
"Cerita apaan si?" tanya Ubay penasaran dan mengangkat tubuh Alika dengan mudahnya dan menaruh lagi Alika di atas pahanya.
"Pake ini, sekarang cuacanya agak dingin." ucap Ubay memberikan selimut pada Alika dan neneknya, keduanyapun tersenyum simpul, nenek Kejora mengenakan selimutnya sedangkan Alika mengenakan selimut itu pada dada hingga sampai ke bagian belakang tubuh Ubay.
"Aku suka sekarang!" ucap Ubay membuat Alika mengangkat alisnya dan tersenyum kemudian, Alika menatap mata terang Ubay yang terterpa bayangan sinar mentari sore dan dadanyapun bedetak amat kencang hingga akhirnya Alika menyembunyikan wajahnya dan menghadap ke depan.
Nenek kejora yang memperhatikan hal tersebutpun terkekeh melihat bagaimana dua insan yang tengah saling jatuh cinta, Alika yang memang tidak begitu pandai mengutarakan perasaannya berhadapan dengan Ubay yang selalu mengungkapkan isi hatiny berpadu sempurna dan menjadikan sebuah harmonisasi yang indah.
"Ayo nek cerita." ucap Ubay kembali menarik tubuh Alika dalam dekapannya, Alikapun pasrah dengan dosa seabrek akibat perbuatan akan mendekatkan diri pada zinah itu sekarang, mau kaburpun juga percuma karena pria itu pasti tidak akan melepaskannya.
Sebuah cerita panjangpun di mulai, nenek Kejora mulai meruntuykan segala sesuatu dalam ingatannya dan memberikan sebuah fakta yang sudah sangat lama dia pendam.
__________
***
Rona jingga mengnga mengucap selamat jalan pada Kejora, dia tidak tahu akan nasib ayah dan para saudaranya. Hati Kejora teriris dan pedih menyaksikan kobaran api yang menyala nyala hingga akhirnya kepulan asappun meredam dan hilang di balik air laut.
Tangis dan pedih menjadi kesatuan namun diapun tidak ingin membuat ayahnya kecewa, amanah yang di berikan ayahnya akan dirinya pasti akan terlaksana.
"Satria?" lirih Kejora menatap pria yang kini di sampingnya yang sama sama tengah termenung.
"Iya?" satria berbalik menatap Kejora hingga pandangan keduanya beradu dan membentuk kobaran api diantara keduanya.
"Bantu aku mewujudkan semuanya!" Kejora tersenyum simpul yang menatap rona cemas dari wajah Satria.
"Aku akan membantumu Kejora!" jawab Satria menepuk pundak Kejora yang mana kini mereka sudah selayaknya saudara yang sehati dan satu tujuan.
"Kemana kita akan pergi Sat?" tanya Kejora bingung dengan peta luas yang terpampang di depan wajahnya.
"Kita akan pergi ke sini, ke pulau sumatra" ucap Satria pasti dan penuh rasa percaya diri, Kejora sedikit bingung dengan pengajuan Satria yang terlihat tengah menyerahkan diri.
"Apa kamu berencana mengalah?" tanya Kejora sedikit kesal menatap tajam mata Satria.
"Heh! Siapa bilang? Tempat paling aman adalah tempat paling berbahaya. Di sini adalah pusat bagi para pedagang dan pendatang." Satria memaparkan pandangannya.
"Tapi apakah ini akan berhasil? Bagaimana bila gagal dan kita sekarang mempertaruhkan banyak nyawa?" tanya lagi Kejora masih merasa takut.
"Kejora, dimana lagi menurutmu tempat yang mana kita tidak akan di curigai?" Kejora terdiam sejenak meresapi pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Satria.
"Ya kamu benar, kita akan berlayar ke sana!" ucap lagi Kejora dan memberi aba aba pada seluruh penumpang untuk bersiap.
Mereka tiba di sebuah teluk kecil sebelum akhirnya mereka memilih berenang dan menyelundup, karena bila mereka mengikuti aturan dan berhenti di dermaga pelabuhan tentu mereka akan mendapatkan banyak masalah, selain surat surat yang harus mereka miliki, merekapun harus melalui seleksi dan pengawasan kapal.
Semua orang tiba di sebuah pantai di pulau sumatra dengan sangat aman, tidak ada yang celaka atau terkena tragedi apapun, semua rencana yang di ajukan Satria berjalan mulus dan akhirnya merekapun tinggal di tepi pantai tersebut.
Sempat beberapa kali penjajah datang dan melihat kondisi desa mereka, namun lagi lagi taktik yang di ajukan Satria mampu mengecoh para penjajah, mereka melumuri gadis mereka dengan tanah berwarna hitam hingga akhirnya membuat para penjajahpun enggan tinggal berlama lama di kampung tersebut.
Semua hal di lakukan bersama antara Kejora dan Satria hingga akhirnya sebuah kejadian yang cukup menggemparkanpun tiba, dimana Kejora mendapatkan lamaran dari salah seorang saudagar kaya raya dari negri sebrang, meski wajah Kejora sudah di pulas hitam namun kecantikan alaminya berhasil memikat para kumbang.
Semua orang di kampung geger akan hal tersebut, namun ternyata di balik hal tersebut terselip sebuah hati yang tengah terluka, benar! Siapa lagi bila bukan Satria, dia tidak pernah mampu mengutarakan isi hatinya karena dirinya selalu merasa tidak pantas bersanding dengan Kejora.
"Bagaimana pendapatmu Satria?" tanya Kejora saat mendapatkan lamaran tersebut, namun Satria yang malah melamun membuat Kejora sedikit bingung.
"Kenapa sat?" tanya lagi Kejora, satria nampak tergugu dan menggaruk tengkuknya saat pertanyaan kedua itu terlontar dari mulut Kejora.
"Ah, inikan bersangkutan dengan perasaan, bila menurutku lebih baik tanyakan dulu saja pada hatimu, apakah apa yang akan kamu ambil ini sesuai dengan nuranimu?" ucap Satria berusaha tidak mendukung ataupun juga berusaha mendukung.
Memang sakit yang di terima Satria mungkin akan sembuh seiring berjalannya waktu, namun melihat Kejora yang mungkin saja akan bahagia dan tidak akan menjadi buronan lagi, sudah cukup bagi dirinya untuk merasa bahagia.
"Hmm, aku berencana menolaknya! Tapi aku bingung harus bagaimana aku menolak lamaran ini." ucap lagi Kejora merasa bingung akan hentakan batin yang menghimpitnya, mana mungkin dirinya meninggalkan warga kampung yang kini tengah belajar berniaga dan belajar ilmu bela diri.
"Bagus!" ucap Satria serentak hingga membuat Kejorapun kebingungan di buatnya namun dengan refleks cepat Satriapun berusaha mencari alasan masuk akal akan hal tersebut.
"Eh, maksudku bila menurut hatimu itu baik maka bagus kamu mengambil keputusan tersebut." ucap Satria berusaha mencari cari alasan dari keceplosan yang baru saja keluar dari bibirnya.
"Ya, aku melakukan ini karena warga kampung masih membutuhkan aku, aku tidak ingin membuat keputusan bapak mempercayakan mereka kepadaku menjadi sebuah kesalahan, aku akan mengambil amanah ini dan menyelsaikannya." tegas Kejora, ya meski dirinya sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana dan sampai kapan dia akan merawat mereka semua.
"Ya aku faham dengan beban yang kamu pikul, tapi kamu sebagai seorang manusiapun harus merasakan kebahagiaan karena seseorang yang sangat mencintaimu pasti sedang menunggumu dan selalu berharap bersamamu." ucap Satria berusaha memberikan isyarat.
"Ya kamu benar! meakipun orang yang kita cintai saja tidak sadar dan tidak ingin berusaha mengungkapkan, dan itu terkadang terdengar lucu." papar Kejora yang seakan tengah menyinggung dirinya.
Satria tersenyum kecut menanggapi ucapan Kejora yang sangat jelas tengah menyinggungnya, namun dia berusaha kembali kalem dan tidak terbawa perasaan.
"Eh, bagimana bila kamu berpura pura saja jadi suamiku! Dan mengatakan pada pihak mereka bila kita sudah menikah sangat lama?" usul Kejora hingga membuat pupil mata Satria membesar akibat terkejut.
"Bag..gai mana mungkin?" tanya Satria gugup, dia juga tidak menyangka sebuah ide gila namun mampu membuatnya senang itu keluar dari mulut Kejora.
"Ya itu mungkin saja bila keadaan darurat seperti ini, lagi pula di desa ini tidak ada satupun pria yang usianya lebih tua dariku kecuali kamu!" usul Kejora merasa kesal, dia sangat tahu benar dengan perasaan Satria namun melihat pria itu yang terlihat syok membuat dirinyapun merasa jangah.
Bersambung...