Because The Story

Because The Story
Tamu tak diundang



"Hallo?" nenek Kejora nampak menghubungi seseorang, dia kini sudah berada di kamarnya dan menampakkan wajah kesal.


"Iya bu, assalammu'alikum?" sura pria yang terdengar berwibawa dan penuh karisma terdengar dari balik telpon.


"Wa'alikum salam, kamu kemarilah sekarang! Anakmu membuat ulah, dia menghamili anak orang!" ucap nenek Kejora.


"Apa? Menghamili anak orang? Siapa yang dia hamili?" tanya pria di balik telpon terdengar girang dan penuh semangat.


"Aku memberi kabar buruk, tapi kau malah terdengar senang, cucu dan anak sama saja! Cepat kemari sebelum fajar datang aku mau kau di sini!" tegas Kejora menahan amarah dan menutup ponselnya.


***


Saat itu Alika baru pulang dan tiba di rumahnya langsung bergegas ke lantai atas menuju kamarnya, orang orang yang nampak masih berkumpulpun merasa kebingungan dengan tingkah Alika.


"Aduuh, sakit banget!" keluh Alika dan langsung meluncur ke kamar mandi.


"Aah, bajunya juga kena darah dan waaah banyak banget keluarnya!" ucap Alika lagi memerutuli pakaiannya satu per satu dan mengaitkan tas selempang dan keresek putih khas apotek.


Alika membersihkan tubuhnya dan mencuci pakaiannya sendiri akibat darah yang mengenai gaun indah tersebut, Alika mencuci pakaiannya hingga bersih dan mandi setelahnya.


Tubuh Alika kembali segar saat suasana panas hari ini sungguh memberinya banyak kejutan, entah bahagia ataupun perasaan aneh apa yang kini mengganggu pikiran Alika namun senyum yang selalu terukir di wajahnya menandakan bagaimana perasaannya kini.


Setelah selsai dengan berbagai urusannya Alikapun keluar dari kamar mandi dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur besar dengan seprai berwarna merah muda itu.


"Alik?" suara ketukan pintu dan panggilan dari luar kamar Alika terdengar menerpa telinga gadis itu saat matanya akan terpejam.


Piama berwarna senada dengan seprai di kamarnya itu menandakan bagaimana sifat peminim Alika, meski dirinyapun terkadang bergaya ala pria namun sebenarnya diapun adalah singa berhati helokitty.


"Iya, masuk aja gak di kunci!" ucap Alika bangun dari tidurnya dan menatap orang yang kini masuk ke kamarnya.


Pria berusia lebih tua dari Alikapun masuk menuju kamar Alika dan membuka kamar mandi dan nampak tengah mencari cari sesuatu hingga akhirnya sasarannya tertuju pada sebuah keresek putih.


Adit mengobrak abrik isi keresek putih tersebut hingga benda yang dia caripun tidak dia temukan, namun dia menemukan perlengkapan wanita yang tengah datang bulan dengan vitamin vitamin yang sering di makan orang datang bulan.


"Datang bulan de?" tanya Adit menyelidik Alika yang nampak lelah.


"Iya, aduuh sakit banget pinggang Alik bang!" ucap Alika memijit pinggangnya yang begitu terasa sangat menyakitkan.


"Feet, huahahah! Untunglah.. Gue balik ke bawah, cepet makan!" ucap Adit tertawa puas dan kembali keluar kamar Alika, Alika menatap heran ke arah abangnya.


Sebelumnya dia mendapatkan pesan dari Ubay bila Alika membeli testpec, namun ternyata kini hanya Aditlah yang mengetahui kesalah fahaman yang tercipta di antara mereka.


Aditpun membalas pesan Ubay dan meluruskan semuanya, dia memang tidak keberatan bila Alika dan Ubay menikah, namun seperti Ubay dia ingin bila adik perempuannya itu di nikahi dengan hormat dan sebuah kejujuran dan tanpa politik atau antek antek di dalamnya, karena bila sebuah hubungan sudah di awali dengan tidak baik tentu itu juga akan berakhir tidak baik.


***


Di tempat lain Ubay menghembuskan nafasnya kasar saat mendapatkan balasan pesan dari Adit, Ubaypun akhirnya merasa tenang dan melihat jam yang sudah beranjak menuju jam enam sore, itu tandanya seharian ini Alika tidak makan apapun kecuali ice crame.


Ubay tersenyum sekilas, dia benar benar syok sebelumnya namun dia juga percuma menghentikan dua mahluk sok tau seperti nenek dan ayahnya, Ubay lebih memilih membiarkan dua orang itu merasa malu setelahnya.


***


"Sudah jangan istirahat, pagi ini juga kita harus mendatangi kediaman Alika, kasihan gadis baik itu harus menanggung beban dunia yang seberat ini!" ucap lirih nenek Kejora mentap sebuah mobil mewah menepi di pelataran rumahnya.


"Ubay...! Masuk kamu!" teriak nenenk Kejora memasukan cucunya yang tampan ke dalan mobil yang mana ayahnya masih di dalam dan belum beristirahat.


"Kamu hebat nak!" ucap Fajar atau ayah ubay menepuk punggung putra satu satunya itu.


"Hebat apaan si pih? Ingat! Kalo nanti kalian buat malu aku tidak akan ikut campur!" ucap Ubay di himpit nenek dan ayahnya antara kiri dan kanan.


"Jangan banyak omong kosong! Ayo berangkat!" ucap nenek Kejora memberi isyarat pada supir untuk berangkat menuju kediaman Alika.


***


Pagi itu Alika yang masih setia dengan piamanya tengah menyiram tanaman bonsai di depan rumahnya dengan beberapa tanaman bunga, dan tanaman hias lainnya.


Tidak jauh dari tempat Alika menyiram tanaman terdapat sebuah kolam ikan mas dan beberapa ikan hias yang memang menjadi hobi sang ayah.


Sebuah mobil mewah nampak berhenti di depan rumahnya dan seorang satpam nampak keluar yang semula tengah di garasi mempersiapkan mobil karena hari ini abang dan kakak iparnya sudah pulang ke rumah baru mereka, sedangkan ayah dan ibunya akan ada acara di area perkebunan kopi di kampung halaman sang mamah.


"Milari sahanya kang?" tanya satpamnya saat seorang pria keluar dari kursi kemudi.


"Ini maaf, tuan saya ada perlu dengan pemilik rumah, apa mereka ada di rumah?" tanya pria tersebut berkata dengan tegas.


"Oh, aya aya kang, mangga!" satpam itupun membukakan pagar rumah besar itu dan memberi jalan pada mobil yang kini nampak menghampiri pelataran rumah Alika dan berhenti di depan pintu rumahnya.


Alika acuh tak acuh akan hal tersebut, dia berfikir bila mereka memiliki urusan dengan ayahnya dan tanpa memperdulikan Alikapun kembali bersenandung dan menyiram tanamannya.


Ubay membiarkan ayah dan neneknya masuk ke dalam rumah Alika dan di sambut oleh kedua orang tua Alika yang memang tidak tahu apa apa tentang kesalah fahaman yang terjadi.


Ubay memilih mendekat ke arah gadis yang nampak mengenakan piama dan rambut di ikat buntut kuda, Ubay menatap bagaimana Alika yang nampak sangat mempesona dengan handset di telinganya dan senandung merdu yang dia alunkan.


"Alika!" ucap Ubay hingga akhirnya Alika berbalik dan mata yang membulat menatap pria yang kini nampak berdiri di belakangnya.


"Eh kamu? Ngapain di sini?" tanya Alika mematikan sebuah benda kecil berupa rediao kecil zaman dulu yang merupakan pemberian kakeknya.


"Nganter nenek sama papih, dia katanya ada urusan kesini dan sekalian aku anterin." ucap Ubay tersenyum lembut.


"Owh!" Alika berucap singkat dan meraih sebuah gunting kecil dan menggunting beberapa ranting pohon bunga mawar putih yang nampak sudah sangat besar.


"Aw.. Ssst..! Ah sial!" ucap Alika melihat darah yang mengalir di tangannya karena tertusuk duri mawar.


"Kamu itu hati hati dong!" ubay sontak berhambur mengambil tangan Alika dan memasukan jari yang nampak lentik itu ke dalam mulutnya.


Sensasi lembut di berikan mulut Ubay dan dengan pipi yang begitu memanas Alika menatap bagaimana kekhawatiran yang terpancar dari wajah pria yang kini berada tepat di hadapannya, Ubay melepaskan jari Alika dari dalam mulutnya dan melihat darah yang sudah berhenti mengalir.


"Te..terimakasih." ucap lirih Alika menarik tangannya dan merasakan debaran dadanya yang luar biasa, dari tamu yang tidak di undang itu.


Bersambung...