Because The Story

Because The Story
Cincin



Ubay menatap rona merah di pipi Alika yang nampak sangat menggemaskan, wajah Alika nampak bersinar dengan mentari pagi yang kini malu malu menampakkan ronanya.


"Kamu cantik!" ucap ubay lirih namun terdengar tegas dan sangat menukik memberikan sebuah panahan akan hati Alika.


"Te..terimakasih." ucap Alika berbalik membelakangi Ubay dan mengambil gunting yang semula sempat dia taruh.


"Sini biar aku bantu!" pinta Ubay menyodorkan tangannya ke hadapan Alika dan tersenyum lembut.


"Memotong ranting bunga itu tidak boleh sembarangan, dan apa lagi memotong ranting bonsai, itu gak bisa sembarangan soalnya salah sedikit aja bisa mengurangi keestetikaan tanamannya." ucap Alika mulai menggunting sedikit demi sedikit ranting pohon bunga mawar.


"Benarkah? Kamu sangat pandai merapikan tanaman hias." puji Ubay memperhatikan tanaman yang begitu terawat.


"Ayahku seorang pekebun, bagaimana mungkin Aku gak bisa merawat tanaman hias." ucap Alika tersenyum lembut, dan clep langsung menencap ke hati Ubay.


"Kamu benar benar cantik Alika!" puji lagi Ubay mengusap rona merah yang lagi lagi tergambar di pipi Alika.


"Hentikan ini, aku tidak ingin terjadi salah faham d.." belum selsai berucap Ubay sudah menaruh jari telunjuknya di atas bibir Alika yang nampak berwarna merah muda.


"Kamu tidak salah faham, segala sesuatu memang terkadang tidak perlu di ungkapkan, tapi bila perlu aku akan mengatakannya sekarang." ucap Ubay pasti.


Blush, wajah Alika langsung memanas dan memerah layaknya kepiting rebus mendengar ucapan Ubay yang begitu mendadak. Ingin sekali dirinya kabur atau menghilang dari tempat itu, namun tangannya yang sebelah kini di pegang Ubay dan sudah pasti pria itu tidak akan membiarkan dirinya pergi.


"A..aku mau masuk dulu!" ucap Alika gugup, dia merasakan getaran di dadanya yang begitu hebat, Alika sekilas menatap Ubay yang kini tengah meneliksik tubuhnya.


"Hmmm.." Ubay melepaskan genggaman tangannya namun malah menyentuh pundak Alika, dia mengangkat dagu Alika dan melihat mata yang kini menghindari tatapannya.


"Kenapa ingin menghindar? Aku hanya ingin kamu tahu tentang perasaanku sekarang, aku me.." belum selsai beeucap Alika langsung melangkahkan kakinya dengan langkah seribu, dia masuk ke dalam rumah dan melihat keadaan di dalam rumah yang terlihat tegang.


"Ada apa ini mah? Hai nek, hai om!" Alika menyalimi tangan nenek Kejora dan Fajar bergantian lalu bediri di belakang sofa tepat di belakang sang mamah.


"Begini sayang, tadi pagi mamah sama papah ngobrol sama abang kamu dan katanya Alik akan di titipin bersama mereka, gak papa kan?" tanya sang mamah menatap wajah puterinya yang nampak kebingungan.


"Lah kenapa emangnya ma? Alik gak papa tinggal sendiri, meski semua yang bantu bantu Alik lagi pada ngambil cuti tapi Alik bisa kok nanganin rumah sendirian." ucap Alika, karena memang dia memiliki sifat yang sudah sewasa.


"Lagi pula ni mah, sore ini sehabis mata kuliah Alik habis Alik mau pergi ke rumah kakek, dan besoknya lagi kan libur, Alik mau ngehabisin waktu libur Alik di rumah kakek dan sekalian nyelsein KKN Alik mah." ucap Alika mengutarakan semua alasannya.


"Ta..tapi..?" mamah Alika menatap nenek Kejora sekilas, dia yang sesama perempuan merasakan hentakan tajam akan hal tersebut, sedangkan papah Alika nampak tengah menahan amarah.


"Asalammu'alikum?" Ubay memasuki rumah dan langsung ayah Alika berdiri berjingkrak mendekat ke arah Ubay dan di ikuti Alika yang merasa penasaran.


"Pah, stop!" ucap Alika dan berbalik menatap Ubay yang nampak kini dengan pipinya yang memerah, seakan mendapatkan sayatan di hati Alik dia menatap sang Ayah dengan mata yang berkaca kaca.


"Papah kenapa pukul dia pah? Apa salah dia? Hiks..hiks.. Apa yang sebenarnya yang terjadi?" tanya Alika menggenggam erat tangan Ubay menatap nanar semua orang yang kini nampak berdiri mematung.


"Kamu bertanya apa yang sudah terjadi? Kalian berdua yang sudah berbuat serong dan bertanya apa yang terjadi pada papah, seharusnya papah yang tanya pada kalian. Apa yang sudah kalian lakukan? Kenapa bila kalian memang sangat ingin melakukan hal semacam itu kenapa kalian tidak menikah saja?" ucap ayah Alika yang kini diapun menangis, hatinya yang mudah tersentuh itu merasakan kekecewaan mendalam akan putri kecilnya.


"Alik, papah selalu bangga sama kamu, tapi untuk pertama kalinya kamu buat kebanggaan yang selalu ayah agung agungkan itu runtuh seketika dengan kelakuan bejad kalian!" ucap ayah Alika, Alika mengangkat Alisnya sebelah dan menatap semua orang di sana.


"Apa yang papah maksud sebenarnya? Alik berbuat serong? Serong seperti apa? Alik tidak pernah melanggar aturan negara ataupun aturan adat, kecuali dulu bawa motor di usia kurang 17 tahun." ucap Alika menatap ke arah ayhnya yang nampak bermuram durja.


"Katakan pada ayah, apakah benar kamu hamil?" tanya ayah Alika dan sontak Ubay yang berada di belakang Alika terkekeh geli.


"Hamil?" Alika semakin bingung dan sekilas menatap Ubay yang nampak menahan tawa di belakangnya, Alika memelototi pria tersebut dan mengangkat sudut bibir kirinya ke atas mencibir.


"Alik hamil? Aneh aneh aja! Orang Alik lagi datang bulan, masa iya hamil." ucap Alika dan sontak tawa Ubaypun pecah dan membuat ayah dan neneknya menatap ke arah Ubay bersamaan.


"Feet.. Hahahha.. Ini ulah nenek aku lik!" ucap Ubay menpuk punggung Alika dan menatap neneknya yang kini nampak kikuk, Alika menepuk jidatnya dan melihat Ayah dan Ibunya yang nampak kebingungan.


"Aku gak hamil mah, pah! Apa kalian mengira bila Alik hamil oleh Ubay?" tanya Alika menatap ayah ibunya bergantian hingga akhirnya sebuah anggukan di berikan mereka.


"Maaf om, tante. Sebenarnya Alika tidak hamil, dia sedang datang bulan dan pergi ke apotek membeli vitamin dan softtek, saat itu Alika di ikuti ajudan nenek dan dia memberikan informasi yang salah pada nenek bila Alika habis membeli vitamin dan testpec, itulah awal mula kesalah fahaman ini." ucap Ubay menerangkan.


"Loh kok kamu tahu semua itu?" tanya Alika menatap Ubay yang kini berada di belakangnya.


"Tau dong, Adit yang kasih tahu tadi malam. Adit menyuruh kalian melakukan semua itu agar Alika bisa tinggal di kediaman kami sementara dan memperlajari adat istiadat di keluarga kami." ucap Ubay menambahkan lagi.


"Buat apa? Alik udah punya adat sendiri dan peraturan sendiri, Alik tetep mau ke ruamh kakek, Alik mau belajar banyak hal di sana." ucap Alika lagi menarik tangannya dari genggaman Ubay.


"Ah kamu ini ya, Kamu tahu cincin yang kamu pake itu?" ucap Ubay menunjuk jari manis Alika yang mana terdapat melingkar sebuah cincin indah.


"Ini dari bang Adit, kenapa?" tanya Alika dimana kini malah mereka jadi bahan tontonan dua belah keluarga.


"Itu bukan dari Adit, itu dari Aku, saat kamu pake cincin itu berarti kamu resmi jadi tunangan aku. Jadi wajarlah aku ajak kamu buat belajar adat iatiadat di rumah calon mertua kamu." ucap lagi Ubay yang mulai merasa sedikit kesal karena gadis itu belum tahu siapa yang memberi cincin itu padanya.


"Mertua?" Alika menatap cincinnya sekilas, pantas saja dia merasakan hal yang aneh saat mengenakan cincin itu rupanya cincin itu bukanlah pemberian Adit tapi Ubay.


Bersambung...