Because The Story

Because The Story
Gadis Keren



Seorang pria nampak berjingkrak di belakang Alika dan menatap tajam ke arah Kejora, Kejora nampak santai tidak perduli dengan kedatangan pria tersebut.


"Nek! Akukan udah bilang, jangan keluyuran!" Ucap pria tersebut dan sontak saja Alika berbalik dan menatap pria dengan tahi lalat di sudut bawah mata kirinya dengan kulit putih bersih dan rambut yang nampak basah.


"Woi, jaga baik baik bicara sama orang tua!" Bentak Alika, dan saat mata mereka beradu, jantung pria itu seakan terpompa sangat kencang menatap wajah cantik di hadapannya.


Pria itu nampak mematung memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambut gadis di hadapannya, matanya merujuk pada baju di balik jaket alika dan cincin di jari manis Alika, dengan rambut Alika yang terurai indah dengan sedikit ukiran yang memperlihatkan pipi kirinya, karena rambut yang terangkat memberikan kesan elegan.


Melihat cucunya yang nampak terpesona oleh sosok Alika, Kejora pun menyelipkan kartu namanya di tas selempang Alika lalu berjalan menuju mobil dengan supir yang nampak tengah berjaga.


"Kita pulang! Tinggalkan saja tuan muda mu itu, kalo kamu berani mengganggu dia sekarang, kamu pasti akan di pecat!" Ancam sang nenek dan langsung di angguki supir tersebut, membukakan pintu untuk Kejora.


"Ngapain lo ngeliatin gue kaya gitu? Gak pernah liat cewek cantik lo!" Singgung Alika dan menarik baju kaos pria tersebut kasar.


"Kamu cantik" lirih pria tersebut dan sontak membuat Alika sangat kesal mendapatkan pujian dari orang asing tersebut.


"Grr.. Minggat lo, gue yang bakal jagain nenek lo kalo lo gak mau jagaian dia!" Sentak Alika melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuh pria itu sangat kasar.


"Arrgh.. Ck, nenek udah pulang kayanya dan sekarang kamu yang harus jagain aku!" ucap pria tersebut tersenyum semirak.


Alika terkejut menatap ke belakangnya dan benar Kejora sudah tidak ada di sana, Alika sangat kacau. Alika bahkan belum mendapatkan kontak Kejora dan alamat rumahnya, Alika juga belum mendengar kisah panjang Kejora yang amat sangat dia nantikan itu.


"Aargh.. Ini semua gara gara lo tau! Gue bertahun tahun nyari keberadaan nenek Kejora dan sekarang dia pergi gitu aja, ini semua gara gara lo tau!" Alika murka bahkan beberapa orang nampak memperhatikannya yang tengah menunjuk nunjuk pria di hadapannya.


"Aku cucunya, kenapa mesti pusing?" Ucap pria tersebut tersenyum simpul.


Alika terdiam sejenak berpikir akan kebodohannya, jelas jelas bila pria di hadapannya itu adalah cucu Kejora kenapa dia harus pusing pusing tentang semua hal itu.


"Oke, lo cucu julid! Anterin gue ke rumah nenek lo!" Bentak Alika sedangkan pria itu terkekeh melihat kelakuan Alika yang nampak menggemaskan di matanya.


"Aku gak bawa duit buat manggil taxi ataupun angkot, mobil yang tadi sama gue juga di bawa kabur nenek." Keluh pria tersebut mengangkat bahunya menjelaskan kondisinya.


"Nih, panggil taxi, gue ikutin lo dari belakang!" ucap Alika menyerahkan uang berwarna merah pada pria tersebut.


"Kamu gak bareng aku aja sekalian?" pria tersebut mengekori Alika yang nampak menuju parkiran sepeda, dan di lihat sebuah sepeda yang akan di goes Alika.


"Gue gak bisa naik mobil, kalo lo mau ikut gue duduk baik baik di belakang!" ucap Alika yang sudah siap menggoes.


"Mana duit gue?" pinta lagi Alika menyodorkan tangannya meminta lagi uang yang sempat di berikannya.


"Barang yang sudah di kasih tidak boleh di pinta lagi." tegas pria itu dengan senyum terukir di bibirnya.


"Yalah, terserah kau sajalah, ayo!" ajak Alika, dengan senyum yang masih mengembang pria itu duduk di belakang, Alika mulai menggoes sepedanya dengan lancar namun beberapa kali paha Alika terlihat hingga menjadi tontonan pria pria nakal yang menatapnya.


"Hey, berhenti! Berhenti!" pria itu menghentikan Alika dan sontak saja Alika pun berhenti dan mendengus sangat kesal.


"Ck, apa lagi si?" tanya Alika kesal melihat pria itu yang nampak berlari ke arah sebuah warung kelontongan dan nampak membeli beberapa barang.


Alika yang melihat itu sontak membanting sepedanya refleks dan berteriak seraya berlari ke arah pria asing yang baru di temuinya hari itu.


"Awaaas..!" ucap Alika mendorong tubuh pria itu dan tubuhnya hingga terjatuh di trotoar jalan, nafas Alika terasa berat setelah kejadian itu, tanpa sadar kini sepasang mata tengah memperhatikannya yang kini Alika himpit di bawahnya, dengan ganas Alika kembali berdiri dan melihat mobil yang baru saja akan menabrak orang itu.


Nampak beberapa polisi lalu lintas menghampirinya dan menghentikan mobil tersebut, namun dengan langkah cepat Alika menghampiri mobil tersebut dan mengetuk kaca depannya.


"Woi, keluar lo bener bener gak punya SIM sudah mau berkendara!" Sungut Alika dan seorang pria yang nampak tengah mabuk keluar dari mobil dan menatap Alika kehausan.


"Owh, wanita cantik kenapa kamu galak sekali!" Goda pria tersebut melantur, beberapa polisi nampak menenangkan Alika dan mencatat pelat nomor mobil tersebut.


"Maaf pak, mohon perlihatkan surat surat kendaraan anda dan surat tanda pengenal anda!" Ucap salah satu Polisi lalulintas.


"Diam kau! Owh cantik mau ikut abang main main sayang?" Tanya pria mabuk tersebut menyentuh dagu Alika dengan memberikan khas pria kehausan.


Bugh, sebuah pukulan tiba tiba nyasar mengarah bagian sensitif pria tersebut, Alika dengan sangat cekatan mengambil sebuah borgol dari salah satu polisi dan memborgol pria tersebut dan menyangkutkannya sebelahnya ke arah pegangan pintu mobil tersebut.


"Lo berani nyentuh gue?" sungut Alika menatap tajam pria tersebut.


Namun tanpa di ketahui Alika karena dia merasa pria itu telah kalah namun ternyata pria itu kini membawa sebilah pisau dan menarik lengan Alika dan mengekang lehernya dengan pisau tersebut.


"Alik!" pria asing yang semula bersama Alika sontak memanggil nama Alika, Alika sedikit terkejut menatap lekat kekhawatiran yang kini terpancar dari wajah pria asing tersebut.


"Gadis kecil, kamu berani mengancam ku?" ucap pria itu dan kian menempelkan pisau tersebut pada leher Alika.


Beberapa polisi nampak menodongkan pistol mereka pada pria mabuk tersebut, namun pria mabuk tersebut malah kian menjadi, sebelah tangannya yang terborgol berusaha meraih rok Alika yang nampak tersibak.


Melihat hal tersebut Alika menjadi murka dan memelintir tangan pria tersebut dan dengan cepat mengunci pria tersebut menjatuhkan senjata tajam yang semula berada di tangannya.


"Dasar banci, jadi pria hanya modal burung aja!" ucap Alika mendorong pria tersebut dan merapikan jaketnya yang semula nampak acak acakan.


"Lo, asem! Siapa nama lo?" Tanya Alika kasar, sudah jelas pria itu mengenalnya namun mungkin dirinya saja yang tidak menyadari siapakah pria tersebut, mungkin pria itu satu kampus dengannya pikir Alika.


"Kamu keren!" Hanya dua kata itu yang terucap dari pria tersebut dan berlalu meninggalkan Alika menghampiri para Polisi yang kini tengah mencatat identitas pria tersebut.


Cukup lama pria tersebut mengabaikan Alika dan kembali berbalik menatap Alika yang masih berdiri menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya.


"Kamu gak usah khawatir mengenai pria itu, aku sudah buat laporan dan dia pasti mendapatkan hukuman berat. Ayo sebaiknya kamu pulang saja, biar aku antar." Pria tersebut mengambil sepeda Alika yang semula di lempar Alika untuk menyelamatkannya.


"Gak! gue mau ketemu sama nenek Kejora, titik! Gue bisa istirahat di rumah nenek lo nanti!" ucap Alika kekeh dengan pendiriannya.


"Bagus deh, ayo gue yang goes, hati hati roknya kena jari jari sepeda." Amanat pria asing tersebut, Alika dengan berat hati duduk di kursi penumpang.


Bersambung..