Because The Story

Because The Story
Putus Sekolah?



Sebelumnya dia pernah bertanya sebenarnya rupa Sani itu seperti apa, dan kini terbayar sudah rasa penasarannya akan sosok wanita itu.


"Terimakasih Kakek!" Ucap Alika lirih memeluk buku tersebut penuh sayang, Alika kembali membuka halaman berikutnya dan terdapat sebuah untaian puisi untuk Sani, puisi indah nan mampu menyejuk hati itu kian meresap menyentuh nurani, hati Alika larut dalam puisi puisi itu, sebuah untaian yang amat sangat sulit di gambarkan bagaimana perasaan rumit yang sangat sulit di ungkap mampu di jabarkan.


Sudah jelas kini pemilik buku tersebut, kata kata indah akan rindunya pada robnya, pada kasihnya, dan pada darah dagingnya.


Sebuah kalimat kalimat indah itu laksana syair Fansuri, yang terkenal akan keindahan ungkapannya dan makna yang terkandung di dalamnya, Alika memang belum mengerti maksud dari seluruh ungkapan yang terlihat mendayu dan menuntut nurani untuk berlinang itu. Namun melihat dari bagaimana ungkapan itu tertulis sudah jelas bila itu merupakan sebuah puisi Rindu.


Beberapa sandi dan penjelasannya terdapat di sana dalam bentuk aksara Sunda, memang Alika masih sangat minim belajar mengenai tradisinya itu, namun untunglah di sekolahnya dulu dia sudah belajar mengenai hal tersebut, selain dari sekolah dia juga belajar begitu banyak dari sang kakek yang selalu menuntutnya untuk jangan lelah menuntut ilmu selama nafas masih berhembus dan jantuk masih berdetak.


Tak terasa malam kian larut hingga Alika sendiri melupakan sate yang semula dia beli, matanya terus terfokus pada buku di hadapannya dan tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya.


Hal itu sungguh membuat Alika sedih namun tidak membuat dirinya patah arang, ketidak mengertiannya pada buku itu akan dia bayar lunas dengan terus belajar dan terus mempelajari unsur unsur di baliknya.


Entah mengapa rasa kantuk tak hinggap sedikitpun di mata Alika hingga adzan subuh berkumandang dan menyadarkan Alika dari lamunan, Alika bangkit membawa buku tersebut ke kamarnya dan menaruhnya di dalam laci meja belajarnya.


Alika pun tersadar akan satenya yang masih di luar kamar tepatnya berada di atas meja kecil di balkon kamarnya.


Alika mengambil satenya dan membawanya ke dapur, dia kembali lagi ke kamar dan melaksanakan sholat subuh, hawa sejuk meneliksik memberikan kenyamanan yang amat besar dalam sanubari, memberikan ketenangan dalam kegundahan yang dia alami.


.........


"Alika turun! Makan dulu!" Suara sang mamah membangunkan alika dari atas sejadah, tanpa sadar pagi ini dia ketiduran setelah bertadarus dan malah bablas sampai pagi buta.


Mata Alika serasa berat untuk di buka namun dengan perlahan dia mampu merasakan hawa dingin meneliksik memberikan kenyamanan.


"Iya mah, bentar dulu!" Alika merapikan mukenanya dan langsung meluncur ke kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang menerpa kulit putihnya.


Alika turun ke bawah setelah mengenakan pakaiannya dan melihat dua orang pembantu rumah tangganya yang sedang merapikan meja bersama sang Mamah.


"Pagi mah!" Alika langsung memeluk tubuh sang ibu dan mengecup pipinya berulang kali.


"Pagi juga sayang!" Ucap sang mamah merasakan dekapan dari puterinya dan tersenyum simpul setelahnya.


"Ayo duduk makan dulu sayang." Ucap sang mamah pada Alika, dengan senyum tulusnya Alika duduk di kursi yang telah di tarik sang ibu dan melihat papah dan Abangnya yang juga baru turun dan duduk di tempat mereka masing masing.


"Hayo bi makan dulu!" Alika menarik kursi untuk para pembantu rumah tangganya dan senyum mengembang dari wajah keduanya yang kemudian duduk di samping Alika.


"Pah boleh gak Alik ngajuin sesuatu!" Alika menatap sang papah dengan mata berbinar.


"Silahkan!" Papahnya memberikan izin pada Alika untuk mengatakan argumentasinya.


"Boleh gak kalo Alik gak melanjutkan sekolah?" Saat Alika mengatakan itu suasana berubah menjadi sunyi dan semua mata memandang pada Alika.


Begitupun sang papah yang semula tengah menikmati makanannya berhenti sekejap dan menatap puterinya yang masih tersenyum.


"Kenapa kamu mau putus sekolah?" Tanya sang papah yang memang sangat mementingkan pendidikan, meski dia tidak bersekolah tinggi namun dia amat berharap bila putera puterinya dapat bersekolah tinggi.


"Alik bukannya mau putus sekolah pah, dih!" Jawab Alika ketus karena dia merasa bila semua orang sudah salah faham akan dirinya.


"Owh, lalu?" Semua orang akhirnya bernafas lega mendapatkan penjelasan dari Alika, mereka melanjutkan makam namun lidah mereka menjadi kelu saat mendapatkan keterkejutan secara serentak seperti tadi.


"Alik mau ambil paket C aja, Alik mau langsung masuk Universitas dan mau melanjutkan study Alik agar pelajaran Alik bisa di singkat, Alik merasa bosan di sekolah!" Jelas Alika yang memang sekolah online selalu membuatnya malas dan hanya tugas yang di berikan guru tanpa penjelasan terperinci, menurutnya menuju jenjang langsung ke Universitas adalah jalan terbaik agar dirinya bisa mendapatkan ilmu lebih banyak.


"Hmmm, apa pikiranmu sudah matang? Karena bila di Universitas tentu bukan hanya pergaulan tapi juga kehidupan pun akan jauh berbeda!" Tanya sang ayah.


Ya meski dirinya tidak pernah mengenyam pendidikan Universitas namun dia yang merupakan seorang ayah sudah belajar banyak dari pengalaman puteranya Adit yang sangat sering mengeluh padanya tentang sekolahnya, sudah inilah itulah dan sejenisnya Adit ceritakan pada sang ayah.


"Insyaallah pah Alik udah siap semuanya!" Jawab Alika dengan senyum di bibirnya.


Adit sendiri tidak ingin mengambil suara dan memilih diam seribu bahasa, dia enggan berkomentar tentang apapun yang akan di ambil saudarinya menurutnya asal adiknya baik baik saja itu sudah lebih dari cukup untuknya.


"Lakukanlah sesuai dengan apa yang menurutmu benar, namun jangan salahkan siapapun bila di masa depan kamu menyesal karena tidak merasakan masa remaja sesungguhnya!" Tegas sang ayah memberikan ancaman.


Namun bagi Alika kini dia tidak akan pernah menyesal karena merenggut masa mudanya untuk pendidikan, kesenangan bisa dia dapatkan kapanpun dia inginkan saat mimpinya terwujud kelak.


"Mau ambil jurusan apa?" Tanya sang abang yang akhirnya buka suara karena penasaran.


"Sastra Sunda kak!" Semua orang yang tengah lahap pun tiba tiba tersendat mendengar ucapan dari Alika, tak ada yang menyangka bila seorang wanita moderen yang sangat trendi dan kekinian seperti Alika akan mengambil jurusan yang amat sedikit minatnya itu, bahkan para anak muda zaman sekarang tidak ada yang berminat masuk ke sana bila bukan paksaan dari keluarganya, tapi Alika malah dengan jelas memberikan pilihannya sendiri.


"Sastra Sunda?" Ulang Adit merasa sedikit tak percaya dengan telinganya semula, namun matanya pun di buat buram saat melihat anggukan Alika.


Bersambung...