengerti dengan apa yang tengah dia tela'ah.


Mata nenek Kejora menyipit saat melihat cincin yang semula di lemparkan Alika, hatinya terenyuh sekilas menatap kamar yang kini pintunya nampak tertutup.


Namun saat nenek Kejora memperhatikan pintu itu nampak Alika dan Ubay membuka pintu dan keluar dari kamar. Kejora tersenyum menayap keduanya yanh kini berjalan beriringan dan mendekatinya.


"Nenek, apa pendapatmu tentang buku itu?" tanya Alika menggenggam tangan Ubay dan menatap lembut mata nenek Kejora.


"Ini adalah Darah Juang." ucap nenek Kejora memeluk buku dengan sampul hitam dengan berbagai jenis tulisan yang hanya bisa di baca satu orang di dunia ini, yaitu Alika.


"Darah Juang?" Ubay bertanya dengan mata yang sedikit menyipit menandakan sebuah pertanyaan.


"Ya, bukan hanya darah yang mengaliri namun juga perjuangan yang tidak pernah padam demi mendapatkan kemerdekaan dan segalanya." ucap nenek Kejora mengartikan ucapannya.


"Sungguh makna yang dalam nek." ucap Alika memeluk sang nenek yang nampak menitikkan air mata.


Dan disinilah mereka kini berada di dalam mobil menuju pulang ke kota, setelah kurang lebih dua bulan Alika, Ubay dan Kejora tinggal di rumah kakek Alika akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke kota.


"Setelah hari ini aku akan melamar mu sayang" Goda Ubay saat lampu merah menyala di jalan raya. Sontak wajah Alika memerah dan menundukkan pandangannya, pipi manisnya tertutupi rambut kecoklatan itu.


"Kenapa? Apa kamu malu? " Seperti yang tidak perduli Ubay malah kian menggoda Alika.


"Sudahlah kasian Alika, wajahnya sampai memerah seperti itu" Tegur nenek Kejora yang duduk di kursi belakang.


Mendengar itu Alika malah kian malu tangannya di remas menahan malu, Ubay terkekeh bila neneknya tidak ada dalam mobil itu pasti dia akan menggoda Alika lebih dari pada itu.


Nenek Kejora sampai di kediamannya dan akhirnya yang di tunggu Ubay tiba dimana dirinya bisa berduaan dengan Alika.


"Sayang tempat seperti apa yang kamu sukai? " Tanya Ubay dengan mata fokus ke jalan di hadapannya.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya balik Alika.


"Aku hanya ingin tahu saja, bulan madu kita nanti aku ingin kamu bahagia dan mendapatkan apapun yang menjadi kesukaanmu. " Jawab Ubay dengan sedikit lirikan matanya meski dirinya terus fokus ke jalan.


"Kenapa memikirkan hal yang sudah sejauh itu, aku tidak yakin bila kita akan sampai ke pelaminan" Celoteh Alika membuat Ubay sedikit terkejut dan menepikan kendaraannya.


"Kenapa berhenti? " Tanya lagi Alika menatap pria yang semula fokus mengendarai mobil sport Maserati GranCabrio V8 itu.


Alika bingung sekaligus takut melihat tatapan pria yang di cintainya itu, tubuhnya seakan mengatakan dirinya dalam bahaya hatinya tiba tiba gundah dengan pikiran pikiran aneh.


Benar saja apa yang di takuti Alika terjadi saat mangan kekar Ubay menarik wajahnya hingga sebuah sentuhan bibir tak dapat di elakkan lagi, Alika melotot menatap mata pria yang kini terpejam Alika ingin berontak namun tangannya seakan lemas dan merasakan setiap gerakan liat di bibirnya dari pria yang sangat dia cintai itu.


Ubay melepaskan bibirnya menatap mata satu yang kini beradu pandang dengannya kening mereka menyatu merasakan setiap hembusan nafas dari keduanya merasakan getaran hebat dalam dada mereka masing masing.


"Aku tidak akan melepaskan mu sayang, seberapa besar perjuanganmu melepaskan diri dariku maka aku akan terus mengejar mu dan akan selalu bersamamu, Alika aku sungguh-sungguh mencintaimu. " Ucap Ubay lirih dan lembut namun masih dapat di dengar oleh Alika karena jarak di antara mereka yang tidak begitu jauh.


Alika enggan menjawab pertanyaan itu, dia melupakan sesuatu yang sudah lama dia jaga yaitu harga dirinya terserah orang akan berpikir apa padanya, kini dia benar-benar jatuh cinta pada Ubay, Alika kembali menyatukan bibir mereka dan semakin lekat dan liar gerakan Ubay sebelum akhirnya Ubay kembali pada dunianya saat menyadari mereka belum menikah.


"Sayang maafkan aku, aku akan melakukannya dengan benar aku tidak ingin hubungan kita hanya di rasakan kita berdua" Alika mengerti dengan ucapan Ubay dia mengangguk dan akhirnya mobil mewah itu kembali melaju di jalan raya.


Memang benar Alika pernah kecewa pada pria tapi bukan berarti semua pria sama dan akan mengecewakannya, mengingat tatapan Ubay dan lembutnya dia Alika sadar bila dia tidak ingin kembali patah hati dan dia ingin bahagia dengan pria pilihannya.


Alika dan Ubay sampai di depan kediaman Alika nampak seluruh keluarga berkumpul, Ubay tersenyum menatap sang kekasih yang kini sudah berada di teras rumahnya bersama ayah dan ibunya.


Alika melambaikan tangan saat Ubay mulai kembali melaju dan meninggalkan pelataran rumahnya, ayah dan ibu Alika merasa bingung menatap rona di wajah puterinya namun belum sempat mereka bertanya Alika sudah melompat lompat layaknya kangguru menuju kamarnya.


Ayah Alika menatap isterinya dan isterinya mengangkat bahunya seakan menanyakan apa yang terjadi dan jawaban tidak tahu, Adit yang duduk di sofa ruang tamu hanya menggeleng menyaksikan kelakuan adik kecilnya yang bahkan tidak menyapanya sama sekali.


Ayah Alika mengangkat matanya seakan bertanya pada Adit ada apa? Adit tersenyum. Melihat senyuman Adit ayah dan ibu Alika duduk karena sepertinya Adit tahu sesuatu.


"Kalian akan segera melakukan hajat besar, Puteri kalian akan segera menikah. " Ucap Adit menjawab rasa penasaran dari kedua orang tuanya.


Ibu dan ayah Alika saling berpandangan mengerti dengan ucapan anak pertamanya, ayah Alika kembali bertanya pada Adit.


"Menurut mu siapa kekasih Alika? Selama ini aku tidak pernah mendengar atau melihat Alika menceritakan atau bersama pria" Ayah Alika merasa heran dan memijit keningnya, bukan karena pusing atau apa namun dia merasa sedih bila harus berpisah dengan Puteri bungsunya.


"Ayah ini bagaimana, bukankah barusan kalian melihat Alika bersama laki laki. Ya siapa lagi kalo bukan dia" Jawab Adit menjabarkan rasa ingin tahu orang tuanya.


Ibu Alika mengangguk mengerti karena sebagai seorang wanita dia mengerti dengan tatapan Ubay terhadap puterinya meskipun dia sedikit tidak yakin namun melihat mata Ubay yang nampak tulus dan sepenuh hati itu bisa di artikan keseriusan dan dia benar benar mencintai puterinya itu.


"Apa kamu sudah tahu lama Dit? " Tanya ibu Alika menatap Adit yang nampak sama sekali tidak terkejut dengan apa yang ada di hadapannya, Adit tersenyum enggan menjawab dan malah berlalu menuju dapur menyapa Tia yang tengah memasak.


Bersambung....