Because The Story

Because The Story
Prasangka



Tanpa pikir panjang Satria mengecup bibir Kejora yang sedikit terbuka, sentuhan lembut dengan bibir terasa bergetar itu Kejora menikmati ciuman pertamanya, begitupun juga Satria.


 


...***...


"Ah, so sweet banget!" ucap Alika menahan dagunya dengan kedua tangan dan sontak saja Ubay yang tengah berada di belakangnya menarik tubuh Alika.


Alika ingin berteriak namun baru sedikit bibirnya terbuka bibir Ubay sudah mendarat tepat di bibirnya, sontak nenek Kejora yang melihat itu menutup kedua matanya dengan dua lengannya dan nampak sedikit sedikit mengintip.


Mata Alika membulat melihat mata Ubay yang terpejam, sebuah getaran hebat kini di rasakan kedua insan itu. Namun dengan cepat Alika mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang Alika mendorong tubuh Ubay hingga akhirnya mereka berjauhan.


Alika berdiri tegap di depan Ubay dan memelototi pria itu, Alika menamar wajah Ubay dan nampak sebuah cairan bening mengalir di pipinya.


"Kamu keterlaluan!" ucap Alika dan berlari ke dalam rumah dan beberapa kali mengusap air matanya yang tengah mengalir.


Ubay terpaku setelah mendapatkan tamparan keras itu, dia sama sekali tidak menyangka bila Alika akan menjadi semarah itu terhadapnya, nenek Kejora yang melihat itupun memang sedikit kecewa pada Ubay.


"Kamu pantas mendapatkan itu!" tegas nenek Kejora dan berlalu meninggalkan Ubay sendirian. Ubay lagi lagi terpaku mendapatkan dua buah semburan sekaligus.


Ubay terpaku sejenak, bukankah sebuah hal wajar bila sepasang kekasih berciuman pikir Ubay, namun sebuah hal lain tidak terpikir di kelapa Ubay dan mungkin hanya bisa di rasakan oleh para perempuan saja.


Alika berlari ke kamarnya dan mengunci ruangan itu, Alika menghamburkan tubuhnya ke atas kasur dan menangis sesegukan, aroma tubuh Ubay tercium lembut dalam bantal dan kasurnya dia benar benar tidak habis pikir dengan pria tersebut.


"Kenapa dia melakukan hal ini! Apa aku ini benar benar murahan di matanya!" ucap Alika seraya menangis sesegukan, tidak lama terdengar suara pintu di ketuk. Nenek Kejora yang melihat Alika menangis langsung mengikuti langkah gadis itu dan mengetuk pintu kamar Alika.


"Alik! Ini nenek buka pintunya nak!" ucap nenek Kejora mengetuk pintu kamar Alika, terlihat juga Ubay di bawah yang masih merenung.


"Aku mau sendiri dulu nek, hiks..hiks.." isak Alika, nenek Kejorapun menghembuskan nafasnya kasar dan melangkah menjauhi pintu tersebut dan berjalan menuruni anak tangga dan kembali menghampiri Ubay.


"Kamu sudah buat Alika sakit hati Bay!" tegas nenek Kejora menepuk pundak cucunya yang nampak tengah merenung.


Ubay menatap sekilas ke arah tangan yang menepuknya dan kemudian mengangkat wajahnya melihat nenek Kejora yang kini tengah berdiri di sampingnya.


"Kenapa? Aku cuma cium dia doang, gak aku apa apain!" tegas Ubay merasa dirinya sudah di hardik dua wanita sekaligus mana mungkin dia menerima harga dirinya di injak injak, meski saat melihat Alika menangis jelas bila hatinyapun ikut menangis.


Deg, jantung Ubay seakan terhenti sejenak kini otaknya mulai berputar dengan roda roda paku yang seakan menancapi hatinya dan terasa begitu perih dan menyakitkan.


"Tapi kenapa?" Ubay benar benar tidak habis pikir, bukankah sebuah ciuman seharusnya di lambangkan cinta, bagaiaman mungkin Alika berpikiran bila dirinya telah menginjak injak harga diri Alika, justru saat itu Ubay sedang sangat ingin mengutarakan hatinya yang tengah meluap luap.


"Kamu belum terpikir Bay, dia seorang wanita seperti apa? Alika adalah gadis terhormat dan hal yang kamu tadi lakukan merupakan salah satu pelecehan terhadap wanita." jelas nenek Kejora memaparkan pandangannya.


Pupil mata Ubay tiba tiba terbelalak, bukankah dirinya dan Alika sudah sering berpelukan, kenapa sekarang hanya sebuah ciuman saja Alika bisa semarah itu, pikir Ubay.


"Sudahlah, mungkin kamu belum kepikiran dengan otak pendekmu itu! Tapi nenek sebagai perempuanpun akan marah bila seorang pria melakukan hal itu." ucap nenek Kejora menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukankah nenek juga melakukan hal itu dengan kakek?" ucap Ubay sedikit marah pada neneknya.


"Tapi kami sudah menikah! Itulah bedanya antara sudah melakukan pernikahan dan belum, bila sudah melakukan pernikahan mungkin hal itu bisa di artikan cinta tapi bila belum itu adalah pelecehan, camkan itu!" ucap nenek Kejora berbalik dan mengabaikan cucunya sendiri.


Ubaypun berpikir keras dalam kepala dan hatinya yang kini tengah berperang hebat, hatinya yang tiba tiba terasa ngilu dan otaknya yang seakan tidak terimapun mulai menemukan sebuah titik terang dimana yang dia lakukan memang sebuah kesalahan.


Ubay menekan pelipisnya yang seakan berdenyut nyeri, dia menghempaskan tubuhnya dalam sandaran kursi rotan tersebut melihat langit langit putih bersih tanpa noda.


"Aku salah rupanya, cinta memang harus putih sedikit noda hitam saja akan merusak segalanya, aku harus bagaimana sekarang?" lirih Ubay menekan nekan pelipisnya dan merasakan hatinya yang terasa begitu pilu.


Di dapur nenek Kejora tengah membuka rak rak dapur dan segala perlengkapan di sana, semua kebutuhan di rumah itu nampak sudah habis dan itu tandanya selama ini Alika tidak pernah menggunakan sepeserpun uang Ubay untuk memenuhi kebutuhan mereka, melainkan Alika menggunakan uangnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Nenek Kejora berjalan ke ruangan atas dan membuka kamar yang biasa di gunakannya dan Alika tidur dia membuka sebuah koper yang sempat di berikan Ubay pada Alika, mata nenek Kejora terbelalak saat mendapati uang di dalam sana masih utuh tanpa berkurang seperpun.


Nenek Kejora mengepalkan tangannya mereasa benar benar marah pada Ubay yang tidak menyadari semua itu, namun nenek Kejorapun juga menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menyadari semuanya.


Nenek Kejora menutup kembali koper tersebut dan berdiri seraya menghembuskan nafasnya yang terasa begitu berat, dia merasakan bagaimana Alika yang ceria dan tidak nampak sedih meski di tinggalkan kakek dan neneknya, nenek Kejora berjalan ke sebuah meja dimana terletak potret Kejora bersama nenek dan kakeknya yang nampak tengah tertawa seraya memegang sebuah Toga.


Hati nenek Kejora terenyuh menatap kedekatan mereka, bohong bila Alika tidak sedih atau rindu, terlihat jelas bagaimana kedekatan mereka yang sekan terasa meski melalui sebuah potret semata.


Wajah cantik Alika napak tersenyum begitu bahagia dan begitupun nenek dan kakeknya, nenek Kejora amat merasa bersalah karena kurang mendidik cucunya yang sudah bersikap kurang ajar terhadap anak orang yang begitu baik dan juga penuh tatakrama dan berbudaya, jauh berbeda dengan cucunya yang sudah terbawa pergaulan luar yang sekan benar melihat apa yang dia sangka tanpa melihat siapa yang tengah berada bersamanya.


Bersambung...