Because The Story

Because The Story
Si Gadis Nyentrik



"Sumpah lo de?" Adit benar benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya, semula dia berpikir bila sang adik akan mengambil jurusan di fakultas kedokteran, namun ternyata perkiraannya salah telak.


"Iya bang, aku yakin!" ucap Alika lagi, Adit pun mengingat ingat bagaimana fakultas sastra di kampusnya yang kebanyakan adalah orang orang seni dari berbagai jenis golongan, dan bila jurusan Sastra Sunda biasanya hanya di minati oleh orang orang tua saja.


"Serius de? gue serius ih di sana itu lo gak bakal ketemu opa opa ataupun cowok ganteng, di sana itu tempat bagi aki aki aja Lik!" Adit memberikan semburan pedasnya dalam menghina sesuatu, namun dia mengatakan semua itu agar Alika dapat tersugesti dengan ucapannya yang sangat pedas.


"Ehem.. Ehem..!" ayah Alika yang memang sedikit tidak percaya dengan apa yang dia dengar namun dia sangat bersyukur bila puterinya ingin mengambil jurusan tersebut karena dia yang sudah tua sangat menanti generasi muda yang ingin mengambil Alih tradisi yang melekat itu.


"Gak papa pah, bang! Kalo aki aki aja yang ilmunya udah selangit dan pengalamannya udah segunung ngambil jurusan itu, lalu kenapa Alik harus menyesal? Alik malah akan sangat bahagia bila bisa bergabung dengan mereka yang sudah berpengalaman tinggi, dan bisa memberi Alik petunjuk! bukannya itu malah membuatmu tidak kewalahan memeriksa pergaulanku bang?" tegas Alika dan di anggukki papahnya bangga, tak pernah menyangka bila pikiran puterinya akan sangat dewasa dan mengarah pada hal yang tidak terpikirkan sebelumnya.


"Ah, yasudahlah! Awas lo jangan karena keseringan gabung sama aki aki lo jadi mau nikah sama aku aki!" ucap Adit terkekeh geli.


"Jodoh Alik ada di tangan Allah bang! Alik gak akan khawatir soal itu! Selagi Alik terus berbenah diri Alik yakin jodoh Alik pun juga akan terus berbenah diri" jawab Alika dan sontak semua orangpun berdecak kagum dengan pandangan Alika yang sangat dewasa.


"Bener tuh Alik! Papah bangga sama kamu!" ucap sang Ayah dan sontak saja membuat Adit memutar bola matanya malas, namun di dalam lubuk hatinya dia sangat bangga dengan pandangan adiknya.


...________________________***______________________...


(Ingatan Alika di masa lalu ya yang di atas)


Alika menatap pemakaman di upik matanya dengan do'a do'a yang di bacakan Jaka dan di aminkannya, suasana amat hikmat antara cucu dan kakek itu.


Hingga siang hari tiba Alika pun kembali ke kota dan akhirnya kembali melanjutkan belajarnya di sana, bukan dia tidak betah atau bagaimana, namun dia juga memerlukan banyak panduan untuk melakukan ujian paket C nya.


Beberapa waktu berlalu Alika belajar dengan giat untuk mengejar paket C tahun itu, di usianya yang belum tepat menginjak 17 tahun dia harus bersiap dengan terpaan dunia luar yang mungkin sangat berbeda jauh dengan espektasinya saat itu.


Hingga tiga minggu berlalu dan minggu depannya sang abang pun akan resmi meminang Tia, kini dia tengah dalam masa pingitan, beberapa kali Adit uring uringan merasa rindu akan sosok kekasihnya dan selalu mengaduh pada Alika.


Alika hanya bisa tertawa melihat abangnya yang biasa sangar berubah menjadi sangat jinak dan uring uringan.


...----------------...


Waktu yang di tetapkan pun tiba, akhirnya sang abang akan meminang Tia, keluarganya sudah bersiap dengan tetangga dan semua pekerja sang ayah, tak lupa seluruh keluarga dari pihak ayah dan ibunya pun turut hadir termasuk nenek dan kakeknya.


"Bang lo keringetan banget, bau asem ih!" sindir Alika saat melihat kegugupan menguasai tubuh Adit terlihat dengan pandangannya yang nampak berkilauan dan tangannya yang dingin sedingin es.


"Bisik lo de!" ucap sang Abang menjitak kepala Alika yang mana sudah siap dengan kebaya warna merah maroon dan rambutnya sedikit di sanggul dan hiasan tiara berbentuk bunga menghiasi rambutnya.


Alika kini nampak anggun dan mempesona, bahkan bila orang lain melihat mungkin akan menganggap Alikalah yang menjadi pengantin wanita saat itu, meski Alika hanya memulas tipis kulit putihnya namun itu sudah sangat cukup mempertontonkan auranya yang luar biasa menawan.


"Yo pah, kita udah siap!" teriak Alika dari dalam rumah dan keluar dengan anggunnya, berukat yang tipis yang menempel di kulit putihnya nampak sangat indah, rok dengan ukiran batik tangan berkilau keemasan, leher yang jenjang dan tas kecil di tangannya menampilkan sosok sempurna Alika, hills yang dia gunakan pun sangat menopang kecantikannya kini.


"Ya ampun! Apa ini puteri papah?" sang ayah nampak kagum memandang kecantikan puterinya yang sangat menawan.


"Iya pah, cantik gak?" Alika berputar memperlihatkan keanggunannya selayaknya seorang model.


"Cantik luar biasa!" ucap sang ayah mengacungkan dua jempolnya.


"Makasih pah!" ucap Alika menghamburkan tubuhnya untuk mengangkat roknya tinggi tinggi dan memperlihatkan betisnya yang mulus dan pahanya yang putih bersih.


"Kamu ngapain lik?" sang ayah menggelengkan kepalanya melihat kelakuan puterinya itu.


"Mau berangkat lah pah! Mana bisa Alik naik mobil, bisa bisa kalo Alik naik mobil semua orang akan mual gara gara Alik yang muntah! Alik ya jelas bawa motor lah!" ucap Alika melirik sepeda motor trailnya yang pagi ini sudah dia panaskan.


"Ya tapi kenapa mesti bawa motor itu, lihat pahamu kemana mana Alika!" sang ayah menepuk jidatnya sendiri menyaksikan kelakuan absort dari puterinya.


"Masa iya Alik bawa motornya mamah? Gak ah! Alik kaya cewek banget kalo bawa motor metik!" ucap Alika menolak karena memang dia sering sekali berpenampilan layaknya laki laki itu.


"Kamukan cewek Alik!" sebuah jitakkan lagi lagi mendarat di kepala Alika dari sang abang yang baru keluar dari rumah.


"Iya deh iya! Demi lo hari ini gue nurut!" gerutu Alika dengan bibir yang di majukan memberikan kesan imut tersendiri dalam wajahnya.


Alika pun mengeluarkan sepeda motor mamahnya dan menyalakan sepeda motor itu, semua orang sudah siap di posisinya, namun Alika agaknya amat kerepotan dengan tiara yang menempel di kepalanya karena diapun harus melindungi kepalanya itu dengan helem.


Alika bersusah payah menyatukan keduanya hingga akhirnya diapun melepas sanggulnya dan tiara yang melekat di kepalanya,dia memasukan aksesorisnya kedalam tas kecil dan memakai helem, karena bagaimana pun penampilan dan keselamatan tentulah lebih penting keselamatan di bandingkan dengan sebatas penampilan saja.


Semua orang nampak menggeleng melihat perjuangan Alika, namun semuanya pun akhirnya berangkat dengan sebanyak 8 rombongan mobil, dua rombongan hadroh, dan sepeda motor dengan jumlah hampir 40 sepeda motor yang merupakan teman teman dari Adit.


Memang tidak jarang teman teman Adit yang terpesona pada Alika, namun dengan siaga Adit selalu menghalangi mata mata sahabatnya itu saat memandang adiknya yang memang sangat mempesona itu.


Sebelumnya di dalam kamar Alika sempat mendapatkan wanti wanti dari abangnya karena kelakuan nyentrik Alika yang selalu menjadi pusat perhatian.


.........


Bersambung...