
Mata coklat Alika mampu membuat dada Ubay berdegup sangat kencang dan mampu menyihir hatinya yang tidak pernah suka akan wanita kini bisa merasakan getaran aneh yang mungkin di rasakan saat orang tengah jatuh cinta.
Hingga akhirnya sesi pengucapan selamat dan pemberian hadiah pun berlangsung, Alika berjalan dengan semangat menuju pelaminan dan nampak nenek dan kakeknya yang di katakan memiliki identitas rahasia kini tengah berdiri di hadapan Ubay, nampak nenek dan kakek Alika yang sangat bahagia menyaksikan cucunya menikah.
Sesi foto berlangsung sebelum pemberian selamat, Alika berdiri di samping Adit, dan di samping Alika ada Ubay, di sisi lain ada kakek dan nenek Alika yang berada di samping Tia.
Namun meski sudah lama Ubay memperhatikan gadis itu, Alika belum juga sadar akan kehadiran dirinya hingga akhirnya saat akan memberikan ucapan selamat Alika menatapnya dan tersenyum sekilas dan mampu membuat dada Ubay ingin jatuh akibat senyuman indah itu.
Alika pun kembali membuat orang orang di atas pelaminan tertawa akibat kata katanya yang selalu mampu mengundang tawa itu, termasuk juga Ubay.
Hingga Alika turun dan matanya terus memandang kepergian Alika hingga teguran kecil di berikan Adit padanya berupa ucapan pedas khasnya.
"Jaga mata lo Bay, dia adek gue!" Ucap pedas Adit dan sontak membawa kembali kesadaran Ubay yang semula mengikuti kepergian Alika.
"Ehem.. Mata gue bisa di jaga tapi hati gue udah di curi dia!" Ucap Ubay santai. Memang Adit dan Ubay merupakan kawan dekat sejak mereka kuliah, namun Adit memilih bekerja setelah lulus S1 berbeda dengan Ubay yang langsung melanjutkan S2 nya di luar negri.
"Dia masih kecil, gue gak rela kalo lo macem macemin dia saat usia dia sebelia itu!" ucap Adit memberikan kode kasar namun sangat membahagiakan.
"Tenang aja, gue bakal nunggu dia sampe dewasa!" Jawab Ubay tersenyum simpul dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berukuran panjang, sebuah jam tangan pasangan dengan brend ternama di berikan Ubay pada kawannya.
Ubay tidak menyapa Tia karena rasa bencinya pada wanita bukan hanya pada orang Asing melainkan pada kariyawannya sendiri seperti Tia pun dia merasa tidak suka, Tia yang sudah terbiasa dengan sifat sombong bos nya itu hanya tersenyum dan membiarkan pria itu berlalu.
Sebelumnya kata kata Alika membuatnya sedikit terlonjak dan entah dari mana amarah tiba tiba menggeludak dari dadanya saat di atas pelaminan Alika mengatakan.
"Aish, ada ada aja si! Kasian banget mereka harus berebut satu pria, rebutin Alik juga dong!" saat kata kata itu meluncur bebas dari bibir Alika Ubay merasa marah, dia sama sekali tidak ingin bila wanita pujaannya di rebutkan pria pria, dia menginginkan Alika dan tidak suka bila pria lain memandang gadis cantik itu.
Namun hati Ubay kembali terenyuh saat melihat Alika memeluk kedua orang tuanya dan terus memberikan kekuatan pada keduanya, namun mata Ubay yang sangat teliti dengan kemampuannya sebagai dokter spesyalis jantung dia melihat sebuah keganjilan di dada kiri Alika dari punggungnya.
Dia melihat detakan dada Alika yang tidak normal, dia layaknya melihat orang yang sudah sakit sangat lama, bagaimana tidak punggung kiri Alika nampak berdetak dari jantungnya di mana bukan sebuah detakan melainkan hembusan, mungkin orang lain akan menganggap Alika baik baik saja berbeda dengan Ubay yang memang sangat hebat dalam meneliti penyakit khususnya penyakit jantung.
Lagi lagi Ubay melihat biodata Alika dan tidak mendapati sebuah data yang mengatakan riwayat penyakit gadis itu atau sebuah informasi yang mencantumkan pemeriksaan gadis itu.
"Kamu lebih membuatku tertarik gadis kecil!" Ujar Ubay bukannya malah tidak suka, Ubay justru kian menyukai gadis itu, rasa yang aneh di dadanya kian menjadi jadi.
Dan di saat mereka pulang, dia melihat Alika yang melepaskan sanggulan dan tiaranya dan mengenakan helem, namun dia kembali membuka helmnya seakan mencari sesuatu, dia nampak mencari botol air yang dia tinggalkan di atas mobil Ubay namun dia berhenti saat menatap dirinya yang akan memasuki mobil.
"Maaf tuan, apa anda tadi melihat botol airku disini?" Tanya Alika nampak khawatir dia celingkkan mencari ke sana kemari.
"Botol air itu sangat berharga di berikan kakekku saat aku juara umum tahun lalu, mungkin memang harganya tidak seberapa di matamu tuan, tapi bagiku di balik itu ada hati yang aku jaga." Ucap Alika nampak berkaca kaca.
Benar saja, rasa kecewa sebelumnya Alika rasakan karena tadi dia tidak buru buru turun lagi dan mengambil botol airnya, dan kini mungkin botol airnya sudah di ambil oleh orang tak bertanggung jawab, pikir Alika.
"Bila aku menemukan botolmu itu apa gantinya yang akan kau berikan padaku?" Tanya Ubay penasaran kacamata hitam yang dia kenakan memberikan kesan sombong luar biasa di mata Alika.
"Aku tidak suka tawar menawar dengan seorang pembisnis, tapi silahkan apa yang kamu mau dulu?" tanya Alika berharap dengan bantuan orang asing itu dia dapat menemukan botol airnya.
"Aku mau cincin di ibu jarimu!" Ucap Ubay menunjuk ibu jari Alika yang mengenakan sebuah cincin berwarna putih tanpa mata.
"Kamu bos kakakku kan? Kenapa kamu yang sudah kaya raya ingin memalak dari gadis kecil sepertiku." Ucap Alika dengan wajah nelangsanya.
"Ya itu terserah mu, bila kamu tidak mau memberikannya maka permisi! Aku mau masuk ke dalam mobilku!" Ucap Ubay berusaha tega pada gadis yang kini terukir di hatinya itu.
"Tunggu, tunggu! Ambil ini dan tolong carikan botol airku." Alika melepas cincin di ibu jatinya dan menyerahkan pada Ubay.
Ubay tersenyum sekilas dan menerima cincin itu, dia membuka pintu mobilnya dan mengambil botol air Alika.
"Bila sangat berharga maka jangan di tinggalkan." Ucap Ubay dan Alika hanya menatap sepicless dengan keadaan tersebut, merasa di tipu sudah tentu. Namun yang lebih membuatnya sebal adalah mungkin tadi saat dia berdandan bisa saja pria itu masih ada di dalam mobil dan memperhatikannya.
"Kamu menipuku." Ucap Alika kesal menunjuk ke arah Ubay yang nampak senang.
"Menurutmu bagaimana?" Ubay nampak tertawa dan menambah kekesalan Alika, cincin kesayangannya itu harus raib di berikan pada pria asing yang baginya sangat menyebalkan.
"Balikin cincin aku!" Alika menuntut pria itu, namun bukannya memberikan Ubay malah masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu.
"Nanti akan ku tukar dengan yang lebih baik" ucap Ubay dan berlalu pergi membuat Alika kian kesal dan ingin melemparkan helmnya, namun dia kembali tersadar bila dia tidak mengenakan helam bisa saja dia kena tilang meski saat itu hari sudah hampir siang menuju sore.
Dengan kesal Alika mengenakan helmnya dan langsung tancap gas menyusul pria itu, memang bukan tandingan bila sepeda motor melawan mobil berkecepatan tinggi itu, Alika benar benar menyesal tidak membawa motor trilnya bila dia membawa motornya itu meaki dia tidak dapat mengalahkan kecepatan mobil dengan harga dua langit itu tapi setidaknya dia bisa menyamai kecepatannya.
Ubay yang berada di dalam mobil tersenyum puas melihat bagaimana Alika yang nampak mengejarnya, Ubay sengaja melambatkan kendaraannya agar gadis itu tidak tertinggal jauh, namun ternyata perkiraan Ubay salah saat melihat Alika nampak berhenti di pinggir jalan dan menepikan motornya, mengeluarkan beberapa lembaran uang berwarna biru pada anak anak yang nampak tengah mengamen.
Bersambung...