Because The Story

Because The Story
Bukan Pria Asing



Pria asing itu memberikan kantong keresek yang semula di tangannya dan menaruhnya di atas paha Alika.


"Bukan hanya mata yang mesti di jaga, tapi yang di lihat mata itu sendiripun mesti di jaga." Ucap pria tersebut dan menggoes sepeda Alika dengan ukiran senyum di bibirnya.


Rasa hangat yang terasa amat familiar di rasakan Alika, namun dengan cepat Alika menepis perasaan aneh tersebut, rasa tidak percaya akan pria masih berlaku bagi pria manapun bagi Alika, kecuali sosok Al yang selalu menemaninya bermain meski hanya di dunia virtual saja.


Mereka bersepeda layaknya pasangan kekasih, mungkin sebagian orang di jalan akan menganggap bila mereka tengah kencan atau sejenisnya.


"Kamu mau ke rumah nenek nenek tapi dandanannya lebih kaya mau kencan sama cowok." Sindir pria yang kini memboncengnya.


Deg, jantung Alika terhenti sejenak, benar saja sekarang sudah siang dan mungkin Al tengah menunggunya di tempat yang mereka tentukan.


"Ah, gue lupa! Antar gue ke sebuah tempat dulu, kalo udah dari sana kita on the way lagi ke rumah nenek lo!" ucap Alika panik.


"Mau kemana?" Tanya pria tersebut nampak kebingungan.


"Bentar bentar, diem dulu di sini!" ucap Alika saat melihat tepi sungai dengan rumput hijau di tepinya.


"Ke sini, tapi kayanya orang yang mau gue temuin udah pergi." Keluh Alika lagi lemas, dia benar benar tidak tahu harus bagaiman, karena kini ponselnya saja sudah hancur tak berbentuk.


"Nyari apa?" Tanya pria yang bersama Alika kebingungan melihat Alika yang celingukan.


"Enggak, ayo ke rumah nenek lo!" Jawab Alika lemas dan kembali duduk di kursi penumpang sepeda tersebut.


"Terkadang orang yang di cari sulit terlihat, meski nyatanya dia ada di depan mata." Ungkap pria tersebut lirih.


"Iya, lo bener! Kesempatan juga tidak pernah datang dua kali, dua hal yang mungkin harus gue tempuh tapi gue lebih memilih bertemu seseorang yang sudah menjadi tujuan gue sejak lama." ucap Alika panjang lebar dan di angguki pria tersebut yang kini menggoes dengan lancar menuju sebuah rumah megah bak istana dengan begitu banyak pengawal yang berjaga.


"Ini rumah nenek lo?" tanya Alika sedikit ragu dan sungkan.


"Kalo sertpikat rumahnya si punya gue, tapi memang ini adalah rumah kami." ucap pria tersebut yang nampak beberapa pengawal menundukkan pandangannya saat melihat pria asing itu dan dirinya memasuki pelataran rumah.


Terlihat beton tinggi menjulang menopang berat rumah yang mungkin tidak terhingga itu, beberapa pelayan wanita nampak menyambut Alika dan pria itu, Alika yang nampak ragu hanya tersenyum mengangguk merasa gugup.


Alika memperhatikan dari ujung kaki hingga rambut pria tegap yang kini berdiri di hadapannya tersebut yang sedikitpun tidak mencerminkan seorang yang kaya raya, kaos biasa yang sering di jual di pasar tradisional dan celana kolor yang sering di kenakan bapak bapak saat bersantai.


Sungguh Alika sama sekali tidak menyangka dengan sosok pria tersebut dan rasa nyaman selalu menghampirinya saat bersama pria tersebut, seakan sudah sangat lama dia mengenal pria itu.


"Di mana nenek?" Tanya pria tersebut bertanya pada salah satu pelayannya yang nampak masih menundukkan pandangannya.


"Maaf tuan muda ubay, nenek tuan mengatakan akan pergi berbelanja bersama dengan beberapa pengawal." Jawab wanita yang nampak masih muda tersebut.


"Kamu tunggu saja, sampai nenek pulang. Ayo!" Pria itu menarik tangan Alika dan sontak para pelayan nampak terharu dan menatap kagum pada keduanya.


"Eh, bentar bentar! Sakit...!" Ringis Alika yang memang pergelangan tangannya sempat tergores pisau yang semula di todongkan oleh seseorang yang mabuk.


Ubay terkejut saat merasakan sebuah cairan menyentuh kulitnya yang berasal dari tangan Alika, kini darah nampak banyak di tangannya dan menetes yang semula memang tidak berdarah namun akibat tarikan dari ubay membuat luka itupun menganga dan berdarah.


"As..taga! Kok bisa sih?" Pria itu nampak khawatir dan memijit pelipisnya sendiri.


"Bawakan aku kotak p3k ke kamar!" Ucap Ubay memerintah para pelayannya dan menarik Alika terus.


"Eh bentar! Ke kamar? Lo gila ya?" Alika melepaskan genggaman tangan pria tersebut dan berusaha kembali turun tangga.


Alika yang belum menyadari sosok pria di hadapannya itu siapa, malah melenggang pergi dan mempercepat langkahnya menuruni anak tangga.


Namun Ubay tak kalah gesit dan langsung mengangkat tubuh Alika secara paksa ala briden style, namun Alika yang memang cukup gesit lantas merangkul tengkuk Ubay dan bergelayun bebas dan kembali turun dari pelukan pria tersebut.


Ubay menatap kagum wanita di hadapannya dan tidak kalah saing, Ubay menarik jaket Alika hingga jaket itu terlepas dan tasnya terjatuh, namun dengan cepat Ubay mengikatkan tali tas tersebut pada tangan Alika dan langsung membawa gadis itu gaya khas penculik.


"Aaa.. Tolong! Orang jahat! Aaa.." Teriak Alika meronta dengan tangan yang terikat dan tubuh terkunci oleh jaketnya sendiri.


"Berisik! gak bakal ada yang dengerin kamu di sini sekarang." Ucap Ubay membawa Alika ke kamarnya dan melemparkan tubuh Alika ke atas ranjang.


"Woi, lepasin gue! Gue bukan wanita seperti yang lo pikirin! Gue gak pernah ngelakuin hal dewasa semacam ini, lepasin gue!" teriak lagi Alika meronta berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu tangannya.


"Tuan muda, p3k yang anda minta." Seorang pelayan mengantarkan sebuah kotak besar, dan dengan sebuah tanda kibasan tangan dari Ubay, pelayan itupun pergi meninggalkan mereka, sekilas pelayan itu menatap Alika yang kini mulai menangis.


"Hiks... Lepasin gue, gue mohon! Gue bukan cewek yang lo bayangin gue mohon..!" Isak Alika dan membuat Ubay terenyuh dan mendudukkan Alika.


"Berhentilah menangis! Aku gak akan melukaimu." Ucap ubay mengusap air mata Alika yang nampak berlinang.


"Aku lepasin ikatannya, tapi janji kamu jangan pergi atau berontak, faham?" Ubay terus mengusap air mata Alika yang terus berlinang.


"Aku memang tidak memandang mu rendah, dan kamu juga salah bila sudah menilai ku bersifat bejad, aku hanya tidak ingin orang lain menyadari kehadiranmu karena siang ini akan ada beberapa orang yang akan datang ke rumah ini, jadi tetaplah di sini." Ucap Ubay lagi melepaskan ikatan di tangan Alika dan melihat goresan tajam di tangan Alika yang kini berdarah.


"Kamu tau, nenekku itu memiliki banyak sekali musuh sejak dulu, karena banyak yang mengincar tambang berlian yang kini nenek pegang, dan siang ini mereka juga akan ke sini!" ucap Ubay panjang lebar seraya membersihkan darah yang menempel di kulit Alika dengan air infusan dan memerbannya kemudian.


"Aku tidak ingin kamu terlibat, dan di sinilah satu satunya tempat yang aman buat kamu berada sekarang." Ubay mengelus hasil karya tangannya yang kini melingkari tangan Alika.


"Maafkan aku, aku tidak tahu," Alika menunduk dan memperhatikan gores khawatir yang kini nampak di wajah pria itu.


"Kamu sebenarnya siapa? Kenapa kamu tahu namaku?" Tanya Alika yang belum juga sadar bila sosok Ubay di hadapannya adalah Ubay yang dulu pernah berdebat hebat dengannya.


"Kamu mungkin melupakanku, tapi mungkin kamu mengenal ini?" Ubay memperlihatkan cincin Alika yang kini melingkari jari manisnya.


Alika menganga tak percaya saat mendapati benda kesayangannya ada pada pria tersebut, mata Alika pun kembali terbelalak saat melihat sebuah syal yang terletak di atas meja.


Alika mengerjapkan matanya berusaha menatap dengan jelas apa yang baru saja dia lihat, tapi ternyata benar itu bukanlah halusinasi itu memang syal yang dia berikan pada sahabat onlinenya yang bernama Al.


"Al?" ucap Alika tak percaya, dan menunjukkan jarinya ke arah Ubay dengan tatapan menyelidik.


"Iya, kita belum berkenalan dengan baik, aku Muhammad Irham Alfian Ubaydillah, Al itu dari awalan kata Alfian, dan orang orang mengenalku sebagai Ubay." ucap pria itu panjang lebar menyodorkan tangannya ke arah Alika.


"O, o, oke! Aku Alika Azzahra, kamu bisa panggil aku Alika." ucap Alika yang kini mulai menyaring ucapannya menjadi sedikit halus, meski nada bicaranya masih terdengar judes.


Bersambung...