Because The Story

Because The Story
Contoh



Di tepi pantai dengan ombak yang saling mengejar dan menghampar di pantai hingga akhirnya kembli ke laut dan memulai lagi kegiatannya, Kejora dan Satria masih terdiam di bawah pohon kelapa dengan senandung angin yang menerpa kulit mereka.


"Bagaimana apa kamu bersedia Sat?" tanya Kejora penuh harap menatap mata Satria sangat lekat.


"Ya bila itu adalah pendapatmu dan menurutmu jalan terbaik maka aku bersedia." ucap Satria dalam deburan dada yang sama kerasnya dengan ombak.


"Terima kasih, Satria." ucap lagi Kejora hingga akhirnya dirinya berdiri dan meninggalkan Satria sendirian.


Setelah melihat Kejora berlalu Satria lantas berjingkrak seakan ingin memeluk seluruh lautan dia menghempaskan dirinya ke pantai dan berteriak penuh kebahagiaan.


Kejora yang senyap mendengar teriak kebahagiaan itu lantas tepuk jidat, dia tidak habis pikir dengan sikap yang dimiliki Satria, Satria adalah sosok yang sangat pemberani dan sangat menjunjung kebenaran dan kemajuan kampungnya, namun melihat kebahagiaan yang di rasakan Satria, rasa hangatpun menggeliat memenuhi dada Kejora.


Hingga akhirnya acara penolakanpun berlangsung, semua orang terpaku karena tidak tahu apa apa mendengar pengakuan Kejora bila Satria adalah suaminya, dan lagi para pendatangpun akhirnya mundur, mau bagaimana lagi mereka juga seorang pedagang dan tidak berniat jahat.


"Oh baiklah bila seperti itu, aku ucapkah mohon maaf tuan karena sudah lancang melamar isteri anda." ucap saudagar itu mengulurkan tangannya hendak berpegangan dengan Satria.


"Tentu saja tuan, bila memang anda memerlukan bantuan lain maka katakan saja padaku. Namun maaf Kejora adalah isteriku, aku tidak ingin bila dia meninggalkanku." ucap Satria menjabat tangan saudagar itu.


"Hahahah, tentu saja tuan. Sebelumnya aku menghantarkan lamaran atas ketidak tahuan dan akhirnya menjadi kesalah fahaman bila memang memerlukan bantuan tanah Arab terbuka untukmu." ucap saudagar itu dan mengucap salam setelahnya.


Merekapun akhirnya berpamitan dan meninggalkan kampung tersebut, kini sorot mata warga desa tertuju pada Satria dan Kejora yang mengaku sudah menikah, mereka saling beradu pandang sebelum akhirnya berakhir menatap keduanya.


"Maaf semuanya, aku bisa jelaskan semuanya!" ucap Satria gugup, sikap dewasa yang sebelumnya hilang seketika menjadi gugup gagap gempita.


"Ayo kita adakan pesta!" seru salah satu warga desa dan di soraki oleh semua orang.


"Ta..tapi kami tidak benar benar menikah, kami hanya berpura pura!" tegas Satria dan semua orangpun terdiam menatap keduanya kembali.


"Jadi begini, kami memang belum menikah tapi kami berencana akan segera menikah, itulah sebabnya kami belum benar benar menikah." ucap Kejora lagi, sifat inilah tang mungkin kini turun pada cucunya Ubay, sifat yang selalu membuat orang lain terkaget kaget.


Semua warga desapun mengangguk faham kecuali Satria yang kini nampak gugup bukan kepalang, entah mimpi apa dia malam itu hingga akhirnya mendapatkan berkah yang luar biasa semacam itu.


"Iyakan Satria?" tanya Kejora berharap pria itu jujur dengan perasaannya, sebuah anggukan kecil di berikan Satria dan akhirnya semua orangpun bersorak kegirangan mendapatkan kabar gembira dari mereka.


Memang acara yang di gelarpun tidak meriah sekali karena merekapun cukup waspada di takutkan dapat memancing orang orang untuk datang ke tempat mereka, mereka mengadakan pesta kecil kecilan namun hikmat.


Semua orang bahagia menyaksikan kebahagiaan Kejora dan Satra, seluruh warga desa berbondong bondong memberikan hadiah pada mereka atas pernikahan mereka.


Malam itupun tiba, Kejora yang memang seorang perempuan tak mungkin bermain lebih dulu, sedangkan Satria yang selalu merasa malu menjadi kikuk dan membisu.


Hingga akhirnya malam itupun berlalu tanpa melakukan apapun meski mereka sendiri sama sekali tidak dapat tidur karena dalam ranjang yang sama. Sosok Satria sendiri merupakan seorang pemuda yang sangat tampan, dia memiliki wajah asia yang amat mendominasi, kulit kuning langsat dan rambut hitam kecoklatan yang lurus, wajahnya tegas dengan rahang kokoh dan hidung mancung, sebuah tahi lalatpun menempel pada alis kiri pria itu. Sedari dulu Satria dan Kejora selalu di jodoh jodohkan oleh warga desa.


Kejora dan Satria memang lebih memprioritaskan kemakmuran warga desa, berbeda dengan Jajang dan Jaka yang lebih suka melawan untuk meraih perdamaian, Kejora dan Satria lebih memilih menimbun kekayaan dan membeli Kekuasaan.


Tujuan merekapun terwujud dengan terbentuknya ikatan ikatan yang di jalin mereka dengan para saudagar Arab dan Cina, hal itu memang pernah membuat para penjajah geram, namun sifat tenang Kejora dan malah memberikan upeti sebagai gantinyapun berhasil menutup mulut para lintah darat itu.


Pernikahan Kejora dan Satria sudah berlalu sekitar dua minggu namun mereka malah semakin kikuk saat sampai di rumah dan sangat sulit mengutarakan perasaan masing masing.


Pria mana yang tidak tahan bila harus bedekatan dengan wanita pujaan namun tidak dapat menyentuh wanita itu, namun untunglah sifat sabar tanpa batas yang di miliki Satria membuat keinginannya bisa tertahan, dia berharap bila suasana diantara mereka bisa membaik.


Hingga pagi tiba, dimana Satria berusaha mengubah prilakunya dia ingin lebih dekat dengan kejora dan berusaha agar mereka bisa saling terbuka satu sama lain.


"Kejora?" sapa Satria saat Kejora hendak menimba air untuk mencuci pakaian mereka.


"Ya?" jawab Kejora berbalik menatap mata yang kini nampak menyelidikinya.


"Hari ini, aku akan panen kerang mutiara. Apa kamu bersedia ikut?" tanya Satria berusaha merangkai kata yang memang sudah dia hafal semalaman suntuk.


"Baiklah, apa saja yang harus aku persiapkan?" tanya Kejora mengolah pergelangan tanganya dengan menimba air dan mulai mencuci.


"Tidak ada, biar aku saja yang mempersiapkan semuanya." jawab Satria hingga anggukan kecil di berikan oleh Kejora.


Siang itu memang Satria berusaha memberikan kejutan Kecil untuk Kejora dan membuat wanita itu bahagia, sudah sangat lama gadis tanpa ekspresi seperti Kejora tersenyum, ingin sekali dia melihat Kejora tersenyum meski hanya sebentar saja, angan dari Satria.


Kejora sudah siap dengan celana panjang yang tertutup kain batik berupa rok dan baju tipis yang di balut baju tebal di luarnya, Kejora sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan pria itu padanya, memang sudah sangat lama Kejora berharap pria itu mampu terbuka kepadanya, meski dirinya jarang menunjukkan ekspresi wajahnya namun ucapannya selalu menunjukkan hatinya yang sebenarnya.


"Aku sudah siap!" ujar Kejora berjalan keluar dari kamarnya dan melihat Satria yang sudah siap dengan bekal bekalnya, secercak kecewa terlihat dari wajah Satria melihat pakaian tertutup yang di kenakan Kejora.


"Ah iya, baiklah ayo berangkat!" seru Satria berjalan menggendong keranjang rotan dan jinjingan belal, memang kekayaan mereka kini sangatlah melimpah, namun mereka enggan mempertontonkan kepemilikan mereka atas harta harta mereka karena di takutkan para penjajah pasti akan meminta upeti lebih pada mereka, dengan gaya hidup sederhana yang di tunjukan Kejora dan Satria di contoh oleh seluruh warga desa dan dapat menyesuaikan dengan kehidupan mereka.


Bersambung...