Because The Story

Because The Story
Cinta Seindah Musim Semi



Beberapa jam Alika tidak Online hingga akhirnya di malam itu Alika pun Online, nampak posisinya yang tergeser ke podium dua menjadikan dirinya sedikit kesal dan melihat akun yang sudah berani menginjaknya.


Namun Alika malah sepicless saat melihat pengikut dari akun tersebut yang nampak masih Online dan hanya satu orang yang nampak dia ikuti, saat Alika melihat siapa orang yang akun itu ikuti mata Alika menjadi terbelalak karena akun tersebut memfollow akun miliknya.


Alika tersenyum sekilas dan langsung memfollback akun tersebut dan sebuah emote pun singgah berupa pesan pada Alika dari akun yang tengah panas itu.


"Hai!" Gambar dari emote tersebut dan membuat Alika sedikit bingung dan membalas dengan emote, "hallo".


Ubay yang sudah membersihkan kembali Sektenya memilih mengeluarkan Adit dan Tia dari Sektenya karena bila sampai ketahuan Alika sudah jelas bila identitasnya akan dengan cepat terungkap.


"Mau gabung dengan sekte ku?" Pertanyaan dari pesan tersebut muncul di dalam kolom pesan Alika dan sontak membuat Alika sejenak berpikir, dia juga tidak begitu memperhatikan hal tersebut dan langsung mengetik dalam keyboardnya.


"Oke, mohon bimbingannya suhu!" Jawab Alika dan langsung keluar begitu saja dari Sekte yang hampir mati itu dan menerima undangan yang di ajukan Ubay.


"Selamat datang!" sebuh kotak berisi satu slot hadiah Alika buka dan ribuan diamond langsung numplak di akun Alika dan sontak membuat Alika terheran heran dengan keroyalan akun tersebut.


"Apa itu tidak berlebihan?" Tanya Alika dan sontak sebuah jawaban dalam hitungan detik sampai.


"Tidak, karena kita sekarang satu tim" Alikapun tergugu menatap jawaban itu, dan merekapun mulai mengenal satu sama lain dalam waktu yang cukup singkat.


Alika dan Ubay sering bersama dalam game tersebut, bahkan beberapa orang menyangka bila Alika adalah pria karena kemampuan bermain Alika yang pro player yang biasanya di miliki para pria jelas di miliki Alika.


Hingga sebuah kejadian di mana Alika harus membeli rumah pun terjadi dan dengan sedikit kepura puraan dari Ubay yang mengatakan bila dirinya membutuhkan beberapa akun cadangan pun memberikan peluang pada Alika untuk menawarkan diri dari berbagai jenis game yang dia mainkan.


Ubay sendiri kagum dengan penawaran yang di lakukan Alika yang dengan jelas layaknya pembisnis handal, Ubay pun membantu Alika dan hubungan merekapun kian mendekat dan terus menjadi sahabat meski hanya dalam dunia virtual saja hingga dua tahun lamanya.


Di hari itu Ubay memesan sebuah gaun untuk Alika, dan membayangkan bila gadis cantik itu berdiri tegap di hadapannya mengenakan gaun yang dia beli.


Hingga akhirnya gaun itupun di kirimkan melalui jasa pengiriman dan beberapa jam setelah paketnya sampai sebuah pesan singgah di laman gamenya yang mana menampakkan sosok tangan dengan paket di atasnya berkepsen, "' Barang berharga untuk orang berharga"', Sontak rona merah menghiasi pipi Ubay dengan sangat bahagia menantikan paketnya tiba.


Dia sama sekali tidak menyangka bila Alika akan menyematkan kepsen yang sangat ambigu semacam itu dan membuat dadanya amat berdegup kencang.


Sesi penantian menunggu paket pun usai di mana Ubay telah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan dan melihat rajutan cantik dalam genggaman tangannya.


"Ehem, rajutan tangan dari siapa itu?" tanya Kejora yang kebetulan lewat di depan kamar Ubay dan memperhatikan Ubay yang nampak senyum senyum sendiri.


"Rajutan tangan?" Ubay berbalik bertanya, dia sama sekali tidak tahu bila karya di hadapannya adalah buatan tangan karena dia menyangka bila rajutan itu di lakukan tangan mesin.


"Iya, lihat ini, dan ini, semua itu menandakan bila ini rajutan tangan dan lagi biasanya orang orang dulu selalu menyematkan pesan di...sini!" Kejora menunjuk bagian bagian rajutan yang nampak sangat indah dan sebuah selipan yang membuat ubay tak ubahnya berpikir bila itu bukanlah rajutan tangan, namun melihat sebuah pesan yang terselip sesuai yang di tunjukan oleh neneknya itu, sekarang jelas bila syal itu memang sangat istimewa.


"Mana sini nek!" Ucap Ubay mengambil secuir kertas yang berada di tangan neneknya dan lantas membacanya dalam hati.


"Dari siapa?" Tanya Kejora penasaran, namun dengan cepat Ubay mendorong kejora dengan hati hati memotong rasa penasaran Kejora dan menutup pintu kamarnya.


Ubay tersenyum bahagia dan melompat ke atas kasurnya memeluk syal berwarna merah itu penuh kebahagiaan. Ubay merasakan getaran hebat di dadanya yang sekan meluap luap memenuhi sanubari.


"Oh tuhan, Alika! Kamu sangat pandai membuat orang jantungan." Ubay tersenyum bahagia layaknya orang gila, dia benar benar tidak habis pikir bila Alika mampu membuat dirinya bisa hidup sebahagia hari itu, tidak pernah di dalam hidupnya merasakan kebahagiaan yang sama layaknya hari itu, namun dia amat bersyukur setidaknya kini dia mendapatkan harapan menjadi pemilik hati Alika.


.........


Hari yang di tentukan pun tiba, Alika dan Ubay akhirnya akan bertemu di hari yang sama dengan ulang tahun tanah air mereka, pagi itu Ubay tengah mandi dan membersihkan tubuhnya sebersih mungkin.


"Tuan muda gawat! tuan!" Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan panik mengetuk pintu kamar Ubay yang tertutup.


"Ada ap?" Ubay bergegas keluar dan membuka pintu kamarnya mengenakan pakaian sederhana miliknya dengan rambut yang masih basah.


"Tuan muda, nenek pergi dari rumah sendirian, beliau melompati pagar tanpa membawa pengawal." Ucap pria itu dengan gugup mengatakan kronologi bagaimana terjadinya acara kabur itu.


"Ya ampun, mana udah siang lagi, baiklah siapkan satu mobil dan sopir, aku akan pergi mencarinya!" Ubay cepat, dia meraih ponselnya dan membiarkan rambutnya yang nampak air masih menetesi tubuhnya.


"Untung semua sepatu nenek aku pakain GPS." Ucap Ubay lagi membuka ponselnya dan mencari keberadaan sang nenek dengan cepat.


Dengan cepat Ubay meluncur pada mobil yang nampak pintunya sudah terbuka, dan memberikan lokasi pada sopir yang bersamanya, merekapun melejit membelah keramaian kota kecil itu yang nampak sangat meriah dengan pesepeda dan lalu lalang orang.


"Dia di sini!" Ubay celingukan hingga akhirnya dia menemukan Kejora yang nampak tengah duduk di atas sebuah bangku dan nampak wanita muda yang tengah menunduk di hadapannya.


Ubay merasa jangan melihat kehadiran wanita itu, namun entah apa maksud hatinya yang tiba tiba merasa nyaman saat menatap wanita yang kini menunduk di hadapan neneknya itu.


"Nek! Akukan udah bilang, jangan keluyuran!" Tegur Ubay merasa sangat terganggu, terlebih lagi dia sebelumnya sampai harus mengirimkan pesan pada Alika bila dirinya akan terlambat datang. Hingga beberapa kali Ubay mengatakan maaf pada Alika dan tidak mendapati satu pesan pun yang dia terima hanya satu pesannya di awal yang sempat di baca Alika.


" Woi, jaga baik baik bicara sama orang tua!" Wanita itu berbalik menatap sangar pada Ubay yang kini berdiri tegap di hadapannya.


Hati Ubay laksana tertimpa bunga di musim semi, perasaan hangat dan harum mewangi cinta seakan melebur menjadi satu dan melelehkan rasa rindu yang dia pendam cukup lama.


'Alika' lirihnya dalam hati menyebut sebuah nama yang memang sangat dia rindui, matanya merujuk pada pakaian dan cincin di jari manis Alika, entah mengapa rasa damai kini dia rasakan dan menggeliat membentuk sayang.


Ubay pun menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki tubuh Alika, saat itu Alika mengenakan sebuah sepatu dengan lambang centang, memang sangat kontras dengan gaun yang di kenakannya namun jaket yang di kenakan Alika mampu membuat kesan sporty dan nampak pantas.


Rambut alika yang sebelah terangkat dan menampilkan pipinya yang manis dan rambut yang terukir bak model itu mampu menyihir siapapun yang menatapnya, beberapa kali Alika nampak berbicara terhadapnya namun seakan dirinya tidak mendengar hingga akhirnya sekilas dia melihat jari jempol yang teracung dari sang nenek yang kini nampak meninggalkannya berdua.


Bersambung...