Because The Story

Because The Story
Merenggut Kesucian?



...Episode kali ini mungkin akan membuat kalian sedikit tertawa ya, mohon disimak😘😘😘...


"Maafkan aku gadis kecil..!" bisik ubay mengusap kening Alika yang nampak merembas mengeluarkan cairan garam, Ubay menatap wajah yang kini nampak teduh itu dan mengangkatnya menuju ke arah kamarnya.


"Maafkan aku, aku hanya ingin kamu baik baik saja." ucap Ubay lagi membuka retseleting baju Alika yang terdapat di bagian punggungnya.


Dada Ubay kembali bergemuruh saat menyaksikan kulit putih yang nampak bersinar di upuk matanya, namun dia menepis keinginan hatinya meski lagi lagi sesuatu kembali berdiri, Ubay mengambil sebuah gulungan jarum dari dalam lacinya dan menancapkan beberapa jarum di bagian urat nadi Alika, dan dada kiri Alika beserta telapak kaki gadis itu.


Saat beberapa akupuntur di lakukan hingga akhirnya dada Alika berdetak layaknya orang normal, Ubay menghembuskan nafasnya kasar dan menatap jam di dinding kamarnya menunjukkan waktu yang sudah sangat sore.


Ubay mengembalikan pakaian Alika seperti sedia kala dan menunggu gadis itu untuk terbangun, tak lepas dari pandangan mata Ubay, sosok cantik nan mempesona, hingga matanya berat dan tertidur di atas kursi belajarnya memegang tangan Alika yang kini dirinya tepat di depan ranjang.


"Uuh..!" lengguhan terdengar dari Alika, namun rasa nyaman yang selalu menghampiri Ubay saat berdekatan dengan gadis itu, rasa tentram di hatinya membawa dirinya ke alam mimpi dan hingga membuat dirinya tidak sadar bila gadis di hadapannya itu sudah tersadar.


Alika membuka matanya perlahan menatap kepala yang kini di dekatnya, dia tidak ingin menyimpulkan sesuatu terlalu cepat, dengan setengah kesadaran yang di milikinya, Alika mulai mengumpulkan pecahan ingatannya hingga menjadi suatu kesatuan.


Alika menatap kamar tersebut hingga akhirnya tersenyum sekilas, namun perutnya tiba tiba menjadi sangat sakit dan replaks di pegang olehnya.


"Uuuh, sakit banget..!" ucap Alika melepaskan genggaman Ubay dan berjalan menuju sebuah laci dan mengambil sebuah sepatu yang memang miliknya.


Alika merasakan denyutan hebat di perutnya dan pinggang yang terasa begitu sakit dan menyiksa, hingga mengharuskan dirinya harus berkacak pinggang dan berjalan perlahan merasakan sesuatu yang siap keluar.


"Neng Alik?" nampak Kejora di belakang Alika menyapanya.


"Kenapa neng?" tanya Kejora memperhatikan gerak gerik gadis itu yang nampak sesekali menyentuh pinggang dengan jalan yang sedikit egang.


Kepala nenek Kejorapun treveling ke arah yang dia sangka, dia menatap lagi Alika dari ujung kaki hingga ujung kepala, dia memperhatikan gerak gerik dan menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi.


"Sudah ya nek, Alik pamit pulang dulu. Minggu depan kita main ya nek, tapi besok Alik ada matkul jadi nunggu minggu depan oke nek?" ucap Alika memeluk Kejora dan menyalami tangan wanita yang belum begitu tua itu sebelum dia berlalu mengucap salam.


"Assalammu'alaikum nenek!" ucap Alika berjalan ke luar dan menemukan sepedanya, dia menggoes sepedanya cepat karena waktu yang menunjukkan sudah sangat sore.


Namun sebelum dia sampai Alika menyempatkan terlebih dahulu mampir di salah satu apotek di dekat rumahnya, Alika membeli vitamin dan pembalut sebelum akhirnya meluncur ke area pekarangan rumahnya dan memarkirkan sepedanya.


.........


Sebelumnya melihat Alika yang akan berlalu, nenek Kejora dengan sangat cepatnya memerintah salah satu ajudannya untuk mengikuti Alika, selain untuk memastikan keselamatan gadis itu Kejora juga merasa risau akan kondisi Alika saat ini.


Nenek kejora menunggu laporan dari ajudannya dan dengan risau menunggu di ruang bawah dengan mondar mandir tak tentu arah. Hingga akhirnya sebuah telpon singgah yang sudah di tunggu tunggunya.


"Halo? Bagaimana kondisi Alika?" tanya Kejora dengan khawatirnya bertanya dengan cepat.


"Testpac?" tanya nenek Kejora bertanya dengan nada risau.


"Nah itu maksud saya." ucap ajudan Kejora hingga akhirnya telponpun terputus dan kesalah fahaman antara softtek dan testpac pun tercipta.


"Astagfirullah si ubay!" geram Kejora berjalan dengan berjingkrak jingkrak menuju kamar cucunya.


"Ubay bangun!" teriak Kejora menggebrak pintu kamar Ubay hingga terbuka dan melihat Ubay yang nampak melengguh dan menguap. Sebuah sapaan berupa capitan telinga pun di berikan nenek kejora pada cucunya.


"Aw.. Aaw.. Aw.. Nek! Sakit ih, jahat banget!" ucap Ubay mengusap telinganya yang terasa akan putus.


"Jahat? Kamu bilang nenek jahat? Lihat yang kamu perbuat lebih jahat!" ucap nenek Kejora menunjuk secercak darah di seprai cucunya.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Alika hah? Nenek melihat dia sempoyongan keluar rumah sambil mengusap usap punggungnya, dan tadi dia pergi ke apotek untuk beli testpec apa apaan kamu hah?" ucap nenek kejora menyembur cucunya yang masih memasang tampang watados.


"Testpec?" ubay terkejut seketika, dia kembali menatap seprainya, di seprai mahalnya kini menampakkan darah yang belum mengering.


"Kok ada darah si?" Ubay yang tidak merasa melakukan kesalahan pun berubah bingung.


"Kok tanya si? Kan kamu yang sudah macem macemin Alika, memang siapa lagi yang ada di kamar ini, kecuali kalian berdua? Nenek tegaskan sebagai perempuan nenek tidak terima atas perlakuan kamu pada Alika! Kamu harus tanggung jawab!" ucap nenek Kejora sangar.


Ubay mengangkat alisnya tidak faham, jelas jelas dirinya tidak melakukan apapun pada Alika, tapi kenapa kini seakan dunia dan pembaca tengah menghujatnya.


"Nek, aku gak apa apain Alik kok, serius!" ucap Ubay lagi mengangkat dua jari nya membentuk huruf V.


"Oh, jadi kamu mau lari dari tanggung jawab hah? Nenek bener bener tidak menyangka bila kelakuan cucu yang selalu di bangga banggakan ini memiliki sifat bejad! Sekarang, apa bedanya kamu sama Fedrix?" nenek Kejora benar benar murka dan tidak habis pikir dengan tingkah cucunya.


"Nek aku gak pernah bohong sama nenek dan a.." belum selsai Ubay menyelesaikan kalimatnya Kejora sudah memotong ucapan cucunya.


"Sudah! Nenek tidak mau bicara padamu lagi! Jelaskan semuanya pada ayahmu!" ucap nenek Kejora murka dan membanting pintu kamar cucunya sangat keras hingga membuat beberapa pelayan terkejut.


Ubay terpaku menatap kepergian neneknya dan merasakan himpitan besar di dadanya, dia memang sangat ingin menikahi Alika tapi dia ingin menikahi gadis itu dengan cara yang baik.


"Hahhh.. Sepertinya aku dalam keadaan buntu sekarang, tunggu! Nenek bilang Alika beli testpec? Kenapa? Atau jangan jangan..." pikiran ubay melayang entah kemana dan kini kesalah fahaman yang tercipta pun semakin panjang dan runyam.


Bersambung...


Terimakasih yang sudah membaca novel Because the Story, jangan Lupa tinggalkan jejak kalian dan dukungannya ya..


Salam cinta dari Raisa 😘😘😘