
Alika meratap dirinya sendiri, merasakan hembusan angin malam yang memasuki kamarnya, tangisnya tak dapat dia henti henti, namun diapun kembali dapat berpikir jernih saat air wudhu dan sholat istiqoroh dia lakukan.
Ketenangan dan kesunyian malam itu berpadu lembut dalam hati Alika, hawa kantuk dia rasakan setelah memanjatkan do'a dia sangat berharap bila apapun yang akan terjadi besok tuhan selalu memberi jalan terbaik untuknya.
Alika menutup matanya dan menidurkan tubuhnya yang terasa begitu lelah dengan senyum mengembang berusaha menetralkan rasa sakitnya.
Malam itupun di lalui dengan sebuah mimpi yang begitu aneh bagi Alika, hingga peluh membasuhi wajahnya dan tubuhnya yang penuh dengan keringat.
"Hosh.. Hosh.. Huft.. Aduuh!" Alika terbangun seketika dan merasakan kepalanya yang berdenyut sangat ngilu, mimpi aneh itu dia rasakan seakan akan begitu nyata dalam ingatannya.
Dadanya bergemuruh hebat berdetak amat kencang, nafasnya menderu tajam mencerminkan kegundahan. Entah apa makna dari mimpi itu, entah itu sebagai pertanda ataukah hanya sebagai bungan tidur saja.
Angin menghempaskan tirai jendela Alika yang lupa dia tutup, baju tidur berwarna merah jambu itupun tertempa angin malam yang seakan membelai wajahnya yang cantik.
Namun matanya tiba tiba terbelalak saat sebuah kerikil lolos dari jendela itu dan dengan ketertarikannya Alika turun dari ranjangnya dan memungut Kerikil itu dan mentap ke luar jendela.
Nampak di luar jendela seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan kemeja putihnya, Alika mentap pria itu lekat dan terlihat Ipung melambaikan tangannya meminta Alika keluar.
Namun naluri Alika berkata akan ada sesuatu yang berbahaya dan bila Ipung memintanya untuk menemuinya tengah malam seperti itupun bukanlah hal yang baik, pikir Alika.
Dia seakan tak melihat Ipung dan menutup Jendela kamarnya yang berada di lantai dua itu, dia memang mencintai Ipung namun cintanya tak ingin dia nodai dengan prilaku buruk. Dia ingin membangun nokhtah cinta yang agung dan suci, dia tidak ingin mengotori cinta yang suci dengan kelakuan yang buruk dari dirinya.
"Sial...! Kenapa dengan gadis itu!" Gerutu Ipung yang merasa di tolak akan kedatangannya oleh Alika.
"Maafkan aku Ipung, aku mencintaimu namun maaf aku tidak bisa melakukan hal yang memalukukan! Karena aku pasti akan sangat malu pada tuhanku!" Ucap lirih Alika menutup gorden kamarnya.
Adit yang memang selalu bersiaga di kamar bawah mengintip wajah kesal dari Ipung, dia sudah dapat menebak bila adiknya pasti menolak di ajak bertemu di tengah malam seperti itu.
Rasa bersalah kembali lagi meruntuti hati Adit, dia benar benar merasa sangat keterlaluan karena sudah menekankan kehendaknya pada sang adik, yang jelas jelas adiknya itu mampu membatasi dirinya sendiri.
"Besok gue harus minta maaf sama Alik, dan biarkan dia memilih keinginannya!" Ucap Adit kemudian dan kembali ke atas ranjangnya menutup matanya yang terasa kantuk luar biasa.
Alika mentap kepergian Ipung yang nampak kecewa, sungguh batinnya saat itu amatlah tersiksa, mungkin benar kata kakaknya, saat mereka jauh mungkin dirinya juga tidak akan setersiksa itu.
Alika yang meratap dirinya menjadi teringat dengan Jajang yang yang jauh dari Kejora yang mungkin kini masih hidup dan entah di mana rimbanya, dia menjadi amat penasaran dengan sosok wanita perkasa itu.
Bilalah ada kesempatan tentu dia ingin sekali berjumpa dengan sosok Kejora yang menurut kakeknya, Kejora memiliki wajah cantik dengan belahan di dagu dan tahi lalat di bawah sudut matanya, dia tidak tahu bagaimana sebenarnya Kejora namun dia mampu membayangkan sosok sempurna wanita itu.
"Maafkan aku Ipung!" Lirih Alika yang mana kini dia juga merasa sangat kecewa dengan tindakan yang di lakukan Ipung yang dalam pandangannya sangatlah tidak sabaran.
"Kejora, bila kita bisa bertemu aku berjanji akan mengabulkan satu keinginanmu apapun itu!" Ucap Alika mentap langit malam yang begitu indah dengan bintang bertaburan dan bulan sabit yang indah.
Alika berusaha kembali memejamkan matanya namun seakan kantuk tak hinggap dalam matanya hingga diapun memutuskan untuk sholat tahajud.
Setelah memanjatkan do'a dan sholat tahajud Alikapun tetap tak ada rasa kantuk hingga dia memutuskan untuk bertadarus hingga adzan subuh berkumandang.
Selama yang Alika tahu apapun yang di inginkan dan di putuskan Adit semuanya selalu demi kebaikan dirinya dan untuk masa depannya.
"Alik?" Nenek Yasmin nampak mengetuk pintu kamar Alika.
"Iya nek sebentar!" Alika menutup kopernya dan melihat sang nenek yang berada di ambang pintu.
"Kamu sedang apa?" Tanya nenek Yasmin melihat pakaian Alika yang sudah berada di dalam koper.
"Aku mau ikut abang nek!" Ucap lirih Alika, tersenyum simpul memeluk neneknya.
"Di sana jangan nakal ya sayang!" Nenek Yasmin mendekap tubuh Alika dan mengecup pipi alika bergantian.
"Iya nek!" Isak Alika tak terbendung lagi hingga tangispun pecah dalam pelukan hangat itu.
"Ingat jangan terlalu banyak makan seblak seperti di sini ya!" Nasihat nenek Yasmin dan sontak saja tawa kecil terdengar di bibir Alika.
"Seblak itu mantap nek!" Ucap Alika dan sontak saja pipinya mendapat cubitan dari sang nenek.
"Hmmm.. Enak ya? Jangan buat ibumu khawatir saat di sana oke!" Neneknya kembali mengusap pipi Alika lembut.
"Tentu nenekku sayang!" Alika memeluk penuh sayang neneknya, Adit yang tidak sengaja mendengar pembicaraan merekapun tersenyum simpul.
Dia sama sekali tidak menyangka bila pengelihatan adiknya yang buta akan orang yang dia cintai, namun hatinya tetaplah sama dan selalu menjadi adik kecilnya yang selalu dia cintai.
"Terima kasih de!" Lirih Adit dan mengurungkan niatnya untuk menemui Alika dan memilih kembali ke kanarnya, namun matanya tiba tiba terfokus pada Tia yang berada di dapur tengah memasak.
Senyumnyapun terukir sekilas dan kembali ke kamarnya merapikan pakainnya kembali ke dalam koper, sebelumnya bila Alika memutuskan untuk tidak ikut dia akan tinggal di sana selama beberapa hari, namun mendengar putusan adiknya diapun memutuskan untuk kembali bersama adiknya.
...----------------...
"Nek, apa boleh pagi ini nenek mengantarku ke makamnya kakek Jajang?" Alika bertanya pada neneknya yang nampak tengah tersenyum.
"Ikut saja dengan kekekmu, setiap pagi dia selalu ke sana!" ucap nenek Yasmin.
"Benarkah? Kenapa aku tidak menyadarinya! Di mana sekarang kakek?" Alika langsung celingingukan mencari sosok kakeknya.
"Sekarang dia ada di kamar sayang, coba saja ketuk pintunya. Nenek akan ke dapur dan meneruskan masak!" ucap nenek Yasmin karena memang dia sangat khawatir pada Alika karena kejadian malam itu, namun melihat Alika yang nampak baik baik saja membuat hatinya tenang.
"Okedeh nek, bye..!" Alika langsung berlari menuju kamar sang kakek, neneknya hanya dapat menggeleng melihat kelakuan cucunya itu.
Bersambung...