Because The Story

Because The Story
Tafsir Mimpi



"Kakek?" Alika dengan biasanya sangat riang tersenyum lembut dan langsung nyelonong masuk ke dalam kamar sang kakek.


"Iya nak!" Jaka nampak tengah membaca di atas ranjangnya dengan senyum simpul menatap pintu yang terbuka dan cucu kecilnya.


"Kakek katanya suka ke makamnya kakek Jajang? Boleh gak Alik ikut?" Alika langsung menghambur dan memeluk sang kakek.


"Iya, kenapa tiba tiba ingin ke sana?" Tanya sang kakek heran dengan sikap cucunya.


"Alik habis mimpi buruk kek, buruuk banget! Mau dengerin gak kek!" Alika bersemangat menceritakan mimpinya malam itu hingga membuatnya sulit tertidur.


"Tentu saja, silahkan kakek dengarkan!" Sang kakek yang memang sudah terbiasa mendengar keluh kesah Alika, diapun membiarkan cucunya untuk bercerita.


"Begini kek, tadi malam aku mimpi aneh banget, mimpi itu seakan akan nyata dan sangat jelas, entah ini efek dari cerita kakek atau bukan tapi mimpi ini sangatlah aneh kek. Begini ceritanya..." Alika mulai menceritakan mimpinya yang aneh itu.


...***...


Guruh gempita membahana menggetarkan cakrawala, langit malam terlihat kelam dengan awan di langit dengan sinar dari petir yang berkelebatan.


"Bilalah ada waktu untuk kita bertemu kembali pastilah akan aku peluk dunia dan ku dekap kehangatan mentari!" Ucap suara yang tiba tiba terdengar namun tidak jelas siapa yang berucap.


"Bilalah malam bisa gelap dan siang berkilauan mampukah aku menemui mu adinda!" Sebuah gubuk tua dengan remang sinar dari obor minyak kecil menyinari.


"Seandainya waktu mampu berputar ke belakang, menyesallah aku yang membiarkanmu sendiri adinda!" Ucap seorang pria yang kini nampak jelas urat tua di tangannya mengusap sebuah lukisan tua bergambar wanita cantik dan mempesona.


"Bila waktuku tiba, mampukah kita untuk bersama adinda. Rinduku kini menyiksaku cintaku telah habis dan musnah, mimpi kita telah terwujud sayang!" Lirih lagi pria tua itu dan mengusap lukisan itu kemudian.


(Sebuah ingatan tiba tiba mengelebat dalam kepala Alika seakan dia masuk ke dalam buku yang berada dekat pria itu).


Pemandangan awal berupa hutan khas tropis terpampang jelas di upuk mata Alika, nampak kera bergelayun dalam batang pohon yang seakan menyatu membawanya pada sebuah tempat nan indah.


Sebuah padang rumput dengan bunga bermekaran dan seorang pria seakan melambai.


Mata pria itu nampak indah berwarna coklat terang dan kulit putih bak rembulan, rambut yang hitam dengan sebuah pandangan yang seakan meneliksik menerpa nurani.


"Aku..?" Alika seakan tersadar dalam mimpi itu menatap tangannya yang putih dengan gaun indah menjuntai ke tanah, sebuah bunga nampak terukir di pergelangan tangannya.


Kakinya terasa ringan seakan melayang mendekati pria itu, namun sebuah suara seakan menggetarkan jiwanya, di belakangnya nampak Ipung yang tengah berseru.


"Alika berhenti!" Ucap Ipung dan langsung menembakkan sebuah pistol pada Alika namun pria yang memintanya mendekat seperti melayang dan menghadang peluru itu dengan tubuhnya.


"Tidaaak..!" Teriak Alika dan berlari menuju pria itu dan langsung memeluknya erat.


"Tu...tung..gu a..ku.. A..li..ka!" Ucap pria itu terbata bata dengan darah dalam jas putihnya yang kini merona.


Pengelihatan Alika tiba tiba mengabur dan melihat pria itu yang masih dalam pelukannya namun dengan pagi yang berubah menjadi malam, hawa panas seakan menerpa wajah Alika dan warna jingga terpampang jelas di sana.


Sebuah pemandangan yang sangat aneh terlihat di mana selain pria dalam dekapannya kini nampak banyak wanita yang meninggal, bayi bayi yang tidak terhitung jumlanhnya menumpuk di depan wajah Alika.


Nampak Ipung pula masih dalam posisinya seperti tengah menembaki para wanita dan kemudian gambaran itu menghilang dan berganti menjadi sebuah desa yang terbakar.


Asap nampak mengepul ke angkasa, nyawa nyawa manusia tak berdosa nampak melayang menjauhi jasadnya, namun pria dalam pelukannya menghilang entah kemana.


"Alik...!" Seorang pria terdengar lirih memanggil namanya, tangannya melingkari leher Alika dan membuat mata Alika membulat saat Jas putih dengan ukiran mawar yang tertanam lembut di ujung jasnya terlihat dalam pandangan Alika.


...***...


"Tamat" ucap Alika kemudian, dan membuat sang kakek penasaran. Jarang sekali cucunya menceritakan mimpi aneh semacam itu.


"Tidurnya setelah istiqoroh ya?" tebak kakeknya namun tanpa ragu Alika pun mengangguk.


"Lalu apa pilihanmu?" tanya sang kakek lagi pada Alika.


"Yang jelas, Alik mau ikut sama abang dulu ke Kuningan mau sekolah di sana dan mau buat mamah sama papah bangga sama Alik, terutama kakek, tapi ingat kakek jangan nakal saat sama nenek ya!" ucap Alika mewanti wanti kakeknya.


"Memangnya kakek nakal?" Sang kakek terkekeh saat mendapatkan teguran dari cucunya dan mencubit hidung mancung Alika.


"Nakal banget kek!" Ucap Alika dan langsung mengecup pipi kakeknya hingga kenakalan cucunya itupun usai kakeknya selalu kalah telak dari Alika.


Alika terkekeh saat melihat kakeknya yang kalah telak darinya, sungguh mimpi itu sebenarnya tidak sependek itu namun sangatlah panjang.


...***...


Setelah tangan itu terukir di leher Alika dia menatap ke arah depan dan melihat pemandangan bunga yang bermekaran.


Seakan terbuai dalam kenyamanan dari pelukan yang dia rasakan di belakangnya Alika terhanyut dalam melodi dan mewangi bunga yang tertiup angin.


Alunan merdu suara pria di belakangnya mampu menyejukkan hatinya, sebuah lagu yang tidak pernah di dengar Alika pun terdengar sangat nikmat di telinganya.


"Rintihan rinduku, rintihan kelabu..." Begitu kutipan lagu yang seakan terus terngiang di telinga Alika.


"Siapa kamu..?" Lirih Alika namun tubuhnya tak sanggup menatap pria yang kini mendekapnya, bukan jawaban yang di berikan namun hembusan angin seakan membawa pria itu menjauh darinya.


Dan benar saja saat Alika berbalik menatap pria itu, dia seakan akan sudah mulai menghilang dalam hembusan angin, sesak dan perih di rasakan alika karena tak dapat berjumpa dengan pria asing yang mampu membuatnya nyaman itu.


"Siapa kamu!" Teriak Alika hingga seakan nafasnya sesak dan air mata mengalir, peluhnya berjatuhan hingga angin sepoi sepoi menerpa tubuhnya dan di saat itulah Alika terbangun dari tidurnya.


Saat melihat Ipung dari balik jendela Alika merasakan sesak luar biasa seakan mimpi itu benar benar nyata.


Bila memang itu adalah petunjuk, maka dia harus menjauh sebisa mungkin dari Ipung, dan bila memang mereka berjodoh tentu Tuhan pun akan menyatukan cintanya itu.


Mungkin sugesti dari mimpi itu berhasil menggeser sedikit haluan dari pandangan Alika dan usianya pun masih terbilang muda, dia masih ingin menikmati hidup dan bersuka cita, dia sama sekali tidak pernah berkeinginan untuk menikah muda.


Keputusan Alika pun sudah bulat untuk ikut bersama sang kakak, bila memang dirinya dan Ipung tidak dipersatukan lagi mungkin dia bukanlah jodohnya.


Bentuk pasrah seperti itu memang di perlukan dalam sebuah hubungan agar saat kita mengalami kegagalan rasa kecewa pun tidak akan terasa begitu besar.


Segala hal yang ada di dunia ini semata mata adalah milik tuhan dan semuanya hanyalah titipan, itulah hal yang menguatkan tekad Alika.


Bersambung...