
"Aku sudah tahu yang akan mereka lakukan, tidak perlu khawatir." Ucap Ubay santai dan melihat barang barang yang berhasil mereka dapatkan.
"Kamu beli cincin itu untuk apa bay? Mau di kasihin ke pasangan boy mu?" tanya penembak jitu yang memang sedikit rewel dan sangat suka menyinggung Ubay.
"Fedrix bila kamu kembali berkata seperti itu, akan ku pastikan bayaranmu ku potong." Ubay berucap dengan kesal dan berjalan dengan rambut dan pakaian basahnya menuju sebuah mobil yang sudah menunggu mereka.
Malam yang teramat panjang pun berhasil Ubay lewati. Di kamar Ubay dia memperhatikan cincin indah yang kini ada di tangannya, sangat sulit membayangkan bagaimana ekspresi gadis yang akan mendapatkan cincin itu, dia terus tersenyum memandanginya dan terlelap setelahnya.
.........
Pagi itu Ubay sudah bersiap akan ke ibu Kota karena mendapatkan panggilan dari sang Ayah, namun dia kembali tersenyum saat menyelipkan cincin mewah tersebut pada sebuah kotak merah khas emas di toko toko biasa itu.
Ubay benar benar tidak ingin menunjukkan harga dari barang yang akan dia berikan, karena melihat ekspresi Alika saat kehilangan botolnya saja itu sudah menunjukan bila Alika bukanlah sosok matre dan sangat menghargai barang pemberian dengan sebuah ketulusan, benar bila hadiah tidak akan menilai jumlah yang di habiskan untuk membelinya, namun sosok orang yang memberikannya yang menjadi hal mahal dalam hadiah tersebut.
.........
Beberapa kali Ubay sempat terenyuh saat melihat Alika yang menangis sesegukkan dalam pelukan Adit, ingin sekali dirinyapun mendapatkan pelukan selamat tinggal yang sama seperti yang Alika berikan pada abangnya. Namun saat itu memang mungkin mengharuskannya sabar menunggu, dan membiarkan Alika kecil menikmati hidupnya terlebih dahulu.
Saat Ubay merogoh sakunya dia berencana memberikan benda itu pada sang kakek agar beliau yang memberikan benda itu pada Alika, namun sang kakek menolak dan meminta Ubay untuk memberikannya sendiri.
'Ayolah Muhammad Irham Alfian Ubaydillah, kamu pasti bisa!' ucap Ubay dalam hati memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Saat pelukan Alika beralih dari Adit ke kakeknya, Ubay memberikan kotak tersebut dan masih dalam tangis Alika menerima benda tersebut dan terus menangis dalam pelukan sang kakek.
Ubay tersenyum sekilas dan menatap sang kakek dan di angguki kakek Alika dan seakan memberikan kode mata merekapun pergi saat mendapatkan wanti wanti dari kakek Alika atau Jaka.
Jaka sempat bingung dengan kejadian hari itu seakan dia bertemu dengan kawan lamanya yang kini telah tiada, apalagi Ubay mampu berbicara lewat mata sama persis seperti Jajang dahulu saat bersamanya.
Tidak ada penolakan sama sekali dari hati kecil Jaka bila Ubay akan menjadi cucunya kelak, dia juga melihat cinta yang besar di mata Ubay pada Alika hingga membuat hatinya tentram akan hal tersebut.
Saat di perjalanan Ubay masih membayangkan sosok Alika yang masih menangis, dia berpikir sangat jauh bila mana dirinya memang di takdirkan bersama dengan Alika, apakah Alika juga akan menangisinya saat dia akan bertugas ke luar negri, mungkin bila tangis Alika sampai seperti itu Ubay akan lebih memilih membatalkan tugasnya atau memboyong Alika ikut bersamanya, dia benar banar merasa tidak sanggup bila harus jauh dari sosok Alika yang kini sudah jelas terukir di hatinya.
Cinta memang tidak membutuhkan waktu lama untuk terukir, dia akan sangat nyaman saat mendapatkan hati yang aman, begitupun cinta yang kini di rasakan Ubay untuk Alika, tidak membutuhkan waktu lama untuk hatinya merasa nyaman dengan rasa yang baru tumbuh di hatinya itu.
Saat di perjalanan menuju ibu Kota Ubay sempat melakukan beberapa percakapan dengan Adit yang memang lebih mengenal Alika.
"Dit, Alika itu sangat menyukai apa?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Ubay saat Adit nampak tengah mengelus rambut Tia yang nampak terlelap dalam pelukannya di kursi belakang.
"Kenapa tanya tanya mengenai adik orang!" Tegas Adit sinis, jelas dirinya belum siap bila orang seperti Ubay mengejar adiknya yang sangat polos itu.
"Sinis bener, aku cuma tanya doang! Tenang aja aku akan sabar nungguin dia." Ucap Ubay memberikan pengertian pada Adit yang terlukis jelas raut kekhawatiran di wajahnya.
"Awas kalo sampe macem macemin dia! Oke gue jawab, dia itu sangat suka main game online, dia juga cukup mahir dalam permainan semacam itu." Jawab Adit dengan sedikit ancaman dia sematkan pada Ubay.
Ubay tersenyum sekilas, tidak butuh waktu lama dirinya mengunduh beberapa aplikasi yang di sebutkan Adit, sedangkan sang supir sekan menjadi pendengar setia mereka dalam setiap pembicaraan yang memang merujuk pada sosok bernama Alika.
"Apa ID Alika?" Tanya Ubay lagi pada Adit yang nampak kini membuka ponselnya.
"Gila lo berhasil menumpas seluruh monster di sektor C dan jadi juara dalam satu jam, gila!" Ucap Adit, bukan menjawab Adit malah mengagumi penampilan kawannya tersebut.
"Apa ID Alika?" Tanya lagi Ubay nampak sedikit kesal dengan Adit yang nampak tengah terkagum kagum.
"Itu yang lo injak barusan itu Alika." Ucap Adit melihat profil Ubay yang menjadi top, top up bulan itu dan menjadi trending topik seketika.
Tanpa menjawab Ubay lantas melihat akan yang berada tepat di bawahnya, melihat profil Alika yang nampak menggemaskan, Alika nampak sangat jauh berbeda dari dunia realnya.
"Dia sangat manis." Ucap Ubay sekilas melihat sosok animasi yang di gunakan Alika sebagai foto profil dalam game tersebut.
"Manis tapi sangat beracun!" Singgung Adit menambahkan bagaimana Alika yang selalu menjadi bahan gunjingan dalam game tersebut.
"Sekte macam apa yang dia tempati ini, ya ampun dia hanya numpang di sekte itu." Ubay sedikit ngenes melihat bagaimana Sekte yang kini di tinggali Alika.
"Itu Sekte mantannya dia, dia pernah pacaran dan baru putus sebulan lalu, akibat pacarnya selingkuh." Ucap Adit kesal.
"Sebentar, jadi maksud lo mereka semua gak ada yang tahu kalo ID itu milik Alika?" Tanya Ubay lagi merasa sedikit penasaran.
"Ya begitulah, buat Sekte yo!" Ajak Adit penuh harap.
"Oke!" Jawab Ubay singkat dan langsung membuat Sekte dan manjadi Viral seketika, begitu banyak player yang ingin turut dalam Sekte Ubay namun Ubay tolak semuanya dan hanya ada Ubay dan Adit saja dalam sekte tersebut.
"Sayang, lagi apa?" Tia tiba tiba melengguh terbangun dan melihat ponsel suaminya.
"Wah, akun sultan siapa itu?" Tanya Tia penasaran melihat aksesoris yang di kenakan dalam game tersebut yang nampak mahal semuanya.
"Tuuh..!" Adit menunjukkan orang yang memiliki akun tersebut dengan bibirnya yang mengerucut menunjuk Ubay.
"Owh pantes, aku ikut gabung dong!" Pinta Tia mengambil ponselnya dan login pada game tersebut.
Dengan cepat Tia izin masuk dan di acc oleh Ubay, "aku tidak menyangka, ternyata kalian pemain game semacam ini!" Ungkap Ubay kemudian.
Kini begitu banyak player yang memberikan follow pada akun Ubay namun tidak satupun yang dia follback dan dia sendiri hanya memfollow satu orang yaitu Alika dengan ID AlA, ide jahil pun keluar dari Ubay dan memberi nama pada ID nya Al.
"Al?" Adit sedikit mengangkat alisnya melihat ID aneh yang di gunakan Ubay.
"Alika itu Al, dan namaku juga Alfian, Al huruf awalannya, apa ada yang salah kakak ipar?" Ucap Ubay jahil dan membuat Tia terkekeh namun Adit sendiri merasa tidak suka.
Bersambung...