
.........
Di dalam kamar Alika dia tengah bersiap siap dan merias wajahnya sendiri dengan makeup seadanya, tiba tiba Adit memasuki kamarnya.
"Ngapa lo bang?" Tanya Alika melihat abangnya yang belum mengenakan pakaian pernikahan.
"Bisa santai aja gak ngomongnya?" Adit nampaknya ingin berbicara sebuah hal yang mendesak dan sangat serius dengan Alika.
"Hmm.. Iya bang!" Ucap Alika duduk di atas ranjangnya dan memperhatikan gerak gerik dari abangnya.
"Nanti di sana atasan abang akan datang, dia sangat terkenal mudah akan tersinggung dan ingat abang minta kamu gak usah nyapa atau bertemu dia, abang takut kamu kena sembur dari mahluk itu." ucap Adit mewanti wanti adiknya.
"Owh bos galak rupanya, pasti wajahnya sangarkan? Perutnya gede! Kepalanya botak! Bener kan?" Tebak Alika dan sontak saja tawa kecil terdengar dari Adit.
"Enggak dek, dia masih muda seumuran lah mungkin sama abang, dia juga tampan. Tapi dia itu seorang dokter jantung dan sangat galak, dia juga kaya kamu de ambil paket saat sekolahnya dan lulus muda saat kuliah dan lulus S2 di usia yang masih sangat muda!" Ucap sang abang panjang lebar.
"Owwwsh... Okedeh! Alik juga gak suka, andai punya musuh satuu lagi aja modelan lo gini tentu hidup gue pusing bukan main!" Ucap alika menekankan kata satu dalam intonasi bicaranya.
"Feet, okedeh itu aja dari abang! Ingat dia itu seorang CEO dan juga dokter, lo jangan deket deket sama mahluk model dia!" Ancam abangnya dan di angguki Alika setelahnya.
Sejauh yang Alika tahu, apapun yang di katakan oleh abangnya tidak pernah membuatnya tersesat, termasuk saat Adit menentang hubungannya dengan Ipung, dan kini ternampak jelas bila semua kekhawatiran abangnya selalu berdasar.
Adit meninggalakan kamar Alika dan bersiap di kamarnya untuk pernikahannya hari itu, dia sangat gugup dan bahagia.
Dada Adit seakan memompa darah lebih cepat dari biasanya hal itu amat mempertegang suasana pagi itu, berbeda dengan Adit, Alika justru asik bersenandung di kamarnya dengan riasan di wajah dan kelapanya yang nampak sudah sangat sempurna.
.........
Pagi itu merekapun berangkat ke tempat resepsi yang di selenggarakan di kediaman Tia, nampak sebuah mobil dengan kuda bediri berwarna hitam mengkilat ikut dalam perjalanan mereka.
Alika melakukan semua kewajibannya berlalu lintas kecuali SIM yang memang belum dia punya karena usianya yang belum cukup untuk memiliki KTP.
Hingga akhirnya merekapun sampai di depan rumah Tia yang nampak sudah ramai dengan warga dan para tamu yang datang.
"Tola'al badru alaina.. Mingsyaniyatil wadaa.. Wajaba syukru alaina madza'alillahidza.." Lantunan sholawat mengucap selamat datang pada mereka, suasana gempar seketika.
Hal itu malah membuat Alika panik sendiri, bagaimana tidak kini dia harus mengenakan tiara tiaranya yang masih di dalam tas, dan mempersiapkan penampilannya, Alika sama sekali tidak menyangka bila dirinya tidak di berikan waktu untuk bernafas sama sekali.
Dengan cepat Alika membuka helemnya dan yang lebih bahaya adalah dia harus touch up di karenakan make upnya sudah tertampar angin selama di perjalanan.
"Ah gila aku lupa bawa cermin lagi!" Keluh Alika, namun bukanlah Alika bila dia kehilangan ide.
Alika melihat sepion dan langsung touch up seadanya dan hanya membenahkan sedikit make-upnya saja, namun spion yang kecil menyulitkannya saat akan mengenakan tiara tiara di rambutnya.
Sebuah ide pun muncul di kepala Alika, dia berjalan menuju mobil di hadapannya dan kaca mobil yang hitam dan mengkilap memudahkan Alika melihat pantulan dirinya, dengan cekatan Alika memasangkan tiara tiara itu di atas kepalanya dan tersenyum setelah penampilannya di rasa sempurna.
Semua orang yang telah meninggalkan Alika membuatnya cepat cepat berlari dan mengejar rombongannya, nafasnya terasa berat saat dia di haruskan berlari dengan hills, tantangannya bukan hanya lari melainkan keseimbangan tubuh yang harus mempuni.
"Ah jauh banget ke depan, ah aku bakal ketinggal perasmanan inimah!" Keluh lagi Alika dan terkekeh setelahnya.
"Eh bentar, air aku ketinggalan di atas mobil tadi!" Alika menjadi panik lagi saat dia akan minum dan airnya tertinggal di atas mobil yang dia buat untuk bercermin tadi.
"Perasaan tadi pagi aku mandi dulu, dan tadi malam aku gak mimpi aneh aneh. Tapi kenapa ketiban sial mulu? Ya ampun!" Lagi lagi Alika mengeluh dan lemas, namun tiba tiba sebuah tangan mengulur dan memberikan sebotol air yang belum di buka segelnya.
Wajah Alika pun berubah sumeringah dan bahagia, namun saat dia ingin mengatakan terima kasih tidak ada siapapun di belakangnya.
"Ihh.. Angker, makasih hantu!" Ucap Alika dan meminum air tersebut seperti orang yang tidak minum selama seminggu dia teguk seluruh air itu hingga habis tak tersisa.
Acara pun di mulai dengan berbagai jenis sambutan Alika tersenyum di belakang saat kakak iparnya keluar dengan gaun putih, dan acara akad di mulai.
Semuanya berjalan hikmat hingga pengucapan "Sah" menggema di sana, Alika yang sangat bersemangat sampai berdiri dan bertepuk tangan.
Namun dia salah dan malah menjadi pusat perhatian, namun berbeda dengan Adit yang nampak terkekeh melihat kelakuan adiknya yang nyentrik.
Rasa malu tentu saja dirasakan Alika, bila boleh dia ingin berubah menjadi Jin agar tidak terlihat semuanya, namun dapat melihat semua yang terjadi. Sesi foto pun berlangsung dan berjalan dengan baik, namun Alika sama sekali tidak melihat sosok bos yang di sampaikan oleh abangnya, hingga akhirnya sesi pemberian kado pun berlangsung dan kini nampaklah seorang pria dengan kacamata hitam dan rambut hitam yang nampak mempesona.
Kulit putih dan bersih dengan mata yang tertutup kaca hitam dan Jas hitam yang memperlihatkan gaya yang sangat menawan, beberapa wanita nampak mencari perhatian dari pria yang kini berdiri tidak jauh darinya, dan berjarak dua orang di belakang Alika.
Di belakang Alika nampak nenek dan kakeknya tengah tersenyum menatap pengantin baru yang tengah saling berbahagia, Alika lantas menyodorkan tangannya pada sang abang.
"Selamat bang, selamat lo udah jadi pengantin bau, bau kan teh? Dia sejak pagi terus keringetan tau!" Ucap Alika dan sontak mendapatkan cubitan di pipinya dari sang abang.
"Hmm.. Berani memberi laporan sekarang ya!" Adit terkekeh dan memang benar bila sejak pagi dia terus berkeringat hingga dia sendiri harus mandi dua kali pagi ini.
"Hahahah, iya dong! Selamat ya bang, semoga Samawa pernikahannya!" Ucap Alika dan di angguki Adit dan memeluk adik kesayangannya itu.
"Kakak ipar!" Alika beralih ke arah Tia dan memeluk wanita yang kini Sah menjadi iparnya itu, senyum nampak terukir saat mereka berpelukan, Alika mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas kecilnya dan di berikan pada Tia.
"Ini dari Alik kak! O ya kak, perasmanannya kapan? Alik laper ih!" Alika tertawa dan di sambut tawa oleh Tia, Adit dan nenek, kakeknya. Dia memang tidak pernah kehilangan akal untuk mengencerkan suasana termasuk saat itu.
Namun setelah tawa itu, sebuah keriuhan terjadi saat beberapa wanita nampak terjatuh dari pelaminan karena saling bertabrakan ingin dekat dengan sosok bos yang Adit ceritakan.
"Aish, ada ada aja si! Kasian banget mereka harus berebut satu pria, rebutin Alik juga dong!" Ucap lirih Alika namun masih terdengar oleh mereka yang berada di atas pelaminan.
"Nakal!" Sebuah cubitan di punggung tangan Alika di rasakan saat Adit merasa gemas dengan kelakuan adiknya itu.
"Hahahah.. Kaboor!" Alika berlari ke bawah pelaminan dan melihat orang tuanya yang masih menangis setelah acara sungkeman.
Semula diapun terkejut melihat abangnya yang menangis, dia tidak menyangka bila si barbar itu bisa mengeluarkan air mata, namun dia juga sadar sifat dan hati memang terkadang sangat sulit di tebak termasuk abangnya.
Bersambung...