Because The Story

Because The Story
Pose Menantang



Ubay menaruh kantong keresek yang semula dia bawa di pangkuan Alika dan menyebutkan sebuah kalimat penjagaan yang mungkin dapat di mengerti Alika saat itu.


" Bukan hanya mata yang mesti di jaga, tapi yang di lihat mata itu sendiripun mesti di jaga!" Ubay nampak Alika tersenyum sekilas dan Ubay pun melajukan sepeda tersebut, dia sengaja melewati sebuah tepi sungai rindang saat akan ke rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, dia sengaja membawa Alika ke sana agar gadis itu teringat akan sosok Al, yaitu Ubay sendiri.


Dan benar saja saat Ubay menyinggung penampilan Alika, gadis itupun meminta berhenti dan memperhatikan sekeliling yang nampak sepi hanya ada beberapa keluarga yang nampak menggelar karpet dan makan bersama, kondisi sungai yang terawat membuat wilayah tersebut asri dan sangat cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.


Wajah Alika nampak kecewa saat melintasi tempat tersebut, dia memperhatikan sebuah pohon cemara di mana Ubay dan Alika memang berencana bertemu di sana, Ubay menatap lesu wajah Alika dia juga tidak tega membiarkan gadis itu sedih akan ketidak hadirannya.


Raut kecewa nampak tergambar jelas di wajah Alika hingga akhirnya dia berlalu menuju kediamannya yang sangat wahh itu, saat sampai nampak Alika yang mulai menunjukkan ekspresi geroginya, Ubay tidak menyangka bila gadis di sampingnya akan mengalami kegerogian semacam itu.


'Kamu calon nyonya di sini Alik, kenapa ketakutan begitu? Dasar bodoh!' ucap Ubay dalam hati kecilnya memperhatikan gerak gerik Alika.


Saat dirinya mendapat kabar bila neneknya tidak ada di rumah kesempatan pun muncul untuk berduaan dengan gadis itu, niat Ubay pun sudah bulat untuk memberikan pengakuan dirinya pada Alika.


Ubay menarik tangan Alika berusaha membawa gadis itu ke arah lantai dua, namun tiba tiba Alika meringis kesakitan, dia melihat darah mengalir dari tangan Alika hingga kejadian penculikan itupun berlangsung, Ubay membawa paksa Alika ke kamarnya, namun sebersik penyesalan terlintas di wajah Ubay saat menatap wajah Alika yang nampak berlinang air mata, pemandangan Alika sangat menghawatirkan hingga membuat dirinya sendiripun terpaku telak dan merasakan sakit di dadanya menatap sendu wajah Alika.


Dia berusaha menenangkan Alika dan menjelaskan sebuah alasan yang memang tidak terlalu masuk akal, namun dia berhasil membuat Alika tenang dan membuat gadis itu berhenti menangis.


Saat Ubay akan melakukan pengakuan, Alika nampak sedikit bingung hingga akhirnya dia harus menunjukkan cincin di jari manisnya dan membuat Alika ternganga tak percaya, hingga tanpa sengaja Alika menangkap gambaran syal yang di berikan Alika terhadapnya dan keterkejutan lagi lagi terlihat dari wajah Alika.


Rasa canggung merasuki mereka hingga salah satu ajudannya tiba dan mengatakan ada yang ingin bertemu dengannya, orang yang ingin bertemu dengan Ubay sebenarnya bukanlah orang berbahaya melainkan kawannya sendiri yaitu Fedrix dia nampak di lantai bawah tengah menikmati cemilan dari keresek yang semula Alika bawa.


"Itu bukan punya kamu rix, kenapa kamu makan?" Tanya Ubay dari atas tangga melihat kawannya yang nampak menikmati cemilan tersebut, dia berjalan mendekati fedrix.


"Sini balikin ke aku, itu milikku!" Tegas Ubay meraih kantong keresek yang berada di tangan Fedrix dan memakan cemilan itu, mana rela dia membiarkan makanan yang sudah di peluk Alika di makan orang lain.


"Pelit banget, lagian itu cuman gocengan deh snecnya!" umpat Fedrix kesal, dia sama sekali tidak menyangka bila Ubay akan marah karena makanan murah semacam itu.


"Serah kau rix, ini milikku! Jadi jangan berani berani sentuh!"Ungkap Ubay lagi menikmati makanan yang dia beli sendiri dengan uang hasil malak dari Alika.


"Tuan muda, haruskah saya membawa cemilan ke kamar tuan?" tanya salah satu pelayan Ubay, Ubay mengangkat Alisnya dan mungkin saja Alika kini tengah kesepian menunggunya di atas.


"Kalian siapkan saja, biar aku yang antar!" Ucap Ubay kemudian, dia menatap Fedrix setelahnya.


"Tidak sama sekali, kode itu di tangkai dengan sangat sulit di pecahkan, bahkan setelah dua tahun pun tidak ada kemajuan sedikitpun." Fedrix merasa akan gagal dalam misinya kali ini, pembicaraan berlanjut mengenai kujang tersebut hingga berlalu cukup lama, melihat kegundahan Fedrix akhirnya Ubay pun memberikan dorongan mental pada kawannya itu.


"Jangan menyerah dulu, aku sangat ingin tahu makna dari kujang tersebut!" Ungkap Ubay, dan terlihat seorang pelayan membawa tatakan yang mana terdapat sebuah Jus melon dan beberapa makanan manis.


"Tuan muda, ini makanan untuk nona muda." ucap pelayan tersebut, dan sontak alis Fedrix terangkat sebelah, orang dengan keingin tahuan tinggi itupun mulai berlagak bergaya detektif.


"Nona muda? Apa kau sudah menikah Bay?" Tanya Fedrix penasaran dan meski hanya mendapatkan pengabaian dari Ubay.


"Belum, dia masih calon isteri ku!" Ucap Ubay kemudian berjalan menaiki anak tangga dan di ekori oleh Fedrx.


"Benarkah? Cewek atau cowok?" Tanya lagi Fedrix, hingga rasa kesal pun singgah di hati Ubay dan melihat jam tangannya yang mana dia sudah meninggalkan Alika selama dua jam lamanya, memang saat berbicara bersama orang yang satu ideologi dan satu frekwensi selalu memberikan suguhan yang menarik, di tambah diapun harus menunggu beberapa makanan manis yang tengah di buat para pelayannya.


"Lo tanya dia cewek atau cowok? Jemput nenekku di mall saat ini, dan bawa dia ke rumah, saat kamu kembali akan aku pastikan kamu akan bertemu dengan orang yang kamu anggap cowok tersebut." Jawab Ubay kesal meninggalkan kawannya, namun ternyata nahas karena sang nenek pun sudah tiba dengan membawa seabrek belanjaan ke dalam rumah tersebut.


"Bantu mereka merapikan belanjaan nenek, bila masih ingin tahu maka tunggu saja di sini!" Ubay melangkahkan kakinya menuju kamar yang mana pintunya nampak masih tertutup.


"Siapkan makan siang hari ini!" Ucap Ubay pada salah seorang pelayan yang berjaga di depan kamarnya.


"Baik tuan muda." Ucap pelayan tersebut dan berlalu menuju ruangan bawah, Ubay membuka pintu kamarnya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat kondisi kamarnya yang tidak biasa.


Barang barang Ubay memang masih tertata rapi, namun sosok di atas ranjangnya yang membuatnya gagal fokus, dengan cepat Ubay menutup pintu kamarnya di takutkan orang lain melihat pemandangan indah tidak biasa itu.


Nampak Alika yang tertidur menyamping dengan rok yang terangkat hingga paha mulusnya terekspose sempurna, sebuah benda tiba tiba berdiri di balik celananya, dadanya pun ikut bergemuruh saat bagian atas baju Alika yang memang sedikit terbuka itu memperlihatkan belan mulus yang membuat gejolak di dada Ubay kian menggebu.


Ubay meletakkan makanan yang dia bawa di atas sebuah meja kosong yang biasa Ubay gunakan makan, kembali mata nakal Ubay menatap dari ujung kaki hingga kepala tubuh Alika yang tanpa cacat sedikitpun itu.


Ubay melihat bibir manis Alika yang nampak sangat menggoda, nafasnya seketika menjadi sesak saat menatap wajah yang kini polos tanpa taburan apapun itu, Tubuh Ubay sudah bergetar dengan rona di wajahnya yang nampak kian memanas.


Namun Ubay sesegera mungkin mengaktifkan akal sehatnya dan menutupi tubuh Alika dengan selimutnya, sejenak Ubay terdiam di tepi ranjang mengingat ingat kembali pose Alika yang sangat menantang.


Bersambung...